Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
236. Penculikan


Mobil El-Rummi sudah memasuki area landasan bandara dan siap naik ke dalam pesawat jet pribadi ayahnya yang sudah membuka cup belakang agar mobilnya bisa masuk ke dalam bagasi.


Rupanya yang menjemput El-Rummi sendiri yaitu iparnya Daffa dan Ghaishan. Kedua pria ini yang menjadi co-pilot dan pilot sendiri untuk membawa pulang adik ipar mereka.


El-Rummi turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi dan memberikan beberapa pengaman pada mobilnya agar tetap stabil di tempatnya jika terjadi guncangan pada pesawat.


El-Rummi mengucapkan salam pada kedua iparnya itu yang langsung menuju ke landasan pacu siap melakukan take-off.


"Apa kabar El-Rummi! Bagaimana dengan princess Tamara? apakah dia galak padamu?" ledek Ghaishan.


"Sulit dijinakkan. Sangat galak," ucap El sedikit tersenyum kecut.


Pesawat siap meninggalkan bandara setempat menuju Jakarta-Indonesia. Sementara itu Tamara yang merasa kehampaan dalam dirinya lalu meminta pengawalnya untuk menyusul El ke bandara.


"Putar balik mobil ini...! Kita ke bandara sekarang!" titah Tamara.


"Tapi princess! Kita harus minta ijin pada raja," bantah salah satu bodyguard.


"Minta ijin adalah urusanku. Tugas kalian hanya mengikuti perintahku," tekan Tamara membuat sang sopir lebih menuruti putri mereka daripada membangkang.


Mobil mewah itu terus meluncur ke arah bandara. Tamara mengira El menumpang pesawat komersial. Itu berarti dia masih bisa bertemu dengan pria tampan itu.


"Semoga pesawatnya belum berangkat. Semoga saja pesawatnya delay," gumam Tamara penuh harap.


Tidak lama berselang, bom yang ada di mobil Tamara yang bisa dikendalikan dari jarak jauh itu mengeluarkan bunyi membuat kedua bodyguard Tamara saling menatap.


"Bunyi apa ini..? Apakah bunyi ponselmu?"


"Tidak. Bunyi ponselku tidak seperti itu.


Mereka beralih melihat Tamara yang sedang melihat ponselnya tampak tenang. Dan keduanya baru menyadari ada sesuatu yang ganjil.


"Bommm...!" pekik kedua bodyguard itu kompak menyita perhatian Tamara dan sopir yang ikut terkejut.


"Hentikan mobilnya...! Kita harus keluar dari mobil...!" titah salah satu bodyguard membuat sang sopir menepikan mobil mereka yang saat ini sedang berada di jalan tol.


Pintu di buka buru-buru oleh mereka. Dan Tamara sudah berlari lebih dulu menjauhi mobil itu dan tepat di saat itu bom meledak. Dan mobil yang ada di belakang mobil mereka adalah mobilnya para penjahat yang langsung berhenti dan menarik tubuh Tamara masuk dalam mobil mereka.


"Lepaskan...!" pekik Tamara ketakutan.


Jadi penjahat memanfaatkan ledakan mobil itu yang sempat membuat kedua bodyguard Tamara dan sang sopir tidak bisa menyelamatkan diri mereka dari ledakan dahsyat mobil itu karena terpental mengenai lagi ketiganya yang sedang berlari menjauhi mobil tersebut.


Tamara yang sudah dibekap mulutnya yang langsung mencium obat bius dari sapu tangan milik penjahat hingga tubuhnya langsung lemas.


"Bawa dia ke pesawat sekarang..!" titah seorang wanita yang ada di mobil lain.


"Baik princess..!"


"Cih...! Kau kira kau bisa menggantikan tempatku di hati suamiku? Kau salah besar putri. Aku tidak akan mengijinkan kamu melahirkan seorang pangeran.


Yang akan menjadi raja tetaplah putraku yaitu pangeran Zidane. Walaupun putraku cacat tetap saja dia adalah putra dan cucu pertama dari keluarga kerajaan. Aku tidak akan mengijinkan istri lain dari bajingan itu melahirkan pewaris," gumam princess Zainab yang merupakan Istri pertama dari pangeran Ammar yang akan menikahi Tamara usai lebaran nanti.


