Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
192. Kau Makin Menjengkelkan..!


Setibanya di rumah, hal yang dilakukan pertama kali oleh Bunga adalah memastikan putra kembarnya masih terlelap di kamar yang bernuansa es kimo itu.


"Alhamdulillah. Kalian sangat pintar saat ayah dan bunda tidak ada," Bunga mengecup lembut kening si kembar lalu keluar lagi untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah dengan suaminya yang sudah siap menjadi imam.


Bunga segera membaca Iqamah kemudian Daffa sudah melakukan gerakan takbiratul ihram. Sekejap suasana syahdu mulai bergetar di hati Bunga jika lantunan suci ayat Alqur'an dibacakan dengan suara yang indah oleh Daffa.


Beberapa menit kemudian mereka sudah saling berciuman lalu merapikan perangkat sholatnya dan naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan aktifitas pagi.


"Lumayan masih punya waktu sejam untuk mengumpulkan kembali tenaga," ucap Bunga langsung tidur di atas dada suaminya.


"Sayang."


"Hmm!"


"Bagaimana caramu tadi menembak penjahat itu tanpa membuat mereka mati?" tanya Daffa masih penasaran.


"Helm itu yang memperlihatkan anatomi tubuh mereka yang perlu ku bidik atas permintaanku," ujar Bunga.


"Jadi, helm itu bisa mendengar perintah kita? selain memperlihatkan sesuatu yang tidak begitu penting?" tanya Daffa yang hampir pusing membaca data di setiap tampilan di kaca helm.


"Hmm...!" Bunga berdehem lalu sudah mendengkur lembut karena kelelahan. Daffa mengusap kepala istrinya merasa bangga yang luar biasa memiliki Bunga.


"Ya Allah. Terimakasih karena Engkau telah mengirimkan bidadari ini untukku," batin Daffa penuh syukur pada Allah. Sejurus kemudian, Daffa menyusul ke alam mimpi istrinya.


Sementara itu, para pria yang merupakan penjahat kelamin itu sudah di giring ke kantor polisi. Lalu di bawa ke rumah sakit polri untuk diobati luka tembak yang mereka derita.


Mengetahui kesemuanya adalah anak-anak pejabat, kasus itu ditutup demi menjaga kestabilan keamanan. Namun seperti perintah Bunga, para penjahat itu mengakui kesalahan mereka. Kedua orangtua mereka mencari tahu kepada masing-masing putra mereka untuk memberitahu siapa yang telah melakukan itu pada putra mereka saat berada di kamar inap anak mereka di rumah sakit polri.


"Siapa yang menembak kalian?" tanya seorang pejabat pada putranya.


"Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan helm ayah."


"Bagaimana mungkin dia menembak kalian dengan mengenakan helm tertutup? Apakah dia ...-"


"Dia seorang wanita yang sudah terlatih untuk menangani penjahat. Dan dia juga menasehati kami hal-hal baik sebelum dia dan suaminya pergi meninggalkan kami."


"Jadi, nasehat wanita itu lebih kalian dengar daripada nasehat ayah?"


"Kapan ayah menasehati aku? Bukankah selama ini ayah lebih memenuhi hidupku dengan materi? Kapan ayah punya waktu untuk duduk bersama dan menasehati aku? Bukankah ponsel lebih ayah sukai untuk berbagi dan setelah itu masuk ke kamar dan tidur? kapan ayah hadir dalam hidupku berperan sebagai ayah?


Bukankah karir lebih penting yang ayah utamakan daripada putra ayah?"sindir Geovani ketus pada ayahnya membuat pria 50 tahun itu merasa bersalah karena hampir tidak punya waktu bicara bersama keluarganya.


Dan setiap kamar inap itu menggaungkan suara protes yang sama pada kedua orangtua mereka yang hampir tidak punya waktu untuk me time bersama anak mereka.


Penyesalan yang baru terlihat pada mereka setelah mengetahui anak-anak mereka membutuhkan kasih sayang selain materi. Sebesar apapun anak yang usianya sudah dewasa, dia tetaplah seorang anak yang ingin mendapatkan perhatian kedua orangtuanya.


Hanya saja, orangtua banyak yang lalai akan peran mereka karena sudah menganggap anak-anak mereka sudah dewasa dan mengerti akan baik buruknya kehidupan di luar sana.


