Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
177. Pertolongan Allah


Mengetahui putrinya sudah dibawah ke rumah sakit milik ibu sambungnya, Nabilla nampak terhenyak karena saat ini sedang berlangsung demo di beberapa titik di wilayah ibu kota Jakarta.


"Ya Allah. Kenapa tidak melihat dulu situasi jalanan ibu kota saat ini?" keluh Nabilla yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memasrahkan keadaan putrinya yang mau melahirkan.


"Ayo sayang! Mengeluh saja tidak menghilangkan kerisauan hatimu. Kita bisa susul mereka pakai motor. Siapa tahu ada manfaatnya," ucap Amran.


Di saat yang sama marsekal Bimo sedang menghubungi Daffa karena tugasnya saat ini memantau para pendemo dari atas udara.Nabilla


"Daffa...! Apakah kamu masih jadi suami siaga?" tanya Bimo yang sedang terbangkan helikopternya tidak jauh dengan mobil Daffa saat ini.


"Aku saat ini sedang mengantar Bunga ke rumah sakit milik eyang Mariska. Tapi, mobil kami terjebak macet. Sementara ketuban Bunga sudah pecah. Aku harus bagaimana ini?" jerit pilu Daffa membuat Bimo terkesiap.


"Aku sedang berada di atas udara mengawasi para pendemo. Bisa kamu sebutkan mobilmu berada?" tanya Bimo.


"Kamu bisa melacaknya melalui GPS ponselku, tapi aku bisa melihat helikopter kamu dari bawah sini, Bimo. Bisa kamu jemput kami?" pinta Daffa lalu membuka kaca jendela mobilnya.


"Baik. Aku sudah menemukanmu. Sekarang bawa keluar Bunga dari mobilmu dan aku akan mencari tempat yang lapang untuk bisa mendaratkan helikopternya," ucap Bimo.


"Terimakasih bro..! Aku berhutang banyak kepadamu," ucap Daffa membuka pintu mobil.


Di saat yang tepat, motor Amran berhenti di belakang mobil Daffa. Amran segera turun dari motornya bersama Nabilla.


"Daffa...!"


"Daddy..!"


"Apakah Bunga masih bisa bertahan?" tanya Nabilla.


"Ketubannya sudah pecah mommy," ucap Daffa namun Nabilla merasa bukan ketuban yang pecah tapi Bunga mengalami pendarahan karena putrinya masih bisa bertahan sejauh ini.


"Sayang. Naik motor daddy ya!" ucap Amran.


"Tidak daddy! Bimo sudah jemput. Itu helikopternya. Kita butuh waktu untuk mencapai helikopter Bimo," ucap Daffa.


Amran dan Nabilla melihat helikopter itu turun perlahan menapaki tempat yang lapang di sebuah taman.


"Cepat bergegas ke sana! Biar mommy naik mobil ini," ucap Nabilla pada Daffa yang sedang menggendong Bunga yang makin terlihat pucat.


Daffa mendudukkan tubuh Bunga di tengah antara Amran dan dirinya. Motor itu langsung melesat menuju helikopter membuat orang-orang di sekitar jalan itu memperhatikan kelurga ini dari dalam mobil mereka maupun motornya.


"Siapa mereka? Apakah mereka itu orang penting hingga dijemput dengan helikopter milik negara?" gumam salah satu pengendara motor.


"Mungkin saja begitu. Kalau bukan orang penting mana pernah negara mengurus orang kecil seperti kita. Mati ya mati. Hanya itu nasib orang yang tidak punya pengaruh di dunia ini," celetuk yang lain.


Tiba di helikopter, Daffa dan Bunga sudah berada di dalam helikopter yang membawa langsung pasangan itu ke rumah sakit. Sementara Amran menjemput lagi istrinya dengan motornya agar bisa menyusul Bunga dan Daffa ke rumah sakit.


Persalinan siap dilakukan oleh tim dokter spesialis kandungan untuk membantu Bunga yang kembali kelihatan segar.


"Nona Bunga. Apakah kamu sudah siap melahirkan? pembukaannya sudah cukup untuk persalinan normal. Ikuti panduan dariku dan kita berjuang bersama-sama.


Jangan mengangkat bokongmu kalau tidak ingin jalur lahirmu sobek karena nanti akan mendapatkan jahitan. Cukup mengejan hingga kepala sang bayi muncul dan setelah itu tarik nafas saat tubuh bayi di tarik olehku dari pintu rahim," ucap dokter Sella.


