Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
310. Malam Ini Indah


Setibanya di perusahaan milik Delfin, pria ini mengajak Audrey ikut turun, namun Audrey menolak dengan alasan sedang sibuk. Jadilah Delfin tidak bisa mengenalkan si cantik ini pada ayahnya.


"Apakah kamu tidak kuatir padaku? Siapa tahu di dalam sana ada penjahat juga. Ayolah..! Temani aku menemui ayahku!" pinta Delfin.


"Sudahlah. Jangan banyak membual. Kamu sudah ada di kandangmu sendiri. Mereka tidak bisa lagi menyakitimu. Keamanan perusahaanmu cukup bagus. Sekarang jangan lagi menyusahkan aku...! Oh iya, siapa namamu?" tanya Audrey.


"Delfin. Panggil saja nama keren itu. Sekeren orangnya bukan?" Delfin menaik turunkan kedua alisnya mencoba menggoda Audrey yang mengalihkan wajahnya menahan tawa.


"Sudahlah. Stok pria tampan sangat banyak di dunia ini. Aku harap diantaranya tidak konyol seperti dirimu," Audrey kembali melanjutkan perjalanannya menuju mansion ayahnya.


"Terimakasih. Tapi siapa namamu?" tanya Delfin di ujung kalimatnya saat mobil itu hampir berlalu melewati tubuhnya.


"Audrey."


"Sampai jumpa lagi cantik!" Delfin menatap punggung mobilnya Audrey hingga menghilang.


Pria tampan ini ingat lagi akan kejadian tadi yang hampir merenggut nyawanya. Ia berlari cepat menuju lift untuk menemui ayahnya dan ingin menanyakan tentang banyak hal pada sang ayah.


"Apa yang disembunyikan ayah hingga aku harus menjadi tumbal?"geram Delfin seraya memencet nomor lantai ruang kerjanya.


Sementara itu, Audrey masih memikirkan kejadian yang menimpa Delfin untuk mengetahui wajah para pria penjahat tadi yang mungkin diantara mereka adalah residivis yang bekerja dibawah perintah seseorang.


Tiba di mansion, Cintami terlihat sangat geram dengan gadis cantik itu.


"Ke mana saja kamu Audrey? Mama telpon kamu berkali-kali kenapa tidak di angkat, hah?" geram Cintami.


"Aku habis berurusan dengan musuh mam," santai Audrey lalu mengecup wajah teduh Ibunya.


"Penjahat? Di mana?"


"Parkiran Mall. Mereka ingin membunuh putra dari Savana group. Pemuda itu tidak memiliki pengawal atau asisten pribadi saat pergi keluar. Alhasil dia hampir menjadi sasaran empuk penjahat yang menginginkan sesuatu yang di pegang oleh ayahnya pemuda itu," tutur Audrey sambil memencet dispenser untuk mengambil air putih dingin lalu meneguknya dengan tandas.


"Bismillah. Alhamdulillah..!" Dua kata ajaib itu tak pernah dilupakan walaupun itu hanya air putih penghilang dahaga setelah berhasil melumpuhkan beberapa penjahat.


"Apakah kamu mengenal pemuda itu?"


"Iya mam tapi hanya sekilas dan anehnya dipertemukan lagi dengan kejadian yang sama," tutur Audrey menceritakan sepenggal kisah pertemuan mereka dari lelucon kecil hingga masuk ke peristiwa yang cukup menegangkan.


"Savana group. Bukankah itu milik Ezra? teman sekolahku dulu yang selalu menggoda Bunga. Apa kabar pria itu sekarang?" batin Cintami.


"Mom. Apakah aku boleh mencari tahu motif dari kasus itu?" ijin Dinar.


"Lakukanlah sayang..! itu adalah tugas kita melindungi negara ini dan dunia ini karena polisi akan bergerak lamban jika tidak ada laporan dari warga negaranya. Paling ini berkaitan erat dengan jaringan mafia.


Tapi, kita harus membantu persiapan pestanya Dinar dulu, baru kamu bisa mengurus urusan pemuda itu. Tapi, apakah kamu menyukai pemuda itu, Audrey?" goda Cintami namun Audrey tidak begitu merespon lebih karena semuanya terasa abu baginya.


