
Arumi masih memasang wajah temboknya hanya ingin membela haknya sebagai istri sah tuan Racky. Selama ini ia harus bertahan mengarungi hidup rumah tangga dengan tidak membuat ulah agar dirinya akan diterima di tengah keluarga suaminya. Dengan begitu secara otomatis, ia bisa menunggu kematian kedua mertuanya dan mengusai harta suaminya dari mertuanya.
Namun sayang, kesempatan emas itu tidak pernah menghampirinya hingga anak-anaknya makin beranjak dewasa. Walaupun sikapnya dulu sangat lembut pada sang suami agar Recky tidak akan meninggalkan dirinya demi harta yang sudah ia incar selama ini, namun usianya tidak mungkin lagi menahan dirinya untuk menikmati harta Karun layaknya seorang istri konglomerat yang bisa melakukan apapun dengan uang, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Beruntunglah kedua putrinya dididik oleh tuan Racky untuk hidup mandiri dengan kecerdasan otak mereka yang selalu mendapatkan bea siswa penuh dan menahan diri dengan naf*su dunia. Keduanya memang berkiblat pada didikan ayah hingga kebaikan nilai-nilai akhlak mulia itu terpatri dalam sanubari mereka. Tidak dengan sang ibu yang menyimpan bara dalam hatinya untuk membumihanguskan keluarga suaminya suatu saat nanti.
Dan inilah, saat yang tepat untuk dirinya bisa melampiaskan amarahnya yang sudah menumpuk di hatinya yang tidak pernah diakui oleh kedua mertuanya.
"Yah, aku memang tidak waras," ucapannya terhenti kala luapan emosinya sudah bercampur dengan cairan bening yang menyeruak dari mata beningnya hingga melunturkan makeup memoles wajah cantiknya.
"Aku hanya ingin mengambil yang seharusnya apa yang menjadi milikku yang di dalamnya ada hak suamiku dan juga kedua putriku. Aku istrinya sah yang seharusnya menghabiskan hidup di istana ini, tapi kenapa justru sang mantan malah hidup disini dan diperlakukan dengan baik," Sindir Arumi yang melirik pada Ambar yang masih duduk tenang sambil melihat ponselnya tanpa menghiraukan ringkikan Arumi yang penuh dengan dendam. Wanita cantik nan anggun ini tidak terhasut sedikitpun dengan amarah Arumi dan itu membuat Arumi makin memanas.
"Kau...? ha...ha..! jangan bandingkan dirimu yang murahan itu dengan Ambar yang bukan hanya mantan istrinya putraku tapi dia adalah kesayanganku.
Walaupun dia sudah menanggalkan status istrinya putraku tapi masih ada hubungan darah antara dia dan suamiku karena Ambar adalah keponakan kandungnya dan otomatis keponakan aku juga. Dan jangan pernah bandingkan dia denganmu karena kecantikanmu hanya berdasarkan makeup tebal agar mempertebal topeng wajahmu itu yang penuh kepalsuan karena kami sudah menduganya dari awal kamu menjadi pelakor.
Ambar tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan kemewahan di rumah ini karena kedua orangtuanya juga adalah saudagar kaya yang penghasilannya saja trilyunan setiap bulannya karena sebagai pengusaha sutra asli dan punya tambang emas.
Bahkan lebih kaya dari suamiku. Itulah sebabnya dia tidak begitu butuh lelaki untuk memanjakan dirinya dengan kemewahan karena Ambar sudah memiliki segalanya karena ia adalah putri satu-satunya dari adik iparku. Apakah putraku Recky tidak pernah menceritakan itu padamu?" sambar nenek Anisa makin meleburkan besi panas yang sedang ia asah untuk menggorok lehernya Arumi yang tampak tercekat mendengar bagaimana hebatnya Ambar tanpa ia pernah mau tahu tentang mantan suaminya itu karena cemburu.
