
Cinta memberikan alat penghubung untuk Yuri demi menjaga keselamatan pria itu dari para oknum pendidik yang akan menyakitinya.
"Aku memasang alat penyadap ini pada jam tangan ini. Sekarang benda ini jadi milikmu. Jangan terlalu mencolok dalam melakukan pengintaian karena aku tidak bisa menolongmu dalam jarak jauh.
Putar pengatur jam ini jika kamu dalam bahaya. Alarm bahaya akan menyala di jam tangan aku juga. Dengan begitu Aku akan segera datang menyelamatkanmu," ucap Cintami memberitahu cara kerja alat itu jika ponsel milik Yuri disita oleh oknum dosen.
"Mengapa kamu yang diutus untuk menjalankan misi gila ini, ukhti?" Yuri menatap mata Cintami sama seperti milik adiknya yang meninggal karena kejeniusannya untuk mengusut kasus yang tidak terpecahkan di kampus itu. Hanya saja ia tidak dibekali dengan ilmu bela diri untuk melindungi dirinya hingga gadis itu mati sia-sia sebelum tujuannya tercapai.
Itulah sebabnya ia ingin meneruskan perjuangan adiknya dan sekarang bukan hanya dirinya sendiri yang ingin menamatkan riwayat oknum pendidik di kampus itu, namun ada juga wanita hebat yang super jenius menjadi seorang agen rahasia yang sudah terlatih dengan kemampuan bela diri dan skill yang tinggi hingga bisa menguasai segalanya seperti urusan teknologi canggih sebagai alat penghubung.
"Ini adalah misi kemanusiaan. Aku tidak boleh menolaknya karena Allah sudah menganugerahi aku dengan kemampuan yang luar biasa agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Jika hanya sebuah bentuk kebanggaan saja, bagaimana pertanggungjawaban aku di hadapan Allah nanti?" imbuh Cinta yang baru dimengerti oleh Yuri.
"Semoga perjuanganmu dalam misi ini selalu dalam lindungan Allah. Jika Allah memberimu anugerah, pasti Allah juga akan melindungimu dari orang-orang yang akan menghalangi jalanmu," tutur Yuri penuh kagum pada Cintami.
"Terimakasih tuan Yuri...! selamat berjuang di jalan Allah!" Cinta memberikan semangat pada Yuri yang sudah turun dari mobil menuju kampusnya.
Sementara itu Cinta kembali ke apartemennya untuk menyusun rencana selanjutnya.
Di negara Swiss, Adam yang saat ini sedang menyamar menjadi seorang perawat memperhatikan gerak-gerik dokter Mignolet yang sedang melakukan pemeriksaan dua bocah yang saat ini sedang sakit demam biasa.
Adam memeriksa data pasien dua bocah itu yang ternyata adalah anak panti asuhan. Rupanya pengasuh panti asuhan itu bekerjasama dengan dokter Mignolet. Adam memperhatikan dua wajah bocah yang berusia lima tahun itu sangat tampan. Mata mereka berwarna hitam yang akan diubah menjadi biru oleh dokter Mignolet. Rumah sakit itu adalah rumah sakit khusus untuk mata bukan untuk penyakit lain.
"Sialan...! Kau hanya ditugaskan untuk mengobati orang sakit dan orang yang memiliki cacat fisik yang bisa diselamatkan secara medis. Bukan merubah warna mata mereka yang sudah bagus untuk memenuhi ambisi konyolmu itu," maki Adam sambil mengambil gambar wajah Dokter Mignolet dengan jam tangan miliknya.
Ia juga meretas file dari setiap laporan pasien anak yang tidak memiliki kelurga yang sudah mengalami kebutaan. Hati Adam merasa sangat terenyuh melihat setiap foto balita yang rata-rata berusia 4 sampai menjelang usia enam tahun. Ia mengirim semua laporan itu ke email miliknya dan juga ke kantor CIA.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal keji lagi pada anak-anak yang tidak berdosa ini, keparat. Aku akan pastikan kamu mati atau diadili oleh pengadilan tinggi Amerika," ucap Adam yang sudah menyelesaikan input data dari laptop milik dokter Mignolet melalui ponsel miliknya.
Adam yang menyamar dengan nama Felix, ini di panggil oleh dokter Mignolet untuk mempersiapkan salah satu anak yang akan melakukan operasi mata. Anak-anak itu saat ini sedang berada di kamar inap.
"Felix...! Tolong jemput pasien yang bernama Joshua di kamar inapnya ke kamar operasi karena mereka akan melakukan operasi mata malam ini!" titah dokter Mignolet.
"Apa yang salah dengan mata anak-anak itu dokter?" tanya Adam memberanikan dirinya untuk menantang dokter Mignolet.
"Mata mereka mengalami kerusakan pada kornea dan juga retina," jawab dokter Mignolet asal.
"Dari pemeriksaan yang anda lakukan tidak ditemukan dilaporannya dokter. Apa anda punya motif terselubung pada anak-anak yatim itu?" sarkas Adam membuat dokter Mignolet murka.
