
Mata-mata tuan Murrad yang sudah menyebarkan informasi jika saat ini Murrad akan di tangkap, membuat pria 55 tahun ini menggunakan koneksinya untuk bisa melarikan diri.
"Bos. Markas milik anda saat ini sudah di kepung oleh para penjahat," ucap tuan Ernest.
"Apaaa....?" sentak tuan Murrad spontan berdiri dari kursi kebesarannya lalu terduduk lagi dengan tubuh lemas.
Jalur bisnisnya yang selama ini telah membesarkan namanya kini harus tamat entah ulah siapa yang belum ia tanyakan kepada sang mata-mata yang ada di kepolisian itu yang sudah mengetahui ada perintah serbuan dadakan atas perintah Bunga pada Mr. M yang melaporkan lokasi persembunyian markas kejahatan Murrad selama ini yang tidak pernah tersentuh oleh pihak berwajib.
Jika pihak berwajib masih mau berkelit untuk menutupi kejahatan Murrad yang selama ini tidak berdiri sendiri jika tidak dilindungi oknum pejabat yang berdiri di belakangnya hingga bisnis haram itu bertahan sampai kini, namun Bunga dengan cepat sudah memviralkan hasil temuannya ini ke medsos.
"Bagaimana mungkin bisa terungkap Ernest? bukankah selama ini pergerakan kita selalu aman?" lirih tuan Murrad yang tidak menyangka hari kehancurannya telah tiba.
"Ada seseorang yang telah menyergap tempat itu. Bukan hanya sudah mengetahui markas itu saja tuan. Dalam aksinya itu, ia merekam apa yang ia temui di tempat itu, salah satunya putra anda tuan Alinskie yang saat ini ikut tertangkap dengan luka sobekan pisau beracun di perutnya.
Walaupun luka tuan muda tidak terlalu dalam, namun racun yang ada dalam darahnya akan membuat tuan muda perlahan akan lumpuh sistem kerja syarafnya. Sepertinya dia ingin membunuh putra anda secara perlahan, tuan," imbuh Ernest.
"Siapa dia...?" tanya Murrad geram bercampur penasaran.
"Sepertinya dia adalah sahabat dekat nyonya Cyra, tuan," ungkap Ernest yang sudah tahu siapa Bunga walaupun ia masih menebak profesi Bunga.
"Sahabat...?" kening Murrad berkerut tipis karena Ernest tidak menjawab langsung pertanyaannya.
"Tuan. Sebaiknya anda pergi dari sini sebelum gadis itu datang untuk menangkap anda. Pihak kita sedang mengincar gadis itu saat ini!" titah Ernest membuyarkan lamunan Murrad.
"Baik. Kita harus bertindak....-" ucapan Murrad terpotong kala sekertarisnya membuka pintu dengan cepat.
"Tuan.... ! di bawah ada wartawan dan polisi datang bersamaan dan menanyakan anda tuan," ucap sekertaris Wina.
"Bilang aku tidak ada di tempat," ucap Murrad yang langsung mengusir Wina dari ruangannya.
"Tapi bos...!" protes Wina yang tidak bisa melanjutkan perkataannya karena pintu itu dibanting dengan kasar oleh Murrad sambil mengunci pintu itu dari dalam.
Pria licik ini selalu punya seribu cara agar bisa meloloskan diri karena punya jalan rahasia untuk kabur. Murrad memencet tombol di balik lukisan itu hingga terlihat pintu lift rahasia itu terbuka dan Murrad segera kabur sambil menutup lagi pintu lift agar pintu rahasia itu tidak terlihat. Pintu rahasia yang terhubung dengan basemen di mana mobil Murrad sudah ada tepat di depan pintu lift yang di tulis rusak oleh penjaga gedung itu.
Lagi-lagi Murrad siap kabur dengan mobilnya melewati pintu belakang gedung itu.
Di tempat berbeda, jalan yang sedang di tempuh Bunga saat ini tidak semulus dipikiran gadis itu karena banyak sekali oknum petinggi negeri itu dan mafia lainnya yang berkerjasama dengan Murrad sedang menghadang jalannya.
Helikopter yang sedari tadi belum mencapai daratan kini harus menghindari tembakan dari helikopter musuh yang sedang mengejar helikopter mereka.
Peralatan tempur milik Bunga yang ada di helikopter itu membuat gadis ini harus menjatuhkan empat helikopter dari berbagai sisi. Tanpa pikir panjang, Bunga mengeluarkan senjata berupa bazooka kecil miliknya.
Bazooka yang digunakan oleh Bunga mirip dengan jenis RPG-28. Senjata anti-tank ini merupakan produksi Rusia setelah RPG-27. Jenis Bazooka ini memiliki kemiripan dengan RPG-27 karena menjadi peluncur roket anti-tank portable sekali pakai dengan kapasitas tembakan tunggal. Walaupun saat ini yang digunakan oleh Bunga adalah buatan agen FBI dan tentu saja hasil rancangan ibunya dengan beberapa orang yang merupakan orang-orang terpilih di FBI itu.
Tanpa membuang waktu, Bunga segera melumpuhkan empat buah helikopter itu yang langsung jatuh di atas permukaan laut. Helikopter milik Bunga sudah mencari tempat untuk gadis ini agar tidak terlihat musuh.
"Jangan turunkan aku di kota karena saat ini keberadaan kita sedang di incar, Gerrad!" titah Bunga pada rekannya itu.
Ke mana aku harus menurunkanmu, Bunga?" tanya Gerrard.
"Turunkan aku di atas kapal milik angkatan laut...! Aku sudah menghubungi Mr. M untuk mengkonfirmasi kepada angkatan laut negara ini tentang misi kita. Aku lebih aman dengan mereka," ucap Bunga.
