Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
287. Princess Tamara


Wajah pucat Nada makin pias saat melihat penjahat mafia yang di kejarnya dengan tega menembak mesin kereta api agar kereta itu tidak bisa di kendalikan dan tidak akan berhenti.


"Mari kita mati bersama, nona..!" seringai licik Tuan Middleton terlihat puas karena tidak ingin tertangkap untuk diadili sebagai penjahat kelas internasional.


"Matilah kau sendiri, bajingan!" maki Nada yang langsung menendang dan melayangkan tinjunya ke arah dua orang mafia itu hingga mereka jatuh tersungkur dengan sudut bibir berdarah.


Ketika ingin menembak Nada, ibu dua anak ini memukul tangan penjahat itu hingga pistol di genggaman mereka terlepas. Nada pelintir kedua tangan mereka membuat keduanya menjerit kesakitan.


Keduanya sudah tidak bisa berkutik ketika Nada borgol tangan mereka. Nada perintahkan masinis untuk mengawasi keduanya. Dan kini ia harus melihat keadaan mesin kereta api di mana bagian remnya tidak bisa digunakan.


"Apa yang kita bisa lakukan selain rem otomatis pak?" tanya Nada berusaha tenang.


"Gunakan saja rem manual walaupun resikonya tubuh kita bisa terpental saat kereta berhenti secara mendadak," ucap masinis.


"Tidak apa, resiko itu jauh lebih kecil ketimbang kereta ini terus berputar dan akan bertabrakan dengan kereta lain walaupun saat ini sudah di himbau oleh pihak terkait agar kereta lain tidak melintasi jalur rel yang kita lewati agar tidak terjadi tabrakan," ucap Nada.


"Baiklah nona. Biar saya saja yang melakukannya. Nona urus saja para penjahat ini..!" ucap sang masinis.


"Baik pak."


Nada mundur dan melakukan sesuatu agar kereta tidak akan terjungkal saat berhenti mendadak mengingat penumpang di dalamnya lumayan banyak. Nada tidak ingin mereka terluka sedikitpun.


"Apakah anda sudah siap, nona?" tanya masinis siap menarik tuas rem.


"Lakukan pak! Saya tidak apa," ucap Nada dalam sikap waspada.


Tarikan rem manual dilakukan secara perlahan oleh masinis. Nada menahan para penumpang dan penjahat dengan kekuatannya agar tubuh mereka tidak terpental. Namun sayang mereka berhenti sebelum memasuki stasiun berikutnya.


"Apakah kereta kita masih jauh dengan stasiun pemberhentian berikutnya pak?" tanya Nada cemas.


"Sekitar dua kilometer lagi. Nanti akan dikirim mesin lokomotif lain untuk menarik gerbong kereta kita," ucap masinis menghibur Nada dan penumpangnya.


Mereka menarik nafas lega. Tidak lama kemudian, gerbong mesin lokomotif lain sedang datang menjemput kereta tersebut agar bisa dievakuasi secepatnya. Para polisi dan tenaga medis menjemput para penumpang yang terlihat sangat syok dengan kejadian itu. Walaupun mereka tidak terluka namun mental mereka perlu diobati juga agar tidak meninggalkan trauma.


Ghaishan yang sedang menunggu istrinya berusaha mencari ke sana ke mari. Direktur kereta dan menteri terkait menyampaikan rasa terimakasih mereka pada Nada yang sudah membantu negara mengatasi kereta yang dijadikan sandera oleh para penjahat.


"Terimakasih nona Nada atas bantuannya karena sudah menyelamatkan para penumpang kereta. Pasti bapak presiden Amran sangat bangga memiliki putri pemberani sepertimu!" puji sang menteri yang sangat mengenal Amran.


"Sudah kewajiban saya untuk menyelamatkan mereka karena misi kami yang mengorbankan nyawa para penumpang," segan Nada.


"Itu sudah resiko dari bagian pekerjaan. Baiklah. Tolong sampaikan salam hormatku untuk bapak presiden dan ibu negara," ucap bapak menteri perhubungan Jepang lalu meninggalkan Nada dan anak buahnya di stasiun kereta. Beliau melanjutkan tugasnya yang lain.


"Siap tuan!" Nada menunduk hormat ala Jepang untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.


"Nada ..!" pekik Ghaishan begitu melihat istrinya.


Nada pamit pada masinis kereta dan ia segera menyambut suaminya yang sudah menjemputnya.


"Alhamdulillah. Kamu tidak apa sayang?" tanya Ghaishan memastikan keadaan istrinya dengan memeriksa tubuh Nada.


"Aku hanya lapar, hubby," ucap Nada.


"Baiklah. Kita akan sarapan di hotel. Kita harus istirahat karena misi kita sudah berhasil. Penjahat yang lain sudah di ringkus oleh tim kita," ucap Ghaishan lega.


"Aku kangen anak-anak," ucap Nada terlihat lelah.


"Setelah istirahat kita kembali ke Amerika. Kak Bunga dan kak Adam juga mau ke Amerika. Kak Cintami langsung pulang ke Jakarta dan El langsung terbang ke Bahrain untuk menjemput anak dan istrinya," imbuh Ghaishan.


