
Dua orang penjahat yang sudah siap untuk membuat mercusuar kebakaran, menghidupkan lagi listrik yang ada di gardu induk dekat dengan mercusuar.
Karena tubuh mereka yang basah diguyur hujan atau kejahatan mereka pada anak-anak tak berdosa itu, tiba-tiba terkena setrum tegangan tinggi dan terhempas jauh dari tempat gardu itu. Keduanya tidak sadarkan diri
Sekarang tinggal ke-lima orang penjahat yang sedang memanjat mercusuar, kini sudah hampir mencapai puncak menara. Ghaida menggunakan kekuatannya untuk melempar kembali tubuh mereka satu persatu ke dalam laut.
Kelimanya terbawa arus laut dengan tangan terangkat untuk meminta tolong. Untuk menghilangkan bukti keberadaan mereka di tempat itu, Ghaida melepaskan ikatan tali speed boat mereka yang ada dermaga mercusuar agar hanyut terbawa arus laut terkena badai malam ini.
"Wah....! Hebat kamu Ghaida...!" puji saudara sepupunya pada gadis kecil ini yang bisa mengatasi kemelut mereka.
"Kak Raffi dan kak Hanin, sekarang kalian turun untuk mematikan pipa gas yang di arahkan ke dalam mercusuar dan jangan nyalakan listrik agar tidak memicu kebakaran," pinta Ghaida pada si kembarnya Nada itu.
"Jadi mereka memasukkan gas ke dalam mercusuar ini? Tapi kenapa kamu tidak mencium bau gas?" tanya Hanan.
"Karena saat ini, aku sedang melindungi kita semua dari bau gas yang sudah memenuhi ruangan ini. Yang lainnya membantu untuk membuka jendela geser agar gas keluar ruangan ini," ucap Ghaida yang mengatur semuanya.
"Baik dek."
Keempat anak laki-laki remaja itu segera melaksanakan perintah Ghaida yang terlihat sangat memimpin tim itu. Gayanya Ghaida persis seperti Nabilla yang mengatur semuanya secara rinci ketika sedang melakukan misi dengan anak buahnya. Jiwa kepemimpinan Nabilla dan Amran menurun pada beberapa cucunya yang memiliki kelebihan tersendiri.
Hujan badai masih saja berlangsung. Kedua remaja tampan mencari meteran gas untuk menutup bagian pengatur buka tutup pipa gas central yang tersalur ke area mercusuar. Setelah ditutup knopnya, mereka kembali ke atas merkusuar dengan menaiki tangga darurat.
Tidak berapa lama udara yang yang awalnya ada di ruangan itu di kepung aroma gas, kini kembali bersih karena sudah tergantikan dengan udara dari luar. Sirkulasi udaranya sangat cepat bersih karena kencangnya angin badai laut saat ini sedang mengamuk dan terlihat sangat menyeramkan.
Setelah melakukan tugas mereka dengan baik, Ghaida baru menyalakan lagi listrik di mercusuar itu. Mereka berkumpul kembali dan tidak ingin tidur karena saat ini sedang merencanakan sesuatu.
"Ghaida. Apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Raffi.
"Menyerang markas penjahat. Kita harus mengungkapkan kejahatan mereka malam ini juga," ucap Ghaida.
"Bagaimana mungkin kita akan mencapai ke sana sementara saat ini badai laut sedang mengamuk.
"Justru ini saat yang tepat untuk meringkus para penjahat. Kita harus mengungkapkan kejahatan mereka agar tidak merugikan negara ini," timpal Ghazali.
"Bagaimana, kalian sudah siap kita menyerbu markas penjahat itu?" tanya Ghaida.
"Baiklah. Tapi kita tidak akan celakakan?" tanya Dinar.
"Insya Allah kita tidak akan celaka karena ada Allah yang melindungi kita di setiap langkah mulia kita dalam membasmi kejahatan. Speed boat kita akan aman berlayar menuju tempat itu. Lagi pula aku sudah menemukan lokasi persembunyian mereka," ucap Ghaida.
"Ok. Kita harus mengenakan mantel hujan dan sepatu boot. Tapi kita tidak punya pistol untuk berjaga-jaga," keluh Hanin.
