
Sekitar lima orang pria dengan satu wanita itu menertawakan Dinar yang mereka pikir hanya pahlawan kesiangan saat menolong Evren.
"Untuk apa kamu menolongnya setelah kami sudah menyingkirkannya, hah?!" bentak seorang wanita yang tidak lain adalah sekertarisnya Evren.
"Bukan urusanmu. Minggir kalian...!" usir Dinar sambil memastikan Evren akan aman dalam penjagaannya.
Sementara itu Dinar sendiri sudah menyiapkan jebakan untuk musuhnya Evren yang merupakan pengawalnya sendiri yang ingin melenyapkan Evren atas perintah seseorang.
Sekertaris Evren yang bernama Seirah mengeluarkan pistolnya hendak menembak Dinar, namun gadis itu menghentakkan tali yang di injak oleh Seirah di mana tali itu yang menahan tubuh Dinar dan Evren yang masih berada di bibir jurang tadi membuat Seirah langsung terjatuh ke jurang dan tubuh Dinar dan Evren ketarik ke atas.
Tubuh Seirah menggelantung di udara dengan kepala kebawah dan kakinya tersangkut oleh tali yang terikat ditubuh Dinar dan Evren.
Baru saja tubuh mereka berpijak ke atas tumpukan salju, keempat penjahat itu mengarahkan pistol mereka ke arah Dinar.
"Raffa....! Raffi...!" tolong....!" teriak Dinar sekencang mungkin karena dirinya masih memakai alat penghubung.
Teriakan Dinar membuyarkan konsentrasi keempat penjahat yang reflek menoleh ke belakang namun tidak ada orang.
Kesempatan itu di manfaatkan oleh Dinar yang langsung menembak keempat penjahat itu dalam sepersekian detik dengan kecepatan yang luar biasa membuat Evren yang terbaring lemah sangat kagum pada gadis penyelamatnya itu.
Darah segar mengalir dari tubuh keempat penjahat itu walaupun mereka tidak sampai mati, namun Dinar sudah lebih dulu merebut pistol keempat penjahat itu.
"Apakah mereka ini musuh-musuhmu?" tanya Dinar dengan nafas tersengal.
"Justru mereka adalah pengawalku yang telah mengkhianati ku," ucap Evren.
"Baiklah. Tunggu sebentar..! Aku akan memanggil helikopter untuk mengevakuasi kamu ke rumah sakit," ucap Dinar seraya mengambil ponselnya di kantong celana jinsnya untuk menghubungi helikopter milik keluarganya.
Dari penampilan Dinar, Evren bisa mengetahui kalau Dinar bukan orang biasa. Bahkan Evren bisa mengetahui jika Dinar adalah bagian dari pasukan khusus yang terlatih namun dia belum tahu pastinya.
Namun setelah diteliti lebih mendalam wajah Dinar, Evren yang terkenal pria datar dengan sejuta pesona itu tersenyum jenaka saat menyadari visual Dinar yang mampu menggetarkan hatinya.
"Cantik..!" puji Evren membatin. Walaupun pahanya terluka namun ia tidak lagi merasakan sakit bahkan terasa kebas hanya menatap wajah cantik Dinar.
Mendengar teriakan saudara sepupunya, Raffa dan Raffi segera menengok ke atas puncak tapi mereka tidak bisa lagi mendaki ke atas karena masih mengenakan sepatu ski mereka.
"Dinar...! kamu tidak apa .?" tanya Raffi cemas.
"Aku tidak apa bang. Aku mau menolong seseorang dulu karena keadaannya sangat kritis. Kalian kembali saja ke villa. Aku akan kabari mama dan ayah kalau tiba ke rumah sakit," ucap Dinar melalui alat penghubung.
"Baiklah. Hati-hati. Kami tidak bisa menghampirimu karena Medan yang cukup sulit untuk kembali ke atas. Raffi yang mempercayakan Dinar bisa mengurus dirinya sendiri karena gadis itu adalah agen CIA.
Tidak lama terdengar suara helikopter. Dinar melambaikan tangannya agar co-pilot menurunkan tangga tali untuk menarik mereka ke atas helikopter. Helikopter tidak bisa mendarat karena tidak ada tempat yang cukup rata di sekitar area bukit itu.
Dalam beberapa menit kemudian, Dinar dan Evren sudah berada di dalam helikopter dan keduanya langsung di bawa ke rumah sakit yang ada di kota Istanbul itu.
