Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
189. Anniversary


Tidak terasa usia pernikahan Daffa dan Bunga sudah memasuki tahun ke 6. Daffa menanyakan hadiah apa yang diinginkan oleh istrinya di ulang tahun pernikahan mereka kali ini sebelum dirinya berangkat kerja.


Sebenarnya Daffa paling bingung kalau memberikan hadiah buat istrinya yang tidak menginginkan segala bentuk kemewahan karena Bunga sudah memiliki semuanya. Terpaksa Daffa yang harus menanyakan kegilaan apa lagi yang diinginkan oleh istrinya kali ini.


Tahun pertama pernikahan, Bunga meminta mereka melakukan terjun payung di daerah Lembang Bandung. Tahun ke dua pernikahan, mengajak permainan jet ski di ketinggian ombak yang cukup ekstrim di pantai Bali. Tahun ke tiga naik balon udara dan tahun ke empat ikut balap mobil. Tahun ke lima melakukan diving ke laut Bunaken Dan sekarang apa lagi yang akan ia wujudkan di ulang tahun pernikahan mereka kali ini.


"Sayang. Kamu mau hadiah apa untuk anniversary kita?" tanya Daffa.


"Mau pacaran gaya anak muda atau ABG," ucap Bunga.


"Apa nggak terkesan kekanak-kanakan?" tanya Daffa.


"Tidak. Aku merasa belum tua. Awas saja kalau kamu merasa tua!" ancam Bunga sambil merapikan seragam angkatan udara yang dipakai suaminya.


"Tidak. Aku tidak merasa tua. Aku tidak mau ada yang menggoda istriku karena aku terlihat tua," sahut Daffa yang sudah terlihat gagah dengan seragam angkatan udaranya.


"Kalau begitu, tunggu kejutan dariku! Nanti sore aku akan menjemput kamu di kantormu!" ucap Bunga.


"Di mana-mana, suami yang jemput istrinya untuk pergi kencan, kenapa jadi terbalik begini," gerutu Daffa.


"Jangan lupa sekarang sedang membuming lagi apa itu emansipasi wanita. Jadi gantian istri yang memberikan kejutan manis untuk suaminya," ucap Bunga.


"Ok. Aku berangkat dulu, sayang. Jaga anak-anak saat kamu menjemput mereka pulang sekolah!" kecupan manis mendarat dibibir Bunga yang ikut menyambut ciuman suaminya.


Cek..lek...


Pintu dibuka oleh Raffi yang sedari tadi menunggu agar bisa berangkat bersama ayah mereka ke sekolah.


"Oh..oouht..!" Raffi tidak melihat ayah ciuman sama bunda," ucap Raffi sambil menutup matanya dengan tangan kecilnya.


Pasangan itu langsung melepaskan ciuman mereka. Bunga menghampiri putranya dan melihat penampilan Raffi yang sangat tampan.


"Di mana Raffa, sayang?" tanya Bunga.


"Sedang membaca buku, bunda. Ayo ayah kita berangkat! Kami sudah terlambat ke sekolah," ucap bocah yang berusia hampir lima tahun ini.


"Iya sayang. Keluarlah duluan. Ayah akan menyusul kalian!" ucap Daffa.


"Ayah. Wajah bunda tidak akan berubah dengan hanya menatapnya terus. Apa nggak bosan lihat wajah bunda setiap saat?" sungut Raffi kesal.


"Apakah kamu mau ayah ganti bunda yang baru?" canda Daffa.


"Iihhh.. Nggak banget deh ayah..!" protes Raffi sambil berkacak pinggang.


"Daffaaaa....!" bentak Bunga sambil menatap tajam wajah suaminya.


"Sorry baby! Cuma becanda," ucap Daffa.


"Nggak lucu!" sewot Bunga.


"Rasain lho yah..entar sebulan nggak di kasih cium sama Bunda!" ledek Raffi langsung ngeloyor pergi tanpa dosa.


"Dasar anak ini! Merusak momen aja," ucap Daffa mengikuti langkah Raffi.


Mobil mewah itu meninggalkan kediaman Daffa dan Bunga. Daffa mengantarkan dulu si kembar ke sekolah putranya baru ke kantornya. Daffa memang ingin memiliki momongan lagi. Hanya saja tenaga Bunga sedang dibutuhkan di FBI karena saat ini Nada sedang melakukan program hamil.


"Bye...bye ...ayah....!" pamit Raffa Raffi pada ayahnya setelah mengucapkan salam dan mengecup pipi Daffa.


"Belajar yang rajin dan jangan nakal!" nasehat Daffa pada putra kembarnya. Pria tampan ini mengantar sampai di depan pintu gerbang dan kembali lagi ke dalam mobilnya.


Kedua bocah ini sudah duduk di kelas 4 SD karena kejeniusan mereka. Beruntunglah keduanya sekolah di internasional school. Begitu pula anak kembar empatnya Cinta dan Arsen. Mereka sekolah di tempat yang sama dengan si kembar.


...----------------...


