Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
158. Menjadi Tawananku


Tubuh Nada didorong masuk ke dalam mobil secara paksa dengan tangan diborgol. Ia tidak mengerti dengan pria tampan yang berusia sama dengan kakak iparnya Daffa itu tiba-tiba saja menarik tubuhnya keluar dari mobil yang tidak ia kenal.


"Siapa kau...?" tanya Nada dengan amarah yang meluap.


Pasalnya gadis ini baru selesai makan dan belanja di mall itu tiba-tiba di sergap dua orang penjahat saat dirinya menumpang sebuah taksi hendak kembali ke kediaman kakek Salim.


Taksinya dihadang saat memasuki area pantai di mana mansion kakek Salim berada. Saat ini ia sudah berganti mobil, dari mobil dua orang penculik tadi berpindah ke tangan seorang mafia. Rupanya taksi itu sudah bekerjasama dengan penjahat. Dan sialnya Nada sempat terlelap di dalam taksi dan ia segera dibius dengan cepat saat taksi itu berhenti. Nada tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadiannya terlalu cepat.


Sekarang ia duduk di sebelah pria yang sangat tampan di dalam mobil. Nada menggeser tubuhnya menjauhi pria yang terlihat sangat tenang tampak serius menatap ponselnya entah apa yang ia lihat di dalamnya.


"Siapa kau? mengapa aku diculik? apa yang kau inginkan?" tanya Nada ketus.


"Bukan siapa-siapa. Yang kuinginkan darimu adalah kau harus menjadi tawananku," balas pria itu tanpa melihat ke wajah Nada.


"Katakan saja apa yang kau inginkan dariku? apakah kamu ingin uang?" tanya Nada sambil mengendalikan perasaannya agar tetap tenang.


"Apakah aku terlihat terlalu miskin hingga sangat membutuhkan uangmu?" sinis pria tampan itu.


"Lantas apa yang kamu inginkan? lepaskan aku, bodoh!" maki Nada berusaha melepaskan pergelangannya dari borgol yang membelenggu kedua tangannya.


"Aku menginginkan tubuhmu. Layani aku!" titah pria itu membuat Nada terperanjat. Ia meludahi wajah pria itu namun pria itu hanya mengusap wajahnya dengan tangannya.


Tengkuk Nada di tarik merapat ke wajahnya. Dengan secepat kilat bibir Nada berhasil dipagut oleh pria misterius itu sambil duduk diatas kedua paha Nada. Sekuat mungkin Nada melepaskan diri menghindari ciuman pria itu, namun makin di tolak, makin membuat pria itu bersemangat untuk memagut bibir Nada dengan rakusnya hingga Nada kehabisan oksigen baru pria itu melepaskan pagutannya.


"Bibirmu sangat manis nona. Rasanya seperti stroberi segar. Nanti saja kita lanjutkan lagi di kamarku," ucap pria tampan itu lalu turun dari paha Nada.


Nada menghirup udara sebanyak-banyaknya. Rasanya ia ingin menangis karena merasa dilecehkan oleh pria tampan itu. Tidak lama kemudian, pria itu kembali membiusnya membuat Nada kembali tertidur. Mobil itu menepi lalu pria tampan itu turun dari mobilnya.


Kedua tangan Nada sudah bebas dari borgol itu. Tubuh Nada kembali di gotongnya dan membawanya ke taksi yang tadi Nada tumpangi.


"Antar lagi gadis ini ke alamat yang dituju! Jangan coba-coba menyakitinya karena dia adalah wanitaku!" titah pria tampan itu pada sopir taksi yang tidak lain adalah anak buahnya pria tampan itu.


Taksi itu kembali bergerak menuju kediaman kakek Salim. Setibanya di depan mansion, sopir taksi itu membangunkan Nada. Amran dan yang lainnya buru-buru keluar saat mendengar ada mobil berhenti di depan mansion.


"Ada apa dengan putriku?" tanya Amran pada sang sopir yang terlihat pura-pura lugu." Maaf tuan. Putri anda tertidur saat naik taksi saya dari Mall hingga tiba di alamat sini," ucap sang sopir sambil membungkukkan tubuhnya.


Amran membuka pintu mobil itu meraih tubuh putrinya lalu menggendong Nada membawa masuk ke dalam rumahnya kakek Salim.


"Saya permisi tuan!" pamit sopir taksi seraya menyerahkan tas Nada pada Arsen.


"Terimakasih." Arsen menatap mobil taksi itu hingga menghilang.


Cintami merasakan ada keanehan pada adik bungsunya itu." Aneh. Tidak biasanya Nada terlelap tidur hingga tidak sadarkan diri seperti itu," gumam Cintami.


Tubuh Nada dibaringkan ditempat tidurnya. Semuanya nampak heran melihat keadaan Nada. Nabilla ingin menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Nada namun dicegah oleh Amran.


"Jangan menghubungi dokter manapun, baby! kita tunggu saja Nada sadar dan bisa menanyakan kepadanya secara langsung," ucap Amran yang sudah mengetahui jika saat ini anaknya sedang berhadapan dengan seseorang.


Dan sebagai seorang pria yang pernah nakal diusia mudanya, ia bisa merasakan putrinya dilecehkan oleh seseorang. Bagaimanapun juga Amran ingin menjaga aib putrinya agar Nada tidak merasa minder dengan saudaranya yang lain.