"Kamu sudah aman sekarang. Aku butuh data pribadimu untuk melakukan registrasi administrasi di rumah sakit!" pinta Dinar.
"Tolong rahasiakan identitasku karena saat ini aku sedang diburu oleh seseorang. Anak buahku semuanya berbalik mengkhianatiku. Aku tidak dalam posisi aman saat ini," pinta Evren penuh permohonan.
Dinar menarik nafas dalam tapi ia juga tetap membutuhkan data pribadi Evren. Tanpa ingin berlama-lama berdebat dengan Evren, Dinar sudah memindai sidik jari Evren melalui aplikasi ponselnya untuk membaca data pribadi pria malang itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Evren saat Dinar memindai tiga jarinya pada layar ponsel milik Dinar.
"Diamlah..! ini hanya sekedar birokrasi. Aku harus tahu siapa orang yang sudah aku tolong. Penjahat atau warga negara yang baik," ucap Dinar tanpa mengalihkan pandangannya ke ponselnya.
"Sial ..! Ternyata pria ini pengusaha terkenal di negara ini," batin Dinar yang kini beralih mencaritahu perusahaan apa saja yang dimiliki oleh Evren.
Dinar juga membaca biodata lengkap Evren yang ternyata berstatus singel atau bujangan. Namun melihat wajah Evren yang sangat tampan Dinar tidak percaya jika pria ini tidak memiliki kekasih.
Tidak terasa helikopter sudah mendarat di atas atap rumah sakit internasional Istambul. Dokter dan beberapa orang perawat siap menangani keadaan Evren. Dinar tetap mengikuti Evren.
"Pasien mengalami luka tembak di bagian paha. Pasien membutuhkan dua kantong darah. Tekanan darah stabil dan status akurasi normal," ucap dokter Jasmine.
"Siapkan kamar operasi, sekarang!" titah dokter Arkana.
Evren menatap wajah Dinar sambil berucap terimakasih.
"Terimakasih. Tolong tetaplah bersamaku..! Jangan memberitahukan kepada keluargaku. ..! Aku sangat percaya kepadamu. Oh iya, siapa namamu?" tanya Evren saat ia di dorong ke ruang operasi.
"Dinar. Namaku Dinar. Semoga operasinya berjalan lancar. Aku janji akan menemui mu," ucap Dinar tepat di depan pintu kamar operasi dan ia harus berhenti melangkah.
Dinar harus kembali ke villa dan berjanji akan kembali lagi ke rumah sakit sebelum Evren siuman dan dipindahkan ke kamar inap. Kebetulan helikopter masih menunggu Dinar jadi gadis ini akan lebih cepat tiba di villa kakek Salim.
...----------------...
Siang itu, Amran dan keluarga besarnya sedang menikmati makan siang mereka bersama dengan Mariam yang sekarang sudah menjadi besannya Wira dan Lira karena pernikahan Kirana dan Asegaf. Kirana dikaruniai dua orang anak yang masih berusia balita 4 tahun dan dua tahun. Keduanya sama-sama perempuan.
"Bagaimana Dinar? Apakah pria itu selamat?" tanya ayahnya Arsen.
"Alhamdulillah ayah. Evren sudah ditangani oleh medis. Aku meninggalkannya karena saat ini sedang menjalani operasi," ujar Dinar yang ikut menikmati makan siang bersama keluarganya.
"Apakah dia mengalami kecelakaan karena sesuatu?" tanya Nabilla.
"Tidak Oma. Dia sengaja ditembak. Katanya dia dikhianati oleh pengawal dan sekretarisnya sendiri yang ingin melenyapkan dirinya," jawab Dinar.
"Apakah kamu sudah tahu data pribadinya?" selidik Nabilla yang kembali lagi dengan kebiasaan lamanya yang paling kepo dengan kehidupan orang yang teraniaya.
"Sudah Oma."
"Kirimkan data pribadinya ke Oma! Biar kita bisa usut tuntas kasus yang menimpa pria malang itu," ucap Nabilla.
"Wehhh...! Oma...! masih tetap eksis dalam dunia kriminal. Tolong ajarin aku banyak hal Oma! Aku ingin jadi seperti Oma!" pinta Sadam putranya El.
"Iya sayang. Tapi sekarang kamu harus belajar banyak hal sebelum ingin menjadi seperti Oma," ucap Nabilla.
"Sudah Oma," jawab Sadam.
"Belum sayang."
"Apanya yang belum Oma?" protes Sadam.
