
Tidak terasa puasa Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan umat muslim sedunia. Mereka melakukan berbagai persiapan untuk menyambut hari kemenangan.
Tak terkecuali keluarga Amran yang berencana menghabiskan waktu di villa rahasia yang sudah lama mereka tidak mengunjunginya.
Momen bahagia itu harus dirusak dengan kehadiran para penjahat yang masih mengincar senjata kimia pemusnah massal itu.
Rupanya, keluarga besannya Amran ingin merayakan hari besar umat Islam itu di Indonesia. Jadilah kedua orangtuanya dari Daffa, Ghaishan, Tamara yang ingin menikmati lebaran di Indonesia.
Persiapan di villa juga tidak kalah heboh karena untuk pertama kalinya besan Amran yang rata-rata berasal dari luar negeri ini menjadi prioritas Amran. Syukurlah villa itu sudah banyak di lakukan pemugaran karena harus disesuaikan jumlah anggota keluarga besar itu yang makin bertambah.
Namun yang lebih penting dari semua itu saat ini adalah Amran dan Nabila sedang mencari senjata kimia itu di bekas markasnya Amran yang ada di ruang bawah tanah. Keduanya sengaja mendatangi markas itu pukul satu bini hari saat kelurganya pada tidur nyenyak.
Dengan menggunakan kunci yang dulu pernah diberikan oleh Alif, kini mereka akan menggunakan kunci itu yang belum mereka pahami fungsinya.
"Aku tidak tahu kalau ada ruang bawah tanah yang berlapis di bawah sana yang lebih di kenal dengan bungker," ucap Amran yang cukup pusing membaca peta untuk mencari tuas pintu rahasia menuju bungker.
"Biar aku lihat sayang..!" Nabilla mengambil peta rahasia itu dari tangan suaminya agar lebih cepat menemukan ruang bungker yang ada di ruang bawah tanah yang saat ini mereka berada..
Mata Nabilla yang begitu jeli dengan kompas pendeteksi yang lebih mirip cakram yang ada di tangannya membantu dirinya mendapatkan sinar yang keluar dari cakram yang terbuat dari batu mulia itu.
"Tolong matikan lampunya hubby...!" titah Nabilla dan Amran bergegas menuju tempat saklar untuk memadamkan lampu yang ada di ruang bawah tanah itu.
Tidak lama kemudian, sinar dari batu mulia yang diletakkan Nabilla di lantai itu seketika mengeluarkan cahaya hijau sehingga memancing cahaya lain yang berwarna putih yang ada di sudut dinding memancarkan cahayanya ke arah batu mulia itu.
"Itu dia tempatnya. Sekarang nyalakan lagi lampunya!" pinta Nabilla setelah mendapatkan tempat rahasia untuk membuka pintu rahasia.
Nabilla mengeluarkan kunci milik Alif yang dulu ia ambil, lalu memasukkan kunci itu di dinding yang terdapat sinar. Seketika dinding itu bergetar hebat seakan mau gempa di tempat itu dan rupanya ada pergeseran marmer di lantai itu hingga memperlihatkan permukaan kaca tebal yang bisa menembus ke dalam. Tidak lama kemudian bergeser lagi dan memperlihatkan pijakan untuk dua orang seperti lantai bening berupa lift yang akan membawa mereka ke bawah sana.
Setibanya dibawah bungker itu, betapa kagetnya Amran dan Nabila melihat kekayaan kakek yang begitu banyak di tempat itu di mana banyak sekali susunan emas batangan, perhiasan emas berlapis berlian dengan berbagai bentuk dan juga batu permata dan koin emas.
"Masya Allah. Ternyata ini harta karun yang sebenarnya sedang di kurung kakek di dalam sini. Beberapa keturunanku tidak akan miskin jika memiliki harta sebanyak ini," gumam Amran penuh haru.
"Apakah kakek uyut kamu seorang bangkir?" tanya Nabilla penasaran.
"Kakek uyut seorang pengusaha tambang emas dan batu bara yang ada di Indonesia. Setelah tambang itu di ambil alih oleh negara, kakek uyut mendirikan perusahaan yang dikelola oleh kakek dan sekarang aku," jawab Amran.
"Sebaiknya kita cari senjata kimia itu. Dan hati-hati menyentuh sesuatu karena bisa jadi ada beberapa senjata jebakan yang di pasang di sini untuk para perampok yang mungkin akan mencuri di tempat ini," ucap Nabilla.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya kalau ada senjata yang dipasang kakek ada di dalam sini, sayang?" tanya Amran.
"Mustahil saja, ada harta berlimpah dibawah sini kalau tidak ada senjata jebakannya untuk mengamankan harta Karun-nya," ucap Nabilla.
"Bagaimana aku bisa bergerak untuk mencari senjata kimia itu jika kamu menakuti aku seperti ini?" gugup Amran sambil memindai tatapannya di berbagai sudut dinding itu.
"Ikuti langkahku...! Jika kita masuk dalam jebakan kakek, maka kita bisa mati bersama di sini," ucap Nabilla.
"Kenapa kata-katamu sangat mengerikan? apa tidak ada kalimat romantis yang kamu bisa ucapkan di saat seperti ini?" gerutu Amran.
