Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
218. Mempermalukan


Belum juga amarah keluarga tuan Dwiyanto mereda, sudah ada tayangan lain yang membakar kehormatan mereka di mana seorang gadis anggun dengan kecantikan hampir sempurna mengenakan gaun pengantin putih yang sangat cantik melekat ditubuh rampingnya.


Kepalanya yang tertutup hijab di padu dengan tiara yang bertahta berlian asli menambah kemilau kecantikan seorang Syakira yang tampak tersenyum manis menghampiri pangerannya.


Nadia membekap mulutnya karena rahang itu sulit untuk menyatu saking syok-nya. Bahkan tamu undangan dibuat histeris menyaksikan seorang gadis cantik yang menjadi pengantin Adam, tidak lain adalah penyanyi Syakira.


"Astaga ....! Bagaimana mungkin Adam bisa menikahi seorang penyanyi terkenal, Syakira." Kata-kata itu yang tercetus dari ucapan para tamu dari keluarga besar Amran dan Nabilla yang merasa pernikahan ini adalah suatu hal yang aneh.


Karena sebelumnya mereka mengetahui calon pengantin wanitanya adalah Nadia. Sebagaimana yang terlampir dalam surat undangan yang disebarkan melalui media elektronik.


Lidah kelurga Dwiyanto seakan kelu. Antara malu dan marah menjadi satu saat ini. Mereka seakan dipaksa untuk menyaksikan kebahagiaan orang lain untuk menginjak kehormatan mereka sebagai keluarga mempelai wanita yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan hari ini.


Syakira mencium punggung tangan suaminya dan Adam membalasnya dengan mengecup lembut kening Syakira. Cincin pernikahan disematkan di jari manis mereka masing-masing diikuti foto mas kawin yang diperlihatkan kepada wartawan.


"Sudahhhhh.....!" teriak tuan Dwiyanto yang tidak ingin lagi menyaksikan drama menyakitkan itu.


"Nabilla. Kau tidak lebih dari seorang penipu..!" maki nyonya Della merasa di khianati oleh Nabilla.


"Apa nggak salah tuduhan itu yang seharusnya beralamatkan kepadamu dan juga suami serta gadis liar yang munafik ini?" remeh Nabilla tersenyum smirk dari balik cadarnya.


"Apa maksud Tante, dengan tega menghinaku seperti itu?" tanya Nadia ikut menyerang Nabilla.


"Kau mau apa..? bukankah kamu yang kemarin mengaku kalau kamu adalah Hanadiah?" sergah Bunga dengan tampang tomboinya.


"Kamu ini bicara apa Bunga? Siapa yang mengaku siapa?" tanya Nadia pura-pura tidak tahu.


"Apa perlu aku ingatkan lagi dengan memperlihatkan CCTV saat kamu bilang kalau kamu Hanadiah yang sedang menonton konser iparku Syakira?" cecar Bunga.


"Mungkin saja itu benar saudaraku kembarku yang kalian bertemu. Aku berada di rumah saja karena sedang menjalani masa pingitan," kilah Nadia.


"Oh, jadi, kamu mau bilang kalau aku itu ketemu hantunya Hanadiah yang sedang menonton konser Syakira? Baiklah. Kalau begitu aku akan membuktikan siapa yang bohong di sini?" ucap Bunga lalu memanggil Fitri.


Wajah Nadia makin pucat dengan tubuh gemetar ketakutan saat melihat adik bungsunya itu menghampiri mereka.


"Kami punya saksinya, Nadia. Fitri, sayang! Sini nak .! Katakan kepada kakak dan ibumu itu ..! bagaimana mereka ingin memperdaya putraku Adam untuk mendapatkannya dengan bertukar jodoh antara Nadia dengan Hanadiah?" tanya Nabilla.


Fitri mengungkapkan semuanya di depan tamu undangan tentang kebusukan rencana ibu dan kakaknya hingga membuat Hanadiah terbunuh.


"Anak durhaka..!" maki nyonya Della yang tidak terima putri kandungnya sendiri mempermalukannya.


Ia ingin menampar putri bungsunya itu namun Bunga dengan sigap mendorong bahunya hingga terhuyung ke belakang.


"Berani kamu menyentuh Fitri, aku akan menghancurkan wajah munafik mu itu, nyonya. Dasar ibu berhati iblis. Bahkan binatang buas lebih baik daripada kamu karena harimau tidak pernah memakan anaknya sendiri," maki Bunga dengan wajah seperti macan kumbang.


"Adik keparat...!" umpat Nadia yang tidak tahan lagi dengan serangan demi serangan dari adiknya bahkan ayah kandungnya ikut menimpali ucapan adiknya. Ia membuang cadarnya lalu beralih ingin melukai Fitri namun langsung di amankan oleh satpam hotel.


Tidak lama kemudian polisi datang untuk menangkap tuan Dwiyanto atas laporan dari Amran atas dugaan penipuan.


