Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
42. Merahasiakannya


Dokter Mariska merasa perkataan suaminya adalah sebuah candaan yang tidak bermutu. Bahkan ia masih sempat melempar kicauannya agar suaminya meralatkan ucapannya barusan.


"Ayah takut Devan jatuh cinta pada istri orang? jadi melindungi putranya dengan canda konyol itukan?" tanya dokter Mariska masih menyisakan senyum untuk membujuk hatinya agar tetap tenang.


"Itu benar bunda. Aku tidak main-main dengan ucapanku untuk sesuatu yang sangat serius di saat runyam seperti ini. Gadis yang terbaring lemah di sini adalah putri pertamaku dari istri pertamaku Hilda," ucap tuan Rusli membuat mata Devan seperti berkunang-kunang hingga memegang sisi brangkar Nabilla.


"Ayahhh...! itu tidak mungkin. Bukankah hubungan ayah dan wanita sialan itu hanya sebagai pasangan kekasih yang tak berakhir dengan pernikahan karena....-"


"Maaf Mariska. Untuk melindungi ibu dari anakku ini, aku rela membohongi semua orang agar ayahku dan juga ayahmu tidak meneror ibunya Nabilla karena saat itu Hilda dalam keadaan hamil muda," ucap tuan Rusli dengan ekspresi wajah kelam.


Pria ini seakan sedang menyimpan alat peledak yang sudah waktunya harus meledak." Aku meninggalkan Hilda hanya karena sifatmu yang begitu ambisius untuk memiliki aku dengan segala cara," ucap tuan Rusli membuat dokter Mariska memegang dadanya dengan penuh rasa bersalah.


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mengapa kamu begitu yakin Nabilla adalah putrimu, bisa jadi Hilda keguguran dan mungkin Nabilla anak dari pria lain...-"


"Hentikan bualanmu Mariska! Jangan terlalu memandang sinis setiap kehidupan orang lain sesuai dengan apa yang kau pikirkan," ucap tuan Rusli sambil menggenggam tangan Nabilla yang hanya mengenakan alat saturasi.


Sementara tangan yang satunya ada jarum infus yang terus mengalir. Devan yang tidak kuat mendengar pernyataan ayahnya segera keluar dari ruang inap Nabilla.


"Ayah jahat...jahat!" umpatnya lalu membanting pintu kamar itu membuat ketiganya di dalam kamar itu terlonjak kaget.


"Jika dia adalah putri kandungmu, kamu tidak bisa mengakuinya hanya sebatas lisan dan keyakinanmu saja, ayah. Kita harus buktikan dengan tes DNA. Kalau benar dia adalah putri kandungmu, aku harus menerima dia adalah bagian dari dirimu dan aku akan menyayanginya sebagai putri sambungku," ucap dokter Mariska lirih sambil menyeka air matanya.


Glekkkk...


Tuan Rusli yang tadinya berapi-api menyerang istrinya, kini harus merendahkan amarahnya saat mendengar keputusan bijak dari istrinya yang mau menerima putrinya, Nabilla apa adanya.


"Terimakasih Mariska. Maafkan sikapku tadi karena sudah membentakmu," ucap tuan Rusli menatap wajah istrinya yang sudah berubah mendung.


"Aku harap jangan pernah bertemu dengan perempuan itu lagi!" pinta dokter Mariska.


"Setahu saya, tidak ada satupun keluarga nona Nabilla yang tersisa kecuali kerabat jauh ibunya yang sekarang menempati rumah nona Nabilla di kampungnya," ucap Arland.


"Kalau begitu aku harus tahu bagaimana Nabilla bisa bertemu dan menikah dengan tuanmu yang sekarang sedang berada di penjara. Apa kasusnya?" tanya tuan Rusli yang sudah tahu dari artikel yang ia baca di ponselnya.


"Tuan Amran sebenarnya dijebak. Dan kami butuh bukti untuk membebaskan tuan Amran dari tuduhan polisi itu. Saya juga bingung kenapa polisi itu sangat licik sekali menduga tuan Amran meretas dokumen rahasia negara, sementara kekayaannya tidak habis di makan sepuluh turunan," ucap Arland.


"Baiklah. Aku akan membantu menantuku untuk melacak siapa yang telah menggunakan nomor id miliknya dengan kode rahasia itu," ucap tuan Rusli pemilik perusahaan Cybercrime.


"Jika benar Nabilla putri kandungnya tuan Rusli, berarti kejeniusan Nabilla bersumber dari pria ini," batin Arland.


Arland dan tuan Rusli pamit pada dokter Mariska karena harus ke perusahaan milik tuan Rusli. Sementara itu dokter Mariska meninggalkan Nabilla sebentar karena ada yang ingin ia lakukan.


