
Wajah pucat Nabilla terlihat jelas dengan selang infus dan oksigen bahkan transfusi darah sudah terpasang dibagian tubuhnya. Beberapa bagian tubuhnya ada yang memar dan ada juga yang lecet. Namun ada yang harus dokter spesialis kandungan di rumah sakit mewah itu sedang memperjuangkan kandungan Nabilla yang mengandung kembar tiga itu.
"Tuan. Kami butuh tanda tangan tuan untuk melakukan operasi sesar saat ini karena istri anda mengalami pendarahan berat," pinta dokter Marion.
"Maksudnya, bayinya tidak akan selamat atau bagaimana ya?" tanya pria tampan yang bernama Devan.
"Jika tidak mengangkat bayinya, istri anda akan meninggal," ucap dokter Marion.
"Jangan katakan itu! Aku mohon selamatkan mereka semuanya," ucap Devan yang tidak ingin membuat Nabilla syok jika anaknya harus dikorbankan demi dirinya.
"Tapi Tuan. Kami tidak bisa melakukannya. Tuan harus memilih salah satu diantara mereka," ucap dokter Marion membuat Devan menatapnya horor.
"Kau saya pecat bekerja di rumah sakit ini," ucap Devan membuat Dokter Marion bingung.
"Emangnya tuan ini siapa? berani-beraninya memecat saya?" sinis dokter Marion tidak terima.
"Saya adalah ....-"
"Tuan Devan," tegur seorang dokter senior yang bernama Zian.
"Dokter Zian. Tolong bilang pada dokter gadungan ini, untuk bisa menyelamatkan keluarga saya atau dia harus angkat kaki dari rumah sakit ini!" ancam Devan sinis.
"Apa...? Apakah istri anda...?" tanya dokter Zian tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Saya tidak ingin menjelaskan apapun kepada anda. Selamatkan wanita dan anakku atau...?"
"Baik Tuan. Dokter Marion. Lakukan sesuatu untuk menyelamatkan istrinya tuan Devan. Tuan Devan adalah putra pemilik rumah sakit ini," ucap dokter Zian membuat wajah dokter Marion syok.
"Baik. Akan saya usahakan Tuan," ucap dokter Marion gugup.
Dokter Marion buru-buru masuk dan meminta beberapa obat yang dibutuhkan untuk mempertahankan kandungan Nabilla. Sementara Nabilla saat ini sudah sangat kritis.
"Apa yang bisa aku lakukan ya Tuhan? mengapa setiap orang kaya selalu saja menekan kami seakan kami ini menyiapkan nyawa serep untuk pasien istimewa," gumam dokter Marion lirih.
Hampir dua jam lebih dokter Marion mencoba menyelamatkan Nabilla dan kandungannya. Beruntunglah, tubuh Nabilla bereaksi. Jantung ketiga bayinya normal lagi setelah dilakukan USG ulang.
Dokter Marion menarik nafas lega saat melihat status pasien sudah lebih baik walaupun Nabilla belum melewati masa kritisnya. Tidak berapa lama, Nabilla dipindahkan ke ruang VVIP dengan perlengkapan alat medis di tubuhnya. Devan menemui Nabilla yang saat ini mengenakan baju pasien tanpa hijab hingga kecantikan wanita ini terekspos sempurna dan itu sudah membuat jantung Devan berdegup kencang.
Devan mengusap mulutnya. Merasa tidak percaya bahwa wanita hamil yang ia tolong ini adalah seorang bidadari.
"Siapa kamu sebenarnya Cantik?" tanya Devan karena hanya nama itu yang bisa ia sematkan untuk Nabilla.
Tanpa identitas Nabilla membuat Devan tidak bisa melakukan apapun. Dokter Mariska masuk ke kamar inap Nabilla ketika mengetahui putranya membawa seorang wanita hamil dari dokter Zian.
"Devan!" panggil dokter Mariska.
"Bunda...!" Devan memeluk ibunya.
"Siapa dia dan bagaimana kamu bisa pulang dari luar negeri dengan membawa wanita ini? setahu bunda, kamu bahkan tidak menceritakan kepada bunda tentang kekasih apalagi istri," tanya dokter Mariska.
"Baiklah. Kalau begitu kita lapor polisi. Siapa tahu suaminya sedang mencarinya," ucap dokter Mariska.
