
Dalam sekejap para penjahat itu tumbang dengan luka tembakan kedua lengan dan sebelah paha yang tertembus peluru. Belum lagi mobil mereka yang hancur berantakan dengan lubang peluru di mana-mana.
Belum lagi pecahan kaca mobil yang sudah tidak beraturan lagi bentuknya karena rentetan tembakan yang dilepaskan Bunga barusan.
Dan anehnya, para gadis itu sama sekali tidak terkena tembakan padahal mereka berdiri disebelah para penjahat yang tadi menyandera mereka. Sepuluh orang gadis itu hanya bisa duduk di atas aspal sambil memeluk kedua lutut mereka dengan menyembunyikan wajah diantara kedua paha mereka karena syok.
Daffa yang sedari tadi menahan nafas saat melihat perburuan istrinya yang menembak para penjahat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya lemah. Dipikiran Daffa, Bunga akan menembak mati para pria dan wanita itu namun ternyata tidak.
"Bagaimana mungkin dia melakukannya dengan menembak para penjahat itu dalam keadaan gelap dan bisa memilih tempat yang ingin ia tembak dengan membabi buta?" lirih Daffa hanya bisa tertegun ditempatnya berdiri.
Antara heran dan kagum pada ibu dari dua putranya ini. Daffa menghampiri Bunga yang mendekati para penjahat itu yang sudah tergeletak di atas aspal dengan bau amis darah yang mengalir di antara kedua lengan dan satu paha mereka.
"Berdiri...! berdiri...!" titah Bunga dengan bentakan keras membuat para penjahat itu hanya bisa mengerang kesakitan karena tidak bisa bangun.
"Maaf nyonya. Kami tidak bisa bangun...hiks ...hiks!" jawab salah satu dari penjahat itu.
"Apa kalian tidak bisa berdiri? Mau aku tembak lagi? Bagian mana yang harus aku tembak? Apa bagian ini?" tanya Bunga mengarahkan pistolnya pada bagian yang merupakan benda pusaka milik sang bos yang tadi terlihat angkuh pada Bunga.
"Ampun...! Jangan. Jangan tembak itunya hiks.. .hiks ..mommy..!" tangis sang bos sambil memanggil ibunya membuat Bunga ingin ngakak.
"Oh...cup...cup..cup..sayang..! Masih jadi anak mommy, ya? Kok anak mommy pintar bercinta?" ledek Bunga menarik kerah baju sang bos itu untuk berdiri.
"Hei kalian perempuan-perempuan! Lucuti baju dan celana panjang mereka semua dan sisakan boxer mereka!" titah Bunga pada para gadis itu yang hanya bisa mengangguk ketakutan.
"I...iya nyonya!"
Para gadis itu menuruti perintah Bunga dan mulai menanggalkan pakaian para lelaki yang tadi melecehkan mereka.
"Jangan membuat mereka telanjang. Tetap jaga kehormatan mereka! Dan siapa diantara kalian yang bisa bawa mobil?" tanya Bunga.
"Sa..saya bisa nyonya!" ucap salah satu gadis itu.
"Tunggu. Bagaimana bisa kalian dibawa oleh para bandit ini?" selidik Bunga.
"Awalnya kami adalah pacar mereka."
"Apakah kalian ini saudara, teman atau bagaimana?" tanya Bunga.
"Kami baru saja kuliah semester dua dan kami satu kelas. Kami kenal mereka di salah satu tempat pesta ulang tahun kekasihnya teman kami si bos itu, nyonya.
Awalnya baik-baik saja hingga mereka bilang mau antar kami pulang ke kost dan ternyata kami di bawa kearah yang berlawanan dengan tempat kost kami," ujar gadis yang lainnya.
"Jadi kesimpulannya kalian ini tergila-gila pada mereka hanya karena mereka tampan dan anak orang kaya?" tanya Bunga.
"Iya nyonya," jawab mereka kompak.
"Biarkan mereka kedinginan di sini dan kalian pulanglah dengan mobil yang paling belakang sana. Dan lain kali, jangan mudah tergiur pada rayuan maut lelaki yang memiliki tampang pecundang seperti ini.
Saya yakin kalian masih perawan hingga kalian ketakutan dibawa pergi oleh mereka, iya nggak?" tanya sambil Bunga menggiring kesepuluh gadis cantik itu ke mobil paling belakang karena masih lumayan bagus untuk ditumpangi oleh para gadis itu.
"Iya nyonya."
Mereka duduk berdesakkan di dalam mobil itu lalu mengucapkan sesuatu pada Bunga yang tidak mau membuka helmnya.
"Baguslah. Jaga dirimu Dewinta..! Ingatlah ibumu adalah kepala daerah di tempat asalmu yang harus menjaga reputasinya," ucap Bunga membuat Dewinta panik karena Bunga bisa mengetahui asal-usul dirinya.
