Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
274. Lolos Dari Maut


Dengan kecepatan laju beberapa mobil dari arah depan yang luar biasa, seakan siap melahap dua sosok tubuh beda generasi itu sesaat lagi membuat Bads segera bertindak walaupun tertutup oleh parasut.


Dengan secepat kilat Nada kembali terbang ke udara. Melesat secepat kilat bagai busur panah meninggalkan parasut teronggok di atas jalan tol itu. Semua mata pengendara mobil terkesima menyaksikan adegan yang mengagumkan yang dilakukan oleh Nada.


Nada melakukan itu untuk menghindari tabrakan beruntun jika sopir tangki BBM itu akan berhenti secara mendadak. Bukan hanya akan mengalami tabrakan maut, namun juga, mobil muatan BBM itu akan menimbulkan ledakan dahsyat di jalan tol arah menuju Jakarta itu.


Para pengendara mobil di jalan tol itu, tidak sempat merekam momen menegangkan itu. Mereka hanya bisa bertanya-tanya sambil memperhatikan kanan-kiri jalan, ke mana perginya dua manusia yang tidak begitu jelas di mata mereka terbang begitu saja dari jalan tol itu.


"Apakah tadi itu manusia atau malaikat yang terbang?" tanya salah satu pengendara mobil pada keluarganya.


"Entahlah. Itu manusia jadi-jadian atau kita sedang dihadapkan oleh kekuatan lain dari wanita tadi. Siapa sebenarnya mereka?" jawab yang lainnya dengan komentar yang berbeda sesuai dengan apa yang mereka saksikan tersebut.


Walaupun kecepatan mobil diperlambat di jalan tol itu, namun mereka tidak bisa menemukan dua sosok manusia langka yang menjadi viral di kalangan pengendara mobil pengguna jalan tol tersebut.


Nada mendarat di salah satu tempat yang cukup sepi untuk menghindari tatapan mata orang yang akan menemukan mereka.


Dia sedang menunggu mobilnya agar menjemput mereka di tempat yang agak sepi itu. Nada membuka ikatan tali yang membelenggu tangan dan kaki Audrey yang sudah mulai siuman namun sangat lemah hingga sulit diajak untuk bicara karena masih dibawah pengaruh obat bius.


"Audrey, sayang. Apakah kamu bisa mendengar aunty?" tanya Nada dengan perasaan cemas.


Audrey tidak bisa memberikan respon apapun pada Nada. Matanya hanya bisa menatap nanar Nada yang akhirnya menangis melihat keadaan keponakannya.


"Dasar jahanam. Terkutuk kalian semua karena telah membuat keponakanku seperti ini." Pekik Nada memeluk tubuh lemah Audrey sambil menangis.


Drettttttt....


Nada menerima panggilan telepon dari Ghaishan yang sedang mencari istrinya dengan helikopter bersama dengan Daffa.


"Di mana kamu sayang?" tanya Ghaishan yang sulit menemukan Nada saat ini padahal titik keberadaan Nada dengan helikopternya tidak jauh.


"Aku melihat helikopter mu. Aku berada di taman pintu keluar jalan tol. Aku sedang menunggu mobilku. Aku sudah menyelamatkan Audrey. Keadaannya sangat lemah," tutur Nada sendu.


Ghaishan memperjelas lagi titik keberadaan Nada dan dia bisa mendapatkan Nada dan Audrey.


"Aku harus turun dengan tangga tali untuk menyelamatkan mereka," ucap Ghaishan hendak turun ke bawah taman, namun Nada sudah lebih dulu berada di balik pintu helikopter membuat Ghaishan dan Daffa sempat syok.


Keduanya lupa kalau Nada memiliki kekuatan bisa terbang tanpa harus melakukan penyelamatan dengan alat bantu evakuasi.


"Astaghfirullah halaziiim...!" sentak Ghaishan sambil mengusap dadanya dengan nafas tersengal.


"Sayang. Kamu sudah seperti hantu yang muncul begitu saja dihadapanku. Untung ini jantung buatan Allah kalau tidak aku hampir kena serangan jantung.


Daffa segera membuka pintu helikopter agar Nada dan Audrey segera masuk ke helikopter yang langsung membawa mereka ke rumah sakit eyang Mariska.


Nada memeriksa nadi Audrey yang makin melemah karena gadis itu saat ini sedang mengalami dehidrasi. Ghaishan segera mengabari Amran agar mertuanya itu segera ke rumah sakit.


"Daddy. Saya sudah bersama Nada dan Audrey. Keadaan Audrey sangat lemah. Kami sedang menuju rumah sakit eyang Mariska," tutur Ghaishan.


"Alhamdulillah. Daddy dan mommy segera ke rumah sakit. Kita ketemu di sana," timpal Amran mengakhiri sambungan telepon dengan menantunya Ghaishan.