Dalam sekejap, bayi pertama itu lahir dengan jenis kelamin laki-laki baru diikuti bayi kedua dengan jenis kelamin yang sama. Ruang bersalin itu menggema dengan suara tangis bayi membuat Amran dan Nabilla saling berpelukan.


"Apakah aku terlihat seperti nenek-nenek, hubby?" tanya Nabilla.


"Statusmu saja hanya nenek. Tapi body masih gadis," bisik Amran.


Nabilla mencubit perut suaminya kesal karena godaan Amran yang terdengar nakal dan masih memikirkan arena kasur.


...----------------...


Di kamar inap VVIP, kelurga besar Amran sudah berkumpul di tambah ketiga besannya yang baru tiba di Jakarta. Walaupun tuan Darwish dan nyonya Cyra beda keyakinan dengan putra mereka Daffa, namun keduanya tidak canggung berada di tengah keluarga besar itu.


Nabilla harus mengalah pada kedua besannya yang ingin menggendong cucu kembar mereka." Bayi kembar ini sangat mirip dengan Daffa saat masih bayi dulu," ucap nyonya Nayla membuat Cyra merasa bersalah.


"Benarkah? Apakah wajah Daffa masih bayi mirip dengan cucu kembarku?" tanya tuan Darwis sambil menatap wajah cucunya yang tidur pulas dalam gendongan istrinya Cyra.


"Iya tuan Darwish. Foto-foto bayi Daffa masih tersimpan rapi di lemariku," ucap nyonya Nayla.


"Apakah aku boleh melihatnya, nyonya Nayla?" pinta tuan Darwish.


"Silahkan tuan!" Obrolan mereka sangat hangat hingga membuat Cintami yang sedari tadi ingin menimang keponakannya jadi kesal sendiri.


"Mommy. Emangnya tidak bisa gantian gendong Dede bayinya?" omel Cinta.


"Nanti saja sayang. Mereka adalah tamu mommy dan tidak seringkali datang ke Indonesia. Nanti kamu juga pasti mendapatkan kesempatan," ucap Nabilla.


"Cinta mau gendong dedenya sekarang mommy!" desak Cintami membuat Nabilla sedikit heran dengan sikap putrinya yang tidak semanja ini padanya.


"Cintami. Apakah kamu sedang hamil lagi sayang?" tanya Nabilla.


"Hamil...?" Cintami agak kaget ibunya langsung menebak jika dirinya hamil.


"Apa salahnya kalau kamu periksa lagi. Siapa tahu kamu hamil sayang!" pinta Nabilla.


"Baiklah mommy. Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa dulu sebelum aku dinyatakan positif hamil," ucap Cintami mengecup pipi ibunya.


Cintami menarik tangan suaminya yang sedang ngobrol dengan Daffa dan Adam." Mau ke mana sayang?" tanya Arsen mengikuti tarikan tangan istrinya.


"Sepertinya aku hamil. Tapi sebaiknya kita periksa ke dokter Tante Marion," ucap Cintami.


"Siapa yang bilang kalau kamu saat ini sedang hamil?" tanya Arsen.


"Mommy yang bilang," Cinta menjelaskan apa yang dikatakan ibunya barusan." Ya Allah. Semoga dugaan mommy Nabilla benar adanya," pinta Arsen penuh harap.


Dokter Marion tersenyum pada pasangan ini saat melakukan USG 4D pada perut Cintami." Selamat nona Cintami. Anda akhirnya memiliki momongan lagi. Tapi,....-" ucapan dokter Marion terhenti sambil berpikir keras.


"Kehamilan nona Cinta kali ini perlu di jaga dengan ketat karena nona Cintami mengandung bayi kembar empat," ucap dokter Marion seraya menyalami tangan Cintami dan Arsen.


"Apaaaa....? kembar empat Tante dokter?" tanya pasangan itu kompak.


"Lihatlah kantong janin di dalam rahim nona Cintami...! Ada 4 kantong bayi itu," lanjut dokter Marion.


"Masya Allah. Hari ini benar-benar berkah yang luar biasa dari Allah. Akhirnya kita punya anak lagi sayang mengalahkan Bunga yang hanya memiliki anak kembar dua. Tapi kita sekalinya dikasih oleh Allah, langsung 4 janin sekaligus. Hebat nggak tuh benih unggulannya aku," angkuh Arsen begitu bahagia hari ini.