
Amran tersenyum kecut mendengar ucapan raja Farouk yang terdengar sangat mustahil untuk dirinya yang sedikitpun tidak berminat terjun di dunia politik. Dunia yang penuh dengan kebohongan, kumpulan orang munafik dan penjilat. Itu yang ada dipikiran Amran saat ini.
"Bagaimana menurutmu besan? Aku rasa tuan sudah memenuhi kriteria seorang pemimpin besar," lanjut raja Farouk membakar semangat seorang Amran yang tidak memiliki ambisi untuk merebut kekuasaan.
"Tidak yang mulia. Untuk membantu manusia di muka bumi ini terutama negaraku tidak harus menjadi seorang presiden. Banyak sekali para pemimpin yang bisanya mengumbar janji, merayu rakyatnya untuk mendapatkan tahta yang penuh fitnah itu.
Membujuk mereka dengan berbagai trik agar dirinya bisa terpilih hanya dengan membeli hati rakyatnya dengan menjelma menjadi apa saja untuk menarik simpati, tapi terlihat sangat menggelikan bahkan murahan bagiku," ucap Amran membayangkan carut-marut dunia politik saat ini.
"Kenapa tidak mencoba tampil dengan menjadi dirimu sendiri dan tidak perlu mengenakan topeng untuk menarik minat rakyat," ucap raja Farouk.
"Seorang pemimpin sangat berat tanggung jawabnya. Terutama di hadapan Allah jika dia tidak termasuk pemimpin yang adil. Siksaannya lebih berat daripada manusia lainnya bahkan lebih dulu mendapatkan hisab dari Allah sebelum manusia lainnya," ucap Amran sambil bergidik membayangkan siksaan neraka untuk seorang Umaro.
"Bukankah Allah juga berjanji surga untuk pemimpin yang adil," ucap tuan Luciano.
"Aku yakin kamu tidak seperti itu," tutur raja Farouk meyakinkan besannya itu.
"Biarlah itu menjadi bagian dari rencana Allah untuk takdir hidupku. Yang jelas aku tidak mau melakukan apapun untuk mendapatkan jabatan menakutkan itu karena Itu musibah buatku," lanjut Amran.
"Apakah kamu ingin seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz salah satu keturunan Khalifa Umar bin Khattab? Yang secara garis keturunan dia tidak bisa menjadi seorang pemimpin Madinah kala itu karena dia bukan keturunan raja, tapi Allah selipkan dirinya menjadi seorang pemimpin yang sangat adil saat itu. Saking adilnya ia memimpin negaranya saat itu hingga serigala dan domba menjadi teman akrab padahal sebelumnya saling bermusuhan," ucap Raja Farouk.
"Seorang peternak domba melihat dombanya di makan lagi oleh serigala membuat ia mengetahui pemimpin mereka yang adil itu sudah meninggal karena jaman dulu tidak ada media apapun untuk mengetahui kota satu dengan kota lainnya kecuali tersebarnya berita dari mulut ke mulut," ucap tuan Rusli.
"Iya, seperti itulah kepemimpinannya hanya mencapai 2 tahun hingga ia meninggal karena diracuni oleh pelayannya sendiri. Betapa adil dirinya hingga di jamannya tidak ada satupun yang menerima zakat karena semuanya sudah pada menjadi orang kaya," tutur tuan Recky yang banyak tahu kisah Khalifah hebat itu.
"Aku ingin membahagiakan rakyat Indonesia tanpa harus menjadi seorang pemimpin. Aku takut jika aku menjadi pemimpin, maka apa yang aku lakukan tidak diridhai Allah," ucap Amran.
"Kamu lucu Amran, kamu punya segalanya untuk bisa mendapatkan hati rakyat apa lagi kamu bakal punya kilang minyak yang sebentar lagi akan terwujud, dengan begitu kamu bisa membuat negara ini makmur.
Lagi pula sudah banyak sekali orang yang kamu bantu. Ayolah, buat negara ini bangkit dari pada para elit politik yang menamakan diri mereka orang-orang yang ingin melakukan reformasi pada negara ini tapi mereka sendiri gagal melakukan reformasi pada diri mereka sendiri," lanjut Wira.
"Kalau begitu kamu saja yang jadi presiden," sarkas Amran yang sulit sekali untuk dibujuk oleh siapapun.
"Jadi, kamu mau seperti seorang pecundang yang hanya bisa berkoar mengatakan penguasa tidak adil tanpa mau melakukan perubahan?" sarkas Wira.
