Young Mother

Young Mother
Dilarang Kepo!


"Kenapa kamu sangat yakin sekali? Apa kamu sudah tes DNA?" tanya Papa Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari Al.


Devano menggelengkan kepalanya walaupun tak dilihat oleh Papa Julian.


"Tidak perlu untuk tes DNA dan sebagainya. Karena saya yakin Ciara hanya berhubungan dengan saya saja bukan dengan pria lain. Ditambah dengan wajah Al yang seperti duplikat wajah saya sudah menjadikan bukti kuat bahwa saya dan Al adalah sepasang ayah dan anak," tutur Devano dengan tegas.


"Jika kamu benar yakin. Kenapa kamu dulu tak langsung bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan?" Devano tampak menghela nafas.


"Dulu memang saya begitu bodoh dan mencampakkan Ciara begitu saja. Tapi lambat laun penyesalan itu datang bahkan hanya berjarak beberapa minggu saja saat Ciara pergi dari samping saya dan saat saya ingin bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan dulu, Ciara tak ada kabar sama sekali. Jika ditanya saya mencari keberadaan Ciara atau tidak, saya akan jawab ya, saya mencari keberadaan Ciara kesana kemarin bahkan mengerahkan seluruh anak buah saya untuk mencari Ciara. Tapi sayang mereka tak bisa menemukan keberadaan Ciara dan hanya bisa menemukan alamat tempat tinggal Ciara yang juga merupakan kediaman Om. Waktu itu saya pikir Ciara masih dirumah itu tapi setelah saya datang kesana yang saya dapati hanya ada rumah yang tampak sepi dan sunyi hingga salah satu art Om menemui saya dan bercerita banyak hal tentang kejadian bahwa Ciara kabur dari rumah. Bohong jika saat itu saya tak merasa hancur dengan rasa bersalah yang semakin besar. Semua sudah terlambat tapi itu semua tak menyurutkan niat saya untuk terus mencari keberadaan Ciara, tak ada kata menyerah sama sekali hingga akhirnya saya dipertemukan lagi dengan Ciara sekaligus Al beberapa bulan yang lalu. Dan pada saat itu pula saya berjanji akan menebus semua kesalahan saya untuk beberapa tahun kebelakang dengan menaruhkan nyawa saya juga tak masalah walaupun nyawa saya juga masih belum cukup untuk menebus itu semua," tutur Devano panjang lebar.


"Jadi jika saya menyuruh kamu untuk menjauh dari anak saya dan juga cucu saya bagaimana?" Devano kini menatap wajah Papa Julian yang juga tengah menatap tajam dirinya.


"Maksud Om?" tanya Devano memastikan.


"Bukankah pertanyaan saya tadi sudah sangat jelas?" ucap Papa Julian.


"Tidak, saya tidak akan pernah melepaskan mereka berdua apapun rintangannya saya akan hadapi walaupun itu bertentangan dengan Om, saya yakin jika saya tak menyerah lambat laun Om akan luluh."


"Cih, percaya diri kamu sangat tinggi ternyata," ucap Papa Julian seakan-akan meremehkan Devano.


"Walaupun kamu tak ingin berjauhan dengan mereka tapi jika saya memaksakan hal itu terjadi, kamu bisa apa? mengandalkan anak buah kamu? tak akan pernah bisa," sambungnya.


"Saya sudah tegaskan dari awal kalau saya akan berjuang sendiri dan tak mengandalkan orang lain walaupun itu bertaruhan dengan nyawa saya sendiri. Bahkan jika Om mau semua harta yang saya miliki, tanpa ragu akan saya serahkan semuanya ke Om asal Om tak menjauhkan saya dengan Ciara dan Al," ucap Devano.


"Kenapa kamu tak ingin menjauh dari mereka?"


"Karena saya benar-benar sayang dan cinta dengan mereka berdua. Mereka seperti separuh nyawa saya," jawab Devano dengan tegas.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan dengan anak saya dan cucu saya?"


"Saya akan melindungi dan menjaga mereka," ucap Devano.


