Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
276. Duka Di tengah Kemenangan


Hasil pemungutan suara di umumkan secara langsung dari setiap televisi tentang kemenangan Amran dan pasangannya Hadikusuma, seorang politisi muda berbakat dengan puluhan prestasi yang diraihnya baik dalam negri maupun luar negeri.


Kejujuran seorang Hadikusuma tidak diragukan lagi karena terpancar dari aura beliau yang berpegang teguh pada keimanannya yang membuatnya tetap terjaga dari fitnah keji dari orang-orang yang ingin menjatuhkannya.


Amran yang begitu selektif untuk mencari pasangan wakilnya dalam mendampingi dirinya selama memperjuangkan nasib rakyat yang akan diembankan pada mereka yang beberapa bulan lagi akan dilantik oleh MPR.


Dan di saat ini keduanya sudah disibukkan dengan beberapa program kerja yang harus mereka lakukan untuk pertama kalinya yaitu para pejabat yang terbentuk dalam kementerian kabinet yang harus diseleksi langsung oleh mereka berdua.


Dan hal ini dilakukan tentu saja tidak terlepas dari bantuan sang istri yang sudah mengantongi nama-nama kandidat yang akan terpilih untuk mendukung masa pemerintahan suaminya.


"Yang harus kita lakukan saat ini adalah memeriksa kekayaan para menteri. Jika dia memiliki kekayaan dari hasil usahanya sendiri itu jauh lebih baik daripada dua di pilih dalam keadaan tidak punya apa-apa maka akan berpeluang untuk melakukan korupsi," imbuh Amran.


"Bagaimana kalau menteri yang kita pilih ini memilki tingkat kecerdasan dan kejujuran atau lebih dikenal dengan istilah integritas?" tanya Amran pada tuan Hadikusuma.


"Memang itu persyaratan yang menjadi prioritas kita. Jika kita menjadi pemimpin yang adil sesuai harapan rakyat kalau tidak didukung dengan kementrian kabinet yang memiliki integritas, maka tunggulah kejatuhan negara ini karena ulah mereka," tutur tuan Hadikusuma.


"Itu sudah pasti karena kompetensi sikap ini diyakini akan menjadi fondasi sikap yang kuat menjadi daya dongkrak terhadap kinerja dalam kabinet kementerian di era kepemimpinan kita sebagai ikhtiar untuk mengenalkan kompetensi integritas, terlebih diharapkan dapat menjadi panduan memperbaiki diri guna mengembangkan integritas diri," timpal Amran.


"Benar jika kita sudah memeriksa beberapa menteri terpilih dari beberapa kandidat menteri yang akan bersinergi dengan kinerja kita, maka saya yakin, setiap program yang kita buatkan konsepnya akan terarah dan tepat sasaran," imbuh Hadikusuma.


"Dan efektif," timpal Amran.


"Tapi ada hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan yang selama ini menjadi beban pikiran saya," ucap Amran sambil menyilangkan kedua tangannya dengan sedikit terdiam.


"Apa itu, tuan Amran?"


"Rakyat kita. Permasalahan klasik para nasabah bank yang terlilit hutang dengan bunga yang cukup besar yang selama ini menjerat mereka," ucap Amran.


"Maksudnya kita hapus semua kredit macet dari seluruh nasabah yang bermasalah?" tanya tuan Hadikusuma.


"Iya. Hanya yang bermasalah, tapi dengan syarat kita tidak lagi memberikan kesempatan mereka untuk meminjam. Karena mereka sudah kita bebaskan dari riba," sahut Amran terdengar tegas.


"Anda sangat hebat tuan Amran. Rakyat sudah lama merindukan pemimpin seperti anda," puji tuan Hadikusuma.


"Jangan sia-siakan kepercayaan mereka. Harapan mereka begitu besar kepada mereka. Jadilah pembantu mereka yang tidak gila pujian dan siap untuk dikritik tapi tidak untuk dicaci maki apa lagi menerima hinaan," ucap Amran.


"Andaipun itu ada, paling orang sakit jiwa tuan," imbuh tuan Hadikusuma sambil terkekeh.


"Setidaknya kita harus mendengarkan keluhan mereka dan apa saja yang mereka butuhkan selain fasilitas kesehatan, pendidikan dan masalah pekerjaan," ucap Amran yang sudah tahu betul kebutuhan mendasar rakyatnya nanti.


