Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
81. Ada Imbalannya


Nabilla menatap Amran untuk meminta pendapat suaminya karena tanpa ijin pemilik hatinya ini, dia tidak akan mungkin bisa menyanggupi permintaan tuan presiden.


"Hubby!" tegur Nabilla agar Amran segera mengeluarkan keputusannya, ya atau tidak. Amran nampak berpikir sesaat sambil satu tangannya memegang dagunya dan satu tangannya lagi memeluk pinggangnya sendiri. Setelah memikirkan beberapa saat, Amran baru membuka suara.


"Mohon maaf tuan presiden! Apa jaminan untuk keselamatan istriku, tuan presiden? Aku tidak bisa mengijinkan istriku begitu saja untuk bertindak atas perintah anda tanpa ada persetujuan dari presiden kami karena kehadiran kami disini hanya membantu sekedarnya bukan sepenuhnya," sopan Amran.


"Negaraku akan menjamin keturunanmu akan tetap aman sejalan dengan usia mereka dan akan mendapatkan jaminan pendidikan secara eksklusif di negara ini dengan fasilitas serba gratis jika terjadi sesuatu pada ibunya atau keberhasilan Ibu mereka mengembalikan benda berharga milik negara ini," ucap tuan presiden menjawab pertanyaan Amran.


"Kalau begitu, tolong sampaikan permintaan anda pada presiden kami karena kami adalah bagian aset bangsa kami. Jika terjadi sesuatu negara akan mengurus jenasah kami," tegas Amran penuh kharismatik.


"Baiklah. Aku akan membicarakan tentang ini pada presiden kalian tapi, apakah tuan Amran juga ikut dalam misi ini?" tanya tuan presiden.


"Apakah aku harus duduk menunggu keberhasilan istriku mengambil benda berharga milik negara ini dari tangan musuh dengan mempertaruhkan nyawa nya?" sarkas Amran.


"Maksudnya, apakah anda akan mendampingi istri anda?" tanya tuan presiden lagi.


"Tentu saja saya harus mendampinginya selalu karena saya tidak mau jadi duda dan membiarkan anak-anak saya menjadi piatu. Karena istri saya adalah wanita sejuta pesona. Limited edition. Tidak ada lagi wanita sepertinya di dunia ini dan aku belum pernah menemukan seperti dia," ujar Amran seraya merengkuh pinggang Nabilla posesif.


"Hubby. Benarkah kamu akan mendampingiku dalam menjalankan misi berbahaya ini?" tanya Nabilla penuh binar.


"Jika kita datang bersama, pulang juga harus bersama. Aku siap menjadi tameng untukmu, sayang. Aku lebih baik memilih mati daripada melihatmu terluka. Cukup satu kali aku melihatmu pernah tertembak dan selebihnya aku tidak mau itu terulang lagi. Kalau acara tembak menembak itu juga makanan aku sayang. Apakah kamu lupa suamimu ini juga seorang mafia?" goda Amran sambil tersenyum smirk.


"Baiklah tuan Presiden. Aku akan terima tantangan anda. Tapi, ijinkan aku untuk memilih sendiri ajudan tepercaya untuk anda melalui data pribadi semua angkatan di negara ini!" pinta Nabilla.


"Silahkan nona! dengan senang hati jika kamu sendiri merekomendasikan perwira terpercaya di kalangan angkatan yang ada di negara ini," ucap tuan presiden.


"Baiklah tuan presiden. Saya akan mempelajari trek record nama-nama perwira yang sudah memiliki jam terbang tinggi dengan prestasi gemilang tentunya dibarengi dengan iman yang kuat yang tidak akan pernah tergoda dengan rayuan setan dalam wujud manusia.


Karena saya yakin negara ini punya agen-agen bangsa yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata dengan ditunjang prestasi non akademik lainnya, tapi saya tidak menjamin mereka memiliki jiwa nasionalisme yang menolak bentuk pengkhianatan," ucap Nabilla.


"Apakah anda lupa nona Nabilla kalau semua orang yang memangku jabatan apapun dalam profesinya selalu mengucapkan sumpah?" tanya tuan presiden.


"Jika orang berpegang pada sumpahnya, maka penyelewengan wewenang dalam jabatan mereka tidak akan pernah terjadi, tuan presiden. Seperti yang dilakukan wakil Anda, yang menjadi alasan Anda ada di sini, bukan?" imbuh Nabilla.


"Hmm! anda benar nona. Aku hampir lupa akan hal itu," ujar presiden.


"Awal niat mereka saat mencapai kesuksesan memiliki cita-cita yang sangat mulia untuk kehidupan pribadinya dan juga pengabdian mereka pada negaranya. Tapi, seiring waktu mereka mulai melupakan tujuan awal mereka karena sudah tergiur dengan tempat basah yang menjanjikan mimpi indah hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


Lagi-lagi manusia selalu siap untuk sukses tapi, gagal untuk menolak godaan yang ada. Dan itu berlaku dari kehidupan di dunia ini dimulai dan akan terus berulang hingga akhir hidup ini.


