Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
101. Ilmu Baru


Pasangan Muda itu terpaksa harus menikmati sarapan pagi di pinggir pantai jauh dari tempat kejadian pertempuran sengit yang terjadi pukul dua dini hari. Walaupun suara helikopter terdengar dari bawah sana menuju TKP untuk melihat para penjahat yang menjadi korban saat ini terlihat mengenaskan dengan mobil yang sudah menjadi rongsokan bak kaleng bekas yang terkoyak karena gilasan mesin penggiling.


Nabilla hanya menghangatkan kembali makanan itu di atas kompor portabel yang ia bawa karena makanan sudah dingin. Mereka harus menikmati makanan dengan piring plastik begitu juga sendok dan garpunya. Walaupun begitu tidak mengurangi rasa nikmat sarapan mereka pagi itu. Sarapan yang berupa sup roti dan spaghetti bolognese. Ada juga teh hangat dan juga kopi hangat menemani sarapan mereka di pinggir pantai itu.


Ini sebenarnya cara Nabilla menutupi aksi mereka semalam dengan mengadakan piknik dadakan agar tidak di curigai oleh pihak kepolisian saat gerombolan mobil aparat itu melintas di atas jalan raya sana menuju TKP.


"Apakah mereka akan datang menanyai kita?" tanya Celia yang kurang nyaman saat ini.


"Tidak apa-apa sayang. Jangan cemas! Nabilla sudah mengatur semua ini. Dia sengaja kita tidak cepat balik ke wilayah villa agar tidak berpapasan dengan mobil polisi yang akan memeriksa setiap mobil yang melintas," ucap Reno.


"Aku ingin segera pulang ke Indonesia. Aku kangen sama baby Farrel,"rengek Celia.


"Semua di sini punya Baby, sayang. Kamu jangan senewen begitu karena kamu yang memaksa ikut dalam misi ini. Ikuti aturan mainnya. Ini bukan pekerjaan mudah. Sudah syukur kita semuanya selamat dalam aksi gila ini. Setiap aksi yang dilakukan Nabilla selalu berpusat pada tali Allah.


Ia melibatkan Allah dalam hal sekecil apapun hingga ia bisa melewati semua kekacauan ini. Aku tidak meminta kamu menjadi seperti dirinya. Tapi, ikuti apa saja yang ingin Nabilla lewati hingga kita bisa pulang bersama untuk menemui bayi kita di sana, hmm!" nasehat Reno membuat Celia mengangguk dengan menelan tangisnya yang sempat tercekat.


"Hmm!"


Nabilla dan Amran sibuk dengan laptop mereka. Meretas CCTV jalanan di sepanjang lokasi kejadian di jalanan itu. Setelah dilihatnya polisi dan warga lokal berkerumun melihat mobil derek dan mobil ambulans beserta tim medis melakukan evakuasi korban, Nabilla meminta pasangan lain untuk berkemas agar segera meninggalkan tempat piknik dadakan itu.


"Ayo kita pulang!" titah Nabilla.


Tanpa banyak tanya semua masuk ke mobil mereka masing-masing. Nabilla dan Amran. Wira dan Lira. Yang lain juga begitu. Lima mobil bergerak meninggalkan pantai itu berjalan beriringan.


Kelima wanita itu memilih tidur karena kelelahan, sementara para suami yang menyetir mobil mereka masing-masing.


"Istirahatlah sayang! Kamu yang paling lelah dari kami semua. Terimakasih sudah menjaga jiwa dan ragamu untukku dan anak-anak kita. Aku mencintaimu baby!" ucap Amran sambil mengelus pipi mulus Nabilla. Wanita ini sengaja melepaskan jilbabnya agar suaminya bebas menikmati wajah dan mahkotanya. Di tambah lagi bibirnya Nabilla sedikit terbuka bagai kelopak mawar yang merekah. Amran mengusap dengan jempolnya sedikit menekan bibir kenyal itu hingga membuat Nabilla mengerang sambil menggeliat.


