Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
240. Ratu Iblis


Kedua tangannya diseret paksa masuk ke dalam mobil hingga menjadi pusat perhatian para penghuni penginapan. Jika polisi itu tahu siapa gadis ini yang mereka tangkap mungkin mereka tidak akan memperlakukan Tamara dengan kasar.


Tamara nampak pasrah saat berada di dalam mobil polisi. Ia memang mengakui kalau ia telah membunuh penjahat yang tadi pagi yang hampir melecehkan dirinya. Keberadaan Tamara bisa dilacak karena dia membawa ponsel penjahat yang ada GPS-nya.


"Apakah aku salah kalau aku berusaha membela diri dari pria idiot itu? Bahkan sampai matipun aku tidak akan menyesali perbuatanku karena telah membunuhnya," batin Tamara menahan geram.


Tapi, ada yang aneh dengan kedua polisi yang duduk di sampingnya ini. Mereka bahkan melewati kantor polisi begitu saja. Merasa ada yang tidak beres dengan penangkapan ini. Tamara mulai waspada. Ia berharap jika rombongan El dan keluarganya mengetahui keberadaannya karena jam tangan masih ada dipergelangan tangannya.


"Mereka ini polisi gadungan atau bagaimana?" batin Tamara terus menerus berdoa untuk keselamatannya.


Tidak lama kemudian mobil polisi itu berhenti di salah satu ujung jalan tepat di jalan perempatan yang terbagi atas masing-masing 4 wilayah. Jalanan itu cukup sepi membuat hati Tamara mulai dilanda cemas.


"Ya Allah. Lindungi jiwa dan ragaku dari tangan-tangan orang jahat," desis Tamara dalam doanya.


Jika ia bisa memilih, ia lebih memilih dimasukkan ke dalam bagasi mobil agar dia bisa berkomunikasi dengan El daripada di dalam mobil bersama kedua polisi gadungan itu. Mobil berhenti. Tamara melihat ada lima mobil yang berbaris rapi di ujung jalan perempatan itu.


Mobil-mobil itu terlihat sangat mewah. Berarti yang menumpangi mobil itu bukan orang sembarangan. Itu yang ada dalam pikiran Tamara.


"Turun...!" Tamara turun dengan kedua tangannya di borgol di depan tubuhnya.


Lengannya di cengkram kuat lalu di dorong ke depan di mana salah satu pintu mobil itu di buka oleh pengawal. Mobil itu berada di tengah 5 mobil itu berada. Wajah bingung Tamara yang belum tahu motif penculikannya yang dilakukan oleh siapa dan untuk apa menjadi jawabannya yang akan dia dapatkan di sini.


"Masuk...!" titah polisi itu pada Tamara yang menurut saja tanpa ingin berontak. Tamara tampak terkejut melihat ada wanita lain yang ada di dalam mobil itu.


"Selamat datang Tamara...! Kita bertemu lagi..!" ucap Zainab yang membuat Tamara belum mengerti akan semua ini.


"Siapa kau ...?" tanya Tamara kasar.


"Aku....? Apakah kamu tidak mengenalku? Aku adalah ratu di negeri Arab ini," ucap Zainab terlihat arogan.


Tamara mulai mengerti bahwa wanita ini pasti salah satu istrinya Ammar.


"Ratu Zainab?" lirih Tamara membuat Zainab terkekeh.


"Kau bisa mengenaliku?" tanya Zainab terdengar angkuh.


"Tentu saja aku sangat mengenalmu. Bukankah kau adalah Ratu iblis di negeri ini?" ledek Tamara memancing emosi Zainab hingga wanita ini menarik jilbab panjang Tamara di bagian samping dekat kupingnya.


"Dasar gadis sialan..!" hari ini aku ingin melenyapkanmu agar tidak ada pernikahan antara kau dan suamiku karena posisi ratu di kerajaan negara ini dan di hati suamiku hanya ada aku, aku seorang," bangga Zainab membuat Tamara ingin meludahi wajah wanita yang ada dihadapannya ini jika tidak mengingat mereka mengenakan cadar.


"Cih....! Kau kira aku akan sudi menikah dengan si tua bangka Ammar itu? Aku bahkan ingin kabur menyelamatkan diriku agar terbebas dari pernikahan bodoh itu," kilah Tamara.


Zainab melepaskan cengkeramannya dengan kasar dari kepala Tamara yang merasa sangat kesakitan karena rambutnya ikut direnggut oleh Zainab.


Ke lima mobil mewah itu berjalan cukup stabil melewati jalan sepi yang kembali dihadapkan dengan gurun batu yang akan membawa mereka ke gurun pasir.


