
Seluruh keluarga besar Amran sudah berada di dalam kapal. Mereka masih belum menyadari bahwa satu orang anggota keluarga yang belum hadir saat ini. Siapa lagi kalau bukan Bunga. Sementara Cinta yang selalu merahasiakan apapun kegilaan Bunga di luar sana makin membuat hati gadis ini terasa gundah.
Cinta terlihat gelisah hanya mondar mandir bak gosokan panas." Aduh Bunga! ke mana sih Lo? telepon nggak di aktifkan. Rasanya aku yang mau di eksekusi mati," gerutu Cinta karena kapal akan segera berangkat.
Sementara itu Bunga melihat hasil produknya dan mengenakan produk makeupnya itu sendiri. Walaupun sudah diuji secara klinis, namun ia tidak mau ada yang memfitnah produk makeupnya dengan aduan alergi kulit. Untuk itu ia mencoba lagi hasil produknya itu.
Helikopter yang sedang menjemput Bunga harus menunggu gadis itu di atap gedung sana. Entah mengapa cuaca tiba-tiba mendung dan angin mulai bertiup kencang. Merasa sudah terlalu lama menunggu Bunga, sang pilot akhirnya berinisiatif untuk menjemput Bunga.
"Biar saya yang turun menjemput gadis itu, kapten Bimo. Dasar gadis manja, hanya menyusahkan orang saja," umpat sang pilot sambil melepaskan seat beltnya.
"Jangan mengumpat sembarangan! bisa jadi lo jatuh cinta sama gadis itu," ledek co-pilot.
"Paling gadisnya jelek. Gue paling alergi dengan gadis jelek dan manja dari kalangan konglomerat," ucap sang pilot turun dari helikopternya.
Ia berlari ke arah pintu lift. Baru saja pintu lift dibuka muncullah Bunga dan langsung dicerca oleh sang pilot. Bunga yang saat ini mengenakan topi, kaca mata hitam dan masker untuk menutupi kecantikannya yang tidak sembarangan memperlihatkan ke semua orang.
Angin kembali menerpa atap gedung perusahaan Bunga, membuat co-pilot harus menerbangkan lagi helikopternya karena takut tergelincir dari atap gedung.
"Hei...! apakah kamu tidak bisa lebih cepat! Pekerjaan kami sangat banyak bukan hanya untuk mengurus kamu saja," omel sang pilot.
Bunga yang tadi sibuk menelepon untuk memberitahukan keberadaannya pada Cinta, baru bisa menatap wajah sang pilot. Betapa kagetnya Bunga saat menatap lebih teliti wajah sang pilot.
"Kau....! Bukankah dia tadi yang menolong aku saat melawan penjahat? oh, jadi dia seorang pilot. Ternyata dia tampan juga," gumam Bunga diam-diam memuji sang pilot yang tidak lain adalah Daffa.
"Ketahuan sekali gadis ini sedang menyembunyikan wajahnya yang jelek hingga menutup rapat wajahnya," batin Daffa menghina Bunga.
"Hei...! kenapa lihat aku seperti itu? Apakah kamu baru melihat pria tampan seperti aku?" angkuh Daffa membuat Bunga ingin menendang monster kecilnya Daffa dari balik celana seragam itu.
"Cih...! percaya diri sekali dia. Ternyata narsis juga ini cowok. Sudahlah. Kau bukan kategori aku lagi. Aku tidak suka dengan pria kelewat narsis, angkuh dan nyebelin," batin Bunga menepis kekagumannya pada Daffa.
"Jangan terlalu percaya diri nona! karena kau bukan gadis tipikal aku. Aku sudah jatuh cinta dengan gadis pemberani tadi yang bisa melumpuhkan lawannya dengan mudah," batin Daffa yang masih belum move on pada gadis yang sama saat ini berada di hadapannya.
Daffa hendak memegang tangan Bunga namun gadis itu mundur dua langkah menjauhi Daffa." Jangan pernah menyentuhku!" tolak Bunga ketus.
"Jangan terlalu percaya diri karena aku hanya menjalankan tugasku saat ini, bukan mengajakmu berkencan, paham!" semprot Daffa tidak kalah sengitnya.
Ia harus meminta rekannya untuk mengulurkan tali karena mereka harus menggunakan tali agar bisa ke atas helikopter. Bunga yang mengetahui prosedur helikopter dalam keadaan darurat nampak tenang dan itu membuat Daffa sedikit heran dengan sikap Bunga yang terlihat sudah terlatih mentalnya.
"Diamlah! aku akan memakaikan pengaman ini pada tubuhmu!" titah Daffa namun ditolak oleh Bunga mentah-mentah.
"Aku tidak akan mengijinkan kamu menyentuh tubuhku. Aku bisa melakukannya sendiri. Tolong pegang tasku!" ucap Bunga seraya menyerahkan tasnya pada Daffa yang sedang menahan geram luar biasa.
Tangan lembut dengan jemari lentiknya begitu terampil mengenakan pengaman pada tubuh moleknya yang membuat Daffa terhenyak.
"Apakah gadis ini bagian dari militer? tapi tampangnya tidak begitu meyakinkan," batin Daffa.
"Sudah. Ini bukan hal baru bagiku. Tidak usah terpesona seperti itu. Biasa saja, ok," remeh Bunga membuat Daffa hanya bisa berdecih sinis.
