Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
172. Menanti Jawaban


Tiga bulan pasca musibah yang terjadi kepada Cintami dan Ghaishan, kini kelurga Amran hanya butuh ketenangan dan kesabaran melalui semuanya dengan tegar. Jika setiap masalah kehidupan yang menimpa manusia, kembalikan kepada Allah sebagai pemilik masalah itu untuk menguji keimanan hambaNya.


Arsen yang awalnya adalah pria lugu yang selalu membuat keputusan dengan melihat dunia sebagai tempat ia belajar untuk memahami karakter setiap manusia dengan kebaikan hatinya, kini tidak lagi ia gunakan setelah mengetahui pahitnya dikhianati.


Ia tampil menjadi lebih tegas dan sangat selektif pada setiap klien yang mengajaknya bekerjasama di setiap proyek yang ia dapatkan.


"Dulu aku terlalu naif untuk menjalani kehidupan dengan memegang teguh prinsip agar selalu berbuat baik terhadap sesama akan berakhir dengan baik. Tapi, pelajaran hidup membuka mataku bahwa manusia yang ku hadapi tidak selamanya tulus.


Mereka memanfaatkan kebaikanku hanya untuk menjebakku," lirih Arsen sambil menatap pemandangan di depan gedung perusahaannya lewat dinding kaca tebal tembus pandang.


Cintami yang tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya, kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa dengan menyibukkan diri untuk mengajar.


Baginya, kesedihan yang terlalu lama mengendap di dalam hati hanyalah permainan setan mengusai pemikiran kita untuk tidak lagi melihat dunia ini secara optimis.


Jika di telisik lagi lebih mendalam tentang janji Allah yang akan menggantikan sesuatu yang hilang dengan yang lebih baik untuk hambaNya yang mau bersabar. Jika tidak di dunia ini yah di akhirat nanti.


Hanya saja saat ini kelurga besar fokus pada kehamilan Bunga yang sudah memasuki usia kandungannya tujuh bulan. Berarti sekitar dua bulan lagi, Bunga akan melahirkan bayi kembarnya.


Drettttttt....


Panggilan telepon dari ponsel milik Nada berdering cukup kencang membuat gadis berusia 18 tahun ini segera menerimanya dengan cepat. Ternyata panggilan itu dari tuan Craig pimpinan tinggi kekasihnya di ruang misi antariksa.


"Ya Allah. Semoga tuan Craig tidak memberikan aku kabar yang tidak enak," doa tulus Nada sambil menggeser tombol hijau itu menempelkan ke kupingnya.


"Selamat sore nona Nada!" sapa tuan Craig seberang sana.


"Sore..!"


"Apakah anda masih ingat dengan saya, nona? saya adalah bos dari kekasihmu. Saya Craig," ucap tuan Craig memperkenalkan lagi dirinya pada Nada.


"Pastinya saya masih ingat tuan. Apa kabar tuan Craig..!" sapa Nada tersenyum kecut.


"Aku baik-baik saja, nona. Aku hanya mau bilang kalau pesawat Ghaishan akan kembali besok. Apakah anda siap menyambut kepulangan kekasih anda, nona?" tanya tuan Craig.


"Apakah keadaannya baik-baik saja?" tanya Nada cemas.


"Tidak ada kabar lebih lanjut tentang kesehatan Ghaishan. Tapi, mereka semua akan pulang besok. Semoga saja tidak ada kendala apapun baik cuaca maupun mesin pesawatnya," tutur tuan Craig.


"Baiklah Tuan Craig. Aku bersedia menyambut kepulangan Ghaishan. Aku akan berangkat ke Florida sekarang. Terimakasih untuk informasinya tuan Craig! selamat siang!" ucap Nada mengakhiri sambungannya.


Nada memeluk dirinya sendiri seakan sedang memeluk Ghaishan sambil menari seperti sepasang kekasih yang sedang berdansa.


"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih sudah menyelamatkan kekasihku dan aku harap Engkau melindungi pesawat mereka sampai tujuan dengan selamat," doa Nada dengan wajah berbinar.


Nada merentangkan kedua tangannya lalu berputar seperti penari sufi.


"Baju apa yang harus aku kenakan untuk menyambutnya? apakah kulitku segar dan mataku juga tidak seperti mata panda?" Nada salah tingkah sendiri.


