Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
142. Petualangan Cintami


Jika saat ini sepasang pengantin baru yaitu Bunga dan Daffa yang sedang menikmati bulan madu mereka ditengah badai salju di mana saat ini mereka sudah berada di villa kakek Salim yang terletak tidak jauh dari bukit yang sudah di selimuti oleh serbuk putih itu berganti menjadi bukit es.


Sementara di Rusia, Cintami yang sedang merampungkan disertasinya untuk meraih gelar doktor, baru bisa berhadapan dengan dosen killer yang bernama Vadim.


Dipikiran Cintami, Vadim adalah seorang pria tua yang hanya menunggu masa pensiunnya saja sebagai senior di kampus itu, namun yang ia hadapi saat ini sangat jauh berbeda yang ada dalam pikirannya, di mana seorang pria berusia 30an yang sedang melakukan wawancara dengannya.


Otak Cintami menerka-nerka, siapa sebenarnya orang yang bertanggungjawab atas hilangnya beberapa mahasiswa berprestasi yang siap mengajukan sidang jika disertasi milik mereka sudah di ACC.


"Apakah dia penjahat berkedok dosen itu? masa sih setampan dan sekalem ini memiliki jiwa psikopat? apakah aku mendapatkan informasi yang salah tentang penjahat yang sudah menewaskan banyak mahasiswa?" batin Cintami menatap wajah tampan. Vadim.


"Apakah kamu mahasiswa pindahan?" tanya Vadim.


"Iya Tuan," ucap Cintami.


"Ok. Persiapkan dirimu untuk sidang Minggu depan!" ucap Vadim.


"Minggu depan...? bagaimana kalau Minggu depan tiba-tiba saya tidak bisa hadir karena suatu hal?" tanya Cintami.


"Apakah kamu punya urusan?" tanya Vadim.


"Bukan urusan. Tapi, mungkin saja saya akan dibunuh di luar sana," ucap Cintami.


Tuan Vadim mengangkat wajahnya. Menatap tajam wajah Cintami yang tidak sedikitpun ada raut ketakutan pada dirinya.


"Apakah kamu punya banyak musuh?" tanya Vadim.


"Hanya orang pengecut yang berani melakukan hal menjijikkan demi harta. Mengapa tidak anda katakan saja berapa yang anda butuhkan agar aku bisa memberikan uang yang sangat banyak pada anda tanpa anda harus membunuhku," sarkas Cintami.


"Rupanya kabar burung itu cepat merebak hingga sampai ke kupingmu. Itu wajar nona. Karena kampus ini dituduh seperti itu Tapi, anehnya mahasiswa tidak berhenti untuk masuk ke sini sejalan dengan isu yang bergulir," ucap Vadim sambil bersandar santai di kursi kebesarannya.


"Akan aku pastikan padamu, bahwa kali ini aksimu akan gagal tuan Vadim," batin Cintami, meraih disertasi miliknya dan keluar dari ruang kerjanya Vadim yang menyabet kedudukan sebagai dekan di fakultas yang ia tekuni saat ini.


"Terimakasih tuan Vadim. Aku akan hadir di sidang disertasi ku tepat waktu," ucap Cintami keluar dari tempat itu.


Cintami melakukan kontak dengan Mr. M karena ia merasakan bahwa saat ini nyawanya sudah mulai terancam ditambah lagi Yuri yang sampai saat ini sulit untuk dihubungi.


"Bagaimana dengan pengawasan orang-orang kita?" tanya Cintami sambil berjalan di tempat parkir.


"Kami sedang mengintai area sekitarmu. Bersikaplah sewajarnya agar tidak mengundang kecurigaan. Mereka pasti lebih hati-hati untuk menangkapmu, nona," ucap tuan Kenneth.


"Baiklah. Tapi, biarkan mereka menangkapku. Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan setelah menangkapku. Jika keadaanku terancam, cepat datang selamatkan aku...!" pinta Cintami sambil membuka pintu mobilnya dan mendeteksi dulu mobilnya apakah ada yang meletakkan sesuatu di mobilnya entah alat penyadap, bom atau orang yang sedang mengintainya saat ini dengan menggunakan ponsel pintarnya.


