Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
120. Tetap Profesional


Bunga tidak mau membuka suaranya dan tetap menjaga jarak dengan Daffa yang juga cuek padanya. Wajah datar Daffa yang terlihat fokus pada ponselnya entah apa yang ia pandangi memancing keinginan tahuan Bunga.


"Apa yang sedang diperhatikan oleh kekasihku di ponsel miliknya. Aku harus mencari tahu," batin Bunga meretas CCTV di dalam kabin pesawat untuk melihat posisi duduk Daffa yang berada di hadapannya. Saat gambar itu di zoom olehnya, Bunga tersenyum bahagia. Ternyata Daffa sedang memperhatikan foto-fotonya.


"Cih..! kau merindukan gadis yang sama yang ada difoto itu," batin Bunga berdecih.


Karena Daffa hanya cuek didepannya membuat Bunga juga merasa nyaman. "Lebih baik seperti ini, dengan begitu penyamaran ini tidak akan terbongkar. Jika diajak ngobrol, maka tidak menutup kemungkinan, Daffa akan mengetahui siapa aku sebenarnya," batin Bunga.


Karena perjalanan itu sangat lama, membuat Bunga yang belum sempat istirahat setelah berkutat dengan segala macam urusan membuat Bunga akhirnya tertidur karena kelelahan. Ditambah lagi yang menjaganya adalah Kekasihnya sendiri.


Saking ngantuknya, leher Bunga hingga miring membuat posisi tubuhnya hampir melengkung ke samping. Daffa begitu sigap bangkit untuk duduk di samping Bunga agar sang kekasih tidak sampai terjatuh.


Ia meminjamkan bahunya untuk menahan kepala Bunga. Daffa tetap menjalankan tugasnya secara profesional termasuk menjaga Bunga tetap nyaman walaupun ia tidak mengetahui siapa gadis yang ia jaga saat ini.


"Bukankah setiap agen rahasia itu selalu sigap saat tubuhnya tersentuh oleh seseorang? kenapa gadis ini tenang-tenang saja? apakah dia suka padaku?" batin Daffa yang bisa mengetahui bagaimana peran seorang agen rahasia.


Sekitar lima jam kemudian, Bunga baru mengerjapkan matanya. Ia merasakan saat ini tubuhnya diapit oleh seseorang. Bunga menarik tubuhnya ke samping dan ketika menyadari kalau itu adalah Daffa, ia menarik nafas lega.


"Alhamdulillah. Syukurlah ternyata kamu yang mendampingi aku," batin Bunga namun tetap dalam mode datar.


"Maaf nona..! Anda tadi hampir jatuh dan saya hanya membantu agar tidur anda tidak terganggu," ucap Daffa.


"Terimakasih..! tegas Bunga singkat. Dia duduk dengan sikap sempurna sambil membuka ponselnya.


Daffa ingin mengajak ngobrol lagi, tapi Bunga sudah mengangkat satu tangannya mencegah Daffa untuk bicara.


"Bicaralah kalau anggap itu sangat penting. Tetap jaga sikap anda saat bertugas. Mengerti..?" tegas Bunga berusaha profesional.


"Siap..!" sahut Daffa kembali ke tempatnya yang tadi ia duduk.


Seorang pramugari datang membawa makanan untuk Bunga dan Daffa. Dalam hati Daffa berharap ia bisa melihat wajah Bunga jika Bunga mau makan. Namun saat Bunga hendak makan, gadis ini malah mengusirnya untuk duduk di bangku lain.


"Bisakah anda pindah di kursi lain? karena saya ingin makan dengan nyaman tanpa melihat anda!" ucap Bunga mengusir Daffa.


"Baik nona." Daffa bangun pindah ke kursi paling belakang.


"Maafkan aku Daffa. Aku memang merindukanmu dan aku juga tidak bisa membongkar penyamaranku walaupun hatiku sangat menginginkan untuk bisa ngobrol denganmu. Biarkanlah seperti ini, toh nanti juga kita akan bertemu juga," ucap Bunga.


Keduanya makan di kursi yang terpisah. Daffa tetap tenang melakukan tugasnya tanpa mengeluhkan sikap tegas Bunga karena itu adalah resiko pekerjaannya yang selalu mengawal orang-orang penting seperti Bunga selain presiden.


Sekitar hampir 11 jam waktu tempuh Amerika Indonesia, akhirnya pesawat itu sudah tiba di Jakarta. Bunga turun dari pesawat diikuti oleh Daffa yang langsung menyerahkan Bunga pada petugas lain yang akan mengantarkan Bunga ke istana negara untuk bertemu dengan orang nomor satu di tanah air Indonesia.


