
Jika kumpulan bapak-bapak. Itu saat ini sedang membahas tentang bisnis dalam waktu jangka pendek, tidak dengan bapak-bapak muda yang sedang berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing.
Apalagi ketiga pasangan Daffa, Arsen dan Ghaishan yang sibuk dengan anak kembar mereka masing-masing yang sedang mandi di laut. Sementara dua orang bu mil sedang menikmati indahnya pantai sambil duduk saling bersandaran punggung mereka.
Sementara Nabilla dan besannya sibuk menyiapkan sarapan pagi yang sebentar lagi sudah siap di santap.
"Nah, itu mereka sedang berjalan ke sini, sebaiknya para cucu-cucu untuk menyudahi mandi mereka," ucap Nabila pada iparnya saat melihat para suami sudah mendekat ke arah mereka.
"Biar lira saja yang panggil anak-anak," ucap lira yang menghampiri cucu mereka.
"Audrey, Dinar, ayo kita sarapan bersama sayang! Ajak saudaramu juga!" titah Lira seraya menyerahkan jubah mandi untuk cucu-cucunya yang langsung menurut.
"Iya Oma Lira!" ucap Raffa yang sudah ikut bergabung dengan saudaranya.
Nada dan Ghaishan sedang membilas tubuh bayi kembar mereka dengan air bersih. Nyonya Rosella menyiapkan baju untuk cucu kembarnya itu.
Masing-masing nenek mengurus cucu-cucu mereka termasuk nyonya Cyra. Dalam beberapa menit semuanya sudah berkumpul di meja makan sesuai dengan kepala keluarga.
Nada dan nyonya Rosella sibuk menyuapi bubur untuk baby kembar yang duduk di kursi khusus balita. Namun sesaat kemudian, baby Ghaida menghentikan kunyahannya sambil menatap ke arah laut yang menganggu kesenangannya.
"Mommy...tuh...! Da ca..hat..!" ucap baby Ghazali namun tidak ditanggapi Nada yang mengira putranya hanya mengoceh saja.
Kini gantian Raffa yang duduk di sebelah baby Ghazali penasaran dengan apa yang dikatakan sepupu kecilnya itu.
"Emang ada penjahat dek..?" tanya Raffi diangguki baby Ghazali.
"Mana..mana penjahatnya...?" tanya Raffa sambil mengikuti arah tangannya baby Ghazali ke arah datangnya pantai.
Nabilla yang melihat keseriusan ketiga cucu lelakinya ikut melihat ke arah laut yang tidak terlihat apapun namun tengkuknya terasa bergidik. Ia akhirnya beranjak mengambil ponselnya.
Dan benar saja tempat mereka sedang di kepung oleh kapal selam yang tidak dikenali. Amran melihat wajah tidak bersahabat istrinya yang memang tidak mengenakan cadarnya saat ini akhirnya ikut terpancing. Ia menanyakan istrinya dengan bahasa isyarat. Nabilla menempelkan jarinya di bibirnya agar yang lain tidak ikut panik.
Adam dan El langsung membuka ponsel mereka karena Nabilla sedang mengirim pesan agar kedua putranya ini untuk melakukan kewaspadaan. El merasa tidak enak dengan ayah mertuanya yang merupakan raja dari negara lain.
"Sialan... Kenapa mereka bisa tahu tempat ini. Semoga ranjau di bawah dasar laut meledakkan kapal mereka," umpat Adam.
Untuk menjaga keamanan para besan yang dari luar negeri, Amran dan Wira segera meminta besan mereka untuk kembali ke villa tanpa memberitahu keadaan sebenarnya. Reno dan Arland segera mengamankan area sekitar mengawal raja Farouk yang merupakan tamu kehormatan yang harus mereka jaga karena hanya orang-orang badan intelijen Indonesia yang bekerjasama dengan intelijen Bahrain yang mengetahui keberadaan raja Farouk.
"Sebaiknya kita kembali ke villa untuk beristirahat dan bisa membahas banyak hal di villa. Silahkan yang mulia...!" pinta Amran segera membuka pintu mobil untuk besannya.
