
Permintaan Amran pada Ghaishan yang menjadi syarat utama menjadi menantu kelurga besar itu, membuat dada Ghaishan terasa sesak. Sudah pukul 2 pagi ia terus menerus membolak-balikan tubuhnya karena matanya sulit diajak agar bisa terpejam.
"Mengapa seorang ayah tetap menjadi pribadi yang egois setelah anaknya menikah masih saja mengikuti maunya. Bukankah itu sudah bagian dari hak suaminya? mau dibawa kemana kelurganya," lirih Ghaishan dalam diamnya.
Sekitar jam 3 pagi, ia baru bisa memejamkan matanya. Penjagaan di sekitar resort itu terlihat sangat ketat walaupun resort itu tidak diperkenankan lagi untuk pengunjung tamu yang ingin menginap di tempat itu.
Pukul 7 pagi, kelurga itu kembali berkumpul untuk sarapan pagi. Hanya saja semuanya tidak hadir karena ada penghuni resort yang habis sholat subuh tidur lagi.
Sementara Nada, Adam dan El sedang berlari pagi di sepanjang pantai. Hanya Cintami dan Bunga dilarang oleh suami mereka untuk berolahraga karena sudah semalaman kedua wanita itu terus digempur oleh suami mereka hingga keduanya kurang tidur. Alhasil mereka baru bisa terlelap usai menunaikan sholat subuh.
Nada beristirahat di bangku panjang sambil bersandar di sandaran tempat itu. Karena kelelahan usai berolahraga di tambah sapuan angin pantai yang sejuk, membuat Nada terlelap. Kedua saudaranya sudah bergabung dengan keluarga lainnya untuk sarapan pagi.
Ghaishan yang belum puas menggoda gadis itu menghampiri Nada dan duduk di bangku sebelahnya sambil memperhatikan wajah cantik Nada.
"Apakah aku bisa mendapatkan gadis ini tanpa ada persyaratan dari ayahnya? semua pekerjaanku di sana dan kehidupanku ada di Italia," batin Ghaishan lagi yang kembali risau.
Merasa ada aroma parfum milik laki-laki membuat Nada mengerjapkan matanya dan melihat wajah tampan Ghaishan yang tersenyum padanya.
Senyum itu membuat jantung Nada berpacu cepat, namun gadis ini tidak ingin terjebak dengan godaan setan. Ia segera bangkit tanpa ingin meladeni Ghaishan.
Saat kakinya hendak melangkah, Ghaishan menarik tangan Nada dengan sangat kuat membuat Nada jatuh dalam pangkuannya. Seketika pelukan tangan Ghaishan pada tubuh Nada yang tidak siap membuat Nada kembali mendapatkan ciuman dari Ghaishan pada pipi gadis itu.
"Ayo kita menikah sayang! mumpung kelurga kita berkumpul semuanya di sini," ucap Ghaishan percaya diri.
"Maaf. Kau bukan pria dalam impianku. Aku sudah mencintai seseorang. Jadi lepaskan pelukanmu!" pekik Nada.
"Setiap orang berhak untuk mencintai siapapun di dunia ini. Tapi, apa artinya cinta jika tidak bisa memiliki tubuh orang yang kita cintai? bukankah itu hanya sebuah penyiksaan? merana tanpa sebab. Merindukan tanpa bersua. Kau hanya diperbudak dengan imaginasimu sendiri.
Tanpa kau sadari mungkin dia sudah menjadi milik seseorang? apakah itu akan memuaskan hasratmu? buang-buang waktu. Sementara hidup terus berjalan dan harusnya kau bisa berbahagia dengan apa yang bisa kau miliki bukan hanya bisa diraih dalam angan tapi bisa kau raih dalam nyata," desis Ghaishan lalu melepaskan pelukannya pada Nada yang hanya bisa terhenyak mendengar setiap barisan kalimat yang langsung menusuk ulu hatinya.
"Itu bukan urusanmu!" pekik Nada.
"Kau terlihat cantik dan jenius. Namun sayang, kau terlalu berambisi dalam khayalanmu yang tidak memberikan manfaat apapun. Menyiksa diri dengan menghabiskan waktu memikirkan yang tidak bisa kamu miliki. Dan itu terlihat seperti seorang idiot," sarkas Ghaishan.
Nada melebarkan matanya. Walaupun perkataan Ghaishan adalah kebenaran, namun ia tidak mau kalah di depan pria tampan ini.
"Jika kamu memang seorang yang berpikir realistis, mengapa kamu tidak bisa bertindak secara jantan untuk mendapatkan aku dengan cara yang santun. Bukan dengan menculikku dan memulangkan aku secara diam-diam. Bukankah kamu tidak lebih dari seorang maling. Dan satu hal lagi yang perlu kau ingat! Aku tidak semudah yang kau kira walaupun kau menyentuh bagian tubuhku yang seharusnya kau bisa dapatkan dengan cara yang terhormat," tekan Nada.