"Kita tidak akan tertembak. Kita akan mendapatkan pistol di markas penjahat. Jadi tidak usah pusing-pusing memikirkan pistol," jawab Ghazali.
"Ok. Semoga perkataanmu benar," ucap Hanin mengalah dengan si kembar yang memilki rencana tersembunyi yang mereka tidak begitu mengetahui apa yang dilakukan dua bocah pemberani itu.
Ghaida berdoa untuk memohon kepada Allah agar speed boat mereka aman untuk berlayar. Speed boat diarahkan ke punggung pulau Kirrin karena di situlah pintu masuk keluarnya aktivitas para penjahat yang bermukim di tempat itu tanpa ijin pada pemiliknya.
Setibanya di pulau itu, Hanan melemparkan jangkar speed boat itu. Dan mereka langsung melompat turun dari speed boat itu lalu berjalan menuju gerbang utama markas penjahat yang tertutup dengan pepohonan.
"Ghaida. Apakah kedatangan kita akan ketahuan oleh mereka?" tanya Dinar.
"Tidak kak. Mereka tidak ada melihat kita sekalipun kita melintas di depan mereka," ucap Ghaida.
"Bagaimana caranya?" tanya Audrey.
"Mata mereka tidak bisa menembus tabir bening yang aku buat untuk melindungi kita dari penglihatan mereka," ujar Ghaida penuh percaya diri.
"Apakah kamu yakin kita akan melewati semua ini?" tanya Hanan.
"Insya Allah. Yang penting jangan ada yang bertindak sendiri tanpa ijinku jika tidak ingin diantara kita ada yang tertangkap, kak," ucap Ghaida.
"Siap."
Tiba di depan gerbang yang di tumbuhi beberapa tanaman merambat, Ghaida mendorong pintu besi itu sekuat mungkin seakan sedang terdorong oleh angin membuat para penjaga terkesiap.
"Wah. Bukankah pintu gerbang itu sudah aku gembok? Kenapa bisa terbuka sendiri?" tanya penjaga pada teman-temannya yang sedang asyik bermain kartu di pos penjagaan.
"Tutup lagi saja pintunya. Mungkin kamu lupa menutupnya tadi dan terdorong oleh angin," ucap rekannya.
"Ayo cepat masuk sebelum mereka menutup lagi pintu gerbangnya," titah Ghazali yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
Semuanya berlari cepat melewati pintu gerbang. Mereka masuk ke dalam gedung yang mengarah ke bawah tangga karena markasnya berada di bawah tanah. Penjagaan begitu ketat di dalam gedung itu terbukti banyak sekali para penjaga dengan senjata mereka yang ada dalam genggaman sambil berjalan mondar mandir mengawasi keadaan. Mereka melewati begitu saja para pengawal itu tanpa satu orang diantara mereka yang menyadari kedatangan kedelapan orang cucunya Amran itu.
"Belok kiri. Ruang IT mereka ada di arah dalam tidak jauh dari sini," ucap Ghazali sambil melihat ponselnya.
Tiba di depan area ruangan besar itu banyak sekali staf IT yang bekerja siang malam untuk mengawasi proyek pembangunan pemancar satelit ilegal untuk meretas setiap bank sentral internasional milik bangkir yang akan mereka rampok dengan cara yang sangat licik tanpa di ketahui para nasabahnya dan pihak bank sendiri.
"Benar kecurigaanku kalau danau di atas markas ini hanya untuk mengelabui orang lain karena itulah tempat pemancarnya untuk menangkap satelit ruang angkasa," ucap Ghazali yang jenius.
"Bagaimana caranya untuk menghancurkan proyek mereka?" tanya Raffi.
"Kita harus mencari katup danau itu agar permukaan danau kering dan pemancar satelit mereka kelihatan dari udara. Dengan begitu tempat ini akan di datangi aparat keamanan untuk membekuk para penjahat dan pemilik tempat ini," ucap Ghazali.
"Kak. Sepertinya kita tidak bisa mengungkapkan begitu saja kejahatan mereka karena ini ada keterlibatannya dengan beberapa pejabat tinggi negara ini yang membantu berdirinya proyek raksasa ini," ucap Ghaida.
"Lho! Kenapa tidak bisa? Biar saja mereka tertangkap," ucap Raffa.
"Karena yang ikut terlibat proyek ini adalah....?"