Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
273. Penyelamatan Yang Menegangkan


Cintami yang mengendarai jet sky saat ini menjemput sang keponakan ajaibnya yang sedang menuju ke darat. Istri dari Arsen ini memperlambat laju kendaraannya agar kendaraannya bisa sejajar dengan speed boat yang dinaiki oleh Ghazali.


"Aunty Cintami....!" pekik Ghazali begitu antusias bertemu dengan kakak kandung mommynya ini.


"Alhamdulillah baby! Kamu benar-benar seorang anak pemberani," puji Cintami saat sudah berada di atas speed boat tersebut.


Cintami mencium pipi Ghazali sambil memeluk erat tubuh sang keponakan dengan rasa haru bercampur bangga.


Keduanya melanjutkan lagi perjalanan mereka menuju pelabuhan Ancol.


"Ke mana para penjahat itu, baby?" tanya Cintami saat turun dari speed boat sambil menggendong Gazali.


"Mereka sedang melakukan pertunjukan dengan berbagai spesies makhluk laut, aunty," jawab Ghazali diiringi cekikikan. Cintami ikut tergelitik mendengar ocehan kacau keponakannya yang sangat mahir menghukum sang penjahat.


"Sayang. Kecil-kecil kamu sudah seberani ini, bagaimana nanti kalau sudah besar. Bisa jadi, tidak ada lagi kriminalitas di dunia ini, terutama negara kekek moyangmu ini karena memiliki pahlawan hebat seperti kamu," puji Cintami.


"Pembalasan yang paling menyenangkan untuk setiap aksi kejahatan dimuka bumi ini adalah tetap tenang dan mengikuti rencana penjahat selama ia belum menghabisi nyawa kita, aunty. Jika mereka berani membunuhku, aku yang akan lebih dulu membunuh mereka dan itu adalah pembelaan diri bukan bermaksud untuk membunuh karena keluarga opa Amran bukan pembunuh," jelas Ghazali.


"Hebat. Ayo kita harus segera pulang sebelum Opa kamu mengamuk pada semua orang dewasa!" menyalakan motornya dan langsung meninggalkan area pantai Ancol.


"Aunty. Aku lapar. Pingin makan bakso dan es krim!" pinta Gazali saat motor mereka melintas didepan restoran.


"Tapi sayang, kita sudah ditunggu sama opa dan Oma di rumah. Mereka sangat mengkuatirkan kamu. Makan di rumah saja yah!" bujuk Cintami.


"Tapi aku pingin makan bakso, es teler dan es krim. Kelihatannya sangat enak sekali. Ayolah aunty...! Aku sudah melewatkan jam makan siangku.


Di Amerika belum tentu aku bisa menemukan makanan enak seperti itu," rengek Ghazali membuat Cintami tidak tega menolak permintaan keponakannya yang menetap di Amerika karena tugas kedua orangtuanya yang masih berhubungan dengan negara adikuasa tersebut.


Dua mangkok bakso beserta es teller dan es campur sudah terhidang di depan mereka. Wajah tampan blasteran indo Italia ini ditambah bola mata berwarna biru milik Ghazali menjadi pesona yang sangat memikat diantara para pengunjung restoran yang sedari tadi memperhatikan Cintami dan Ghazali yang nampak cuek menikmati bakso mereka.


Di tempat berbeda, Nada yang saat ini sudah menemukan keberadaan keponakannya di salah satu mobil kontainer berusaha mengejar mobil tersebut. Begitu mobil keduanya sejajar, Nada membunyikan klakson sambil membuka jendela mobilnya agar mobil itu menepi, namun tidak dihiraukan oleh penjahat yang santai mengemudikan mobil itu seakan tidak terjadi apa-apa.


"Sialan...! Dia sengaja mempermainkan aku. Kita lihat saja! Seberapa kuatnya kalian mengabaikan permintaanku, mau cacat atau mati," gerutu Nada seraya mengkondisikan mobilnya bisa bergerak stabil mengikuti laju kendaraan penjahat.


Mobil yang bisa dikendalikan dengan remote itu membantu Nada untuk melakukan aksi ekstrim ibu si kembar Ghazali dan Ghaida itu. Ia kemudian naik ke atas atap mobil dengan posisi mobil masih berjalan kencang.


Mata dua orang penjahat itu terbelalak melihat Nada berdiri tenang dengan tangan bersedekap menatap mereka tanpa oleng sedikitpun. Tentu saja tubuh Nada tetap berdiri stabil karena memiliki kekuatan yang bisa meringankan tubuhnya.