Jogjakarta


Peran dingin yang terjadi antara El-Rummi dan Dista belum juga usai. Gadis cantik ini sudah berulangkali meminta maaf kepada El-Rummi agar pria 23 tahun ini mengerti akan tindakannya yang telah menganggap El-Rummi berasal dari keluarga biasa.


"El. Aku tidak tahu kalau kamu adalah putra dari keluarga konglomerat. Aku minta maaf karena terlalu meremehkan dirimu. Bukankah aku tidak pernah memperlihatkan sisi matre ku padamu selama kita berkencan?" tanya Dista merayu El yang enggan berurusan dengan Dista lagi.


"Aku sudah memaafkanmu dan juga keluargamu, Dista. Tapi, bukan berarti aku mau meneruskan hubungan kita. Lagipula, tidak ada yang dirugikan dalam hubungan kita.


Aku tidak pernah menyentuhmu bahkan melecehkanmu sebagai wanita. Jadi, menyingkirlah kau dalam hidupku!" usir El pada Dista yang masih mengemis untuk kembali.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu menerima aku lagi, El? Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk kita kembali bersama?" tanya Dista tanpa ingin menyerah.


"Sekalinya tidak, selamanya akan seperti itu. Aku tidak sudi memiliki calon istri yang tidak pernah menganggap kaum papah sebagai manusia di matanya. Tapi, sebagai seorang pria sederhana yang hanya bermodalkan tampang dan otak. Itukan yang kamu cari dariku?" tanya El-Rummi membuat Dista sudah kehilangan kata-katanya.


"Kau akan menyesal karena sudah mengabaikan aku El," sarkas Dista.


"Lebih menyesal lagi kalau aku jadikan kamu sebagai istriku. Dari luarnya saja kau terlihat ningrat tapi hatimu lebih busuk daripada rakyat jelata," sarkas El membuat Dista tercengang.


"Aku akan bunuh diri El untuk membuktikan kepadamu kalau aku menyesal atas sikapku, kau mengerti?!" teriak Dista mengancam El yang melangkah pergi meninggalkannya. El membalikkan tubuhnya lalu membalas ancaman Dista.


"Lakukan saja! Siapa yang peduli? Syukur kalau kamu langsung mati dan tidak menyusahkan orang yang masih hidup. Paling aku hadir di pemakamanmu. Kalau kau masih hidup, akupun tidak peduli karena kau bukan segalanya bagiku," sarkas El.


"Hahh...? Dasar bedebah...!" maki Dista.


El-Rummi meninggalkan Dista yang hanya bisa menelan kegetiran hubungannya dengan El yang telah kandas. Penyesalan gadis ini sudah tiada gunanya karena ulahnya sendiri hingga El-Rummi dipermalukan oleh kedua orangtuanya.


"Kau makin menjengkelkan, El!" Dista menghentakkan kakinya dan memilih pulang ke istananya karena sikap El yang sulit untuk dirayu setelah berkali kali dirinya meminta maaf pada pria tampan itu.


Setibanya di istananya, ndoro Paraswati menegur putri bungsunya itu.


"Bagaimana Dista? Apakah El sudah menerima permintaan maafmu?" tanya Dista.


"Sepertinya El terlanjur menutup hatinya untuk Dista. Dista tidak ingin merendahkan diri lagi untuk mengemis cinta padanya," ucap Dista sedih'.


"Kamu ini gadis yang sangat cantik. Apakah kamu tidak bisa menggunakan pesonamu untuk membuat ia tergoda padamu?" ucap Paraswati.


"El itu tidak tergiur dengan tubuh wanita. Karena agamanya terlalu kuat. Jangankan untuk menyentuh atau melihat Dista sebagai kekasihnya, untuk mengatakan kata-kata romantis saja, El sulit untuk melakukannya sebelum menikah. Itu yang dia ucapkannya pada Dista," tutur Dista sendu.


"Ya sudahlah. Kalau dia memiliki prinsip yang kuat seperti itu, tidak usah mengharapkannya lagi. Tapi, lain kali kalau dekat lagi dengan seorang pria cari tahu yang benar bibit, bebet dan bobotnya.


Dengan begitu kita tidak terjebak lagi pada orang yang pura-pura miskin tidak tahunya anak orang kaya dan terhormat lagi. Yang ibu sesalkan, dia itu masih kerabat dengan kita," imbuh Paraswati menyesali sikapnya yang terlalu meremehkan orang lain hingga hilang sudah permata ditangannya.


......................


Vote dan likenya cinta please!"