Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
176. Datang Disaat Yang Tidak Tepat


Nada terlihat sangat mengantuk dan tidak kuat lagi menjaga suaminya yang belum siuman juga akibat obat penenang yang diberikannya agar Ghaishan betul-betul istirahat.


Nada nampak terlelap disamping Ghaishan sambil melingkarkan tangannya di atas perut Ghaishan. Cleaning service yang datang membawakan sarapan pagi untuk Ghaishan terlihat sangat hati-hati meletakkan baki makanan itu agar tidak menganggu pasangan pengantin baru itu yang sedang terlelap.


Ghaishan merasakan kerongkongannya sangat kering lalu sedikit batuk membuat Nada ikut terbangun. Seakan masih terbawa mimpi, Ghaishan merasa dia belum menikah dengan Nada. Wajah bingung mendominasi aura tampan itu.


"Nada ....? Kenapa aku bisa ada di sini dan mengapa kamu nekat tidur di sampingku?" tanya Ghaishan.


"Wah..! Dia ngelantur. Rupanya dia lupa semalam habis-habisan membuat aku tidak berdaya. Dasar manusia planet!" gerutu Nada yang mengetahui Ghaishan masih terpengaruh oleh morfin.


Sejurus kemudian Nada tersenyum memperlihatkan bibirnya yang tetap terlihat merah merekah walaupun tidak ada lipstik yang melekat dibibir itu. Nada turun dari tempat tidur itu lalu mengambil air mineral untuk suaminya.


"Minum dulu sayang!" membantu mengarahkan sedotan ke bibir Ghaishan. Ghaishan menyedot air itu dengan sangat hati-hati.


"Alhamdulillah. Kamu sudah sadar sayang? Kenapa dalam keadaan sakit masih nekat anboxing, sih?" omel Nada.


"Emangnya kita melakukan itu? Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya kalau kita belum menikah?" keluh Ghaishan membuat Nada hanya bisa menarik nafas jengah.


"Ghaishan. Jangan bilang kamu lupa ingatan ya. Kita itu sudah menikah. Sudah bercinta semalam dan akibat dari itu kamu dirawat di sini. Dari kamar hotel berakhir di kamar rumah sakit. Ini foto-foto pernikahan kita berlangsung sederhana kemarin dan itu sangat berkesan," Nada memperlihatkan jemarinya yang sudah terpasang cincin pernikahan bertahtakan berlian.


Gadis ini memperlihatkan galeri foto pernikahan mereka dari ponselnya. Ghaishan tersenyum melihat foto-foto itu." Tapi kenapa aku merasa kita belum melakukan malam pertama kita ya? Boleh melakukan lagi nggak? Biar berasa pengantin barunya," goda Ghaishan yang sudah ingat terakhir kalinya ia pingsan dalam pelukan istrinya.


"Kamu ini masih saja iseng denganku ya? Apa masih belum kapok buat aku jantungan, hmm?!" semprot Nada dengan wajah memerah menahan malu.


"Mana? sini..! Aku periksa jantungnya!" guyon Ghaishan yang ingin merasakan benda empuk nan padat milik istrinya yang sudah ia sesap semalam seperti bayi kehausan.


"Tidak usah di periksa! Fokus dulu pada kesembuhanmu. Baru bisa bercinta lagi. Aku trauma juga lihat kamu semalam. Kamu makan ya! Nanti jam sepuluh pagi kamu akan di bawa ke ruang MMR. Mau melihat keseluruhan organ vitalmu," ucap Nada sambil membuka plastik piring dan mangkuk yang masih tertutup rapat.


"Kalau aku dinyatakan sehat, berati kita boleh melanjutkan lagi bercintanya?" tangan Ghaishan sudah merayap di dada Nada yang tidak bisa menolak karena itu hak suaminya atas tubuhnya.


"Iya sayang. Habiskan sarapanmu! Minum obatnya dan lanjutkan perawatan hingga sembuh. Setelah itu kamu boleh menikmati tubuhku sepuasmu. Dan untuk itu, jangan minta itu dulu sekarang ini. Pegang aja nggak apa-apa!" imbuh Nada mempertegas kalimatnya membuat wajah Ghaishan murung.


"Apakah kamu juga ikut ke dalam ruang MMR?" tanya Ghaishan.


"Bukan ikut. Tapi aku sendiri yang memastikan keadaan tubuhmu dan bisa melakukan tindakan medis bila itu perlu. Mau buru-buru bercinta kan?" goda Nada.


"Tentu saja. Siapa yang mau menolak untuk urusan yang satu itu?" timpal Ghaishan yang sudah menghabiskan makanannya yang disuapi Nada.