Mereka meninggalkan kamar Nada dan kembali ke kamar mereka masing-masing.


Sekitar lima jam kemudian, Nada mengerjapkan matanya sambil merasakan nyeri di kepalanya. Ia melihat sekitarnya dan langsung terbangun mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


"Astagfirullah..! di mana aku?" lirih Nada sambil menelisik lagi sekitarnya.


"Bukankah ini kamar di rumah kakek? bagaimana bisa aku ada di dalam kamarku? apakah aku tadi hanya bermimpi. Tapi, bibirku...?" Nada merasakan bibirnya yang tadi dipagut oleh pria misterius itu.


"Bukankah tadi aku dicium oleh bajingan itu?" Nada menyentuh bibirnya sambil membayangkan lagi wajah tampan pria itu.


"Siapa pria pengecut itu? andai aku bisa bertemu lagi dengannya, akan aku habisi bajingan itu! Ini bukan mimpi. Aku yakin ini bukan mimpi!" ucap Nada lalu menanggalkan semua bajunya untuk mandi.


Baru saja ia membuka pintu kamar, Amran sudah membawakan makan malam untuk putrinya.Nada yang masih mengenakan jubah mandinya menghampiri ayahnya.


"Apakah kamu sudah baikan, sayang?" tanya Amran mengecup kening sang putri.


"Sudah daddy. Tapi, kenapa aku tiba-tiba berada di kamarku daddy?" tanya Nada.


"Emang sebelumnya kamu merasa ada di mana, sayang?" pancing Amran.


"Aku..aku...!" Nada mengigit bibir bawahnya terlihat serba salah." Apakah aku harus berkata jujur pada Daddy? bagaimana kalau Daddy mengamuk dan semua anggota keluarga tahu? ini sangat memalukan," batin Nada.


"Makanlah dulu sayang! Daddy bisa menjaga rahasiamu, jika kamu ingin berbagi kisah yang tidak enak yang kamu alami," ucap Amran ingin menjadikan dirinya sebagai sosok sahabat untuk putrinya.


"Tidak ada rahasia apapun daddy. Mengapa daddy terlihat curiga padaku. Dan bagaimana bisa aku tiba-tiba sudah berada di kamarku?" tanya Nada lagi.


"Taksi yang membawamu ke sini. Kata sopir taksi itu kamu ketiduran dari mall hingga tiba di rumah," ucap Amran.


"Jadi, siapa yang gendong Nada ke kamar ini daddy?" tanya Nada.


"Yang pasti Daddy yang gendong kamu ke sini," ujar Amran.


"Berarti aku hanya mimpi bertemu dengan pria gila itu yang berani sekali mencium aku?" batin Nada antara percaya dan tidak.


"Baiklah. Habiskan makan malammu! dan satu hal lagi besok malam kita akan kembali ke Indonesia dan jangan ke mana-mana lagi!" ujar Amran.


"Baik daddy." Nada menikmati makan malamnya sambil berpikir keras tentang kejadian barusan yang terjadi pada dirinya. Amran beranjak keluar meninggalkan putrinya sendirian.


Tidak lama kemudian, ponsel Nada berdering. Gadis ini baru sadar jika ponselnya bisa merekam setiap interaksinya dengan orang lain. Nada memang sengaja melakukan itu agar ia bisa mereview lagi aktifitasnya seharian.


Tapi Nada dering itu terus memanggilnya untuk menerima panggilan itu dan Nada terhenyak di ponsel itu yang tertulis dengan nama calon suamimu.


"Hah...? calon suami...?" tubuh Nada bergidik ngeri.


"Bagaimana mungkin orang ini bisa memasukkan nomor kontaknya di ponselku? apa lagi dia bisa membuka sandi ponselku berarti dia orang yang ahli IT juga," lirih Nada.


Nada menggeser tombol hijau lalu menempelkan benda pipih itu ke kupingnya." Hallo..!" sapa Nada.


"Sudah bangun sayang? bagaimana dengan ciumannya? apakah kamu merindukan ciumanku lagi?" ledek pria tampan itu membuat amarah Nada membuncah.


"Dasar pengecut..! kau pasti seorang pria sakit jiwa dan penjahat kelamin yang hanya bisa mendapatkan keuntungan dari wanita sepertiku dengan cara yang memalukan," maki Nada.


"Aku sangat merindukan suara merdumu, nona Nada. Sampai jumpa lagi sayang," ucap pria itu lalu mematikan ponselnya.


"Kau ...!" Nada melacak nomor telepon itu namun sangat sulit ditelusuri oleh dirinya. Ingin memberitahukan kepada saudara kembarnya El tapi akan menjadi masalah baru lagi.


"Biarlah. Besok aku sudah kembali ke Indonesia. Ternyata Istambul bukan negara yang aman untuk berlibur," gumam Nada terlihat pasrah.


Keesokan paginya, kelurganya Amran bersiap untuk bersilaturahmi ke kedua orangtuanya Daffa sebelum bertolak ke Indonesia. Mereka mampir ke rumah sakit terlebih dulu sebelum menuju ke bandara. Amran dan Nabilla sangat bersyukur bisa bertemu dengan besan mereka yang asli.


...----------------...


Vote dan likenya cinta please!