Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
246. Indahnya Kebersamaan


Memasuki waktu sahur, semuanya sudah siap menuju restoran hotel. Tampak wajah-wajah pasangan muda-mudi ini kelihatan lebih segar dan energik karena mereka lebih dulu mengisi imun mereka dengan bercinta terlebih dahulu.


Setiap dari mereka duduk di sesuaikan dengan meja restoran yang diatur untuk 4 orang, 6 orang dan 10 orang. Tampaknya Cintami dan Bunga yang sedikit repot mengatur anak kembar mereka. Cintami di bantu mertuanya Wira dan Lira yang sedikit merayu kembar 4 yang masih mengantuk.


Sementara Amran dan Nabilla membujuk Raffa dan Raffi untuk makan sahur. Begitu juga dengan Nada yang dibantu oleh kedua mertuanya yaitu nyonya Rosela dan tuan Luciano menggendong si kembar.


"Sudah..! Jangan tidur lagi, sayang!" bujuk Nabilla pada Raffa dan Raffi seraya mengusap kedua mata cucu kembarnya dan langsung merasa sangat segar.


"Kok, aku tidak mengantuk lagi? Diapain sama Oma?" tanya Raffi yang merasa heran bisa membuat dirinya terlihat langsung segar.


"Oma doain biar rasa mengantuk kamu hilang," jawab Nabilla.


"Tapi, nanti kami ingin tidur lagi ya Oma. Kami masih capek karena habis umroh semalam," Rajuk Raffa.


"Nanti setelah sholat subuh, kalian baru boleh tidur lagi," ucap Amran.


Tidak lama, Hanan dan Hanin bergabung dengan Raffa dan Raffi. Keduanya malah mengajak main game online usai sholat subuh.


"Tidurnya siang saja. Lebih baik kita main game," ajak Hanan yang memang tidur satu kamar dengan si kembar Raffa dan Raffi.


"Ok. Siapa takut," timpal Raffi.


Di meja lain putranya Nada yang sedang digendong tuan Luciano yang melakukan sesuatu yang mencengangkan. Pasalnya, teko kopi yang disenggol ayahnya Ghaishan hampir saja jatuh, namun teko kopi itu kembali di dorong ke tengah tanpa ada yang memindahkan teko kopi porselen itu yang membuat keempat orang dewasa itu langsung syok dengan mata mereka tertuju pada putranya Nada yaitu Ghazali.


"Baby...!" pekik mereka sedikit tertahan, namun senyum bayi berusia 4 bulan itu mengembang sempurna.


"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa cucuku melakukannya?" gumam Luciano namun Ghaishan meminta ayahnya untuk merahasiakan kelebihan putranya.


"Daddy. Jangan sampai yang lain mengetahuinya atau cucu Daddy akan berada dalam masalah.


"Daddy bisa diam, lalu bagaimana dengan CCTV itu," ucap Luciano.


"Biar aku yang akan mengurus CCTV di restoran ini," imbuh Ghaishan.


"Ok. Hebat cucu Opa," puji tuan Luciano mencium pipi gembul cucunya yang langsung memperlihatkan gusinya yang menggemaskan.


"Apakah Ghaida memiliki kekuatan yang sama?" tanya nyonya Rosella namun Nada belum mengetahui apapun tentang putrinya karena dirinya yang memiliki kekuatan ajaib saja masih dirahasiakannya.


Apa lagi sekarang putranya sudah memperlihatkan kemampuannya melalui matanya.


"Mommy. Jangan memancing rasa penasaran mommy pada baby Ghaida," pinta Ghaishan setengah berbisik pada ibunya.


"Insya Allah. Mommy bukan tukang ngegosip," cicit nyonya Rosella yang sedang berbunga-bunga memiliki cucu yang punya keajaiban menakjubkan dalam diri mereka.


Mereka melanjutkan sahur karena sebentar lagi akan memasuki waktu imsak. Bunga yang lupa membawa mukenanya harus ke kamarnya lagi untuk mengambil mukena. Ia berjalan seorang diri dan masuk ke dalam lift dan bertemu dengan tiga pemuda Arab yang menatap wajah cantik Bunga tidak berkedip.


Mereka mengoceh memuji kecantikan Bunga lalu tertawa bersama membuat Bunga merasa risih karena dia sangat paham ketiga pemuda itu bicara tentangnya.


"Apakah otak kalian perlu ditusuk dengan besi panas supaya tidak berfantasi liar tentangku, hah?!" bentak Bunga membuat ketiganya tersentak.


"Apakah nona orang Arab?" tanya salah satu pemuda itu yang usianya tidak jauh dengan Bunga.


"Tidak perlu tahu aku dari mana. Aku harap jaga sikap kalian atau aku akan hajar kalian bertiga!" ancam Bunga pada ketiganya.


"Wahhh .....! Ternyata selain cantik, dia juga galak," goda mereka sambil terkekeh.


"Nona. Apakah perlu kami antar?"


"Di mana kamarmu?"


Bunga berjalan cepat tidak ingin menggubris ketiga pemuda tadi.


"Kejar dia ..!" titah salah satu pemuda itu pada kedua temannya.