Sementara itu, Ghazali sedang tidur terlelap layaknya balita lain yang baru saja bermain seru-seruan dengan penjahat.


"Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi, syukurlah semuanya sudah aman terkendali karena Audrey sudah ditemukan oleh Nada," ucap Cintami penuh rasa syukur.


"Apaa....?!" rasanya roh Cintami ikut lompat keluar mendengar keadaan putrinya.


"Tapi, tenang saja..! Saat ini, Nada sendiri yang menangani keadaan Audrey. Dia sudah diberi suntikan obat penawarnya agar nanti sadar tidak mengalami mual maupun muntah," hibur Bunga.


"Aku titip anak-anak Bunga. Aku harus ke rumah sakit. Ada Syakira dan Tamara yang harus kamu jaga. Walaupun ada El, tetap saja kamu juga harus waspada. Keluarga kita saat ini sedang diteror oleh saingan politiknya daddy," ucap Cintami yang sudah mengetahui motif penculikan putrinya dan keponakannya Ghazali.


"Pergilah! Serahkan mereka kepadaku. Insya Allah, ada Allah yang selalu melindungi keluarga kita. Jangan terlalu bersedih. Kita harus kuat karena Daddy butuh dukungan kita anak-anaknya.


Jangan biarkan daddy berubah pikiran dan membuat lawan politiknya menang. Semua orang memilki topeng mereka masing-masing untuk menginjak lawan dengan segala cara. Tapi, Allah tidak akan meridhoi cara mereka yang dzalim," imbuh Bunga.


Keduanya saling berpelukan sesat. Cintami sudah ditunggu suaminya. Keduanya berangkat ke rumah sakit tanpa ada pengawalan agar tidak terendus media. Untuk sementara, wartawan tidak ada yang mengetahui jika kedua cucu agen rahasia FBI yaitu Nabilla tercium oleh para awak media itu.


Namun mulut besar sang lawan politik telah menyebarkan isu penculikan Audrey pada wartawan yang langsung mendatangi kediaman Amran saat ini, namun diusir oleh penjaga keamanan di mansion Amran.


Para besan Amran yang saat ini sudah berada di rumah sakit milik dokter Mariska ikut melihat cucu mereka Audrey. Wira begitu marah melihat keadaan cucu tercantiknya tergolek lemah tak berdaya di atas brangkar. Wajah Audrey yang sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya Wira ini yang membuat Wira sangat sayang pada Audrey.


"Sayang. Bagaimana keadaanmu?" tanya Wira terlihat lebih dekat ke wajah cucunya sambil mengusap pipi lembut itu.


"Badan Audrey rasanya sakit semua, Opa Wira," sahut Audrey sambil meneteskan air matanya.


"Nanti kamu akan sembuh, sabar ya sayang. Opa akan pastikan mereka akan membayar semua ini," ucap Wira menahan geram.


"Audrey mau ketemu mama dan papa," pinta Audrey manja.


"Mama di sini sayang," ucap Cintami yang sudah ada di balik punggung ayah mertuanya.


Wira mundur memberikan kesempatan Cintami untuk memeluk Audrey yang langsung menangis pilu.


"Mama. Audrey takut...hiks...hiks...!" jerit Audrey.


"Singkirkan ketakutan dalam hatimu kalau ingin menjadi seperti mama yaitu agen rahasia," hibur Cintami.


Audrey baru menyadari kalau keinginan terbesarnya itu adalah menjadi agen rahasia seperti Oma Nabilla yang sangat jenius dengan kehebatannya menciptakan berbagai senjata maupun alat canggih untuk melumpuhkan lawan membuat ia tidak jadi menangis.


"Baik mama. Audrey tidak takut lagi," tekad Audrey membuat keluarganya tersenyum.


"Hebat putrinya papa," puji Arsen seraya mengecup pipi putrinya.


"Daddy. Lihatlah ini. Tuan Winarto menyebarkan isu penculikan Ghazali dan Audrey di media. Apa maksudnya ini?" tanya Adam seraya menyerahkan ponselnya pada Amran yang mengerutkan keningnya menyaksikan statemen saingan politiknya itu.


"Bagaimana negara ini bisa aman dari gangguan tero**is jika calon kepala negaranya saja tidak mampu menjaga cucu-cucunya," ucap tuan Winarto terlihat berapi-api saat melakukan konferensi pers.


Melihat tayangan itu, Amran memiliki strategi tersendiri untuk menjatuhkan lawan politiknya dengan mudah.


"Tunggu saja pembalasanku, Winarto...! Apakah kamu masih bisa bicara selugas ini di hadapan jutaan rakyat Indonesia?" gumam Amran mengepalkan kedua tangannya dengan rahang terkatup.


......................


Hallo say...! Mohon baca juga karya terbaru author yaitu Pesona Adik Tiri Culun. Mohon like dan vote nya. Insya Allah karyanya bagus.. terimakasih