"Di mana-mana cewek jelek itu banyak tingkah untuk mencari perhatianku. Aku sudah hafal dengan sifat wanita jelek seperti dia," Daffa makin demen mengatai Bunga.
Di saat pertengahan tarikan itu hujan angin kencang datang bersamaan menjatuhkan topi, kaca matanya Bunga diikuti masker Bunga ikut terbawa oleh sang angin hingga memperlihatkan pahatan cantik putri Amran ini.
"Allahu Akbar! kaca mataku, topiku!" pekik Bunga yang tidak rela kacamata dan topinya jatuh begitu saja.
"Diamlah! aku bisa menggantikan topi dan kacamatamu itu," omel Daffa tanpa memperhatikan wajah cantik Bunga.
"Hei tuan kaya! Aku bukan gadis pengemis yang akan terima sedekah dari pria angkuh dan menyebalkan sepertimu," umpat Bunga.
"Makanya jadi gadis je...-" Daffa kehilangan kata-katanya saat menatap wajah cantik Bunga yang langsung menghipnotis mata elangnya dan membungkam mulut besarnya dengan pesona Bidadari dalam pelukannya.
"Masya Allah. Subhanallah. Ya Allah. Betapa sempurnanya ciptaanMu pada wajah gadis ini," puji Daffa tampak tertegun menatap wajah cantik Bunga.
"Apa yang ingin kamu katakan tadi padaku? ulangin!" titah Bunga terdengar sewot.
"Kecantikan yang sempurna!" lirih Daffa bagaikan nyanyian syahdu terdengar di kuping Bunga yang tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, begitu pula Daffa yang sibuk membenahi rambut Bunga yang menutupi separuh wajah gadis itu karena tertiup angin kencang.
Dalam sekian menit keduanya saling menatap dalam jarak pandang yang cukup untuk saling mengagumi satu sama lain. Ingin rasanya Daffa mengecup bibir merekah milik Bunga yang membuatnya mabuk kepayang saat ini.Tanpa di sadari Bunga Daffa makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Bunga yang ikut memeluknya karena angin yang berhembus sangat kencang saat ini.
Daffa membawa wajah Bunga dalam pelukannya dan melindungi gadis itu sepenuh jiwanya. Hatinya terasa menghangat seakan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya dan keduanya melepaskan dahaga rindu saat ini.
Begitu pula dengan Bunga yang tiba-tiba merasa nyaman dan hatinya terasa terbakar dalam letupan api asmara yang sedang menghangatkan pertemuan ini.
"Tenanglah! Kamu dalam perlindunganku. Jangan takut, ok!" bisik Daffa diangguki Bunga dalam dada bidang pria ini.
Setibanya di atas helikopter, Daffa membantu Bunga untuk melepaskan mantel gadis itu yang sudah basah. Ia mengambil jaketnya dan memakaikan pada Bunga karena tubuh gadis itu terlihat menggigil. Sementara Daffa sendiri melepaskan seragamnya yang nampak basah kuyup hingga memperlihatkan otot-otot kekar dengan susunan roti sobek itu yang terlihat sangat seksi mematik darah Bunga yang seketika berdesir.
"Astaghfirullah!" desis Bunga yang baru menyadari hasratnya yang sedang dipertontonkan setan saat ini melalui mata indahnya.
Daffa menggantikan lagi seragam basahnya dengan yang kering lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Bunga yang sedang meringkuk dengan memeluk tubuhnya sendiri. Daffa reflek memeluk Bunga untuk memberikan kehangatan pada tubuh gadis itu.
"Aku akan mengantarkan kamu sampai ke kapal keluargamu. Mereka belum jauh dari posisi kita saat ini," ucap Daffa yang sebenarnya dia tidak rela berpisah secepatnya dengan Bunga.
"Sial...! kenapa hatiku jadi kacau seperti ini. Magis apa yang dipakai gadis ini yang membuat aku langsung lemah hati. Aku bertemu banyak wanita cantik, tapi kenapa dengan gadis ini aku malah merasa jantungku terus berdegup kencang. Hei ....! bisakah kau diam, berengsek! jangan mempermalukan aku didepan gadis ini," ancam Daffa pada jantungnya."
"Aduh ..! mana harum banget rambut dan tubuhnya. Tolong aku ya Allah. Apakah saat ini perasaanku tidak salah? apakah aku sedang jatuh cinta pada gadis ini ataukah gadis pemberani yang tadi pagi buta aku temui?" ragu Daffa dengan pikirannya yang mengaduk bimbang dengan pilihannya.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba baling- baling helikopternya mengalami gangguan membuat Co-pilot berteriak pada Daffa.
"Kapten...! saat ini kita tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada kendala teknis dan.....-"
Kata-kata sang co-pilot terhenti mana kala helikopter tiba-tiba oleng dan terjun bebas membuat Dafa memeluk kuat Bunga yang berteriak takbir.
"Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin'. Artinya:
"Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya," lirih Bunga yang tetap fokus memusatkan pikirannya kepada sang khalik membuat Daffa sangat kagum dengan ketenangan Bunga, saat gadis ini membaca doa nabi Yunus.
Vote dan like nya cinta please!