Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
309. Bertemu Lagi


Dua pesawat jet pribadi milik Amran dan Efren siap meninggalkan Istanbul Turki menuju Jakarta Indonesia. Hampir sebulan Amran meninggalkan tanah air untuk menenangkan dirinya setelah sepuluh tahun berkutat mengurus negeri tercinta.


Ditambah lagi Amran hanya ingin memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk membangun negeri Indonesia yang lebih hebat dari dirinya.


Keberangkatannya ke tanah suci itu hanya untuk memohon kepada Allah agar Allah selalu melindungi negaranya yang sudah ia bangun dengan susah payah terutama perilaku kehidupan rakyatnya yang harus Istiqomah di jalan mereka tempuh dengan budaya berakhlak mulia dan menjalankan aktivitas mereka dengan tetap terarah agar tidak tergiur dengan berbagai godaan duniawi terutama mereka yang bekerja di instansi pemerintah agar terhindar dari korupsi.


Di pesawat jet pribadi milik Evren, pria tampan ini tidak ingin berjauhan dengan istrinya sedikitpun. Seakan dunianya saat ini hanya seputar Dinar. Apalagi Dinar sangat pintar menggiring topik apa yang bisa mereka bahas bersama.


"Mengapa kamu lebih memilih menekuni dunia agen rahasia daripada profesimu sebagai pengacara? Bukannya sama-sama membela kepentingan orang yang tertindas?" tanya Evren sambil membenamkan wajahnya di dada istrinya.


"Selagi muda dan berbakat untuk menjadi seorang yang bisa mendapatkan kepercayaan dari atasan mereka untuk menumpas kejahatan di muka bumi ini? Kenapa tidak mengambil kesempatan berharga itu? apa lagi kami berjuang untuk bisa terpilih menjadi agen rahasia dari yang terbaik dan yang terbaik. Jadi tidak semua orang mudah untuk mendapatkan posisi bergengsi itu," ucap Dinar.


"Bagaimana kalau aku melarangmu untuk tidak meneruskan pekerjaan itu lagi dan cukup mengurus aku saja?" tanya Evren mulai dengan jeratan posesif nya.


"Tidak masalah bagiku, hubby. Karena aku adalah milikmu dan apapun tugasku yang pernah menjadi tanggung jawabku, akan aku tinggalkan atas permintaan suamiku karena surgaku ada padamu," pasrah Dinar membuat Evren makin kagum dengan kesalihan gadis ini yang belum ia sentuh dalam arti sesungguhnya.


"Tidak apa sayang kalau kamu masih dibutuhkan oleh dunia ini untuk mengamankan dunia dari tangan orang-orang jahat dan selama itu kamu belum mengandung Junior kita, aku akan ijinkan kamu berjuang demi dunia ini," ucap Evren.


"Terimakasih hubby. Aku tidak akan melupakan tugasku sebagai istrimu," timpal Dinar.


Tidak jauh dari mereka duduk, Ghazali dan Ghaishan yang duduk bersebelahan. Ghazali mulai menggoda ayahnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan mencengangkan bagi Ghaishan.


"Daddy. Apakah semua orang dewasa itu akan terlihat kekanak-kanakan saat mereka sudah memiliki pasangan?" tanya Ghazali.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Ghaishan ingin lebih dalam mengetahui pikiran putranya.


"Pria tampan dan sekeren brother Evren kini berubah total menjadi pria manja dan menjijikkan seperti itu. Lihatlah Daddy! Dia tidak ingin beranjak sedikitpun dari tubuhnya kak Dinar. Bukankah itu terlihat konyol dengan menghilangkan kharismatik nya sebagai seorang lelaki sejati?" protes Ghazali jengah.


"Itu karena kamu belum menjadi seperti brother Evren. Kalau kamu sudah seusia dia, kamu bahkan lebih gila lagi dari Abang iparmu itu," kecam Ghaishan pada putranya yang ceriwis itu.


"Tidak akan. Aku tidak akan menghilangkan wibawa ku hanya karena seorang wanita," tolak Ghazali angkuh.


"Kita lihat saja nanti. Apakah putra Daddy yang tampan ini bisa setegar karang di lautan menghadapi wanita secantik dan selembut seperti wanita-wanita dalam keluarga kita," imbuh Ghaishan.


"Daddy boleh pegang kata-kataku mulai saat ini," ucap Ghazali penuh keangkuhan.


"Cih...! Sifatmu tidak jauh dari opa mu Amran. Sok jual mahal setelah itu bucin parah pada wanita," batin Ghaishan kembali menatap laptopnya.