Bunga membiarkan ketiganya menghampirinya. Saat tangan mereka hampir menyentuh pundak Bunga, Bunga reflek menghindar lalu berbalik menghajar ketiganya dengan kecepatan luar biasa antara tendangan dan pukulan membuat ketiga pemuda itu terpental begitu jauh darinya.


"Ayo bangun! Siapa yang mau mendekatiku? Akan aku habisi kalian...!" ancam Bunga dan ketiganya langsung menggeleng sambil berusaha bangkit memegang perut mereka yang terasa sangat sakit.


"Tinggalkan gadis aneh itu ..!"


"Pantas dia berani jalan sendiri karena dia punya ilmu beladiri." ucap mereka buru-buru berjalan ke pintu lift kembali ke kamar mereka di lantai atas, 3 lantai lagi dari lantai kamar Bunga.


"Ada saja gangguan di hari pertama puasa. Apakah otak mereka hanya memikirkan barang wanita?" umpat Bunga lalu kembali beristighfar usai mendapatkan ujian pertamanya.


Beberapa menit kemudian dia sudah kembali bergabung dengan keluarga besarnya untuk menunaikan sholat subuh. Nabilla, Nada dan Bunga mendampingi Syakira dan Tamara yang harus di jaga walaupun ada Askar wanita yang ikut menjaga princess Tamara atas perintah otoritas pemerintah setempat.


Sholat subuh yang terasa sangat syahdu kembali menyentuh hati para jamaah umroh ketika mendengar kalimat indah yang dilantunkan oleh sang imam besar. Suara yang mampu menguras emosional. Menggetarkan hati merasuk sukma.


Tidak ada lagi kenikmatan dunia ini selain kenikmatan mukmin yang bertemu dengan Robb-nya di kala menunaikan sholat fardhu. Apa lagi di depan Ka'bah yang pahala sholatnya seribu kali lipat dan mungkin akan bertambah lagi karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.


Mungkin jumlahnya tak terkira di tambah lagi tadarus, aduh kenikmatan Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan jika sholat yang kau dirikan itu benar-benar khusu dan tidak terburu-buru.


Usai sholat subuh, kini giliran Syakira yang harus melakukan tawaf bersama suaminya yang ditemani oleh Amran dan Nabilla yang harus menjaga menantu mereka. Untuk pertama kalinya, Syakira melihat Ka'bah. Air mata Bu mil ini tidak dapat dibendung. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Ya Allah. Kenapa hatiku sangat merindukan Engkau. Seperti aku merindukan ibuku sendiri. Kenapa ya Allah? Apakah Engkau saat ini sedang memelukku?" tanya Syakira sambil mengitari Ka'bah.


Hingga tawaf dan sa'i selesai, Syakira ingin mengambil air zamzam yang ada gentong yang tersedia di sepanjang jalan antara bukit Safa dan Marwah itu. Nabilla mengajarkan adab meminum air zamzam pada Syakira yang tidak boleh meneguk sekaligus.


Usai menunaikan ibadah umroh, kini kedua pasangan ini kembali ke hotel mereka. Sial bagi Syakira karena banyak fansnya yang mengenalinya walaupun ia mengenakan hijab.


"Apakah itu penyanyi Syakira? benar itu penyanyi Syakira," pekik diantara jamaah dari negara mana saja tidak begitu di perhatikan oleh Nabilla karena tanda pengenal mereka terbalik.


Syakira hanya mengucapkan salam dan tersenyum. Mereka akhirnya ingin meminta foto bersama Syakira. Jadilah Bu mil ini menjadi rebutan para fansnya pagi itu untuk foto bersama.


"Tolong jangan lama-lama karena istriku sedang hamil," ucap Adam untuk mengatasi situasi.


Beruntunglah pagi itu nampak sepi jadi mereka sedikit lega karena bisa diatasi oleh Askar yang bertugas di sekitar Masjidil haram.


Sementara itu, Bunga curhat pada suaminya tentang kejadian di lift tadi subuh. Daffa begitu marah mendengar curhatan istrinya. Karena bulan puasa ia harus mengendalikan perasaannya jadi ia harus merencanakan sesuatu.


"Baby. Orang yang datang ke kota Mekah, tidak selamanya mau melakukan umroh. Mereka hanya refreshing di tempat ini saja. Apa lagi ini bulan puasa, jadi mereka hanya ingin merasakan puasa bersama kelurga mereka di sini," ucap Daffa membuat Bunga baru mengerti kebiasaan orang-orang yang tinggal dekat dengan kota Mekkah.


"Aku hanya tak habis pikir, apa jadinya kalau wanita lain yang tidak bisa melawan mereka dan tiba-tiba menjadi korban pelecehan, itu yang membuat aku kepikiran sampai saat ini," ucap Bunga.


"Apakah aku boleh mengetahui ketiga pemuda itu sayang?" tanya Daffa yang tahu Bunga bisa meretas CCTV lift yang tadi ia naiki.


Bunga menunjukkan ketiga wajah pemuda itu pada suaminya melalui ponselnya. Melihat ketiga pemuda itu, Daffa memiliki rencana sendiri untuk menghajar ketiganya.


"Tunggu saja nanti malam, kalian bertiga akan berhadapan denganku," batin Daffa.