"Ya Allah. Kenapa nyonya ini tahu semua. Dia ini mahluk apaan?" batin Dewinta ketakutan sendiri lalu buru-buru meninggalkan tempat itu setelah menyalakan mesin mobil itu.
Bunga menghampiri lagi para penjahat yang hanya bisa berdiri telanjang ditemanin Daffa.
"Bagaimana rasanya? Enak...? Bagaimana kalau ibu atau saudara kalian diperlakukan sama dengan kalian lakukan pada para gadis itu? Apakah kalian akan bangga, hah?!" bentak Bunga lagi membuat mereka hanya bisa menggeleng ketakutan.
"Masih mau melakukannya lagi setelah luka-luka kalian ini sembuh?" tanya Bunga.
"Ampun nyonya! Kami janji tidak akan melakukannya lagi. Tidak akan...!" ucap salah satu penjahat itu sambil menangis dengan wajah yang sudah terlihat pucat dan tubuh kedinginan.
"Baiklah. Aku pegang kata-kata kalian. Aku akan terus memantau pergerakan kalian di manapun kalian berada. Jika kalian melakukan lagi hal yang sama, maka bukan penjara tempat kalian berada tapi kuburan yang akan saya kirim kalian ke sana.
Biar disiksa sekalian sama malaikat penjaga kubur!" ancam Bunga walaupun Bunga tahu ada yang beragama lain diantara para penjahat itu.
"Apakah mereka dibiarkan berdiri saja di luar sini sayang?" tanya Daffa.
"Biarkan saja mereka berdiri seperti ini supaya ada yang melihat dan menolong mereka! Ayo kita pulang..! Entar lagi azan subuh," ajak Bunga sambil melihat waktu di helmnya yang dirancang seperti komputer kecil.
Daffa mengambil motor yang diparkir tidak jauh dari tempat penjahat itu berdiri. Sesaat kemudian, dia sudah menghampiri istrinya yang masih menceramahi para pemuda berandalan yang sudah menjadi bibit-bibit penjahat.
"Ingat ...! Apa yang aku katakan tadi...! Jika kalian masih berulah, tempat kalian di mana?" tanya Bunga.
"Kuburan." Kompak mereka.
"Bagus. Jaga kema** luan kalian! Dan manfaatkan itu dengan benar pada istri-istri kalian suatu saat nanti. Dengan begitu, kalian akan mendapatkan keturunan yang berilmu dan berakhlak mulia. Jadilah orang hebat sama seperti kedua orangtua kalian.
Jika tidak untuk kalian, setidaknya lakukan demi mereka yang telah bersusah payah mendapatkan posisi jabatan yang selama ini mereka raih penuh dengan perjuangan. Masa kalian tega mencoreng nama baik mereka dengan kelakuan bejat kalian," nasehat Bunga sudah seperti ustadzah kondang.
"Iya nyonya. Kami janji padamu dan pada diri kami sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. Kami benar-benar kapok..!" ucap salah satu dari mereka yang tersentuh juga dengan nasehatnya Bunga.
"Makanya, berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan ikut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu lemah kalau kita berani berkata tidak. Eh, aku ..sudah seperti iklan korupsi. Ya, begitu deh kalau mau jadi manusia mulia di sisi Allah.
Apa yang mau kalian banggakan setelah melakukan kejahatan? Walaupun tidak ada yang melihat rencana jahat kalian atau perbuatan kalian yang terkutuk itu, pasti setelah berbuat kejahatan, hati kalian akan menyesal, pasti itu. Hanya saja kalian selalu mengabaikan jika perasaan menyesal atau merasa bersalah menghantui pikiran kalian. Iya tidak...?" tegas Bunga.
"Iya nyonya. Itu benar. Pagi ini kami sudah menerima hukuman kami karena sudah berulang kali melakukan hal yang sama."
"Betul itu. Berzina itu tidak ada nikmatnya sama sekali. Beda sama orang yang sudah menikah. Ini kata Al-Qur'an bukan kata saya. Dan Allah selalu menyibak aib kita jika kita sudah melakukannya berkali-kali. Makanya diperlihatkan kepada dunia kebejatan kalian. Mau adegan tadi saya kirim ke head line news hari ini?" ancam Bunga.
"Jangan nyonya...! Cukup. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi!"
"Kalau ditanya polisi. Katakan sejujurnya. Jika kalian bohong aku sendiri yang membongkar kejahatan kalian!" ancam Bunga sebelum meninggalkan tempat itu.
"Ok. Selamat tinggal...! Semoga kalian berubah ya ..! Assalamualaikum!" Bunga segera naik di atas motor dan memeluk suaminya. Mereka langsung cabut meninggalkan para penjahat itu yang langsung menangis tersedu-sedu.
......................
Vote dan likenya cinta please!