Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
239. Kehabisan Bensin


Tamara sudah berada di samping mobil penjahat. Ia masuk ke mobil itu buru-buru karena pintu mobil itu tidak terkunci. Sayangnya, kunci mobil itu dibawa oleh penjahat. Ia harus mencari cara untuk mengambil kunci mobil tersebut.


"Ya Allah. Di mana kunci mobilnya?" tanya Tamara makin panik karena penjahat itu terus-menerus menembak ke arahnya namun tidak bisa mengenai dirinya maupun mobilnya.


Tamara melihat keadaan sang penjahat yang mulai lemah karena Tamara menggores arteri pembuluh darah besar yang bisa mematikan seseorang.


Tidak lama kemudian sang penjahat mulai oleng karena mengalami pendarahan hebat di pinggangnya sebelah dalam hampir mengenai organ vitalnya. Tamara menunggu sang penjahat pingsan atau tewas agar bisa mengambil kunci di tangan penjahat itu.


Beberapa menit kemudian, penjahat itupun akhirnya pingsan. Tamara buru-buru menghampiri lagi penjahat itu untuk mencari kunci mobil. Sesaat kemudian ia akhirnya menemukan kunci mobil itu kantong celana penjahat. Ia juga mengambil dompet sang penjahat untuk mengambil uangnya. Lalu membuang lagi kunci itu. Kaos tangan yang dipakainya juga berdarah membuat Tamara menanggalkannya karena tercium bau amis.


"Maaf...! Aku harus merampok-mu. Aku butuh uang ini untuk berjaga-jaga," gumam Tamara mengambil juga pistol yang ada ditangan penjahat.


Saat dirinya hendak beranjak pergi, ujung gamisnya ditarik lagi oleh penjahat itu membuat Tamara spontan menembaknya dada penjahat itu hingga tewas.


Tamara terlihat galau dengan air mata yang tercekat. Saking marahnya ia menendang paha penjahat itu berkali-kali.


"Orang sepertimu lebih mati. Kau tidak lebih daripada binatang menjijikan," umpat Tamara penuh murka.


Tamara melihat keadaan sekitarnya. Tidak siapapun di tempat itu. Binatang apa saja tidak ia temukan di tempat itu kecuali serangga yang sedang bersembunyi atau masih tidur di sarang mereka masing-masing.


"Ya Allah. Apakah hari ini aku sudah berubah menjadi seorang pembunuh dan perampok?" batin Tamara menahan tungkai kakinya yang sudah sangat lemas dan ingin jatuh. .


Ia buru-buru kembali lagi ke mobil itu dan memasukkan kunci mobil dengan tangan gemetar hingga beberapa kali kunci mobil itu jatuh.


"Astaghfirullah halaziiim. Allahu Akbar ! Tolong aku ya Robb..!" pinta Tamara mengendalikan perasaan gugupnya lalu membaca basmallah sambil memasukkan kunci mobil dan mulai menyalakan lagi mesinnya.


"Apakah aku harus putar balik arah? Apakah aku harus tanya El-Rummi dulu?" gumam Tamara bingung sendiri ke mana arah yang ia akan tempuh karena mereka berada di tengah gurun batu tanpa ada arah petunjuk jalan.


"Lebih baik aku jalan dulu meninggalkan bajingan sialan itu daripada bingung sendiri seperti ini," gumam Tamara memutar balik mobilnya.


Saat ia melirik ke samping mobil ada ponsel penjahat itu yang di tinggalkan di jok sebelah. Ada juga dus yang berisi botol air mineral ukuran besar di bawah kaki jok mobil membuat Tamara kegirangan.


"Alhamdulillah Ya Allah. Aku bisa minum dan menggunakan ponsel ini. Tapi aku tidak tahu nomornya El-Rummi. Lagi pula kata El-Rummi di sini tidak ada signal. Apa aku harus berhenti sebentar untuk menanyakan El-Rummi?" tanya Tamara seraya menepikan mobilnya untuk menanyakan El-Rummi setelah cukup jauh dari mayat penjahat itu.


Sementara pesawat El-Rummi sendiri dua jam lagi baru tiba di bandara Riyadh.


"El. Aku berhasil kabur dari penjahat dan membawa pergi mobilnya. Ke mana arah mobil ini untuk aku tuju agar aku bisa kembali ke kota yang terdekat di tempatku berada saat ini. Aku juga menemukan ponsel penjahat. Aku ingin menghubungi kamu tapi aku tidak tahu nomor kamu," tulis Tamara singkat.


"Sekitar 300 km lagi kamu akan mencapai kota. Temukan penginapan agar aku menjemput di sana dengan helikopterku. Aku akan menghubungimu setelah tiba di kota Riyadh," balas El sambil menulis nomor ponselnya.


Tamara mencatat nomor ponsel El di ponsel penjahat itu. Beruntunglah penjahat itu tidak menggunakan sandi di ponselnya jadi mudah bagi Tamara membuka aplikasi untuk menyimpan nomor El.


Ia melajukan lagi mobil itu menuju kota terdekat semacam perkampungan kecil. Sekitar 10 km meter lagi mobil Tamara mencapai kota namun tiba-tiba mobilnya berjalan mulai tersendat membuat Tamara panik. Tamara baru menyadari bensin mobil itu habis.