Karena berangkat pada malam hari, kelurga besar Amran akhirnya memilih untuk tidur agar tidak merasakan lamanya perjalanan. Termasuk pengantin baru yang terlihat sangat mesra karena tertutup selimut di dalam kamar pribadi mereka.


...----------------...


Setibanya di Jakarta, Evren dan Dinar memilih menginap di hotel milik pamannya Dinar yaitu Reno. Keluarga besar itu tidak keberatan karena dua hari lagi pesta pernikahan pengantin baru itu akan di adakan di hotel mewah tersebut.


Walaupun saat ini Dinar sudah dalam masa sucinya karena sudah menjalani sholat subuh berjamaah dengan suaminya, namun Evren menangguhkan unboxing mereka sampai malam resepsi nanti.


Keduanya memutuskan untuk melakukan hal lainnya seperti menyelesaikan beberapa pekerjaan mereka yang tertunda dan berniat ingin keliling kota Jakarta untuk memperkenalkan kepada Evren bagaimana rasanya menikmati makanan khas Indonesia.


Sementara itu, siang harinya. Audrey yang sedang belanja membawa belanjaannya masuk ke dalam lift sambil memainkan ponselnya.


Seperti biasa kecerobohannya itu membawa masalah yang sama dengan menabrak lagi tubuh seorang pria yang tinggi kekar di hadapannya membuat bawaannya terlepas dari genggaman. Sontak saja gadis cantik ini mengamuk tanpa melihat sang pria.


"Apakah matamu tidak bisa melihat hingga harus menabrak orang? Lihatlah! belanjaanku semuanya terjatuh karena ulahmu," amuk Audrey.


"Hei nona...! kamu yang jelas salah kenapa aku yang kamu omelin? Harusnya aku yang me,..-"


Ucapan pria itu terhenti kala melihat wajah cantik Audrey yang membuatnya terbungkam.


"Kau lagi..?! Apakah di dunia ini hanya kau yang harus aku tabrak? Bulan kemarin di tanah suci Mekkah dan sekarang kau...? Kau orang Indonesia juga? Astaga.


Ternyata duniaku sangat sempit sekali hingga aku harus menabrak orang yang sama," gerutu Audrey panjang lebar membuat sang pria baru menyadari ucapan Audrey.


"Jadi, kamu gadis yang sama yang menabrak aku di bukit Safa saat mengambil air zamzam?" memastikan ingatannya tidak salah.


"Ya...! dosa apa yang telah aku lakukan harus menabrak lagi pria yang sama," ketus Audrey kembali berdiri sempurna dengan menggenggam belanjaannya.


"Ya Allah..! Ternyata gadis ini sangat cantik. Kenapa dia tidak mengenakan cadarnya? Apakah kemarin karena umroh saja dia menutupi wajahnya dengan cadarnya?" tebak Delvin begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Audrey karena sumpah gadis itu benar adanya kalau selepas umroh dia tidak bisa berhenti memikirkan Audrey, gadis yang pernah ia hina memiliki wajah yang buruk rupa.


"Jaga matamu itu! Jangan sampai kamu menatap mesum padaku!" geram Audrey membuat Delvin tidak lagi segalak tadi.


Audrey keluar dari lift dan Delvin mengikutinya karena mereka sama-sama sedang menuju tempat parkir yang sama. Audrey memasukkan belanjaannya ke dalam mobil. Sementara itu Delvin masih berjalan menuju mobilnya.


Audrey kembali menutup pintu mobilnya dan berlari dengan cepat untuk menyelamatkan Delfin yang sedang asyik menerima telepon dari seseorang hingga tidak menyadari bahaya sedang mengancam jiwanya.


"Hei...kau...! Awassss....!" teriak Audrey berlari secepat mungkin untuk menarik tubuh Delfin ke pinggir sebelum tubuhnya di sambar oleh mobil merah Honda sport.


Kini tubuh Audrey menimpa tubuh Delfin dan wajah keduanya mengikis jarak setipis tisu. Bukit kembar Audrey sangat terasa oleh Delfin yang menikmati sensasi itu namun jantungnya juga tidak ingin berhenti berdenyut cepat.


Keduanya kembali tersadar mendengar mobil yang tadi ingin menabrak Delfin tiba-tiba kembali mundur. Dalam jarak beberapa detik mobil itu sampai di depan mereka, Audrey segera bangkit dari tubuh Delfin sambil menarik tubuh Delfin untuk bersembunyi.


"Hei..! Ikuti aku...! Sepertinya mereka sedang mengincar mu," bisik Audrey berjalan merunduk mengitari beberapa mobil dengan Delfin di belakang tubuhnya.