"Tangkap mereka semua dan bawa pergi dari sini karena sebentar lagi ada pesta pernikahan putraku dan menantuku Syakira..!" ucap Amran yang sangat puas membalaskan dendamnya pada keluarga Dwiyanto.


Fitri menangis sejadi-jadinya saat misi mereka menjebak ibu dan kakaknya berjalan dengan mulus. Nabilla memeluk Fitri dan menenangkan gadis remaja itu.


"Terimakasih sayang. Kamu sangat berani mengungkapkan kejahatan ibu dan kakakmu. Kadang kita juga ikut terluka dengan perbuatan mereka. Tapi, inilah hidup. Saat semuanya tidak bisa berjalan sesuai ekspektasi kita.


Belajarlah dari kesalahan orang lain agar kita tidak terseret dalam permainan yang sama. Jujur itu lebih mulia karena akan bertahan selamanya hingga kita mati meninggalkan nama baik," nasehat Nabilla bijak.


"Tidak perlu nonton konser dengan bayaran mahal. Sekarang gratis dan bisa lihat secara langsung," ucap salah satu tamu undangan yang tidak berhenti mengarahkan ponselnya ke Syakira yang menggandeng suaminya untuk ikut bernyanyi bersamanya.


Nabilla dan keempat iparnya menawarkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan. Celia, Lea, Lira dan juga Nadin menyambut tamu lain yang baru datang ke acara itu.


Sementara di depan hotel sudah di gantikan nama dan foto pengantin Syakira dan Adam yang mengambil foto pernikahan mereka sebelumnya di Amerika.


Untuk menjaga agar Syakira tetap nyaman di hotel itu, maka Reno meminta petugas polisi untuk menjaga keamanan di depan hotel. Sementara Amran mengerahkan anak buahnya agar menjaga menantunya di sekitar tempat acara itu padahal putranya Adam sudah cukup menjaga sendiri bidadarinya.


Fitri mengajak ayahnya pulang lebih cepat karena hati mereka masih diselimuti duka." Tuan Amran, nyonya Nabilla. Kami pamit lebih dulu karena masih ada urusan yang harus kami selesaikan secepatnya sebelum kembali ke Amerika," ucap pak Abidzar.


"Baik pak. Terimakasih atas kerjasamanya. Kami mohon maaf karena situasi ini sangat membuat anda ikut terseret dalam permainan mantan istri anda," ucap Amran.


"Setidaknya mereka dibuat jera untuk tidak menipu orang lain lagi," ucap pak Abidzar.


Keduanya pamit pada pengantin yang sedang bahagia hari itu. Syakira benar-benar memperlakukan Fitri seperti adiknya sendiri dan itu membuat Fitri merasakan keberadaan Hanadiah dalam tubuh Syakira.


"Jangan lupa membawa si black ke Amerika bersamamu. Biar dia tidak merasa ditelantarkan di sini!" ucap Syakira membuat Fitri tercekat.


Pasalnya, Fitri tidak pernah menceritakan kepada Syakira bahwa dia juga punya kucing peliharaan yang bernama black.


"Astaghfirullah halaziiim. Bagaimana kak Syakira bisa tahu kalau kami punya kucing bernama black?" tanya Fitri bergidik sendiri.


Ia merasa jiwa kakaknya sedang masuk ke dalam tubuh Syakira. Fitri buru-buru pergi dari tempat pesta itu berlangsung. Adam mengajak istrinya untuk makan karena Syakira masih harus minum obatnya.


"Sayang..! Kita makan dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Adam saat keduanya sudah berada di tempat prasmanan.


"Aku mau makan hmmm...! Itu saja yang bulat- bulat itu," pinta Syakira saat melihat bakso dan somay.


"Makan nasi saja dulu ya!" pinta Adam sedikit memaksa.


"Adam. Istrimu itu bule bukan orang asia tenggara hobi makan nasi," ucap eyang Mariska.


"Dia mau menetap di Jakarta. Jadi harus belajar makan nasi," ucap Adam.


"Ya sudahlah. Terserah Syakira saja, sukanya apa," ucap dokter Mariska berlalu pergi.


Sementara itu Ghaishan sibuk mengambil nasi goreng pete membuat Nada mengerutkan keningnya.


"Sayang. Kamu yakin mau makan itu?" tanya Nada.


"Iya sayang. Kelihatannya enak," ucap Ghaishan enteng.


"Tapi, itu makanan....-"


"Ada apa? Emang ini makanan haram?" omel Ghaishan.


"Baiklah. Habis makan, jangan coba-coba dekat denganku..!" ancam Nada lalu pergi begitu saja dari hadapan suaminya.


"Dia kenapa? Emang ini makanan apa? Kalau tidak enak, mana mungkin disajikan di sini," ucap Ghaishan lalu menambahkan lagi nasi goreng pete dengan sambal goreng pete.


"Hidup pete!"