Ia memarkirkan motornya tepat di depan kantor sang suami tanpa ingin turun karena ia sudah menghubungi Daffa yang sedang keluar dari kantornya. Seketika jantung Daffa seakan ingin berhenti kala melihat wanita yang berpakaian dan motor yang sama dengan helm yang sama juga.


"Dia ...gadis yang dulu 6 tahun lalu yang aku temui?" gumam Daffa terpaku menatap wanita yang sedang bersandar di motor itu tanpa melepaskan helmnya.


"Kenapa dia menatapku? Apakah dia masih ingat denganku? Apa urusan gadis itu di sini? Apakah kekasihnya salah satu anggota angkatan udara juga?" tanya Daffa tanpa memalingkan wajahnya dari wanita yang sedang menatapnya juga.


Merasa Daffa terlalu lama menatapnya, Bunga akhirnya tidak sabar menghampiri suaminya.


"Mampus...! Dia menghampiriku. Kalau ketahuan Bunga bisa gawat urusannya. Aku bisa di lemparkan ke gunung penghuni ular kobra atau di buang ke dasar laut dalam, jika berurusan dengan agen rahasia ini," Daffa bergidik ngeri membayangkan wajah Bunga yang sedang mengeluarkan tanduknya dengan muka memerah dan kuping mengeluarkan asap.


Daffa segera berbalik ingin menghindar namun sejurus kemudian lengannya sudah dicekal oleh Bunga.


"Mau ke mana lagi Daffa?" tanya Bunga membuat Daffa merasa bingung sendiri.


"Ini suara Istriku atau perempuan itu?" Daffa makin ketakutan untuk menoleh melihat siapa yang harus ia percayai.


"Kamu kenapa sih jadi aneh begitu?" tanya Bunga yang sudah membuka helmnya.


"Berarti ini istriku Bunga, bukan gadis itu," Daffa meyakinkan dirinya lalu berbalik.


"Sayang...!" Daffa memindai penampilan Bunga dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Lho...kok...?!" suara Daffa tercekat saat mengetahui gadis yang dulu pernah ia tolong ternyata istrinya sendiri. Daffa menepuk jidatnya sendiri.


"Masya Allah. Astaghfirullah halaziiim! Jadi, ...?"


"Apa ..? Kamu kenapa Daffa? Ada yang aneh dengan penampilanku?" cecar Bunga.


"Jadi dulu yang berantem dengan sekelompok perampok itu, kamu?" tanya Daffa.


"Oh, jadi selama ini selalu memikirkan gadis yang sedang berantem dengan perampokan uang itu?" tanya Bunga sambil mendelik.


"Ih...nggak juga. Siapa juga yang mikirin gadis itu," mencoba menghindar.


"Katanya mau cari bunda baru buat si kembar?" ledek Bunga.


"Jangan mulai deh, entar ujung-ujungnya ribut. Senang banget sih nantangin suami," kesal Daffa.


"Ayo kita cabut. Kelamaan kamunya."


Bunga menarik pergelangan tangan Daffa menuju motor mereka. Kebetulan Bunga membawa dua helm yang sama modelnya dengan miliknya.


"Kita mau ke mana, sayang?" tanya Daffa setelah berada di atas motor.


"Ke tempat mangkal anak muda. Kita makan bakso beranak di pantai Ancol!" ajak Bunga.


"Astaga. Ada-ada saja makan bakso beranak. Kapan hamilnya itu bakso? Udah beranak aja. Aduh negaraku ini sudah kelebihan inovatif. Bakso beranak, bebek terbang, ayam geprek, sambal setan, minuman iblis, cilok marcon. Belum lagi entar nama yang di kasih makanan yaitu bom nuklir.


Kapal api saja diminum, gudang garam dihisap, bulan madu saja di awan, gila nggak tuh generasi sekarang," gumam Daffa sambil membawa istrinya ke pantai naik motor.


Keduanya berjalan di pinggir pantai tanpa alas kaki sambil merangkul pinggang. Sementara itu cuaca berubah mendung dan tiba-tiba angin kencang datang bersamaan dengan hujan.


Keduanya berlari menghindari hujan dan berteduh di salah satu perahu. Karena kedinginan keduanya saling berpelukan lalu bercumbu di atas perahu yang ada di pinggir pantai itu.


Tanpa disadari keduanya, pemilik perahu memergoki keduanya." Hei, apa yang kalian lakukan? Pacaran di sini? Kenapa tidak di hotel saja sana!" bentak bapak tua itu dikira keduanya ingin berbuat mesum di kapalnya.


Keduanya langsung berlari ketakutan menuju ke motor mereka sambil tertawa ngakak." Wah bisa digerebek kita disuruh nikah lagi," ucap Daffa yang terpacu jaga adrenalinnya mengikuti gaya ala anniversary yang di pinta Bunga.


Gaya keduanya yang berpenampilan seperti anak muda seakan baru saja berkenalan seperti orang yang baru mengenal cinta.


Vote dan likenya cinta please!