"Aisss....! Sudahlah. Aku tidak terlalu memikirkan hal yang lebih besar kalau hal yang kecil saja belum aku mulai. Setidaknya aku bermanfaat untuk orang dengan apa yang ku miliki dari pada mengumbar janji sebagai calon penguasa yang pada akhirnya tidak bisa dibuktikan," ucap Amran.
"Setidaknya, mulailah menjadi kepala daerah, dengan begitu rakyat akan menilai sendiri siapa yang pantas memimpin negeri ini, bukan dengan uang rakyat tapi dengan uangnya sendiri, itu baru hebat," ucap raja Farouk yang tak berhenti berharap agar Amran mau menjadi penguasa.
"Akan aku pertimbangkan yang mulia," ucap Amran.
"Aku akan mendukungmu melalui badan intelijen negara. Kita harus menyebarkan isu politik yang sehat dalam kebaikan. Bukan menjawab isu politik penuh dengan permasalahan," imbuh raja Farouk.
"Aku awam dengan dunia politik, aku harus banyak belajar dari anda dulu yang mulia. Bukankah kepemimpinan itu harus punya ilmu? Jika tidak sesuai dengan keahliannya, aku akan seperti kuda yang mudah ditunggangi oleh orang lain. Memperkaya golongan tertentu untuk memuluskan proyek dari setiap bidang yang mereka miliki," imbuh Amran di pahami kelurganya.
Semuanya nampak terdiam memahami situasi yang awalnya membahas bisnis malah merembet ke dunia politik. Beberapa menit kemudian, sudah terdengar adzan magrib yang dikumandangkan oleh Raffi.
"Ayo. Kita sholat magrib berjamaah...!" ajak Amran. Mereka pamit pada tuan Darwis. Sementara tuan Darwis yang baru pertama kali mendengar cucu kandungnya itu mengundangkan azan nampak tersentuh.
"Mengapa suara cucuku membuat hatiku seakan sedang merindukan sesuatu? Kenapa terdengar sangat sedih?" batin tuan Darwis sambil menyalakan cerutu mahal miliknya.
Malam harinya, kelurga itu sibuk dengan acara barbekyu. Suasana makin semerbak aroma ikan, daging dan ayam bakar yang menggiurkan lidah.
Beberapa menit kemudian, kelurga itu sudah berpesta ria menikmati jamuan makan malam.
Ada yang menarik di jamuan makan malam itu ketika baby Ghazali memindahkan piring yang berisi kepiting saus padang atas permintaan ayahnya, Ghaishan.
"Baby...! Apa kamu bisa memindahkan piring kepiting yang ada di depan uncle Daffa untuk Daddy?" titah Ghaishan.
"Hmm!"
Baby Ghazali melakukannya dengan baik saat semuanya sedang asyik menikmati acara makan malam itu. Anggota keluarga itu yang sudah tahu kelebihan baby kembar nampak menikmati atraksi itu.
"Wowww ... kerennn...!" ucap keenam saudara sepupunya dengan wajah berbinar.
Piring itu berhasil mendarat di depan Ghaishan yang tersenyum puas mengagumi kehebatan putranya.
"Ghazali. Kita main kembang api yuk...!": ajak Hanan dan Hanin yang menunjukkan letak kembang api yang mereka beli.
Tanpa menunggu saudara sepupunya menyelesaikan makanan mereka, baby Ghaida yang sudah melakukan sendiri untuk menembak kembang api ke atas udara karena saat ini kelurga besar itu makan di alam terbuka.
"Mama. Kenapa baby Ghaida dan Ghazali memiliki kelebihan seperti itu?" tanya Audrey begitu kagum dengan sepupu kecilnya itu.
"Semua atas kehendak Allah. Kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki tanpa iri pada yang lain," hibur Cintami pada putrinya.
El yang sedang mendapatkan signal bahaya dari ponselnya segera mengambil ponselnya itu dan ternyata isinya sangat mencengangkan.
"Daddy. Gawat ..!" pekik El-Rummi.
"Ada apa nak?" sentak Amran.
"Ada yang berusaha membakar perusahaan Daddy dan sekarang sedang di tangani oleh satpam ," ucap El-Rummi seraya memperlihatkan tayangan kebakaran itu.
"Kurangajar. Rupanya Dito dan putranya masih mencari gara-gara denganku. Akan aku hancurkan kedua orang itu," geram Amran dengan wajah mengeras.
Sorry say agak siang updatenya karena ada urusan penting di dunia nyata..🙏🙏🙏