Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
164. Don't Cry, Baby...!


Pintu kaca yang berlapis itu terbuka otomatis saat Ghaishan memasuki ruangan itu. Melihat prianya menghampirinya, Nada tidak tinggal diam untuk menyambut Ghaishan dengan wajah sendu dan sembab.


Para tentara penjaga tempat itu kembali berdiri seperti patung di tempat mereka siap menerima pukulan dari sang komandan karena sudah menyakiti wanitanya Ghaishan.


Nada tersenyum diantara luka perpisahan saat mereka sudah melangkah semakin mendekat dengan tatapan penuh cinta untuk mengikis jarak.


"Ghaishan...!" lirih Nada dengan bibir bergetar sambil merapikan penampilannya yang sempat terlihat berantakan gara-gara harus berantem dulu dengan para penjaga itu.


Ghaishan menendang lagi pria yang telah menendang wanitanya hingga terpental jauh. Nada tersenyum puas melihat prianya membalas tendangan pria itu padanya. Ghaishan kembali lagi ke Nada.


"Nada...!" Ghaishan memeluk wanitanya penuh cinta sambil menahan air matanya karena rasa haru dan sangat surprise dengan kedatangan Nada menjelang dirinya hendak berjuang dalam misi penyelamatan dunia.


"Maafkan aku..!" kata itu yang bisa Nada ucapkan dalam dada bidang sang kekasih.


"Alhamdulillah ya Allah," batin Ghaishan penuh syukur karena bisa merebut hati wanitanya setelah melewati berapa purnama untuk menyentuh hatinya Nada.


Waktu peluncuran tertunda sesaat karena mereka harus memberikan kesempatan sang juru kunci untuk bersama dengan wanitanya.


Ghaishan membawa Nada sedikit menjauh dari para penjaga itu untuk mendapatkan privasi.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu ada di sini untuk melihat ku pergi, Nada," ucap Ghaishan masih dengan gaya tengilnya untuk menutupi rasa sedihnya.


Nada memukul dada Ghaishan sambil mengemas air matanya yang terus mengalir." Apakah aku masih punya kesempatan untuk masuk dalam hatimu, Ghaishan?" tanya Nada lirih.


"Hei ...! aku sudah mengurungmu di dalam hatiku. Kenapa harus minta ijin untuk masuk, hmm?" tangan kekar itu mengusap pipi mulus Nada untuk menghapus air mata itu.


"Kalau begitu kau boleh pergi menjalankan misimu dan harus kembali lagi untuk membawa pulang hatiku yang sudah kamu sangkari di dalam sini!" ucap Nada sambil menunjuk dada bidang Ghaishan.


"Maafkan aku karena menyampaikan perasaan cintaku dengan cara yang salah padamu, Nada! Aku bukan pria yang sopan untuk bisa mendapatkan perhatianmu. Walaupun begitu aku tidak menyesalinya karena mungkin aku tidak lagi mencium bibir indah ini," ucap Ghaishan menekan bibir kenyal Nada dengan ujung jarinya.


"Justru perlakuanmu itu sangat ku rindukan saat ini, Ghaishan," batin Nada tidak sanggup menyampaikan perasaan yang sesungguhnya pada Ghaishan.


"Aku pergi Nada. Jaga dirimu..! terutama jaga hatimu untukku...! tapi jika terlalu lama aku kem...-" Nada menutup bibir Ghaishan dengan telunjuknya agar tidak mengatakan hal yang menyakitkan untuk ia dengar.


"Ssssttt....!" kau pergi untuk kembali lagi padaku kan? jadi, jangan pernah katakan hal yang membuat aku membencimu. Aku akan jaga tubuhku dan hatiku seutuhnya untukmu. Aku rela menantimu walaupun usiaku tidak muda lagi jika hanya untuk menunggumu kembali.


Tetaplah berjuang untuk cintaku. Jangan menyerah seperti kau tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatiku. Aku mencintaimu Ghaishan Quintano Luciano...!" tegas Nada serius sambil menatap wajah tampan Ghaishan yang berubah raut wajah itu seketika sendu.


"Banyak yang ingin ku katakan kepadamu, oh sayangku. Namun waktuku tidak cukup untuk mengungkapkan segala isi hatiku untukmu. Maafkan aku pergi seperti ini darimu. Kisah cinta kita belum berakhir karena aku ingin mengakhiri hidupku dengan membuatmu menjadi milikku untuk selamanya. Pastikan akulah pria yang selalu kau rindukan dihatimu!" ungkap Ghaishan pilu.


Nada menangis setiap mendengar ungkapan hati sang kekasih.


"Cium aku dan tersenyumlah padaku. Katakan padaku bahwa kau akan menungguku. Peluk aku seperti kamu takkan pernah melepaskanku.