"Aku belum memikirkan untuk menikah mam. Aku ingin menikmati kesendirianku. Cukup Dinar saja yang mama urus," ucap Audrey yang tidak ingin melibatkan perasaannya pada Delfin karena hatinya belum merasakan sesuatu pada pria tampan itu.


...----------------...


Resepsi pernikahan Dinar dan Evren terlihat meriah. Kecantikan yang terpancar dari wajah Dinar membuat para tamu undangan cukup terpana. Hati Evren cukup panas juga pada mata tamu pria tertuju pada istrinya saat mereka bersalaman dengan tamu. Begitu juga para gadis-gadis yang begitu terpukau dengan ketampanan Evren.


Keduanya memang mengenakan baju adat Aceh yang kental dengan nuansa Islamnya.


"Sayang. Apakah kita harus mengikuti acara ini sampai tamunya pulang?" tanya Evren saat tamunya sudah mulai longgar.


"Ini hanya berlangsung dua jam. Setengah jam lagi pasti sudah sepi," jawab Dinar.


"Baiklah. Kalau begitu aku mau makan," pinta Evren.


"Aku akan mengambilnya untukmu," Dinar turun dari pelaminannya menuju prasmanan khusus untuk kelas VVIP.


Beberapa menit kemudian dia sudah membawa makanan yang cukup banyak dalam satu piring untuk mereka berdua. Dinar menyuapi suaminya dengan telaten. Hal ini tidak luput dari perhatian Ghazali yang membelo jengah melihat ulah pengantin itu.


"Ada apa Ghazali? Kenapa kamu sangat iri dengan pengantin baru itu?" ledek Amran.


"Iri...? cih...! Yang benar saja Opa. Mereka yang buat, aku yang malu," timpal Ghazali makin membuat Amran menggoda cucu kesayangannya ini.


"Kadang seorang wanita bisa membuat kita pria menjadi tidak berdaya di hadapan mereka. Mereka menjadi paling berkuasa atas diri kita melebihi ibu kita," ucap Amran.


"Kenapa bisa begitu Opa..?" tanya Ghazali dengan kening bertaut.


"Karena seorang istri akan mengurus kita sepanjang hidupnya. Menemani kita di hari tua. Mereka tidak memperhitungkan tenaga dan pikiran mereka dan seberapa besar cinta dan perhatian kita pada mereka saat kita hidup bersama mereka di waktu muda, yang jelas mereka hanya ingin mendapatkan ridho suaminya karena Allah," jelas Amran dengan nasehat yang bijak.


"Dan termasuk adegan menggelikan itu?" tanya Ghazali kembali memperhatikan Dinar mengusap mulut Evren dengan tisu usai makan.


"Yah. Termasuk hal kecil itu yang membuat kita pria bisa mengenang masa kecil kebersamaan dengan ibu kandung kita dan kita bisa dapatkan kembali pada istri kita," ucap Amran mampu mengetuk batin Ghazali yang langsung berkaca-kaca mengenang kasih sayang ibunya Nada saat masih kecil dulu.


"Aku tidak ingin buru-buru menikah Opa sampai aku membahagiakan mommy. Aku takut wanita lain akan merebut perhatianku yang seharusnya aku tunjukkan kepada mommy. Aku sangat mencintai mommyku. Mommy adalah segalanya bagiku, Opa."


"Itu suatu pemikiran yang bagus, sayang. Tapi jangan kuatir! Seorang anak laki-laki tetap menjadi putra ibunya sampai kapanpun. Jadi, seorang istri tidak boleh iri pada ibu mertuanya jika suaminya memberikan perhatian lebih pada ibu kandungnya supaya anak lelakinya akan melakukan hal yang sama saat ia menjelang tua nanti.


Beda halnya dengan anak perempuan kalau menikah menjadi milik suaminya. Bertemu dengan orangtuanya saja harus minta ijin dulu pada suaminya, apa lagi pergi ke tempat lain," ucap Amran.


"Semoga mommy disayang sama istriku nanti. Baiklah Opa. Ghazali tidak akan lagi meremehkan kemesraan suami istri seperti brother Evren," ucap Ghazali yang sudah mengerti makna sebuah keromantisan pasangan walaupun tidak begitu dalam karena keterbatasan pemikirannya karena usia.