"Bagus. Itu yang aku tunggu." Nada mengecup bibir Ghaishan sekilas namun pria ini menekan tengkuk istrinya langsung memagut bibir ranum milik Nada yang ikut menikmati sarapan bibir itu.


Bunyi decapan bibir itu merasakan setiap kehangatan yang bisa mereka ungkapkan dengan permainan lidah dan saling berbagi salivanya.


...----------------...


Menjelang persalinan Bunga, yang hanya menghitung hari, kini Daffa sudah mengambil cuti agar stay di samping istrinya yang makin manja setiap kali merasakan kontraksi.


Pipi Bunga yang makin chubby, membuat Daffa makin gemas mencium pipi itu." Kamu makin bulat saja sayang," goda Daffa.


"Iya. Entar tinggal di gelinding kayak bola tendang," kesal Bunga.


Aku malah ingin mengunjungi benihku terus karena tubuhmu seperti ini. Bukankah sudah terbukti kita bercinta tidak pernah berhenti selama kamu hamil?" goda Daffa kian gencar.


Bunga yang sedang menikmati buah anggur hanya bisa tersipu malu mengingat mereka tidak pernah lelah untuk bercinta setiap saat.


"Tapi, kamu nggak akan melirik gadis lain saat nanti aku sudah melahirkan?" cemas Bunga.


"Sayang. Konsentrasi saja dengan kelahiran bayi kembar kita. Jangan berpikiran macam-macam! Itu perbuatan setan yang ingin mengecilkan hatimu dengan berpikiran buruk pada suamimu.


Itu dosa sayang. Jika seorang istri menghadirkan prasangka buruk pada suaminya, justru setan sedang menggoda suaminya agar melakukan seperti yang Istrinya bayangkan. Kau segalanya bagiku, Bunga dan tidak ada wanita manapun yang membuat aku tertarik," tegas Daffa.


"Maafkan aku! Aku sangat takut untuk berbagi kamu dengan orang lain," Bunga memeluk suaminya posesif.


"Aku hanya membagi cintaku dengan bunda Cyra dan bunda Nayla. Hanya ada tiga wanita dalam hidupku," ucap Daffa.


"Terimakasih hubby." Nada mulai meringis lagi. Kali ini ia merasa pinggangnya sangat panas dan ada dorongan kuat yang memaksanya untuk mengejan.


"Daffa. Perutku sakit," keluh Bunga dengan keringat dingin bercucuran.


"Lho! bukannya sepekan lagi kamu melahirkan, sayang?" tanya Daffa panik.


"Prediksi dokter tidak selamanya benar karena Allah yang menentukan takdir manusia atas kelahirannya. Ayolah sayang! Aku tidak kuat lagi," rengek Bunga.


"Baiklah." Daffa menggendong tubuh istrinya dan membawa masuk ke mobil.


"Pak Ujang. Tolong antarkan kami ke rumah sakit sekarang!" titah Daffa mendudukkan Bunga di jok belakang.


"Baik Tuan." Benda mewah itu sudah melesat dengan cepat ke arah jalan raya.


"Sayang. Tarik nafas lalu buang nafas sambil istrigfar!" pinta Daffa pada Bunga yang mengangguk menuruti permintaan suaminya.


Sialnya siang itu kendaraan mereka terkepung dengan adanya demo di mana-mana. Pak Ujang mulai setress karena sulit untuk mencari jalan alternatif di karenakan mobil sulit bergerak untuk berpindah haluan.


"Akkhhh....! Daffa. Aku sudah tidak kuat. Sakitttt...!" jerit Bunga membuat Daffa kalang kabut sendiri.


"Ya Allah. Bagaimana ini..?" Daffa memeluk tubuh istrinya sambil mengusap pinggang Bunga yang mengeluh panas.


"Tuan. Sepertinya kita tidak bisa mencapai rumah sakit dalam keadaan macet seperti ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya pak Ujang ikut panik melihat wajah Bunga yang sudah sangat pucat dengan tubuh menggigil menahan sakit.


"Ya Allah. Kenapa ini ujian datangnya di saat yang tidak tepat. Sayang. Apakah kamu masih bisa bertahan?" tanya Daffa. Bunga menggeleng lemah sambil menangis.


"Ya Allah. Tolong kami ya Robby...!" pekik Daffa membenamkan bibirnya ke pipi dan kening istrinya.


"Astaghfirullah. Daffa. Ketubannya sudah pecah. Sepertinya aku akan melahirkan di mobil," desis Bunga dengan air mata berderai.


......................


Vote dan likenya cinta please!