"Apakah aku perlu mengajak Daddy? atau mengajak saudaraku El karena aku akan bertemu dengan Ghaishan. Kami belum menjadi muhrim sebaiknya aku harus ditemanin Daddy atau saudaraku supaya tidak ada fitnah," ujar Nada.


Nada menghubungi ayahnya dan menyampaikan apa yang baru saja ia dapatkan. Amran dan Nabilla menyambut baik dengan penuh rasa syukur.


...----------------...


Tiba di Florida pukul tujuh pagi. Amran sudah membooking hotel untuk keluarganya. Mereka harus beristirahat dulu hotel sebelum ke tempat turunnya pesawat penjelajah bulan itu.


Setiap detik yang dilewati oleh Nada seakan sangat lama. Bahkan ia merasa jarum jam itu rusak karena tidak berpindah angka.


"Sayang. Apakah dengan menatap jarum jam akan membantu menghiburmu?" tanya Nabilla saat Nada menatap jam dinding yang tergantung di restoran hotel.


"Apakah jam itu rusak mommy?" tanya Nada tidak sabaran.


"Penghalang terbesar bagi sepasang kekasih itu adalah waktu. Kadang waktu menjadi salah satu penyebab hubungan orang menjadi renggang.


Salah satu masalahnya adalah kurangnya kesabaran dalam menanti sesuatu. Padahal kita tahu di dunia ini tidak ada yang instan. Mie instan saja butuh waktu memasak juga karena harus melewati proses agar matang dan bisa di makan," ujar Nabilla menasehati putrinya.


"Mommy. Aku paling benci dengan namanya menunggu. Perasaanku menjadi tidak karuan saat ini. Jantungku menjadi tidak sehat dan aku mudah dehidrasi karena adrenalinku tidak stabil," gumam Nada.


"Mommy paham sayang akan hal itu. Perasaan sentimentil dan merasa serba salah adalah penyakitnya orang jatuh cinta," ucap Nabilla tersenyum sambil merapikan hijab putrinya.


"Bukankah mommy dan Daddy tidak pacaran? bagaimana mommy mengerti perasaan Nada? apakah mommy dan daddy dulu saling jatuh cinta atau cuek-cuekan dulu jatuh cinta?" selidik Nada sambil mencari kebenaran di mata ibunya.


Deggggg....


"Sebaiknya kita langsung ke pelabuhan bandariksa. Sepertinya pesawatnya sedikit lagi tiba," ucap Nabilla yang tidak ingin menjawab pertanyaan putrinya.


"E ...iya. Aku jadi lupa dengan waktu gara-gara ngobrol sama mommy. Di mana daddy, mommy?" tanya Nada mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran.


"Sedang menghubungi Adam di taman samping hotel," ujar Nabilla.


"Ayo mommy buruan! Nada ingin melihat pesawat itu turun dan membuka pintunya," ucap Nada dengan jantung yang makin meletup-letup seperti gendang mau perang.


Nabilla mengangguk sambil tersenyum. Walaupun senyum itu tidak terlihat oleh putrinya karena terhalang oleh cadar, tapi Nada tahu mata ibunya menyiratkan binar bahagia.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di mobil menuju pelabuhan bandariksa. Perjalanan ke tempat itu tidak begitu jauh. Setibanya di di bandariksa, bukan hanya Nada saja yang menanti kekasihnya pulang tetapi masih ada kelurga para astronot yang siap menjemput putra-putri terbaik mereka yang sudah menyelamatkan alat komunikasi bumi agar silaturahim tetap terjalin antar manusia walaupun jarak memisahkan mereka.


"Mommy. Ternyata semua orang sudah mengambil tempat untuk menunggu kepulangan astronot NASA," ucap Nada yang juga melihat para awak media yang sudah siap dengan kamera serta mikrofon untuk melakukan wawancara eksklusif dengan para astronot.


"Assalamualaikum...!" sapa salah satu anggota keluarga astronot saat melihat Nada dan orangtuanya yang sangat mereka kenal.


Nada memperhatikan kedua orangtua itu dengan mata mendelik seakan sedang mengingat seseorang.


"Astaga. Apakah mereka adalah...?"