Aku akan pergi dengan pesawat itu. Aku tidak tahu entah kapan aku akan kembali. Oh sayang, aku benci pergi seperti ini," Ghaishan menyanyikan lirik dari bait lagu leaving on jet plaine menghibur kekasihnya.


Ghaishan memeluk lagi wanitanya. Merasa lega karena cintanya terbalas sudah. Nada memeluk erat tubuh Ghaishan. Ghaishan mengecup kening Nada lalu membalikkan tubuhnya dan kembali berlari meninggalkan sang kekasih menuju pangkalan pesawatnya yang sudah menyembunyikan alarm tanda waktu peluncuran siap meluncur.


"Ghaishan....!" Nada berlari menghampiri Ghaishan namun pintu kaca itu terkunci otomatis agar tidak terpapar radiasi.


Sahabat baik Ghaishan menarik lengan lelaki itu agar segera masuk ke dalam pesawatnya. Nada lemas tak berdaya melihat punggung prianya sudah lenyap dari pandangannya.


"Hurry home dear! I will faithfully wait for you from time to time in my prayers in every prostration( cepatlah pulang sayang! aku akan menantimu di setiap waktuku dalam doa disetiap sujudku)." lirih Nada.


Sekitar satu jam kemudian, roket siap meluncur dengan kecepatan sepersekian detik membawa pergi beberapa personil astronot muda dan tangguh dengan membawa misi sesuai bidangnya masing-masing.


Bandar antariksa, bandariksa, pelabuhan angkasa, pusat peluncuran luar angkasa atau kosmodrom adalah tempat diluncurkannya wantariksa. Umumnya sebuah bandariksa harus mempunyai luas yang cukup besar agar jika sebuah roket meledak ia tak akan membahayakan nyawa manusia di sekitar lokasi peluncuran.


Nada meraung seorang diri sambil menatap tubuh lonjong bulat itu melesat ke atas udara menuju ruang antariksa. Mr. M menjemput Nada dan mengeluarkan gadis itu dari dalam sana. Amran dan Nabilla turut merasakan kesedihan putri bungsu mereka.


"Apakah anda yang bernama nona Nada?" tanya sang kapten.


Nada berhenti sejenak menatap bos dari kekasihnya itu." Iya tuan."


"Ini ada titipan dari Ghaishan untuk anda nona!" ucap sang kapten seraya menyerahkan kotak titipan pada Nada yang di terima Nada.


"Mengapa dia harus memberikan kotak ini padaku? apakah dia tidak akan kembali?" tanya Nada sambil menyeka air matanya.


"Setidaknya status anda tidak menjadi seorang janda nona. Seorang astronot pergi seakan menyerahkan jiwanya untuk tidak bisa berjanji untuk kembali," jawab sang kapten.


Nada memejamkan matanya dan sudah siap menerima apapun yang terjadi pada kekasihnya dia akan berusaha setia menanti." Aku yakin Allah akan mengembalikan dia padaku, tuan. Pegang kata-kataku karena sesungguhnya ajal itu milik Allah.


Mungkin tuan duluan pergi dari dunia ini sebelum para astronot itu kembali. Jadi mati bukan di mana kita berada karena ketetapan waktu kematian manusia hanya rahasia illahi," sarkas Nada membuat sang kapten tercekat mendapati jawaban dari Nada.


Amran membawa pulang istri dan putrinya langsung ke bandara untuk kembali lagi ke Indonesia. Mr. M berjanji untuk mengabari Nada jika ada perkembangan dari Ghaishan.


Pesawat jet pribadi milik Amran meninggalkan bandara Florida itu. Pesawat jet itu terbang ke udara sana membawa Nada dan orangtuanya. Gadis itu masuk ke dalam kamar untuk membuka kotak besar itu. Ia sudah sangat penasaran dengan isinya.


"Apa yang ingin kamu berikan padaku Ghaishan?" Nada mengangkat penutup kotak itu.


Di dalam sana ada ponsel baru buatan Ghaishan sendiri dari perusahaan ponsel miliknya yang ada di Itali. Ada surat juga. Ada foto-foto Nada yang di ambil oleh Ghaishan secara diam-diam.


Yang membuat Nada menyesal tidak ada fotonya bersama dengan Ghaishan. Nada mengambil jaket kulit milik Ghaishan yang biasa di pakai pria itu. Aroma parfum terasa harum dari jaket Ghaishan seakan menemani Nada saat ini.


Nada membuka surat tulisan tangan milik Ghaishan. Surat itu ditujukan untuknya. Ada juga kotak kecil yaitu sepasang cincin. Nada belum mengerti semua ini. Apa maksud dari Ghaishan memberikan semua ini untuknya.


"Mungkin jawabannya ada di dalam surat ini," lirih Nada sambil membaca surat itu.


"Assalamualaikum kekasih hati!"


Dear Nada cantik...! semoga kalimat pembuka dariku bisa membuatmu tersenyum.


Bersambung...


......................


Vote dan likenya cinta please!