Dirasanya aman, Cintami baru masuk ke dalam mobilnya meletakkan ransel dan buku disertasi miliknya di jok samping. Kali ini Cintami menggunakan mobil biasa namun tetap terlihat mewah. Ia meninggalkan kampus menuju jalan raya sambil mengawasi titik lokasi saat ini yang ditandainya di dalam ponselnya.


Jika titik kuning adalah mobilnya sendiri dan jika ada titik merah adalah milik penjahat. Namun saat ini belum ada terdeteksi mobil penjahat yang mengintainya.


"Syukurlah. Tidak ada pergerakan dari mereka. Berarti mereka mungkin sudah tahu siapa aku," tebak Cintami lega namun ia merasa kalau misinya gagal jika tidak mengetahui misteri dibalik hilangnya para mahasiswa yang berprestasi di bidangnya masing-masing.


Ia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam lift yang tersambung dengan unit kamar apartemennya. Baru saja pintu lift itu tertutup, ponsel Cintami tiba-tiba berbunyi bip yang artinya ada penjahat disekitarnya.


Antara gugup dan juga penasaran menghantuinya saat ini. Ia mengencangkan ranselnya siap untuk ditangkap oleh penjahat. Ia menyimpan ponselnya di dalam sepatu boot miliknya dan kembali bersikap biasa untuk menghadapi penjahat.


Tepat di lantai 17, saat pintu lift terbuka, dua orang penjahat berperawakan tinggi lagi tampan mengarahkan ke arahnya.


"Diam ...! dan ikuti arahan kami!" titah penjahat itu dan Cintami menurutinya.


"Diammm..!" bentak penjahat itu membuat Cintami harus pasrah.


Cintami didorong masuk ke dalam mobil dengan tangan yang sudah diborgol ke arah depan. Sentuhan besi borgol pada jam tangannya memberi isyarat sendiri pada tuan Kenneth bahwa saat ini dirinya sudah tertangkap.


"Bius dia!" titah sang sopir pada temannya yang duduk di sebelah Cintami.


Cintami yang sudah minum obat penawar agar tidak tidur menerima suntikan dari penjahat itu pada lengannya. Iapun pura-pura tidur untuk mengelabuhi penjahat namun otaknya terus bekerja untuk memberikan arahan pada tuan Kenneth di mana dirinya saat ini di bawa oleh ketiga orang penjahat.


Alat penyadap yang terpasang pada cincinnya memudahkan para anak buahnya Cintami mengikuti mobil gadis ini. Namun sayang setelah berada di daerah dekat pantai, helikopter sudah siap menjemput Cintami untuk dibawa pergi ke suatu tempat.


"Apakah mereka akan membuangku? ataukah aku akan dibawa ke suatu tempat dimana para mahasiswa itu di sekap?" batin Cintami mulai cemas.


Tubuhnya di gendong seperti karung beras menuju helikopter yang sudah menunggu. Helikopter mulai terbang membawa Cintami menuju suatu tempat terpencil.


"Ya Allah. Lindungi aku dan kehormatanku agar mereka tidak menyentuh tubuhku dengan niat yang jahat," batin Cintami yang sangat takut jika dua orang penjahat di dalam helikopter itu yang sedang mendampinginya akan memperkosa dirinya.


Dalam waktu sepuluh menit, mereka sudah tiba di lembah di mana mobil sudah menunggu Cintami untuk dipindahkan lagi tubuhnya. Di area sekitarnya, salju sangat tebal jika tidak mengenakkan mantel tebal akan mati beku. Mobil yang membawa Cintami sudah memasuki jalan terowongan yang sangat terawat dengan lampu penerang di jalanan itu terlihat terang walaupun tergolong temaram.