Di kamar pengantin baru itu nampak sibuk membuka semua pernak pernik hiasan yang menempel pada busana pengantin mereka.


Setelah semuanya terbuka, Dinar membersikan make-upnya dan ingin berendam di dalam bathtub yang airnya sudah disiapkan oleh pihak hotel dengan memasukkan cairan aroma terapi khusus untuk pengantin baru agar meningkatkan gairah keduanya.


Evren yang baru masuk ke kamar mandi itu, melihat pemandangan yang luar biasa di mana tubuh Dinar yang setengah telanjang dengan menampakkan dua bukit kembar yang setengah tertutup oleh busa dan wajah cantik itu begitu bersinar meresapi setiap kelembutan air hangat yang mengurai kepenatan tubuh molek nan pulen itu.


Mata Dinar yang terpejam dengan senyum kebahagiaan membuat Evren mengabadikan momen langka itu dengan ponselnya yang sengaja ia bawa masuk untuk menyetel lagu romantis.


"Apakah sudah puas menatapku, honey?" tegur Dinar dengan mata masih terpejam.


"Apakah kamu tahu aku menatapmu sejak tadi?" tanya Evren yang ikut masuk ke dalam bathtub dan merangkak naik mendekati tubuh permaisurinya yang membuatnya berkabut gairah.


"Apakah kamu lupa aku adalah agen rahasia? Aku tahu kehadiran musuh walaupun aku tertidur pulas," ucap Dinar.


"Memang wanita itu kelihatan tidur tapi otaknya tidak benar-benar tidur,makanya masih bisa mendengar apapun. Itu sudah tersusun secara alami oleh yang kuasa," tutur Evren lalu memagut bibir Dinar dengan rakus karena tidak kuat lagi menahan gairahnya.


Dinar membalas ciuman suaminya tidak kalah panas hingga tangan lembutnya berhasil mencengkram benda kokoh sempurna milik suaminya yang sebentar lagi akan menjebol pertahanannya.


Puas bercumbu di dalam bathtub, keduanya memutuskan untuk membilas tubuh mereka di bawah air shower dan melanjutkan permainan panas itu di atas kasur empuk. Evren membalut tubuh Dinar dan dirinya dengan handuk. Lalu menggendong tubuh itu dengan Dinar berkoala di pinggangnya sambil keduanya kembali berciuman.


Tiba di atas tempat empuk itu, keduanya mulai saling menyerang dan ingin memberikan service terbaik mereka. Dinar mengigit sudut bibirnya kala Evren sudah siap memasuki dirinya.


"Vren, dia terlalu besar. Aku ta...-"!"


Ucapan Dinar disumpal Evren dengan ciuman lagi kala benda kokoh nan besar itu mulai menjajal tempat baru dan rumahnya untuk seumur hidupnya.


Dinar berusaha memberontak tapi Evren makin menekan kuat miliknya seakan tidak bisa lagi mentolerir keadaan Dinar yang kesakitan hingga melepaskan ciumannya.


"Tidak apa sayang! ini hanya sebentar. Nikmatin saja!" pinta Evren yang menyesuaikan dulu miliknya yang terasa sangat ngilu namun juga enak.


"Sakit Vren. Apakah tidak bisa dilepaskan sebentar?" rintih Dinar sambil menahan sakit dengan cairan bening memenuhi kelopak mata indahnya.


"Masuknya lagi susah. Biar saja mereka bertemu," ucap Vren seraya menghentakkan pinggulnya dengan tiba-tiba.


Dinar mencengkram seprei itu kuat dan Evren menciumi leher jenjang itu sambil terus mengaduk pinggulnya. Lama-kelamaan, Dinar mulai merasakan sensasi lain yang membuatnya bisa merasakan kenikmatan yang sama dengan suaminya.


Tidak ada lagi kata protes yang ada kembali bergairah dan itu membuat Evren makin gencar melakukan serangan dengan membuat karya-karya indah di leher dan dada istrinya. Selebihnya durasi permainannya makin panjang dan malam itu menjadi milik mereka. Keduanya tersenyum bahagia dengan penuh puja dan saling memuji milik mereka masing-masing.


"I love you baby untuk persembahan kesucianmu untukku..!" ucap Evren penuh cinta pada Dinar.