"Terimakasih atas pengawalannya. Sampai jumpa lagi marsekal Mohammad Daffa Nugraha Bramantyo. Titip salamku untuk kekasih anda. Saat bertugas jangan sibuk menatap foto sang kekasih!" nasehat Bunga.


"Hah ..? bagaimana dia bisa mengetahui aku menatap wajah cantik kekasihku Bunga?" heran Daffa.


Bunga mengikuti langkah Paspampres yang sudah menjemputnya. Iring-iringan mobil para pengawal mengantarkan Bunga menuju istana presiden. Daffa kembali ke kediamannya setelah mengembangkan tugasnya.


"Ah ....! Bunga. Aku sangat merindukanmu, sayang," batin Daffa.


...----------------...


Rumah itu hanya ada dua orang pelayan sedangkan yang lainnya pada pulang mudik. Bunga merawat tubuhnya sendiri dengan lulur hasil racikannya sendiri. Ia menggunakan bahan-bahan herbal dengan campuran bahan alamiah lainnya. Satu jam ia mendiamkan tubuhnya hingga aroma luluran meresapi kulitnya.


Bunga memang tidak ingin melakukan treatment kecantikan di klinik kecantikan miliknya walaupun banyak perawat yang siap melayaninya. Kalau bukan Cinta dan Ibunya yang menyentuh tubuhnya dalam hal perawatan dia tidak akan pernah mau ada wanita lain yang melihat tubuhnya karena dirinya adalah seorang agen rahasia.


Setiap inci tubuhnya akan menjadi incaran musuh yang memanfaatkan oleh orang yang merawatnya untuk melakukan kejahatan padanya.


Tiga hari di rumah, cukup baginya untuk istirahat. Ia kembali berkutat dengan laptop miliknya. Tidak lama kemudian, Daffa menghubunginya. Setelah saling mengucapkan salam.


"Kamu sedang apa sekarang?" tanya Daffa.


"Aku sedang menyesaikan pekerjaanku" ucap Bunga.


"Sekarang sudah berkunjung ke negara mana?" tanya Daffa.


"Aku sudah ada di Jakarta. Aku kembali lebih cepat karena tugasku," sahut Bunga bohong.


"Boleh aku main ke rumahmu?"


"Tidak ada orang dirumahku aku tidak mau mengundang fitnah," ucap Bunga.


"Bagaimana kalau kita nonton?" ajak Daffa.


"Begini saja, kita ngobrol di restoran pizza. Aku kangen makan pizza," ucap Bunga yang juga tidak ingin nonton," ucap Bunga yang tidak ingin memberikan peluang untuk Daffa menyentuhnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menjemputmu di rumahmu!" tawar Daffa.


"Tidak...! Aku ingin kita bertemu di restoran pizza dekat komplek rumahku," ucap Bunga.


"Baiklah. Kita ketemu di sana," ucap Daffa.


"Ok. Sampai jumpa Daffa! Bunga mengakhiri panggilannya.


"Maafkan aku Daffa...! Aku tidak mau lagi kita melakukan kesalahan karena aku hampir mati saat melakukan pertempuran sengit dengan penjahat itu. Bisa jadi karena aku telah bermaksiat membuat misiku hampir hancur berantakan karena penyamaran aku terbongkar oleh tuan Zidan. Syukurlah dia sudah tewas, jika tidak aku pasti akan menjadi incarannya," lirih Bunga.


Bunga segera berdandan mengenakan dress panjang di balut dengan kardigan. Tidak lama kemudian ia sudah rapi dan keluar menuju mobilnya. Bunga berangkat menuju restoran yang di tuju. Di sana Daffa sedang menunggunya di tempat parkir. Saat Bunga turun dari mobilnya, Daffa terkesima melihat wanitanya sudah mengenakan hijab dan terlihat sangat anggun.


"Masya Allah!" Batin Daffa memuji penampilan baru Bunga yang sudah berhijab.


Bunga sudah memutuskan untuk berhijrah setelah Allah memberikan kesempatan kedua untuknya yang sudah selamat dari maut. Bunga menyadari kesalahannya bukan karena aturan kelurganya untuk tidak boleh bersentuhan dengan pria sebelum menikah walaupun itu hanya ciuman.


Nabi Adam saja bisa tergoda oleh godaan iblis yang membuat dirinya dan sang istri terusir dari surga dan menduduki bumi ini, lantas siapa kita yang hanya seonggok daging dari cairan benih hina ayah kita hingga merasa paling hebat dari keturunan ibu yang hanya mengenakan hijab.


Inilah kerjaan netizen yang merasa paling maha benar padahal dosanya saja lebih banyak dari pada Bunga si pemeran dalam novel ini.


"*Jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jagalah mulutmu untuk tidak merendahkan orang lain. Bisa jadi dosamu lebih banyak dari orang yang engkau hina" ucap author Sindya.


....


vote dan likenya cinta please*!