Cintami memperhatikan sekitarnya karena ia mengenakan cadar. Ia pura-pura mengerang tanda dirinya sudah terbebas dari obat bius. Tepat di depan sebuah gedung yang juga bisa disebut laboratorium raksasa dibawah bukit terlihat sangat megah dengan fasilitas canggih.


Cintami baru paham kalau mahasiswa berprestasi itu di asingkan di tempat ini untuk mengembangkan metode penemuan mereka sesuai disertasi yang mereka ajukan. Bisa jadi mereka memilih mahasiswa itu mengembangkan suatu penelitian atau menciptakan sesuatu yang bermanfaat atau yang membunuh orang-orang yang tidak berdosa.


Setiap mahasiswa berprestasi itu dipaksa untuk melakukan penelitian di tempat itu. Semua orang mengenakan jas putih lalu lalang di dalam sana sesuai kepentingan mereka masing-masing. Saat tubuh Cintami diseret masuk ke dalam sana semua anggota di dalam laboratorium itu nampak tidak peduli seakan otak mereka sudah dicuci dan di program untuk tidak sensitif pada orang lain.


"Kenapa mereka bergerak seperti robot?" batin Cintami berjalan mengikuti dua orang berjas putih menyeretnya ke dalam ruangan untuk di sekap sementara waktu.


Pintu berjeruji itu dibuka dengan kode sandi dan tubuh Cintami di dorong masuk ke dalam tempat itu. Ia melihat beberapa mahasiswa yang senasib dengannya menatapnya dengan wajah yang menyedihkan. Diantara mereka berjumlah sekitar sepuluh orang. Tiga diantaranya laki-laki.


Ada juga kamar mandi yang terpisah di tempat itu untuk perempuan dan laki-laki. Mereka harus tidur dalam satu sel. Beruntungnya ketiga laki-laki itu terlihat sangat beradab membuat ketujuh wanita itu tidak merasa risih dengan ketiganya.


Diantara mereka, antara satu sama lain tidak melakukan interaksi. Berarti mereka sedang diawasi oleh CCTV. Cintami memperhatikan empat CCTV berada di setiap sudut.


"Berarti hanya di toilet tidak ada CCTV," batin Cintami yang langsung beranjak menuju toilet.


Semua tahanan menatapnya dengan penuh tanya namun tidak berani bertanya karena sedang diawasi. Jika ada yang ngobrol, maka akan mendapatkan hukuman.


Ditempat itu, ponsel tidak berlaku karena tidak ada signal untuk mendapatkan jaringan. Itulah sebabnya para tahanan itu bebas menggunakan ponsel mereka hanya untuk bermain game yang terdapat dalam aplikasi.


Hanya ponsel milik Cintami yang berfungsi dengan baik karena ciptaan ibunya Nabilla yang mampu menjangkau area luar karena punya radar khusus yang sudah diuji kemampuannya untuk menangkap signal walaupun berada di bawah laut sekalipun.


Di dalam kamar mandi, Cintami sedang meretas CCTV di dalam tahanan itu dengan mengalihkan pergerakan statis agar petugas tidak curiga saat ia bereaksi. Cintami mengirim pesan pada ibunya Nabilla untuk mendeteksi keberadaannya saat ini.


"Mommy. Cintami tertangkap. Tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan kami. Cintami sudah mengirim lokasi Cintami saat ini. Tolong segera dilacak," tulis Cintami di pesan itu dengan menggunakan kode sandi yang tidak dimengerti oleh siapapun kecuali ibunya Nabilla dan keempat saudaranya.


Amran yang sudah belajar bertahun-tahun penggunaan kode ini masih belum mahir melakukannya.


Nabilla yang masih berada di Turki segera memberitahukan suaminya jika saat ini Cintami dalam bahaya.


"Sayang. Putri kita Cintami tertangkap dan dia saat ini disekap oleh penjahat. Kita harus membebaskannya bersama tahanan lain," ucap Nabilla yang sudah meretas CCTV di dalam laboratorium di kaki bukit terpencil di salah satu hutan yang tertutup oleh salju tebal.


.......


Vote dan likenya cinta, please!