"Romantisnya di tempat tidur, bukan di sini, ok!"
Nabilla nampak waspada mendekati salah satu brankas besar dan mulai mendekatkan ponselnya yang bisa membaca kode sandi brangkas itu membuat Amran hanya bisa menghela nafas panjang.
"Semuanya adalah takdir Allah untuk mempertemukan kita," imbuh Nabilla.
"Jika tidak bertemu dengan kamu, aku tidak akan pernah tahu bungker ini, sayang. Melihat harta Karun milik keluargaku. Dan terlebih lagi senjata kimia itu yang menjadi alasan kita ada di sini," ucap Amran.
Saat mendengar bunyi gesekan dari dalam pintu brangkar sebesar kulkas itu, Nabilla melihat koper berlapis besi buatan jaman jadul itu di mana terdapat kode sandi.
Nabilla meminta suaminya mengeluarkan koper itu secara perlahan dari brangkas itu. Setelah itu Amran meletakkan di atas meja itu dan Nabilla membuka koper itu dengan kode rahasia seraya mendekatkan ponselnya yang bisa membaca kode di koper itu.
Setelah dibuka ternyata isi koper itu terdapat dua tabung kaca sebesar toples kue dengan penutup di atasnya menggunakan kode sandi untuk mengaktifkan senjata kimia itu.
Bahkan cairan kimia yang ada di dalamnya berwana kuning keemasan dan terdapat serpihan kristal yang menjadi pemicu dalam menenggelamkan satu negara besar. Nafas suami istri itu terasa sangat sesak saat melihat senjata kimia itu.
"Masya Allah. Senjata kimia ini yang menciptakan kakek uyutku dan temannya yang berkhianat kepadanya dan menjualnya pada kakek kamu. Dan kita berdua yang menemukan benda hebat ini," ucap Nabilla tersenyum miris bagaimana kisah senjata kimia ini di sembunyikan kakek Abdullah untuk menyelamatkan dunia dari orang-orang jahat yang ingin memilikinya demi tujuan sesat.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan dengan senjata kimia ini jika kita sudah mengeluarkannya dari tempat ini?" tanya Amran.
"Itu urusan Nada yang bisa melakukan itu karena dia lebih mengetahui bagaimana memperlakukan benda bahaya ini," sahut Nabilla mengambil foto senjata kimia itu sebelum ditutupinya lagi.
"Apa ada kiat-kiatnya dalam memperlakukan senjata kimia ini, sayang?" tanya Amran yang bergidik ngeri melihat senjata kimia itu.
"Sedikit informasi tambahan untuk kamu sayang yaitu hal penting yang harus kita perhatikan dalam menyimpan dan penataan bahan kimia meliputi pemisahan, tingkat risiko bahaya, pelabelan, fasilitas penyimpanan, wadah sekunder, bahan kadaluarsa, inventarisasi, dan informasi risiko bahaya," tutur Nabilla sambil menjelaskan setiap poin pentingnya penyimpangan kimiawi pada Amran tentang bahan kimia.
"Masya Allah. Bagaimana anak-anakku nggak jenius, induknya aja sudah seperti ini. Rasanya aku ingin terlahir kembali ke dunia dan bertemu lagi denganmu untuk jatuh cinta dan hidup sekali lagi denganmu, sayang," ucap Amran.
Nabilla tersenyum lalu mengecup bibir suaminya agak dalam.
"Bukankah ada kehidupan abadi setelah kematian? Kenapa tidak memikirkan itu saja bahwa kita akan berkumpul lagi dengan seluruh keluarga kita dari jaman nabi Adam hingga muslim terakhir yang hidup di bumi ini akan tinggal bersama di surga dengan usia yang sama sekitar 30 tahun. Tidak ada ada yang tua di sana. Dan kamu akan mendapati perawanku setiap saat mana kala kita bercinta," ucap Nabilla.
"Aku tidak sabar menunggu itu sayang, hidup abadi dengan cinta suci yang kita miliki di surganya Allah," timpal Amran.
"Aaamiin. Ayo kita pulang sayang, sekarang sudah pukul 3 pagi," ucap Nabilla.
"Iya sayang. Sampai rumah kita tinggal makan sahur," ucap Amran lalu kembali naik ke tempat pijakan seperti lift yang akan membawa mereka ke atas.
Amran menjinjing koper senjata kimia itu. Tidak berapa lama mereka sudah berada di depan pintu markas. Amran yang hendak membuka pintu markasnya di cegah oleh Nabilla.
"Tunggu sayang...! Sepertinya ada yang tidak beres di luar sana," ucap Nabilla yang langsung melihat CCTV di luar markas melalui ponselnya.
"Astaghfirullah...! Ada banyak sekali penjahat di depan jalan utama. Mereka mengetahui kita berada di sini," ucap Nabilla dengan jantung berdegup kencang.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun...! Bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini?" panik Amran.
"Kita hubungi anak dan menantu kita. Hanya mereka yang bisa menjatuhkan para bandit itu," ucap Nabilla.
Baru saja bicara begitu, tiba-tiba ada yang menembak mereka dari luar.
Dorrr....dooorr..