Nabilla hanya melihat pasukan berani mati pada para pendekarnya untuk segera mengatasi situasi ini. Baru saja beberapa mobil tamu meninggalkan pantai bersama dengan para orangtua sepuh tiba-tiba ada tembakan yang berasal dari dalam laut mengarah ke arah pantai yang langsung di tindak oleh baby Ghaida yang spontan menahan tembakan peluru yang keluar dari mesin meriam bawah laut yang sudah naik ke atas permukaan dengan menciptakan gelembung transparan agar tidak menghancurkan kelurganya dengan kekuatannya.
Dan terlihat jelas mengambang di udara. Nada yang menggendong putrinya itu yang memang posisi tubuh baby Ghaida sedang mengarah ke arah pantai.
"Wah...! Bagaimana bisa baby Ghaida melakukan itu?" tanya Daffa menatap mata keponakannya tidak berkedip.
Keduanya seakan sedang menahan benda itu dengan kekuatan yang mereka miliki.
Lihatlah bayi kembar kalian sedang menahan tembakan meriam yang berasal dari laut sana!" ucap Daffa dan semuanya melihat ke laut di mana peluru meriam itu masih tertahan di udara menyusul lagi peluru lainnya.
Ghaishan tersenyum melihat kehebatan bayi kembarnya hingga timbul keisengannya untuk meminta bayi kembarnya membalas lagi perbuatannya penjahat yang ada di laut sana.
"Baby. Apakah kalian bisa mengembalikan peluru meriam itu ke musuh sayang?" desis Ghaishan pada bayi kembarnya yang langsung menuruti permintaan sang ayah.
Daffa dan Arsen yang mendengar perkataan Ghaishan yang memprovokasi bayi kembarnya itu, begitu semangat melihat atraksi yang bermain dengan kekuatan ghaib itu.
Dalam sekali dorong dengan kekuatan lewat tatapan mata mereka, ketiga peluru meriam kembali menyerang lawannya bak senjata makan tuan.
Dalam hitungan detik, kapal selam yang ada di dalam air laut itu seketika meledak hingga membuat luapan air laut menyembur ke atas udara.
Melihat keberhasilan si kembar, membuat para paman mereka melompat kegirangan hingga Daffa dan Arsen menggendong bayi kembar Ghaishan itu.
"Wah kalian hebat sayang. Apakah kekuatan kalian bisa di transfer ke uncle Daffa? Tanya Daffa pada baby Ghaida.
"No...no...!" ujar baby Ghaida sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah serius membuat Ghaishan ngakak.
"Uhhh...! Emang enak di tolak..? Sakitnya tuh di sini Daffa," ledek Ghaishan sambil berjalan menuju mobilnya.
"Sialan loe tertawain gue...!" umpat Daffa yang sudah biasa bicara kasar dengan Ghaishan karena usia mereka sepantaran.
Mereka segera meninggalkan pantai dengan mobil mereka masing-masing. Sementara baby Ghaida sudah memagari perbatasan tengah laut dengan kekuatan supernya agar benda apapun tidak akan bisa merusak di pulau itu.
"Terimakasih baby! Kalian berdua benar-benar anak daddy yang hebat," puji Ghaishan pada bayi kembarnya yang terlihat sudah mulai mengantuk.
"Sayang. Sepertinya kita harus melatih baby kembar untuk bisa mengendalikan kekuatan mereka," ucap Nada.
"Tidak sekarang sayang..! Mereka masih terlalu kecil," tolak Ghaishan.
"Emangnya kenapa?" protes Nada.
"Karena mereka masih menggunakan intuisi dari pada akal mereka," balas Ghaishan.
"Baiklah. Kita lihat saja nanti bagaimana mereka besar dan kekuatan itu di gunakan di waktu dan tempat yang tepat," ucap Nada.
"Mereka masih dibawah kendali Allah sayang. Bagus kamu bisa melatih mereka jika ngomong saja mereka belum bisa untuk memahami dan menjawab pertanyaan darimu," protes Ghaishan.
"Ok baiklah. Kalau begitu kita harus mengawasi mereka agar tidak mudah terprovokasi oleh siapapun yang memanfaatkan kekuatan mereka untuk hal yang tidak benar," harap Nada.