"Jadi tugas utama kita adalah mengurus permasalahan rakyat untuk mencapai kesejahteraan. Setelah itu, kita bisa melakukan pembangunan lainnya sebagai fasilitas pelengkap. Karena selama ini yang saya perhatikan, pemerintah sibuk bangun sana sini. Pugar sana-sini hingga ia lupa mengurus keluhan rakyatnya yang saat ini sedang menderita," ucap Amran.


"Itulah masa kepemimpinan sebelumnya. Giliran meminta suara mereka tampil bak malaikat dengan sejuta janji dengan melakukan pencitraan. Setelah tujuannya tercapai, dia mulai mengurus sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah," timpal tuan Hadikusuma.


"Baiklah. Tugas kita saat ini adalah memulihkan kembali kepercayaan rakyat dengan memenuhi kebutuhan mereka yang belum sempat diwujudkan oleh masa pemerintahan sebelumnya, tentunya harus adil," timpal Amran.


"Tapi ada satu hal yang sangat mendasar yaitu merubah perilaku rakyat yang pemalas dan mengkonsumsi, menjadi energik dan kreatif dan inovatif," lanjut Amran.


Setelah membahas beberapa poin penting yang menjadi prioritas utama mereka di awal periode masa pemerintahan mereka, kini keduanya menikmati makan siang mereka.


...----------------...


Hari pelantikan presiden dan wakil presiden di gedung MPR dan DPR yang tidak hanya di hadiri oleh kalangan elit pejabat terkait saja, namun juga rakyat mengikuti pelantikan itu baik di depan gedung rakyat itu sendiri maupun di setiap rumah mereka melalui televisi maupun ponsel.


Animo masyarakat Indonesia yang selama merindukan pemerintah yang bersih, adil, jujur dan amanah, didukung dengan intelektual yang mempuni yang akan melakukan perubahan besar-besaran wajah bangsa ini agar tidak lagi diremehkan bangsa lain sebagai negara yang memiliki utang pada negara lain melainkan negara yang mandiri dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri.


"Wah...! Lihatlah wajah presiden baru kita..! aku yakin rakyat Indonesia akan maju dan dapat bersaing dengan negara maju lainnya yang tidak meremehkan lagi bangsa kita," ujar warga yang sedang mengikuti jalannya pelantikan itu. Desas-desus pemikiran rakyat yang beragam menyambut presiden baru mereka dengan antusias.


Usai dilantik, Amran menyampaikan pidato pertamanya di hadapan rakyat Indonesia terlihat begitu berwibawa.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Selamat pagi semua rakyat Indonesia. Aku tahu saat ini kalian mengikuti pelantikan kami berdua sebagai presiden dan wakil presiden untuk mengembangkan tugas yang sangat berat ini.


Bukan hanya berat, namun tugas ini adalah fitnah terbesar kami jika kami tidak bisa berlaku adil pada kalian sebagai manusia biasa yang pasti melakukan kesalahan dan khilaf dalam mengambil keputusan.


Namun jangan takut saudaraku. Aku sebagai kepala negara akan siap di kritik dan siap menerima saran dari kalian jika apa yang lakukan untuk lima tahun yang akan datang tidak berkenan di hati kalian tentunya dengan cara yang santun tanpa ada kata hinaan di dalamnya.


Insya Allah kami akan belajar memperbaikinya sesuai dengan keinginan kalian dan tentu saja dalam hal kebaikan yang diridhoi Allah SWT. Aaamiin. Kawal kami terus hingga jabatan kami berakhir," ucap Amran sambil menahan rasa harunya karena sudah terpilih menjadi penguasa negeri ini dengan banyak PR yang harus ia selesaikan yang akan dibantu oleh wakilnya dan juga kabinet kementrian yang akan ia bentuk beberapa hari ke depannya.


Rakyat menyambut pemimpin mereka penuh rasa syukur dan mendoakan presiden baru mereka agar dimudahkan dalam setiap urusannya tanpa ada gangguan suara sumbang dari orang-orang berhati dengki.


Nabilla meneteskan air matanya bukan karena bangga menjadi ibu negara tapi, begitu takut jika dirinya tidak mampu mensukseskan program kerja suaminya. Begitulah sifat wanita jenius ini. Memiliki segalanya namun masih takut membuat orang lain kecewa.


Tidak seperti istri pejabat lainnya yang begitu bangga dan berusaha terlihat sok pintar dan berwibawa di hadapan rakyat Indonesia dengan penampilan yang heboh dan tutur kata yang diatur sedemikian rupa agar terkesan hebat.


Beberapa jam kemudian pelantikan presiden dan wakil presiden, ada berita duka cita untuk Amran yaitu Ibunda tercinta nyonya Ambar dikabarkan meninggal dunia.