Ambar memang sangat cantik dan baik bahkan sangat lembut sebagai wanita Aceh yang didik dengan pendidikan agama yang kental. Tapi kecantikan dan baik saja tidak cukup untuk seorang Recky. Yang menganggap Ambar hanya kedebok pisang yang tidak pernah bisa memuaskan hasratnya di ranjang. Itulah lelaki ada saja yang mereka lihat dari celanya istri. Itulah sebabnya, ia lebih melirik pesona Arumi yang bisa memuaskan dirinya di atas ranjang.
Sementara Ambar hanya menikmati sentuhannya bukan membalas sentuhan yang sama kerena Ambar tidak begitu faham dengan permainan ranjang karena dirinya masih muda saat itu dan minim pengalaman bercinta. Andai saja tuan Recky bersabar dan mau mengajarinya untuk menyenangkan dirinya, mungkin itu hal sepele untuk wanita agar bisa memuaskan pria yang berjulukan suami.
Namun setelah berpisah Ambar baru menyadari kekurangannya namun menunggu rujuk dari Recky tidak pernah kunjung datang hingga ia lelah dan menghabiskan hidupnya membesarkan putrinya. Jika saat itu dia mau terima poligami sebagai strategi untuk menyingkirkan pelakor mungkin ia bisa menyelamatkan rumah tangganya kembali yang sempat karam.
Melihat pertengkaran istrinya dan sang ibu yang tak berkesudahan membuat kesabaran Recky mulai terkikis. Ia lalu bangkit berdiri lalu menyeret tubuh istrinya untuk membawa pergi dari rumah orangtuanya.
"Ayo kita pulang! Bicaramu sudah terlalu banyak dan apapun yang kamu ucapkan tidak akan merubah apapun di keluarga ini. Suka atau tidak suka kamu cukup menikmati hasil jerih payahku dengan gajiku dan kalau kamu masih mau mempertahankan ambisimu, mari kita bercerai! Keputusan ada di tanganmu!" Ancam Recky sambil menarik tangan istrinya di hadapan keluarganya dan juga tamu kakek Abdullah.
Kini kedua putrinya terutama Lira yang berjalan menuju neneknya untuk meminta maaf. Air mata gadis berhijab itu terus mengalir bak hujan yang tak kunjung mau reda. Walaupun air mata itu membasahi wajahnya namun gadis ini masih terlihat sangat cantik dengan hidung yang sudah merah dan sedikit mirip dengan Celia. Ia berjalan pelan dengan dengkul gemetar. Tangan meremas roknya dengan wajah tertunduk malu berdiri di depan neneknya sedikit menjauh. Ia menekan perasaannya dan memberanikan diri membuka mulutnya yang sedari tadi mengatup rapat menahan emosinya.
"Nenek. Insya Allah, saya dan adik saya Lea tidak akan mengusik keluarga ini karena kami dididik papa untuk mandiri dan bangga dengan apa yang kami usahakan sendiri. Aku bersumpah di depan nenek dan para tamu yang ada di sini. Aku putrinya papa dan mama memohon maaf atas sikap mama yang sudah mengacaukan acara keluarga.
Tidak apa kalau nenek dan kakek tidak mengakui aku dan adikku Lea sebagai cucu kalian karena aku percaya Allah sudah mentakdirkan hubungan darah diantara kita. Tidak ada yang salah tentang itu. Tapi yang salah adalah kami lahir dari rahim mama yang tidak diakui kalian. Tapi kami juga tidak bisa memilih untuk hadir dirahimnya. Apakah itu sebuah kesalahan kami nenek? jika kami bisa memilih kami juga tidak ingin dilahirkan dari situasi yang tidak diinginkan nenek dan kakek.
Maafkan atas kehadiran kami nenek. Tapi aku juga hanya sebagai anak yang tugasku untuk berbakti kepadanya tentu saja yang diridhoi Allah. Kami permisi dulu nenek, kakek dan kak Amran selamat atas kelahiran bayi kembarnya," ucap Lira sambil menahan gejolak kesedihannya.