"Allahuakbar...! Cobaan apa lagi ini?" keluh Tamara.


Tamara turun dari mobil itu dengan kerongkongan yang sangat terasa kering dan juga perutnya mulai terasa lapar. Ia kembali ke dalam mobil itu untuk mengambil air mineral yang ada di dalam kardus itu.


"Apakah penjahat itu menyimpan makanan di dalam mobil?" tanya Tamara sambil mencari apa yang bisa ia temukan di dalam mobil itu yang ternyata hanya kurma.


Tamara menunaikan sholat subuh usai mengambil air wudhu dengan air mineral yang ada di botol. Ia menggunakan cadarnya sebagai alas sujudnya.


Entah mengapa Tamara merasakan rongga dadanya sangat sesak hingga ia menangis pilu. Merasa menjadi orang terbuang kini dan mampu bertahan dengan apa yang ada membuatnya lebih bersyukur seribu kali lipat dengan apa yang selama ini ia dapatkan dengan mudah selama bersama dengan kedua orangtuanya. Ia malah merasa lebih dekat dengan Tuhannya saat kesulitan menyergapnya di tengah kesendiriannya.


"Alhamdulillah ya Allah. Engkau masih menjaga jiwa dan ragaku sudah sejauh ini," ucap Tamara penuh rasa syukur.


Usai berzikir dan mengaji, Tamara mengambil kantong yang berbahan kain dan memasukkan tiga botol air mineral, uang, ponsel dan kurma. Ia mengenakan lagi cadarnya dan berjalan kaki sejauh 10 km untuk bisa mencapai kota.


Sekitar dua kilometer Tamara berjalan kaki, ia mulai mendengar suara kendaraan dari arah belakang yang membuat ia menghentikan langkahnya. Ia melambaikan tangannya ke arah mobil itu untuk menumpang.


Seorang pria tua dengan istrinya menghentikan mobil mereka dan menanyakan tujuan Tamara. Mereka akhirnya memberikan Tamara tumpangan setelah bernegosiasi sebentar dengan meminta uang bayaran pada Tamara yang menyanggupinya.


Setibanya di kota, Tamara turun dan memberikan beberapa ribu real pada pak tua itu. Iapun mencari penginapan. Sebelumnya ia memberikan beberapa potong pakaian dan pakaian dalam untuk menggantikan pakaiannya yang sudah empat hari tidak di ganti karena ia hanya bisa mandi dan tidak ada pakaian ganti. Ia juga membeli beberapa potong roti susu kemasan untuk mengisi perutnya yang kosong.


Karena kota kecil, penginapan yang ia dapatkan tidak begitu layak di tempati tapi cukup bisa beristirahat sambil menunggu kedatangan El-Rummi untuk menjemputnya. Usai membersihkan tubuhnya dan menggantikan dengan pakaian yang baru yang dibelinya tadi, kini gadis itu terlihat sudah lebih segar. Ia kemudian menghubungi nomor El-Rummi melalui video call.


El Rumi menerima panggilan telepon dari wanitanya penuh semangat. Rupanya pria ini baru turun dari pesawat dan hendak naik helikopter setelah mendapatkan ijin dari bandara setempat.


"El...! Assalamualaikum..!" sapa Tamara sambil melambaikan tangannya ke El-Rummi yang mengenalkan juga mommy Nabilla pada Tamara..


"Waalaikumuslam. Tamara...! Perkenalkan Ini mommy aku ..!" ucap El-Rummi.


Tamara mengangguk hormat pada Nabilla yang membuka cadarnya memperlihatkan wajahnya pada Tamara yang sempat terkesiap mengagumi kecantikan ibu kandungnya El-Rummi.


"Sayang ..! Kami akan menjemputmu. Bertahanlah di situ dan jangan ke mana-mana lagi. Apakah kamu sudah makan?" tanya Nabilla.


"Sudah tante," ucap Tamara.


"Kami sudah menemukan lokasi penginapan mu. Kami sudah berada di dalam helikopter," ucap Nabilla.


"Baik Tante. Aku akan menunggu ka...-"


Tok....tok....tok..


Gedoran pintu kamar hotel di kamarnya Tamara terdengar sangat keras membuat Tamara terperanjat. jantungnya kembali terpacu dan darahnya berdesir kencang menahan gugup.


"Ada apa sayang?" tanya Nabilla panik melihat Tamara seperti sedang panik.


Dor.... dor...dor ..


"Tamaraaa ...!" pekik Nabilla dan El-Rummi bersamaan karena ponsel terlepas ditangan gadis itu yang terlihat gemetar ketakutan.


"Tangkap gadis ini karena telah membunuh dan merampok orang...!" titah polisi setempat membuat Tamara berteriak histeris saat tubuhnya diseret paksa keluar dari kamar hotel itu.


Nabilla dan keluarganya masih mendengar percakapan polisi dan teriakan Tamara dari ponsel yang tadi digunakan Tamara sudah tergeletak di lantai kamar.


"El....! Tolong akuuuu.....!" pekik Tamara pilu.