Sepeninggalnya dokter Mariska, Nabilla mulai mengerjapkan matanya yang terlihat kabur sesaat. Ia mengusap perutnya yang masih sedikit nyeri pada bagian bawahnya. Setelah pandangannya mulai jelas, ia baru tahu kalau dirinya sedang berada di rumah sakit.


"Apakah mas Amran di sini menungguku? lalu di mana dia?" tanya Nabilla sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.


Nabilla tidak bisa bergumam karena terhalang ventilator yang terpasang di mulutnya. Ia meraba tombol nurse call yang ada disisinya lalu memencet tombol itu agar perawat atau suster menghampirinya.


"Iya...ada apa...?" kata-kata suster itu tertahan saat melihat Nabilla yang sudah sadar.


Dokter langsung memeriksa keadaan Nabilla lalu mencabut ventilatornya.


"Bagaimana keadaanmu nona?" tanya dokter Marion.


"Di mana suami saya, dokter?" tanya Nabilla yang tidak mau menjawab pertanyaan dokter.


"Tuan Devan sedang keluar sebentar dan ..."


"Maaf dokter. Saya belum pernah ganti suami. Nama suami saya bukan Devan. Nama suami saya adalah...-"


Cek.... lek..


Dokter Mariska masuk ke kamar itu saat mengetahui keadaan Nabilla yang sudah siuman." Bagaimana keadaannya dokter Marion?" tanya dokter Mariska.


"Keadaan kandungnya baik dan semua organ vitalnya berfungsi dengan baik dokter Mariska," ujar dokter Marion.


"Terimakasih dokter Marion. Tolong tinggalkan kami berdua!" ucap dokter Mariska.


"Baik dokter."


"Maaf dokter. Saya ingin bertemu suami saya. Di mana dia?" tanya Nabilla.


"Maaf Nona. Yang menemukan kamu pingsan di jalanan adalah putraku Devan dan dia membawamu ke rumah sakit kami. Kami menunggumu sadar agar kami bisa mengetahui keberadaan keluargamu," ucap dokter Mariska sengaja membohongi Nabilla agar gadis ini tidak syok jika tahu suaminya saat ini di penjara.


"Kalau begitu, saya boleh pinjam ponsel anda untuk mengabari suami saya. Dia pasti panik jika tahu saya menghilang tanpa kabar dan ini tanggal berapa dokter?" tanya Nabilla.


"Kamu sudah berada di sini selama tiga hari. Sebaiknya kamu makan dulu biar punya tenaga untuk bicara dengan suamimu. Kalau boleh biar saya saja yang menghubungi suamimu karena kamu adalah tanggung jawab kami di rumah sakit ini," ucap dokter Mariska agar Nabillanya tidak boleh tahu dulu keadaan suaminya.


Nabilla menyebutkan nomor kontak suaminya dan dokter Mariska mencatatnya.


Nabilla menikmati makanannya dengan semangat. Ia merasa bersalah karena kemarahannya pada suaminya membuat ia celaka." Aku memang salah karena aku pergi ke rumah sakit tanpa minta Ijin pada suamiku," batin Nabilla sambil terisak.


"Nona. Tunggu sebentar ya. Aku mau menghubungi suamimu dulu. Boleh aku tinggal sebentar!" ijin dokter Mariska.


"Silahkan dokter!"


Nabilla yang selalu haus akan informasi kemudian mengambil remote lalu menyalakan televisi. Saat melihat berita yang disampaikan oleh reporter televisi itu, mata Nabilla langsung terbelalak tidak percaya mendengar berita itu di mana tayangan televisi itu menayangkan sosok suaminya yang sedang berdiri di samping polisi dengan baju oranye dan tangan diborgol.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun, mas Amrannnn...!" pekik Nabilla histeris.


"Aku harus keluar dari sini.Aku harus menolong mas Amran. Dia pasti membutuhkan aku," ucap Nabilla yang tidak lagi memikirkan kehamilannya.


Dokter Mariska segera masuk saat mendengar jeritan Nabilla." Dokter. Apakah berita di televisi itu, dokter sudah tahu? tolong jangan membohongi aku. Pasti asisten suamiku sudah mendatangi aku. Tolong cabut keteter ini! Aku mau ke kantor polisi," ucap Nabilla terlihat panik.


"Jika kamu bergerak sedikit saja dan emosimu tidak bisa kamu kontrol maka kamu akan kehilangan ketiga bayimu itu," ucap dokter Mariska mengingatkan Nabilla yang terlihat sangat ceroboh.


Degggg.....