"Aku sudah melamarmu pada ayahmu. Jika cara terhormat itu yang menjadi syarat mutlak untuk bisa mendapatkanmu," balas Ghaishan.
Nada tersedak dengan liurnya sendiri. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ghaishan.
"Tidak percaya? sana...! tanyakan pada ayahmu sendiri. Aku sudah melamarmu dan aku siap membangun perusahaanku sendiri di Jakarta karena itu yang diajukan oleh ayahmu padaku jika ingin mendapatkan dirimu," ucap Ghaishan.
"Siapa yang mau menikah denganmu? kamu kira dengan pengorbananmu itu membuat aku tersentuh?" remeh Nada sinis.
Aku berjanji demi Allah bahwa aku mampu membahagiakanmu. Dan aku bisa menjadi apapun seperti yang kamu inginkan asalkan tidak melanggar hukum dan aturan agama. Walaupun imanku tidak sekuat kamu, tapi aku tidak begitu buruk menjadi suamimu," tandas Ghaishan.
Nada terjatuh di bangku panjang itu setelah berdiri cukup lama mendengarkan ocehan Ghaishan penuh makna. Ia terdiam. Lidahnya terasa kelu untuk membalas ucapan pria tampan yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku belum sarapan pagi. Mau menemaniku sarapan?" ajak Ghaishan sambil memberikan telapak tangannya pada Nada yang terlihat dingin padanya.
"Nada. Ayo sarapan! Ajak Ghaishan sekalian karena dia belum sarapan!" teriak Nabilla dari atas bangunan resort yang lebih tinggi dari pantai itu.
"Baik mommy. Mommy memanggil kita untuk sarapan," ucap Nada melangkah sendiri.
Ghaishan mengikuti langkah gadis itu. Sifat urakannya tidak kunjung hilang di depan gadis itu. Makin dilarang makin jadi. Keduanya sudah mengambil sarapan mereka masing-masing.
Nada melirik makanan yang di ambil oleh Ghaishan yaitu makanan negaranya." Cih...! gimana loe mau tinggal di sini kalau makanan Indonesia saja tidak mau dicoba," gerutu Nada.
Keduanya duduk di meja yang sama dan saling berhadapan. Baru saja ingin menikmati sarapannya, ada telepon berdering membuat Ghaishan segera menjawab panggilan itu. Ternyata itu dari ibunya Ghaishan yang saat ini sedang menetap di Italia mengikuti suaminya.
"Quintano..! kamu sedang apa saat ini?" tanya nyonya Miranda dalam bahasa Italia. Miranda menyapa putranya dengan panggilan akrab Ghaishan dengan nama belakang pria tampan itu.
yang bernama lengkap Ghaishan Quintano Luciano.
"Sarapan mom bersama dengan calon menantumu. Dia sangat cantik. Mom pasti menyukainya," ucap Ghaishan sambil melirik Nada yang hampir tersedak.
"Sial...! kenapa lelaki ini terus saja membual," batin Nada yang juga mengerti bahasa keduanya itu.
"Kirim fotonya untuk mommy. Jika gadis itu siap menikah denganmu, mom dan father mu akan melamarnya," ucap nyonya Miranda antusias.
"Siap mom. I love you," ucap Ghaishan seraya memberikan kecupan manis pada sang mommy.
Telepon berakhir. Ghaishan menikmati sarapannya. Nada menatap wajah tampan pria itu." Kenapa kamu mengumbar bualanmu pada ibumu kalau aku adalah calon istrimu?" tanya Nada.
"Apa...? jadi kamu juga mengerti bahasa Itali selain bahasa Inggris dan Turki?" tanya Ghaishan kagum.
"Aku mengusai banyak bahasa di dunia ini agar tidak dibodohi pria brengsek seperti kamu," semprot Nada.
"Aku makin menyukaimu Nada. Aku tidak peduli kamu menolakku saat ini. Yang penting aku sudah mengantongi restu dari kedua orang tuamu. Rasanya aku ingin secepat menikahimu," goda Ghaishan dengan mimik serius.
"Jangan mengira aku mau disentuh olehmu walaupun nanti pernikahan ini akan terjadi karena desakan orangtuaku," ucap Nada ketus.
"Tidak apa Nada. Mungkin awalnya kau menolakku. Tapi suatu hari nanti, kau yang tidak ingin aku tinggalkan," balas Ghaishan lalu meninggalkan Nada seorang diri yang hanya bisa bengong.
......................
Vote dan likenya cinta please!