"Kamu baru jadi perawat di rumah sakit ini satu bulan, tapi kenapa kamu sangat ingin tahu dengan urusanku," kecam dokter Mignolet.
"Jika itu menyangkut urusan pribadi anda, aku tidak tertarik sama sekali dokter. Tapi, masalahnya kejahatan anda sudah menumpuk dengan mengorbankan mata anak-anak malang itu yang sengaja dokter hancurkan hidup mereka dengan membuat mereka buta permanen," ungkap Adam membuat dokter itu terhenyak.
"Tidak mungkin...! bagaimana kamu bisa mengetahui semuanya? apakah kamu...-" ucapan Mignolet terpotong seraya meraih gagang telepon memanggil sekuriti untuk menangkap Adam yang lancang mengungkapkan rahasianya, namun sayang sekali kabel teleponnya sudah diputuskan oleh Adam.
"Apa yang bisa kamu lakukan sekarang dokter? lihatlah dirimu sekarang tidak bisa melakukan apapun!" ledek Adam membuat wajah dokter Mignolet makin terlihat pucat.
Adam mengeluarkan suntikan cairan obat yang bisa mengakibatkan dokter itu mengalami serangan jantung dan stroke." Apa yang kau lakukan? tidak...tidak. Tolong jangan menyakitiku..! apakah kamu ingin membunuhku, hahh?" tanya dokter Mignolet sambil membuka laci mejanya untuk mencari pistolnya.
"Jelas saja untuk membunuhmu, hmm! kenapa? apakah kamu takut..? wajah datar nan menakutkan warisan dari sang ayah membuat dokter Mignolet memantapkan dirinya untuk menembak Adam.
"Jangan mendekat..! atau aku akan menembakmu..!" ancam dokter Mignolet dengan mengarahkan pistolnya ke dada Adam.
"Silahkan menembakku..! tapi, apakah dokter sudah memeriksa pelurunya?" seringai licik Adam membuat dokter Mignolet menarik pelatuk pistolnya beberapa kali namun tidak ada yang meletus.
"Pantas...! rasanya sangat ringan," ucap dokter Mignolet membuang pistolnya asal.
Tanpa membuang banyak waktu, Adam langsung menerjang tubuh dokter Mignolet seraya menancapkan suntikan ke leher dokter jahat itu. Dokter Mignolet langsung jatuh lalu pingsan.
Adam menarik tubuh Mignolet lalu membopongnya ke atas brangkar pasien. Ia menarik alat untuk memeriksa mata pasien yang biasa dilakukan oleh Mignolet pada pasiennya dan kini benda itu sudah berada di atas mata dokter Mignolet. Setelah memasang alat penyangga kelopak mata Mignolet agar terbuka.
Adam memastikan kembali kedua mata Mignolet terbuka sempurna. Ia lalu meneteskan cairan untuk membuat kedua mata Mignolet seperti orang yang buta katarak.
Setelah itu Adam menurunkan lagi tubuh dokter Mignolet lalu dibuat jatuh seperti orang yang baru kena serangan jantung mendadak dengan keadaan mejanya berantakan. Adam keluar seraya berteriak minta tolong pada petugas medis lainnya.
"Tolong...tolong ...tolong...!" Teriak Adam terlihat panik.
"Ada apa Felix?" tanya suster Agatha.
"Sepertinya dokter Mignolet kena serangan jantung. Tolong panggilkan petugas ambulans untuk membawa dokter Mignolet ke rumah sakit jantung!" panik Adam penuh drama.
"Astaga ..! apa yang terjadi pada suamiku?" teriak dokter Helen saat melihat suaminya di dorong oleh petugas ambulans yang tidak lain adalah rekannya Adam yang menyamar sebagai sopir ambulans dan juga perawat ambulans untuk penjemput pasien.
"Maaf dokter Helen. Sebaiknya anda memakai mobil pribadi saja untuk menyusul suami anda ke rumah sakit. Biar dokter Mignolet saya yang urus," ucap Adam sambil menahan tubuh dokter Helen agar tidak ikut dengannya masuk ke mobil ambulans itu.
"Baiklah. Tolong kabarin aku kalau suamiku sudah berada di ruang IGD..!" pinta dokter Helen sambil menangis.
"Baik dokter! kami berangkat dulu!" Adam masuk ke dalam mobil ambulans itu." Kita langsung ke bandara untuk membawa pulang bajingan ini untuk diadili di negara Amerika!" titah Adam pada kedua temannya.
Baru saja mobil ambulans itu masuk ke jalan tol menuju bandara, tiba-tiba ada mobil yang tidak dikenal mengejar mobil ambulans yang membawa dokter Mignolet. Ada juga mobil polisi setempat yang ingin menangkap Adam dan komplotannya.
"Tambahkan kecepatan mobilnya..!" titah Adam panik karena takut ketahuan oleh pihak kepolisian setempat.
Vote dan likenya cinta please...!"