"Tidak bunda. Polisi tidak akan bertindak kalau belum sampai 48 jam. Bukankah aturan polisi seperti itu? jadi biarkan gadis ini di sini.
"Permisi Tuan, nyonya. Ini baju gamis dan cadarnya sudah kami laundry dan ini perhiasan dan jam tangan milik istrinya Tuan," ucap suster yang menggantikan bajunya Nabilla.
"Terimakasih suster!" ucap Devan.
"Permisi Tuan!" suster itu meninggalkan Devan dan ibunya.
"Devan. Gadis ini mengenakan pakaian syar'i dan cadar. Mengapa kamu begitu berani menatapnya. Ini istri orang. Jika dia sadar dan melihat kamu disini, gadis ini akan marah besar karena tidak semua wanita sepertinya mengijinkan pria yang bukan muhrimnya melihatnya walaupun itu wajahnya saja," ucap dokter Mariska tegas.
"Ini namanya rejeki bunda, bisa menikmati kecantikan istri orang," ucap Devan cengengesan.
"Kamu tuh ya. Jangan sampai otakmu korslet dan mesum begini," ucap dokter Mariska sambil menjewer kuping Devan.
"Tapi dia sangat cantik bunda. Betapa beruntungnya pria itu yang bisa memilikinya," puji Devan sambil menatap wajah cantik Nabilla penuh damba.
"Tunggu Devan! Itu barang-barang pribadi gadis ini. Bunda mau lihat dulu. Siapa tahu ada petunjuk untuk kita mengetahui gadis ini," ucap dokter Mariska.
Dokter Mariska mengeluarkan benda berharga milik Nabilla dan menelitinya dengan seksama." Perhiasannya adalah berlian asli dan limited edition. Dan jam tangan ini bertuliskan inisial nama dia dan suaminya N & A," ucap dokter Mariska.
"Berarti dia istri seorang konglomerat. Jika pejabat tidak mungkin memiliki berlian dengan harga ratusan miliar dan juga jam tangan mahal ini," ucap Devan yang tidak asing dengan barang-barang mewah.
"Kita harus memulangkan gadis ini begitu dia sadar," ucap dokter Mariska.
"Tidak bunda. Kita harus menunggu pernyataan gadis ini. Siapa tahu dia lari dari suaminya dan ingin dilindungi oleh kita," cegah Devan.
"Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta pada gadis ini Devan," ucap dokter Mariska.
"Kalau iya, kenapa bunda? Aku memang jatuh cinta pada gadis ini," ucap Devan penuh ambisi.
"Jangan gila kamu Devan. Kamu akan berurusan dengan hukum karena telah menyembunyikan gadis ini," imbuh dokter Mariska.
"Aku tidak peduli bunda. Hatiku langsung nyangkut padanya saat aku melihatnya," ucap Devan kekeh dengan pendiriannya mempertahankan Nabilla.
"Jangan melibatkan dirimu pada skandal yang akan meruntuhkan reputasi keluarga kita!" ancam dokter dokter Mariska lalu duduk di sofa sambil menunggu keadaan Nabilla siuman.
Sementara di tempat lain, Arland begitu kecewa pada Amran. Jika seorang bawahan bisa memecat bosnya, sudah ia lakukan pada Amran." Kenapa nona Nabilla bisa ke rumah sakit sendiri tanpa ditemani oleh tuan?" tanya Arland.
"Itu karena aku dan dia sedang perang dingin," balas Amran.
"Apakah tuan tidak punya perasaan kalau saat ini dia sedang mengandung anakmu, tiga bayi sekaligus. Dan kamu masih saja piara egoismu? apa yang kamu bisa menangkan dengan mendiamkannya? apakah bakalan Grammy award sebagai aktor pemeran utama pria terbaik dengan sikap dinginnya? sekalinya dia menggugat cerai dirimu dan berhasil, keesokan harinya banyak pria yang ngantri melamarnya termasuk aku.
Kalau bukan mengingat tuan adalah sumber keuanganku, aku sudah muak bekerja padamu seorang suami egois dan tidak tahu cara bersyukur," umpat Arland lalu meninggalkan apartemennya Amran dalam keadaan gusar.
"Kauuuu....!"