"Kamu belum mengkaji setiap tafsir Alquran."
"Tapi aku sudah hafal 30 juz Alquran, Oma."
"Tapi kamu belum mengkajinya," timpal Nabilla.
"Apa hubungannya mengkaji Al-Qur'an dan mempelajari cyber crime?" tanya Aisa.
"Karena petunjuk isi langit dan bumi ini beserta permasalahan makhluk hidup di bumi ini hanya Al-Qur'an yang menjawabnya. Hanya Al-Qur'an yang mampu membuktikan secara sains dan ilmiah menjawab setiap problem kehidupan.
Sebelum bumi ini ada dan sesudah bumi ini akan Allah tenggelamkan saat kiamat nanti, semuanya sudah diceritakan lebih dahulu di dalam Al-Qur'an," jawab Nabilla membuat cucu-cucunya nampak berpikir sejenak untuk menelaah perkataan Oma mereka.
"Apakah karena Oma sering mengkaji Al-Qur'an yang membuat Oma selalu diberi petunjuk?" tanya Ghaida.
"Tentu saja. Bukankah fungsi Alquran itu adalah pedoman untuk manusia khususnya umat Islam? Kalau namanya petunjuk berarti permasalahan yang terjadi dalam hidup kita tentang apapun, cari saja dalam Al-Qur'an," ucap Nabilla.
"Tapi tidak semua orang ingin mengkaji Al-Qur'an, Oma. Bahkan mereka lebih asyik cari solusi dengan membuka tik-tok untuk mendapatkan kata-kata motivasi lalu dipasangkan ke status yang mewakili kata hati mereka sesuai mood," jawab Audrey.
"Allah memerintahkan hambaNya itu untuk membacanya, bukan? Cukup baca saja dan setelah itu biarkan Allah memberikan petunjuk kepada kita dengan cara Allah inginkan.
Entah melalui siapa saja yang Allah kehendaki. Hanya saja manusia selalu lupa jika ia sudah ditolong oleh seseorang dan mengira manusia yang menolong dan tidak mengembalikan itu kepada Allah.
Jadi, saat minta petunjuk Allah paling cepat. Giliran dapat solusi, terimakasihnya pada orang yang menolongnya bukan pada siapa yang menggiring dia pada orang yang menolongnya," jelas Nabilla membuat semua cucunya manggut-manggut.
"Nah, intinya itu jika setiap kali kita mendapatkan bantuan sekecil apapun dari Allah, sebutkan Alhamdulillah sebagai ucapan syukur kita pada Allah. Saat kita mengucapkan satu kalimat pujian kepada Allah, Allah akan langsung menambahkan kenikmatan melalui kesehatan dan kecerdasan dan rejeki apa saja," imbuh Amran.
Tanpa dikomando, semua cucunya kompak bertepuk tangan atas jawaban terakhir Amran. Padahal Nabilla yang lebih banyak memberikan kontribusinya pada mereka.
"Pantas di sayang sama rakyatnya. Ternyata opa kami ini selalu pandai bersyukur atas kenikmatan apapun. Tapi bagaimana cara Opa dapatin Oma yang sangat cantik ini?" selidik Ghazali membuat Amran tersedak..
Uhukkk....uhukkk...uhukkk...
Nabila mengulum senyumnya sambil menyerahkan air minum untuk suaminya. Amran tidak menyangka pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut cucunya.
Jika di ingat-ingat, saat mencari istri niatnya hanya untuk mendapatkan harta kakeknya bukan benar-benar niat menikah. Siapa yang sangka hasil dari keisengannya malah dapat hadiah besar dari Allah.
"Ada apa Opa? Apakah pertanyaan aku cukup sulit dijawab opa?" cecar Ghazali.
"Hussstt....! Sudah cukup pertanyaannya. Lihatlah opa jadi susah bernafas..!" tegur Nada mengamankan putranya yang ceriwis.
Drettttttt.....
Dinar mengambil ponselnya dan menjawab telepon dari rumah sakit.
"Ada apa...?" tanya Dinar seraya menjauh dari keluarganya.
"Maaf nona. Tolong segera ke rumah sakit. Tuan Evren sedang kritis," ucap salah satu petugas medis terdengar panik.
"Apaaa...?!" sentak Dinar merasa sesak seakan aliran darahnya mengalir semua ke bawah kakinya.
"Baik. Saya akan segera ke rumah sakit," ucap Dinar panik.