
Usai acara pernikahan yang sangat meriah itu, keluarga Amran memutuskan untuk menunaikan ibadah umroh dan ibadah puasa ramadhan di tanah suci itu.
Ternyata raja Farouk juga mengajak istrinya dan pengantin baru itu untuk ikut umroh bersama. Karena Bahrain sangat dekat dengan kota suci Mekkah makanya mereka dengan mudah mencapai tempat itu.
Sehari sebelum berangkat ke tanah suci Mekkah, sang pengantin baru yang betah berada di dalam kamar itu hingga tidak ingin menunjukkan batang hidung mereka dihadapan kelurga.
Bahkan Tamara rela menggantikan seprei sendiri dan juga membersihkan kamarnya bekas jejak percintaan mereka yang menggunakan setiap sudut kamar luas itu untuk bercinta dan bercinta.
Kamar itu hanya boleh dimasuki oleh pelayan yang mengantar pesanan makanan dari pengantin yang hanya bercinta dan makan.
Tamara sendiri hanya mengenakan kimononya tanpa ada pakaian dalam yang dipakainya karena El hanya ingin dimudahkan untuk mencapai akses tubuh istrinya tepat di setiap aset berharga istrinya.
Tamara yang awalnya malu-malu dan selalu mengeluh sakit kini tidak lagi memperlihatkan sifat itu. Justru gadis ini lebih terlihat agresif dan menggoda.
"Apakah kamu tidak bosan bercinta, sayang?" tanya Tamara sambil menyuapi El buah-buahan yang sudah dipotong oleh pelayan.
"Kita harus manfaatkan waktu kebebasan disiang hari ini untuk bercinta sepuasnya karena mulai besok seluruh umat muslim di bumi ini harus harus berpuasa kecuali yang berhalangan," ucap El terlihat lebih perkasa setelah menjadi lelaki dewasa seutuhnya karena benihnya sudah tersalurkan ditempat yang halal lagi menagih.
Wajah cantik Tamara yang terlihat lebih bersinar karena dua hari ini, batinnya hanya diisi dengan cendawan cinta yang terbakar oleh api asmara hingga tak kenal lelah melayani pangeran cinta yang terpampang nyata yang sebelumnya hampir membuatnya menderita karena tak cukup kata mengungkapkan hasrat yang penuh damba.
"Apakah ada yang sakit? Apakah tubuhmu terasa pegal? Apakah kamu mau aku memijat-mu, hmm?" rayu El yang kembali beraksi karena sang junior tak bisa berhenti merayunya untuk menyatukan lagi milik mereka.
"Lagi...?" Tamara menelan salivanya kasar karena baru setengah jam yang lalu mereka bercinta hanya untuk makan roti, minum susu dan buah.
"Apakah kamu keberatan baby?" tanya El yang sudah duduk bersimpuh di bawah kaki Tamara yang masih bertumpuk santai.
"Tidak sayang," lirih Tamara dengan suara mendayu-dayu.
Sedetik kemudian, kedua kaki itu sudah terpisah satu sama lain dengan belahan kimono marun berbahan sutra itu tersingkap lebih lebar hingga menampakkan paha mulus dengan memperlihatkan kelopak mawar pink menggetarkan hati menggoda iman.
Tamara memejamkan matanya merasakan sentuhan jemari kekar El menyentuh pusat gairahnya hingga giginya mengatup rapat menahan gelora kenikmatan yang bergejolak membangkitkan setiap rangsangan magis yang memanjakan miliknya dibawah sana diikuti jilatan lidah menyapu lembut dengan ritme stabil di tonjolan daging kecil sebagai tumpuan mengalirkan sejuta rasa yang tak bisa lagi Tamara tepis karena mulutnya meracau dengan memanggil satu nama El.
"Baby...hmmm...hammp... Ssssttt...El...ohhh...!" desis Tamara yang makin dibikin mabuk oleh El hingga tidak terasa tusukan pusaka kokoh itu terbenam sempurna dengan hentakan lembut hingga tak teratur untuk mengejar sensasi hangat meraih nikmat.
"Tamara...! Sayang...! Kau sangat mengagumkan sayang...hmm!" serak El hingga menghisap kuat dagu lancip Tamara yang mendongakkan wajahnya ke atas sambil mengerang nikmat.