"Baiklah." Nada terlihat tidak bersemangat dan sangat pucat.


"Panggil saja dokternya ke hotel...! Aku malas ke rumah sakit," ucap Nada masuk ke dalam mobil dan memilih tidur karena tubuhnya rasanya mau remuk karena ia mengeluarkan kekuatannya terlalu berlebihan.


"Baik sayang. Kita sarapan di kamar saja," ucap Ghaishan mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di hotel.


...----------------...


Bahrain. Tamara sedang memandikan ketiga bayinya yang kini tumbuh sangat menggemaskan. Ketiganya tumbuh sehat dan sekarang sedang belajar duduk.


"Mi...! Abi...?" tanya Sadam karena sudah lama tidak melihat ayahnya.


"Abi...?" ulang Tamara dan si kembar tiga mengangguk dengan wajah lucunya." Sebentar lagi Abi pulang," jawab Tamara.


"Assalamualaikum...!" ucap El lembut membuat ketiga bayinya langsung menengok ke arah pintu begitu mendengar suara ayah mereka.


Ketiganya berlomba merangkak menuju El yang sengaja berdiri di depan pintu kamar sambil tertawa riang melihat ketiga bayinya menghampirinya seakan sedang berlomba siapa yang duluan mendapati ayah mereka.


El merentangkan kedua tangannya lebar menyambut ketiganya yang tidak jauh merangkak ke arahnya.


"Bi.........Abi...bi....!" panggil ketiganya untuk berebutan di gendong. El merangkul ketiganya dan menggendong ketiganya bersamaan.


Ketiganya cekikikan saat El mencium pipi mereka dengan gemas. Sebagai balasannya, El juga mendapat hadiah ciuman dari tiga bayinya di wajahnya dengan bertaburan air liur bayinya yang menciumnya sambil menjilat pipi, hidung, mata dan dahi El yang membiarkan wajahnya terdapat banyak liur bayinya.


"Anak-anak Abi, lagi kangen ya sama Abi?" tanya El yang tidak lupa mencium bibir Tamara yang harus mengalah karena bukan orang pertama yang dipeluk suaminya.


Ketiga bayinya mengangguk membenarkan pertanyaan ayah mereka.


"Bagianmu nanti, ya sayang. Aku sangat merindukanmu dan ingin bercinta denganmu," ucap El membuat wajah Tamara merona merah.


"Cinta...?" ulang ketiga bayinya dari bercinta menjadi kata cinta membuat Tamara dan El terkekeh.


"Hati-hati mengucapkan kalimat vulgar di depan anak-anak sayang karena mereka adalah peniru yang hebat," ucap Tamara.


"Bi...ati-ati...hmm!" ucap Aisa sok menasehati ayahnya.


"Jangan ngomong lagi.. Mereka terus meniru ucapan kita," tegas Tamara.


Ketiganya di baringkan ke atas tempat tidur dan El ikut berbaring. Dua bayi perempuannya tidur di kiri kanan lengan ayahnya sebagai bantal mereka sementara Sadam duduk di atas perut ayahnya sambil berceloteh tidak jelas.


Seakan ingin meluapkan perasaan mereka pada sang ayah namun tidak satu katapun yang El mengerti ucapan bayinya. El hanya mengangguk dan mendengarkan ketiganya saling berebutan mengoceh.


Kerena ayahnya tidak menanggapi ucapan mereka, Sadam menampar pipi ayahnya kesal membuat El kaget.


"Lho...! Kenapa Abi dipukul?" tanya El meringis kesakitan.


"Dari tadi kami cerita kenapa Abi hanya mengangguk dan tertawa," protes Sadam dengan celoteh tidak jelas dan wajahnya memerah.


Baby Aisa mengambil ponsel Tamara yang tidak jauh dari jangkauannya. Gadis ini lebih cerdik. Ia menulis setiap kata di ponsel itu menyampaikan perasaan mereka bertiga untuk El.


"Abi ke mana saja? Kami begitu lama menunggu Abi. Tahukan Abi kalau kami sangat kangen sama, Abi? Tolong jangan pergi lagi..! Jika Abi pergi, bawa kami ikut serta karena kami tidak mau jauh dari Abi," tulis baby Aisa dan menyerahkan kepada El dan meminta ayahnya membacanya.


Awalnya El mengira bayi perempuannya itu sedang menunjukkan gambar atau game di ponselnya Tamara, namun sekilas kemudian ia nampak tertegun saat membaca setiap barisan kalimat yang diketik putrinya sangat apik bahasanya.


"Tamara. Lihat ini!" pinta El seraya menyerahkan ponsel itu ke Tamara yang meraihnya dan ikut membacanya dengan rasa takjub.


"Masya Allah. Baby Aisa bisa mengetik kalimat demi kalimat...?" pekik Tamara yang tidak menyangka bayinya mulai menunjukkan tingkat kejeniusan mereka.


Tamara mencium ketiga buah hatinya secara bergantian begitu pula dengan El yang begitu bangga pada ketiganya yang mewarisi kejeniusannya dan juga Tamara yang tidak kalah jenius.