"Kau mengatai suamiku tua bangka? , tapi kau tidak tahu bagaimana rasanya jika dia bisa membuatmu kecanduan di atas ranjang dengan setiap sentuhan dan permainannya yang nakal bisa meluluhkan kerasnya hati seorang wanita sepertimu," ucap Zainab bangga dengan permainan panas suaminya.


"Itu kamu, bukan aku ...!" sarkas Tamara yang tidak ingin mendengar kebanggaan Zainab yang membuatnya merasa jijik.


"Pangeran adalah milikku. Aku tidak akan berbagi kesenangan itu dengan wanita penggoda sepertimu. Jika aku tidak membunuhmu hari ini, maka pernikahan kalian akan berlangsung sebulan lagi.


"Oh...! jadi karena kesenangan itu kamu rela menculik dan membunuhku...?" tanya Tamara sambil terkekeh.


Emosi Zainab kembali terpancing hingga ia menampar wajah Tamara yang langsung terdorong ke samping.


Bersamaan dengan itu, dua helikopter melaju kencang dari atas sana mengikuti kecepatan mobil entah mengarah ke arah mana.


Mendengar suara bisingan helikopter membuat Tamara mendongakkan wajahnya ke atas melihat dua helikopter yang merupakan milik El.


Tamara tersenyum.


"Siapa mereka...? Bagaimana helikopter itu bisa mengikuti kita?" panik Zainab.


"Sepertinya helikopter itu sengaja mengikuti mobil kita yang mulia putri," ucap pengawal putri Zainab.


Belum juga keterkejutan mereka hilang, terlihat El sedang turun dengan tali dari helikopter itu dengan pengamanan yang aman di tubuhnya.


"El... sayang...!" pekik Tamara kegirangan setelah melihat dua helikopter itu bisa menemukannya.


"Percepat lagi laju mobilnya. ...!" titah Zainab yang tidak mau tindakannya yang telah menculik Tamara ketahuan oleh kerajaan.


"Baik princess..!" ucap sang sopir.


"Tembak mereka...!" titah Zainab pada keempat mobil lainnya yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi melalui ponselnya.


Sebelum anak buahnya Zainab melepaskan tembakan ke arah helikopter yang terbang merendah, dari atas sana, Nabilla dan Amran sudah lebih dulu menembak mobil pengawalnya Zainab dengan bazoka portabel yang langsung terguling di atas aspal hingga terpental jauh lalu meledak seketika membuat Zainab kalap.


Zainab menarik jilbabnya Tamara lalu menanyakan pada Tamara penuh amarah.


"Siapa mereka? Bagaimana mereka tahu kau ada dalam mobil ini?" pekik Zainab mencaritahu apa yang di sembunyikan oleh Tamara.


Ia menebak kalau itu adalah kalung yang di pakai Tamara yang ada penyadapnya. Ia membalikkan tubuh Tamara hingga membelakanginya untuk membuka kalung Tamara. Tamara yang tidak ingin apapun yang dimilikinya diambil oleh Zainab mencoba untuk melawan wanita itu.


Ia menggunakan kepalanya untuk menghentakkan wajah Zainab dengan kencang membuat tulang hidung Zainab yang mancung itu terasa retak.


"Augkkkk.... sialll!" Zainab memegang hidungnya yang langsung mengeluarkan darah.


Sementara El sudah menjatuhkan tubuhnya di atas kap depan mobil yang membawa Tamara itu. Karena pandangannya teralihkan oleh tubuh El membuat sopir menyetir mobil itu secara zig-zag.


Satu pengawal yang duduk di sebelah sang sopir menurunkan kaca mobil untuk menembak El rummi yang setengah badannya tiarap di atas kaca mobil.


Zainab menyerang lagi Tamara yang sudah terdesak hingga pintu mobil itu terbuka. Melihat pintu mobil terbuka Zainab ingin menendang tubuh Tamara keluar dari mobilnya namun Tamara berusaha kuat menahan dirinya agar tidak jatuh terlempar keluar dengan berpegangan pada seat belt.


Mobil itu melaju makin kencang dan tak terkendali. Sementara setengah badan Tamara sudah keluar dari batas pintu mobil. Zainab naik ke tubuh Tamara dengan mencekik leher Tamara yang berusaha masuk lagi ke dalam mobilnya.


"Kau akan segera mati ditanganku gadis jala**Ng...!" pekik Zainab yang sudah kerasukan setan karena cemburu.


Tamara merasa posisinya kembali terdesak dengan nafas yang mulai menipis.