"Baik." Murrad mengikuti saran Bunga menuju ke kapal angkatan laut yang berada di laut lepas. Kapal ini baru pulang berlayar dari luar negeri. Bunga memanfaatkan itu untuk bersembunyi di kapal itu dan memikirkan langkah selanjutnya.
Seorang kru kapal membantu helikopter itu untuk mendarat di landasan pacu di gladak kapal itu. sang co-pilot menurunkan badan helikopternya dengan perlahan dan kapten kapal itu menjemput sendiri Bunga yang menjadi tamu spesial mereka.
Bunga yang masih menutupi wajahnya dengan syal karena terpaan angin yang sangat kencang berhembus meniup tubuhnya dan juga hijabnya yang melambai-lambai oleh angin dari baling-baling pesawat.
"Assalamualaikum, tuan!" ucap Bunga sambil memegang tangan Segaf agar tidak terseret angin saat menjauhi helikopter yang langsung kembali terbang meninggalkan Bunga.
"Silahkan ikuti saya nona!" titah kapten Asegaf menuju ruang meeting di dalam kapal itu sambil menunggu ABK menyiapkan kamar istirahat untuk Bunga.
Bunga masih menutupi wajahnya agar tidak terlalu ekspos ditengah para perwira angkatan laut yang sedang memperhatikannya dan kapten Asegaf tahu kegelisahan Bunga.
Setibanya di dalam ruang meeting, Bunga di suguhi makanan ringan dan minuman ringan. Saat sudah duduk berhadapan dengan kapten Asegaf Bunga baru membuka syal dari atas kepalanya sambil memperbaiki hijabnya membuat kapten Asegaf tercengang.
"What ....?" sentak Asegaf yang tidak menyangka melihat Bunga yang masih begitu muda menjadi agen rahasia FBI dan terlebih lagi terlihat sangat cantik.
"Terimakasih sudah mau terima kedatanganku, tuan! maaf sudah merepotkan Anda," ucap Bunga namun Segaf masih terpana melihat kecantikan Bunga.
"Satu detik adalah rejeki anda dan lebih dari itu adalah dosa. Turunkan pandangan anda tuan!" titah Bunga pada Segaf.
"Sorry...!" Segaf terlihat malu ditegur Bunga dan meminta Bunga menikmati minuman dan kudapannya.
"Apakah anda sudah ada tempat yang dituju saat berada di darat nanti?" tanya Segaf menetralkan suasana yang terasa kaku baginya berhadapan dengan Bunga yang super cantik menurutnya.
"Belum ada rencana karena keamananku sedang terancam," ujar Bunga.
"Kalau begitu bersembunyilah di rumah besar keluargaku agen satu," tawar Segaf.
"Terimakasih. Akan aku pertimbangkan tawaran anda," ucap Bunga yang tidak punya pilihan selain menerima tawaran Asegaf.
Beberapa perwira berusaha masuk ke ruang meeting untuk melihat tampang Bunga, namun di tolak oleh Asegaf demi menjaga kenyamanan Bunga.
Beberapa jam kemudian, kapal angkatan laut itu sudah menurunkan jangkarnya untuk berlabuh di Darmaga. Asegaf memberikan seragam angkatan laut pada Bunga untuk mengaburkan penyamarannya.
"Kenakan pakaian ini agar kamu tidak mudah dikenali saat kita berada di darat!" ucap Asegaf seraya memberikan seragam baru sesuai dengan ukuran tubuh Bunga
"Terimakasih Tuan." Bunga mengenakan seragam angkatan laut itu dan sudah keluar menemui Asegaf melewati para prajurit yang langsung bersiul melihat wajah cantik Bunga yang juga mengenakan topi perwira angkatan laut walaupun sudah terbalut hijab putih yang dimasukkan ke dalam seragamnya.
Asegaf membuka pintu mobilnya yang ada didalam kapal itu lalu keluar dari kapal menuju kediaman keluarganya. Kediaman keluarga Asegaf yang juga berada di pinggir pantai membuat perjalanan mereka hanya memakan waktu 40 menit. Gerbang pintu dibuka oleh penjaga dan mobil mewah itu segera masuk.
Bunga nampak kagum dengan bangunan klasik itu. Ia melangkah masuk ke dalam bersama dengan Asegaf yang sudah disambut ibunya.
"Apakah dia kekasihmu, Segaf?" bisik nyonya Mariam.
"Dia....-" ucapan Segaf terhenti karena tidak tahu mau ngomong apa sama ibunya tentang Bunga.
"Yah sudah kalian masuk dulu!" ucap Mariam.
"Siapa namamu, nak?" tanya Mariam pada Bunga.
"Hilda...!" ujar Bunga menyebutkan nama neneknya membuat langkah Mariam terhenti mengingat nama itu sama dengan nama yang sama dengan putri pamannya.
Langkah Bunga juga ikut terhenti melihat wajah cantik ibunya Nabilla yang tidak lain adalah Hilda yang foto bersama dengan seorang pria yang tidak lain adalah kakeknya Rusli tergantung manis di ruang keluarga itu.
Yah, ibunya Hilda yang bernama Raden Ayu Dewi Kusuma Hadiningrat menikah dengan tuan Salim namun hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga besar tuan Salim karena tidak ingin memiliki menantu yang tidak satu bangsa. Dan wajahnya Bunga sangat mirip dengan nenek uyutnya Dewi Kusuma yang merupakan keturunan ningrat keraton Solo.
Suara deheman seorang pria sepuh dengan kursi rodanya menghampiri Bunga dan cucu keponakannya yang berdiri membelakanginya.
Vote dan likenya Cinta please!