"Beruntunglah dia menuju bandara. Jadi kita tidak perlu repot-repot menculiknya ditengah kota," ucap pengawalnya princess Zainab.


"Jika saja pria yang tadi bersama dengan Tamara melakukan sesuatu untuk gadis ini, kita tidak akan menculiknya," ucap princess Zainab.


"Apakah kalian bisa selidiki pria itu? Sepertinya dia bukan berasal dari kalangan biasa," pinta princess Zainab.


"Kami sudah selidiki pria itu sebelumnya princess. Tapi, sulit mendapatkan akses untuk mengetahui pria itu karena data dirinya dirahasiakan oleh negara," ucap sang asisten.


"Berarti dia seorang agen rahasia yang dilindungi oleh negara," batin princess Zainab.


"Apa yang harus kita lakukan pada gadis ini, princess?"


"Kita akan membuat dia lupa ingatan lalu menyekapnya. Setelah itu, kita buang dia ke suatu negara yang tidak memiliki akses komunikasi," jawab princess Zainab.


"Ke mana?"


"Itu tugas kalian untuk mencarinya dan meninggalkan gadis ini sendirian di tempat terpencil. Aku ingin dia mati secara perlahan dan ayahnya tidak akan pernah tahu keberadaan putrinya," ucap princess Zainab.


"Baik princess."


Mobil mereka juga sudah masuk ke pesawat jet pribadi. Pesawat itu langsung terbang menuju kota Riyadh Arab Saudi.


Sementara di jalan tol Bahrain, polisi sedang mengamankan mobil mewah kerajaan yang meledak tadi. Raja Farouk dan ratu Hanifa sangat syok saat mengetahui mobil yang ditumpangi putri mereka meledak di jalan tol.


"Temukan jenasah putriku supaya kita bisa memakamkannya dengan layak..!" titah raja Farouk pada prajuritnya sambil menahan kesedihannya.


Panglima Yusuf menghampiri raja Farouk yang nampak terpukul. Ia yang baru terima kabar dari kepolisian setempat memberitahu kabar terbaru tentang princess Tamara.


"Maaf yang mulia..! Di tempat kejadian tidak ditemukan jenasah princess Tamara. Sepertinya ada yang menculiknya setelah princess Tamara berhasil lolos dari ledakan mobil itu," ucap panglima Yusuf.


"Penculikan....? Apakah kamu sudah memeriksa rekaman CCTV jalanan?" tanya raja Farouk.


"CCTV di lokasi kejadian tidak berfungsi yang mulia," ucap panglima Yusuf sambil tertunduk lesu.


"Kalau begitu tunggu apa lagi..? Periksa semua orang di bandara untuk mencari putriku! Dan hubungi agen rahasia FBI itu!" titah raja Farouk.


"Tuan El-Rummi sudah kembali ke Amerika."


"Tetap hubungi pemuda itu..! Hanya dia yang aku percaya. Sementara yang lain aku sangat meragukan kinerja mereka termasuk kamu yang mungkin saja bekerjasama dengan penculik itu," sarkas raja Farouk penuh murka.


"Baik yang mulia," ucap panglima Yusuf beranjak keluar dari istana itu menuju bandara.


Sementara itu asisten pribadinya Tamara yaitu Ghena begitu puas dengan penculikan Tamara. Pasalnya dirinya sendiri juga merupakan putri kandungnya adiknya raja Farouk yaitu pangeran Zein.


Putri hasil zinahnya dengan seorang pelayan. Hanya saja ayahnya itu sudah meninggal diracuni oleh pengawalnya sendiri.


"Selamat jalan princess Tamara. Apa yang kamu miliki menjadi milikku. Aku akan membunuh kedua orangtuamu. Aku akan menduduki istana kerajaan ini karena aku adalah keturunan satu-satunya dari kerajaan ini," ucap Ghena menyeringai licik.


Ia masuk ke kamar Tamara dan mengenakan perhiasan berlian milik Tamara yang dari dulu begitu ia sukai.


"Semua yang kamu miliki akan menjadi milikku," ucap Ghena cekikikan sendiri sambil mematut tampilannya di kaca.


Beberapa jam kemudian, pesawat jet pribadi milik Amran tiba di bandara setempat. Walaupun sudah tiba di kota kelahirannya, perasaan El sangat gelisah hingga berulangkali menarik nafas berat.


"Ada apa denganku?" tanya El sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.