Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
279. Penyamaran Presiden


Memasuki liburan, kelurga besar Amran berlibur ke Amerika. Para cucu Amran ini ingin berkenalan dengan Molly binatang peliharaannya si kembar Ghaida dan Ghazali. Hanya Amran dan Nabilla saja yang tidak bisa menemani keluarganya untuk berlibur di Amerika.


Kali ini mereka benar-benar fokus pada urusan negara yang harus berkunjung dari negara satu ke negara lain atau mengunjungi kota-kota yang ada di dalam negeri.


Suasana liburan kali ini adalah liburan yang bertepatan dengan perayaan Natal di mana musim salju menjadi tempat tujuan cucu Amran ada di Indonesia. Apa lagi kali ini Syakira baru pertama kali kembali lagi ke negaranya setelah melahirkan baby kembar tiganya.


Nama dari anaknya Adam yaitu, Zea Mahalini, Zacky Akbar dan Mohammad Zacklin. Mereka juga akan menginap di opa Darwis dan beralih ke Italia. Pokoknya liburan ini akan mereka isi dengan petualangan seru bagi yang sudah beranjak besar seperti putra kembarnya Bunga, Cintami dan Nada. Sedangkan anak kembarnya Adam baru berusia dua tahun dan El berusia satu tahun.


"Molly. Saudara sepupu kami akan berlibur di rumah kita. Tolong kamu jangan nakal ya karena sebentar lagi mereka akan tiba..!" pinta Ghazali.


"Iya besti." Molly mengangguk senang.


"Kita juga akan berkunjung ke Itali, rumah opa Luciano. Apakah kamu ingin ikut?" tawar Ghaida. Lagi-lagi molly mengangguk senang.


"Tapi, kami akan berpetualang ke pulau Kirrin karena di sana ada mercusuar yang sudah tak terpakai," jelas Ghazali yang sudah berusia 4 tahun itu.


"Emangnya kedua orangtuamu mengizinkan kalian untuk berlibur ke sana? Tinggi kalian saja masih setinggi betis orang dewasa," heran Molly.


"Assalamualaikum...!" teriak para saudara sepupu Ghaida sambil memanggil si kembar.


"Itu mereka, Molly. Ayo kita sambut mereka...!" ajak Ghaida yang sudah berlari ke depan.


Suasana berubah menjadi seru. Mereka saling berpelukan satu sama lain.


"Lho..! Mana Tante Syakira dan uncle Adam?" tanya Ghaida sambil mengamati ke depan.


"Tante Syakira langsung ke rumahnya. Nanti baru main ke sini," ucap Dinar.


"Terus kak Raffi dan Raffa?" tanya Ghaida lagi.


"Tentu saja ke rumah Oma Cyra. Mereka langsung ke California karena di jemput langsung oleh opa Darwis. Hanya kami saja yang tidak punya saudara bule di sini, selain kalian," seloroh Hanif cekikikan sendiri.


"Oh iya...! Itu Molly..!" Ghaida menarik tangan Dinar untuk berkenalan dengan Molly.


"Hai Molly. Akhirnya kita bertemu," ucap Dinar seraya memeluk Molly diikuti Audrey, Hanan dan Hanif.


"Anak-anak. Ayo kita makan dulu. Tante sudah siapkan makanan kesukaan kalian," ajak Nada yang sibuk menghidangkan makanan hangat di atas meja makan dibantu dengan pelayannya.


"Kita hanya berenam. Harusnya Raffa dan Raffi ke sini," kesal Ghazali yang belum sempat bertemu dengan saudara sepupu kembarnya itu.


"Mereka hanya dua hari di sana. Nanti akan bergabung lagi dengan kita. Habis makan kita main manusia salju ya!" pinta Hanan.


"Baiklah. Kita berenam juga tidak kala seru," ujar Hanif.


"Raffa dan Raffi hanya menghargai undangan makan bersama oma dan opanya yang sedang merayakan Natal. Jadi, kita harus memberikan mereka kesempatan untuk berkumpul dengan Oma dan opa nya," ucap Ghaishan.