"Aku tidak sabar untuk bercinta denganmu, Nabilla. Kalau sudah tenang seperti ini, otakku tidak jauh dari ranjang," lirih Amran sambil tersenyum sendiri.


Masing-masing suami sempat melirik bidadari mereka yang tidur terlelap dengan kursi mobil direntangkan ke belakang. Menutupi tubuh mereka dengan selimut karena udara yang cukup dingin di luar sana. Bagi pria tidak ada kata lelah jika ditemani para wanita mereka.


"Alhamdullilah. Beruntunglah kalian juga ikut hingga misi ini terasa begitu manis walaupun sampai saat ini jantungku masih belum berdetak normal," gumam Arland sesekali melirik sang Istri seperti putri tidur." Kamu sangat cantik baby," puji Arlan melihat wajah Nadin.


...----------------...


Setibanya di villa, kakek Abdullah dan tuan Rusli keluar menyambut kedatangan kelima pasangan itu. Mereka menyalami dan memeluk sayang kedua pria beda generasi itu.


"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya kakek Abdullah walaupun mereka sudah menyaksikan berita pagi ini tentang para mafia itu.


"Alhamdullilah kakek semua berjalan lancar berkat Allah SWT," jelas Wira pada kakek Abdullah.


Di berita yang kami nonton pagi ini, wartawan dan pihak kepolisian menyimpulkan banyak hal, bahwa para mafia itu sedang bertempur untuk memperebutkan pasar gelap mereka saat melakukan transaksi barang haram," ucap Tuan Rusli.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Devan sambil menguap lebar.


Sementara itu, Nabilla masuk ke kamarnya sambil menarik tangan suaminya. Dia harus memeriksa sesuatu di laptop. Saat melihat Nabilla membuka lagi laptopnya, Amran langsung melarangnya.


"Sayang. Bisakah kamu istirahat sebentar dan melihatku saja hari ini? aku minta waktumu untuk memperhatikan aku. Kembali ke tugas awalmu yaitu mengurusku," Amran menutup lagi laptop miliknya Nabilla.


Menyadari kesalahannya barusan membuat Nabilla spontan minta maaf lalu menebusnya dengan sesuatu yang dibutuhkan suaminya saat ini adalah tubuhnya. Tahu kalau tubuhnya adalah salah satu cara untuk mengembalikan semua struktur otak mereka yang sempat menegang dan kini sudah kurang pelumasnya untuk berpikir lagi. Hanya dengan bercinta, maka manusia menghasilkan kembali empat hormon yang sangat dibutuhkan dalam hidup mereka yang sudah berumah tangga.


Hormon endorfin yang biasanya cuma keluar pada waktu olahraga, kemudian dopamin hormon yang bikin kita merasa happy, terus hormon yang lainnya lagi adalah hormon oksitosin dan hormon cinta.


Orang akan tetap terlihat awet muda jika mengatur frekuensi bercintanya dengan pasangannya secara rutin. Paling bagus setiap hari dan sekurangnya tiga kali dalam seminggu. Apa lagi pasangan yang tidak mengedepankan ego karena keduanya saling bekerjasama untuk saling memberikan kenikmatan pada pasangannya.


Butuh dua jam kelima pasangan itu menyelesaikan ritual ranjang mereka plus mandi dan berpakaian santai keluar dari kamar itu. Sementara Alif terlihat diam dengan wajah cemberut duduk di tepi danau ditemani tuan Rusli yang sedari pagi tidak bisa membujuk bocah kecil ini. Lea yang merupakan ahli psikologi harus turun tangan menangani Alif.


"Ayah. Biar aku saja yang menangani Alif!" pinta Lea.


"Iya nak." Tuan Rusli meninggalkan menantunya dan Alif.


"Apakah aku boleh duduk di sini, Alif?" tanya Lea pada Alif yang terlihat murung.