"Oh...baby...! Miss you my honey...i love so much my hubby...ohhh....!" Racau Tamara manakala gelombang kenikmatan itu sebentar lagi akan menghempaskan tubuh mereka.
Hentakan kuat makin menggila oleh El yang tidak tahan lagi menyemburkan benihnya di sertai kedua tangannya meremas kuat dua gundukan padat nan sekal milik Tamara. Ia melahapnya secara bergantian dengan gemasnya.
"Tamara...sayang...! come on baby.. let's do it together...!" pekik El-Rummi dengan tubuh menegang sambil mende$ah nikmat.
"Ahhhhkkkkkk...!" Tubuh El terkulai lemas di samping sang istri yang tak lagi bertenaga karena sudah terkuras oleh percintaan panas mereka yang sudah dilakukan berulang kali hingga tak bisa lagi dihitung.
...----------------...
Jika Tamara dan El-Rummi sibuk bulan madu di istana kerajaan Bahrain, tidak dengan Nada yang sedang merenung sejenak tentang apa yang terjadi pada dirinya.
Karena keluarga besarnya menginap di istana raja Farouk, membuat Nada ingin melakukan sesuatu yang terlihat sangat ekstrim. Ia ingin menguji kekuatan aneh yang ada dalam dirinya saat ini.
Ia mengenakan kostumnya seperti cat woman berjalan di depan balkon kamarnya saat kelurga kecilnya itu sedang terlelap. Dengan gerakan cepat ia sudah berdiri di jeruji besi pembatas balkon kamar lalu berlari di udara untuk melewati tiap-tiap balkon istana di pukul dua pagi.
Tidak terlihat kelelahan sedikitpun di dirinya hingga ia mencoba untuk melompat ke atas atap istana yang lebih tinggi lagi menempati kubah istana.
"Ya Allah...! Ternyata aku bisa melakukannya. Tapi, kenapa aku bisa melakukannya?" tanya Nada tidak mengerti dengan dirinya kini.
Ia berbaring di atas kubah istana sambil menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Merasakan hembusan angin dingin yang terasa sangat sejuk dengan udara bersih yang terhirup segar mengembalikan energinya yang sekarang lebih rileks.
Lama Nada merenungi dirinya hingga ia mengingat sesuatu yaitu molly.
"Molly....! Apakah kamu yang telah mengirimkan kekuatan ini padaku? Itulah mengapa kamu datang dalam mimpiku? Apakah kamu sangat mencintaiku hingga aku diberikan kekuatan? Tidak ...! Setiap kekuatan di dunia ini hanya milik Allah.
Apakah Allah menitipkan kekuatan yang kudapatkan ini melalui dirimu?" tanya Nada makin penasaran hingga tiba-tiba molly sudah berada di sebelahnya membuat Nada terkejut setengah mampus hingga membuatnya terjatuh dari Kuba itu.
"Molly...kau....?! Akkkkkk....!" pekik Nada yang sempat ditarik gravitasi bumi hingga dalam sepersekian detik ia mengeluarkan kekuatannya untuk kembali lagi terbang ke atas kubah untuk menemui molly.
Molly masih duduk di atas kubah membuat Nada memeluknya erat.
"Molly...! Aku sangat merindukanmu..!" ucap Nada sambil menangis.
Molly mengusap punggung Nada seakan mengatakan," aku juga merindukanmu Nada. Gunakan kekuatan yang sudah aku berikan kepadamu itu untuk kemaslahatan umat manusia."
Setelah berkata seperti itu melalui telepati, Molly lantas menghilang dan Nada sudah keluar dari dimensi lain.
"Molly....! Molly....molly...! Jangan pergi...hiks...hiks ...!" Nada mengusap wajahnya.
Sesaat kemudian hatinya merasa lega karena ia sudah mengetahui kekuatannya karena Molly menitipkan kekuatan itu karena tahu Nada akan menolong umat manusia dari kejahatan.
"Aku janji Molly. Aku dan keturunanku akan melindungi umat manusia semampu kami," janji Nada lalu turun dari kubah itu kembali ke kamarnya.
Nada ingin menunaikan sholat tahajud untuk tetap bermohon kepada Allah sebagai penghambaannya kepada Allah SWT atas ridho Allah ia bisa memiliki kekuatan tersebut.
Keesokan harinya, dua kelurga besar itu berangkat umroh bersama. Mereka ingin melakukan sholat taraweh berjamaah langsung di Masjidil haram.