Tidak lama terdengar pintu mobil terbuka dan beberapa orang turun dari mobil hendak mencari keberadaan Delfin. Audrey mengintip sebentar untuk melihat siapa orang yang berusaha menyakiti Delfin.


"Cari pemuda itu sampai ketemu! Dia adalah nilai tukar kita dengan barang yang dimiliki oleh ayahnya," ucap sang bos yang ikut keluar dari mobilnya untuk mencari keberadaan Delfin.


"Sepertinya mereka itu saingan bisnis ayahmu. Mereka sedang bermasalah dengan ayahmu dan kau jadi tumbal ayahmu," ucap Audrey yang mengenakan alat bantu dengar untuk menangkap suara orang dari jarak 20 meter dengan mereka.


"Apakah kamu yakin mereka sedang mengincar ku? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Delfin.


Audrey mencabut alat bantu dengar miliknya dari kupingnya dan memasangnya ke kuping Delfin.


"Kamu bisa mendengarnya sendiri...!" ucap Audrey sambil memasang alat bantu dengar yang sangat canggih itu ke kuping Delfin.


"Tangkap pemuda itu dalam keadaan hidup atau mati. Aku harus mendapatkan barang ku kembali dari tuan Ezra," ucap seorang pria yang ada di dalam mobil sedan sport merah itu.


Dada Delfin naik turun dengan nafas terpacu cepat. Ia tidak menyangka kalau dirinya menjadi incaran para penjahat yang tidak lain musuh ayahnya.


"Hei tenanglah..! Aku akan membantumu mengatasi penjahat itu. Tapi kamu ikut aturan mainku, ok!" ucap Audrey seraya mengambil pistol dari balik punggungnya.


"Kau punya pistol? Kau ini siapa? Kau polisi?" sentak Delfin gugup.


"Hussstt...! Jangan berisik! Kau akan membahayakan keberadaan kita di sini," ucap Audrey hati-hati.


"Baiklah. Aku percaya padamu dan ...-"


Drettttttt


Bunyi ponsel Delfin mengagetkan para penjahat yang langsung mencari sumber suara.


"Mereka ada di sebelah sana. Kejar mereka..!" titah sang bos.


"Sial...!" Audrey berlari dengan cepat diikuti oleh Delfin yang langsung mematikan ponselnya agar tidak menganggu.


Audrey melempar sesuatu ke udara agar memancing para penjahat yang langsung menembak benda yang berupa plastik sampah kertas.


Dengan senjata mereka mengarah ke atas plastik sampah kertas itu, Audrey dengan mudah melepaskan tembakan ke arah penjahat dan mengenai di bagian tubuh mereka.


Dua orang penjahat berhasil dilumpuhkan oleh Audrey dan sekarang tinggal tiga orang penjahat yang harus Audrey atasi. Karena bukan hari libur jadi Mall itu agak sepi pengunjung dan mobil yang ada di tempat parkir diperkirakan mobil para karyawan yang bekerja di Mall tersebut.


"Ahhhhkkkkkk...!" pekik kesakitan dari dua orang penjahat. Audrey memencet remote pengendali mobilnya untuk menghampiri dirinya agar mereka bisa kabur dari Mall itu. Mendengar mobil yang sedang menyala dan langsung keluar dari tempat parkirnya membuat ketiga orang penjahat itu tersentak.


Mereka reflek menembak mobil tanpa pengemudi itu namun tembakan mereka tidak bisa melukai mobil itu karena mobil milik Audrey itu adalah mobil anti peluru.


Audrey berhasil keluar dari persembunyiannya diikuti oleh Delfin. Sambil melepaskan tembakan ke arah penjahat Audrey berhasil masuk ke mobilnya diikuti oleh Delfin. Mereka segera keluar dari tempat parkir itu namun di kejar oleh penjahat.


Sayangnya Audrey begitu lihai menyetir mobilnya melewati setiap tingkat jalan parkiran itu hingga keluar dari gedung Mall itu.


"Maaf bos..! Mereka berhasil kabur," ucap anak buah penjahat.


"Terimakasih nona. Alhamdulillah, untung ada kamu kalau tidak aku sudah berada di dalam kubur," ucap Delfin.


"Itu sudah tugasku melindungi kamu. Aku akan mengantarmu pulang. Di mana rumahmu?" tanya Audrey.


"Aku harus kembali ke perusahaanku. Aku ingin menemui ayahku. Kalau tidak keberatan, tolong antar aku ke perusahaanku!" pinta Delfin yang masih merasa syok.


"Baik. Beritahu alamatnya pada manajer mobilku. Ucapkan nama perusahaanmu..!" pinta Audrey.


"Savana group!"