Itulah dosa warisan anak cucu Adam di mana iblis berjanji pada Tuhannya untuk menyesatkan anak cucu Adam dalam menemaninya di neraka kelak. Saya mohon ijin untuk menginap di hotel yang sudah dibooking oleh Mr. M. Tuan presiden akan kembali ke gedung putih dengan helikopter sesaat lagi. Permisi tuan presiden! sampai nanti!" ucap Nabilla yang sudah terlihat kelelahan.


"Silahkan nona! Terimakasih untuk hari ini, tuan Amran. Anda pasti sangat bahagia dia memiliki istri yang sangat hebat! hati-hati!" ucap tuan presiden melepaskan kepergian Nabilla dan Amran yang langsung di kawal oleh anggota FBI menuju hotel.


"Dengan senang hati tuan presiden. Jaga diri anda. Tetap waspada. Permisi!" Amran menyalami tuan presiden dan Mr. M.


...----------------...


Amran tidak begitu lelah karena dia hanya menemani istrinya. Nabilla yang sudah terlalu lelah antara fisik dan pikirannya karena energinya sudah terkuras habis hingga detik terakhir di kamar mandi tadi saat ia harus memberi hadiah kepada suaminya yang sudah ia janjikan dari tadi pagi.


"Terimakasih hubby! kamu sudah bersikap manis hari ini," ucap Nabilla seolah Amran itu seperti anak kecil baginya.


"Terimakasih juga sayang! hari ini kamu sudah membuat aku bangga yang bertambah-tambah padamu. Semoga selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah. Jagalah tubuhmu untukku karena kamu terlalu berharga untuk disandingkan dengan apapun," imbuh Amran membuat hati Nabilla meleleh.


"Aaaaa... ucapannya manis sekali," batin Nabilla yang saat ini sedang ditaburi bunga. Harum mewangi sampai ke lubuk hati terdalam. Ia memeluk tubuh kekar itu dan membenamkan ciumannya di dada bidang sang suami.


Dan Amran sangat bahagia diperlakukan manis seperti itu oleh istrinya. Bagaimanapun juga kadang sifat kekanak-kanakan seorang pria yang selalu ingin mendapatkan perhatian lebih dari wanitanya walaupun dalam dirinya ada jiwa patriot sebagai seorang suami maupun ayah bagi anak-anaknya untuk lindungi mereka dari mara bahaya.


"Sayang!"


"Hmm!"


"Apa alasanmu sebenarnya untuk ikut dalam misi perampasan kembali milik berharga negara ini?" tanya Nabilla penasaran karena jawaban Amran tadi pada presiden tidak memuaskan rasa penasarannya.


"Apakah kamu ingin tahu banget, baby?" ledek Amran.


"Tentu saja, hubby!"


"Apa hadiahku jika aku menjawabnya?"


"Bercinta sepanjang malam denganmu jika misi ini berhasil," ujar Nabilla tanpa basa-basi.


"Aku tidak akan memberikan kesempatan kepada pengagum rahasiamu itu untuk terlalu dekat denganmu. Aku ragu dengan profesional kinerjanya karena hatinya pasti masih ada untukmu," ucap Amran.


"Kau ini selalu saja posesif padahal aku tidak pernah mempedulikan perhatiannya padaku sejak dulu," ujar Nabilla.


"Apakah kamu memiliki perasaan khusus padanya Nabilla?" tanya Amran.


"Perhatian khusus aku hanya pada satu orang mafia yang paling nyebelin di dunia ini tapi aku sangat mencintainya," balas Nabilla membuat Amran terhenyak.


"Mengapa tetap mempertahankan aku baby, padahal aku selalu mengecewakanmu?" tanya Amran.


"Karena kamu belum mengetahui tentang aku seutuhnya. Dan aku ingin kamu membayar setiap hujatanmu padaku. Aku ingin kamu bisa merasakan bahwa kamu bisa membedakan mana barang berharga dan barang loak seperti mantan terindahmu itu, Fina. Tapi di atas segalanya, aku terlalu mencintaimu, hubby! hatiku yang menginginkanmu," ucap Nabilla dan keduanya kembali berciuman mesra karena tubuh mereka belum mengenakan piyama tidur usai mandi. Hanya bercumbu dan setelah itu keduanya memilih tidur melepaskan penat seharian berkutat dengan bandit negara yang menegangkan seperti malam yang terjadi ini.


Keesokan harinya, Nabilla dan Amran kembali ke markas FBI untuk bertemu dengan agen satu dan merencanakan misi mereka dengan menyusun strategi. Nabilla hanya mengambil perannya sebagai penggiring bola dan yang akan menangkap bolanya di tiang gawang tentu hanyalah agen satu.


Axton nampak serius mendengarkan penjelasan Nabilla dalam operasional mereka kali ini. Axton yang pernah bekerjasama dengan Nabilla sebagai anggota CIA, pasti sudah sangat hafal dengan kejeniusannya Nabilla namun sulit terbaca endingnya karena Nabilla banyak membuat kejutan padanya yang tidak sesuai dengan skenario karena perubahan permainan lawan.


......


vote dan like nya Cinta, please!