Ketika tubuh kedua gadis itu berbalik untuk meninggalkan rumah neneknya, nenek Anisa tidak sampai hati membiarkan cucunya pergi begitu saja. Karena dendamnya pada menantunya Arumi membuat ia juga membenci kedua cucunya yang Sholeha ini. Hatinya tergetar mendengar setiap ucapan kesakitan kedua cucunya yang begitu tabah menerima keadaan mereka sebagai cucu yang tidak diakui. Selama ini mereka bungkam pada dunia untuk tidak menceritakan siapa mereka agar tidak dibully dunia putri dari pelakor. Yah, lagi-lagi keegoisan seorang ibu mengorbankan perasaan anak-anaknya yang menjadi buah bibir orang yang hanya bisa ikut menghukum mereka yang tidak tahu apa-apa.
"Apakah gadis secantik kalian dididik untuk tidak menyalami aku sebagai nenek kalian?" lirih nenek Anisa sambil menangis.
Lira dan Lea membalikkan tubuh mereka lagi dengan ragu. Kali ini Lea yang berani bicara." Apakah kami boleh mencium nenek?" tanya Lea dengan dengkul sudah gemetar. Itu bisa di lihat dari roknya yang ikut bergetar.
Devan yang terlihat gemas dan juga sedih melihat keadaan gadis cantik itu ingin memeluk dan menenangkan gadis itu yang sedari tadi sudah membuatnya jatuh cinta.
"Kenapa tidak anak nakal? ayolah kemari! peluk nenek!" ucap nenek Anisa sambil melebarkan tangannya membuat Lea dan Lira saling berpandangan satu sama lain dengan air mata yang terus mengalir. Dan keduanya kompak mengangguk pelan.
"Nenekkkkkk.....!" keduanya menghamburkan tubuh mereka memeluk tubuh renta itu dan menangis sesenggukan di dada nenek Anisa.
Semua yang duduk dan bertahan di situ awalnya berwajah tegang kerena pertengkaran nenek Anisa dan Arumi kini berganti haru karena ikut menangis. Mereka bisa bernafas lega setelah sekian menit menyaksikan adegan demi adegan yang mengolah jiwa mereka dari tegang, sedih dan haru bahagia.
"Apakah kalian tidak ingin memeluk kakek juga?" tanya kakek Abdullah yang juga ingin memeluk kedua cucu perempuannya ini.
Kini keduanya bergantian memeluk kakek dan suara kedua gadis itu tidak bisa lagi pelan. Mereka menangis sesenggukan karena kakek mereka menerima mereka dengan ikhlas. Nabilla yang sedari tadi ikut menangis memeluk suaminya dan meminta suaminya untuk menyambut adik iparnya itu.
Tidak ada alasan Amran menolak untuk tidak memeluk kedua adiknya. Namun ia harus menjaga perasaan ibunya. Tapi semenit kemudian, ummi Ambar yang lebih dulu bangun untuk menyambut kedua gadis itu karena dia juga orang tua di situ untuk menunjukkan kepada kedua anaknya untuk belajar menerima dan memaafkan karena kedua putrinya rivalnya tidak bisa disalahkan dalam masalah orangtua mereka.
"Apakah Tante boleh memeluk kalian juga, nak?" tanya nyonya Ambar sambil tersenyum dengan wajah sembab.
Lira dan Lea begitu takut dan juga merasa paling bersalah karena ibu mereka yang telah merampas kebahagiaan wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka ini. Ummi Ambar mengangguk meyakinkan keduanya bahwa dirinya tidak punya dendam apapun pada kedua gadis ini.
Reno menghampiri Celia yang masih bengong menatapi adegan ibunya dan kedua adik tirinya itu. Reno menyenggol pundak Celia dengan pundaknya sambil tersenyum." Apakah kamu tidak ingin bergabung sayang?" tanya Reno lembut membuat hati Celia meleleh.
Iapun juga memeluk adik tirinya yang sedang memeluk ibu mereka. Dan Amran ikut masuk ke dalam kehangatan keluarganya.
Nadin menangis sesenggukan melihat adegan haru itu. Arland pun turut memeluk Nadin membuat Wira tercekat.
"Hah....? Ada apa dengan mereka berdua..?" batin Wira menahan emosi.
....
Vote dan like nya cinta, please!