"Gila tuh cewek...! Bagaimana bisa dia berdiri dengan santainya di atas mobilnya?" heran sang penjahat sambil melirik Nada dan juga tetap fokus mengemudi, malah ia tambahkan kecepatan laju kendaraannya agar mobil Nada tertinggal dibelakang, namun sayang mobil sport hitam itu mengikuti kecepatan mobil lawan.


Jantung mereka tidak baik-baik saja kini. Temannya yang ada di sampingnya mengeluarkan pistol untuk menembak Nada. Beberapa kali tembakan itu meleset karena Nada sangat lihai menghindar membuat penjahat itu kewalahan.


Nada melayangkan tinjunya ke wajah sang sopir hingga mobil itu terombang ambing. Nada tidak peduli jika mobil itu hampir menabrak mobil lainnya yang berusaha menghindari mobil kontainer itu. Nada melihat ke dalam mobil itu tidak ditemukan sang keponakan Audrey.


"Katakan..! Di mana putriku?" tanya Nada sambil bergelantungan di pintu mobil kontainer.


"Gadis itu ada di dalam kontainer," jawab rekan sang sopir karena takut di tembak oleh Nada.


"Menepilah mobil kalian atau aku tembak kepala kalian..!" titah Nada.


"Ba...baik...nona!"


Sebelum sopir hendak menepikan mobilnya, tiba-tiba mobil penjahat yang ada di belakang menabrak mobil kontainer itu agar tubuh Nada terhempas dan jatuh. Melihat kesempatan itu, Nada meminta sang sopir untuk membuka pintu kontainer itu.


"Buka pintu kontainer nya!" titah Nada namun sang sopir sangat ragu melakukannya.


"Tapi nona, masalahnya kalau saya membuka pintu kontainer, maka putrimu akan jatuh," sahut sang sopir memberi alasan.


"Itu tidak masalah bagi saya. Cepatlah buka kontainer itu atau aku sendiri yang akan membukanya...!" titah Nada.


Tembakan bertubi-tubi dari arah belakang dan samping mobil kontainer itu ke arah Nada namun wanita ini bisa menghindarinya. Nada sudah tahu jika Audrey tidak berada di dalam mobil kontainer itu namun berada di salah satu mobil beberapa penjahat yang saat ini sedang mengincarnya karena mereka tahu Nada adalah putri dari Amran dan Nabilla.


"Jika wanita itu mati, itu sangat menguntungkan bagi kita karena kedua orangtuanya pasti akan mundur dengan sendirinya dari capres karena terlalu berduka atas kematian putri mereka."


"Benarkah bos?" menyeringai licik.


Perhitungan Nada yang salah tentang keberadaan Audrey membuat Nada yang sudah terbang ke bagian belakang mobil kontainer itu terhenyak karena barang-barang yang ada di dalam kontainer seketika terbang menimpa beberapa mobil penjahat yang ada di belakang mobil kontainer itu.


Saat Nada hendak memeriksa sendiri ke dalam kontainer itu untuk mencari keberadaan Audrey dan ternyata parasut yang ada di dalam kontainer itu langsung mengembang menutupi tubuh Nada yang terdorong oleh angin untuk membawa tubuh Audrey melayang bersama parasut itu.


Beruntunglah, Nada bisa terbang menggapai tubuh Audrey yang masih pingsan itu. Keduanya terbang melayang di atas udara namun bagian atas parasut itu tiba-tiba sobek hingga keduanya berangsur jatuh.


Sang penjahat yang tidak tinggal diam mengarahkan senjata mereka dari atas jalan tol untuk menembak Nada yang sedang memeluk tubuh Audrey dalam keadaan melayang.


Karena Audrey tidak mengenakan jaket anti peluru membuat Nada menjadi tameng untuk keponakannya yang ia peluk sambil berusaha memegang pada tali parasut.


"Bagaimana wanita itu masih bisa terbang sementara parasut itu sudah mulai sobek dibeberapa permukaannya?" heran sang penjahat menatap parasut Nada yang terus terbang menurun ke jalan tol lainnya.


Nada yang belum sadarkan diri itu, jika saat ini mereka berdua masih berada di jalan tol dimana mobil tangki BBM yang berjalan kencang begitu gugup saat melihat Nada dan yang menggendong Audrey yang tiba-tiba mendarat diatas jalan tol dengan posisi tubuh tertutup oleh parasut.


"Aaaaakk.....!" pekik sang sopir tangki BBM itu, begitu pula mobil yang lainnya menahan ketegangan mereka saat ini karena ketakutan jika mobil tangki BBM itu akan menabrak Nada dan Audrey yang berusaha keluar dari parasut yang menutupi tubuh mereka.