"Oh iya lupa kalau kita punya Oma dan opa yang non muslim," ucap Ghazali yang baru paham.


"Tapi setahu saya Opa Darwis itukan atheis," ucap Dinar.


"Tapi, mereka sangat senang dengan suasana Natal, jadi biarlah mereka bersenang-senang dengan saudara sepupu kalian itu," ucap Cintami.


"Iya mama."


"Ok aunty."


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sibuk bermain dengan Molly di taman belakang. Ada yang main ski dan ada juga yang membuat manusia salju.


...----------------...


Di Indonesia, Amran dan Nabilla berdua-duaan di dalam rumah mereka tanpa anak dan cucu mereka. Mereka hanya ditemani para pelayan dan pengawal rumah. Keduanya sedang melakukan sholat tahajud saat ini di pukul dua pagi.


Usai menunaikan sholat tahajud, Amran mengajak istrinya untuk melakukan penyamaran sebagai warga biasa untuk menelusuri jalanan ibu kota. Keduanya ingin memastikan keamanan dan kenyamanan ibu kota saat ini.


"Apakah kamu sudah siap, sayang?" tanya Amran pada Nabilla yang sedang mengenakan pakaian abaya hitam yang sangat sederhana. Karena mereka akan naik motor matic.


"Sudah. Ayo kita berangkat..!" ajak Nabilla langsung duduk di belakang Amran yang saat ini mengenakan jaket hitam, masker dan topi di tutup lagi dengan helm agar tidak mudah di kenali.


Dua orang pengawal kepresidenan mengikuti dari jauh. Padahal, Nabilla sudah meminta keduanya tidak perlu ikut namun mereka tidak mau menyalahi prosedur.


Di jalanan ibu kota, keduanya melihat masih ada pemulung sampah yang membawa karung dan ada lagi pengemis dan tuna wisma yang tidur di emperan toko dengan selembar kardus lapuk untuk alas tidur.


Amran menepikan motornya lalu menarik nafas panjang.


"Sebaiknya kita tanyakan alasan bapak pemulung itu," ucap Nabilla yang sudah turun ingin menghentikan pemulung itu dengan berpura-pura menanyakan alamat.


"Permisi pak...!" sapa Nabilla santun.


"iya Bu."


"Mau tanya alamat pak, bapak tahu komplek perumahan Permata Hijau?" tanya Nabilla.


"Itu jauh dari sini ibu. Sebaiknya ibu putar arah lagi," ucap pemulung itu.


"Terimakasih pak. Maaf, apakah bapak sedang memulung?" tanya Nabilla.


"Iya Bu. Ini sudah kerjaan saya sehari-hari."


"Kenapa tidak buka usaha saja pak?" tanya Nabilla.


"Usaha apa bu? Semuanya harus butuh modal. Dan saya tidak punya modal untuk itu."


"Emangnya tidak ada bagian RT atau RW yang mendata untuk diberikan modal usaha dari bapak presiden? Saya dapat lho pak," tanya Nabilla pura-pura antusias.


"Saya bukan warga asli Jakarta atau domisili di sini dengan surat-surat lengkap. Saya dan keluarga saya hidup dibawah kolong jembatan bu, bagaimana saya mendapatkan hak itu," ungkap pemulung itu apa adanya membuat Amran sangat malu.


"Bapak tinggal di jembatan mana?" tanya Nabilla lagi.


"Sebenarnya sih, kami hidup berpindah-pindah karena takut di usir oleh satpol PP. Jadi tidak bisa menetap juga."


"Kenapa tidak pulang kampung saja?" tanya Nabilla.


"Jaman dulu, saat saya masih kecil orangtua saya membawa kami merantau ke Jakarta dengan menjual semua apa yang kami punya di kampung. Dulu punya rumah bedeng tapi kena penggusuran. Sekarang bingung mau pulang ke mana. Bertahan untuk bisa hidup saja sudah bersyukur."