Pria kecil itu hanya mengangguk." Mengapa aku bisa berada di tempat ini, Tante? apakah kalian berasal dari Indonesia?" tanya Alif.


"Kami adalah keluargamu Alif. Kami sengaja datang menjemputmu karena ibu kandungmu sangat merindukanmu," ucap Lea.


"Apakah ayahku akan datang ke sini menjemputku dan kita pulang bersama ke Indonesia?" cecar Alif.


"Apakah selama ini ayahmu sangat baik padamu, Alif?" tanya Lea..


"Ayah hanya menyayangi aku dengan memberikan aku mainan dan makanan. Selebihnya aku tidak pernah merasakan perannya sebagai ayah penyayang yang memberikan kasih sayang yang aku butuhkan darinya.


Uangnya bisa membelikan apapun untukku, tapi bukan itu yang aku inginkan darinya. Apa lagi ponsel itu sudah merebut perhatian ayahku dariku. Jadi aku lebih sayang pada ponsel karena dia satu-satunya yang menghiburku," jelas Alif begitu kritis membuat Lea merasa tersudut sebagai seorang ibu dari satu putra.


"Astaghfirullah. Inilah yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak-anak saat ini yang tidak disadari oleh orangtuanya bahwa mereka butuh kasih sayang yang sesungguhnya bukan ponsel," batin Lea yang jadi punya ilmu baru dari Alif secara tidak langsung karena ia baru mau menulis skripsinya.


"Terimakasih Alif! akhirnya aku mendapatkan judul skripsi ku dari kamu," batin Lea seraya mengusap lembut kepala Alif.


"Alif. Kamu akan mendapatkan kasih sayang itu dari ibu kandungmu yang saat ini sedang menanti kepulanganmu. Apakah kamu tidak merindukan ibumu, hmm?" tanya Lea.


"Kata ayah mama sudah menikah lagi dan Alif akan dibesarkan oleh papa tiri yang jahat," ungkap Alif.


"Ayahmu sudah membohongi kamu agar kamu membenci ibu kandungmu dan melupakan ibumu agar kamu mengikuti semua perintah ayahmu untuk menyenangkan hatinya," balas Lea.


"Apakah ayahku seorang penjahat Tante?" tanya Alif membuat Lea kelabakan sendiri untuk menjawabnya.


Degggg...


"Mau berkata jujur tapi kasihan kamunya dek karena kamu terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Tapi, bohong juga dosa jika suatu saat nanti kamu mengetahui bagaimana sepak terjangnya ayahmu seperti apa," batin Lea berpikir keras untuk mencari kata-kata yang bijak menghadapi usia Alif.


Di kamar Nabilla sedang mencari informasi tentang jasad korban kecelakaan mobil milik Dito dengan menghubungi rumah sakit karena chips yang ditanam dalam tubuh Dito tidak memperlihatkan lagi reaksinya. Tapi tidak ada yang bisa memberikan informasi padanya.


"Apakah orang ini sudah meninggal atau bagaimana?" tanya Nabilla sambil menunggu balasan dari pihak rumah sakit dan kepolisian.


Ia akhirnya mengambil jalan pintas untuk meretas laporan medis dari tim ahli forensik di mana rumah sakit yang menangani korban kecelakaan di lokasi kejadian mobil Dito meledak. Namun tidak ditemukan informasi apapun.


"Tidak mungkin dia menghilang begitu saja. Dan bagaimana chips yang tubuhnya itu tidak bisa terbaca saat in?" gelisah Nabilla yang merasa keluarganya belum aman tapi ia juga tidak ingin membuat keluarganya hidup dalam ketakutan.


"Cukup aku saja yang tahu tentang Dito," janji Nabilla.


"Ayo sayang. Kita keluar. Semuanya sudah pada menunggu. Kita akan segera balik ke Indonesia nanti malam," ucap Amran.


"Iya hubby. Thank you!"


......


vote dan like nya cinta please!