"Kalau kembali lagi ke kampung, mau tidak pak?" Tanya Nabilla.


"Semuanya butuh biaya untuk pulang dan apa yang bisa saya kerjakan dikampung dengan uang seadanya?"


"Tidak usah kuatir pak. Nanti anak buah saya yang akan mengurus bapak dan kelurga bapak. Yang penting bapak mau balik lagi ke kampung saja, itu sudah sangat membantu daripada hidup di terlunta-lunta di kota Jakarta," ucap Nabilla lalu pamit kepada bapak itu setelah di datangi pengawalnya untuk mendata keberadaan bapak pemulung itu.


"Maaf pak. Emangnya siapa ibu itu? Kenapa dia meminta bapak untuk mendata saya? Apakah dia orang yang sangat kaya?" tanya sang pemulung.


"Bapak baru saja bicara dengan ibu negara ini. Dan yang di motor itu adalah bapak presiden Amran," ucap pengawal.


"Apaaa....?" mata pemulung itu berkaca-kaca." Jadi saya baru saja bicara langsung dengan ibu negara?" tanya pemulung itu antara percaya dan tidak.


"Iya benar pak. Sekarang bapak harus bersiap-siap untuk di antar kembali ke kampung. Bersiaplah pak, hari ini kami akan menjemput bapak. Jangan ke mana-mana lagi. Bapak sudah masuk dalam data presiden," ucap pengawal.


Kini Amran dan Nabilla meneruskan perjalanan mereka. Tibalah keduanya di area pasar induk. Amran dan Nabilla ingin sekalian belanja untuk kebutuhan dapur karena hari ini hari libur mereka walaupun hanya dua jam berada di rumah pribadi sebelum masuk pukul 10 pagi untuk kembali bekerja di istana dan siap melakukan kunjungan ke berbagai negara.


Nabilla sibuk menanyakan harga ikan, daging sapi dan ayam. Hampir semua jenis sayuran mulai dari harga cabai, bawang dan rempah lainnya yang menjadi bahan komoditi pertanian.


"Apakah kalian tidak rugi dengan harga jual seperti ini?" tanya Nabilla.


"Tidak Bu. Sejak ganti presiden, pedagang seperti kami sangat tertolong. Dagangan kami tidak sepi lagi karena banyak masyarakat yang tidak mengeluh dengan harga bahan pokok yang sudah ditetapkan oleh pemerintah," ucap salah satu pedagang.


"Apakah masih ada keluhan yang ingin kalian sampaikan kepada bapak presiden?" tanya Nabilla.


"Apa lagi yang harus kami keluhkan, bu kalau memiliki presiden seperti bapak Amran."


"Ada Bu," ucap pedagang yang sebelahnya.


"Apa pak?" tanya Nabilla.


"Ingin bersalaman dengan beliau. Ingin melihat langsung wajah beliau. Hatinya sangat mulia," ucap bapak itu haru membuat Amran yang berdiri disebelah istrinya bergetar hatinya.


"Bapak presiden itu adalah manusia biasa dan bukanlah dewa. Jadi, jangan terlalu menyanjungnya atas apa yang dilakukannya untuk negara ini," ucap Nabilla.


"Emang kenapa Bu? Apakah kami salah mengagumi sosok beliau?" tanya pedagang yang ada di depannya.


"Kalian hanya membuat pahala bapak presiden gugur begitu saja karena pujian kalian yang berlebihan. Karena pujian itu pantasnya untuk Allah, bukan untuk bapak presiden. Jadi, kalau suatu saat nanti bertemu dengan beliau, jangan memujinya kalau kalian sayang pada bapak presiden..!" ucap Nabilla.


"Tapi ibu ini siapa ya? Kenapa menasehati kami seakan ibu ini orang dekatnya presiden?" tanya pedagang itu yang sudah mulai curiga dengan Nabilla dan Amran.


Deggggg....