"Apa kamu hanya akan melakukan hal itu? Kamu tidak punya keinginan untuk menghabiskan waktu di dunia ini sama mereka? Ck, payah sekali. Apa melindungi dan menjaga mereka tanpa memiliki bisa buat kamu senang?"


Devano terbengong, apa maksud dari ucapan Papa Julian tadi?


"Apa artinya Om sudah memberi izin saya untuk menjadi pendamping Ciara?" tanya Devano saat dirinya sedikit paham dengan arah ucapan Papa Julian tadi.


"Menurut kamu bagaimana? tapi jika kamu hanya ingin melindungi dan menjaga mereka berdua, saya juga bisa tanpa kamu. Dan saya juga tak akan melarang keputusanmu itu, tapi jangan salahkan saya jika Ciara saya jodohkan dengan laki-laki lain nantinya dan kamu akan berakhir dilupakan oleh Ciara maupun Al," tutur Papa Julian seakan-akan ia mengancam Devano.


"Eh jangan Om. Beri saya kesempatan untuk jadi suami Ciara, ayah dari anak-anaknya kelak dan jadi menantu Om hingga maut merenggut nyawa saya," tutur Devano. Ia tak mau jika Ciara benar-benar harus dijodohkan dengan orang lain. Sia-sia sekali perjuangannya selama ini kalau sampai hal itu terjadi.


Papa Julian kini beranjak dari duduknya dan menepuk pundak Devano.


"Saya tunggu kamu dan keluargamu datang kerumah secepatnya," ucap Papa Julian. Devano kini bisa tersenyum kearah Papa Julian, calon mertuanya.


"Terimakasih Om dan maaf untuk semuanya," tutur Devano.


"Sudah saya maafkan. Toh kesalahan kamu dulu juga sudah kamu bayar dengan tubuh dan wajah kamu sebagai samsak saya kemarin. Dan Om juga minta maaf atas perlakuan Om yang terbawa emosi kemarin." Devano menganggukkan kepalanya.


"Tak apa Om. Jika itu bisa membuat Om memaafkan saya. Terimakasih untuk restu yang Om berikan," ucap Devano.


"Gak akan Om. Sudah cukup saya menyakiti Ciara dan untuk kedepannya saya hanya ingin memberikan kebahagiaan kepadanya." Papa Julian kini tampak tersenyum kepada Devano.


"Buktikan!" perintah Papa Julian.


"Pasti Om."


Baru Devano mengatupkan mulutnya, terdengar dobrakan pintu kamar inap tersebut karena ulah Ciara. Kini ia berlari kearah Devano dan Papa Julian yang sekarang tengah terdiam sembari menatap Ciara.


"Sudah lebih dari 5 menit," ucap Ciara setalah dia sampai dihadapan mereka.


"Cia, jangan gitu sama orangtua," tak henti-hentinya Devano memperingati Ciara walaupun ia paham pasti perasaan wanitanya itu kini tengah kecewa berat dengan orangtuanya tapi bukan berarti Devano harus mendukung sikap Ciara yang seperti itu karena menurutnya apapun kesalahan yang di perbuat oleh orangtua kita tak perlu sampai berbicara ketus dengan mereka.


"Apa? hmmm kenapa?" tanya Ciara kepada Devano dengan muka sinisnya.


"Sudah-sudah jangan ribut," pisah Papa Julian.


"Kamu segeralah sembuh. Om dan Tante pamit pulang dulu," pamit Papa Julian. Devano pun mengangguk.


"Terimakasih Om dan Tante sudah meluangkan waktu untuk menjenguk saya disini," tutur Devano.


Papa Julian menjawab ucapan dari Devano tadi dengan anggukan kepala.


"Assalamualaikum," salam Papa Julian dan Mama Mila berbarengan.


"Waalaikumsalam," jawab Devano.


Setalah kepergian dari kedua orangtua tadi, Ciara kini tampak menatap wajah Devano yang tengah tersenyum lebar.


"Kenapa senyum-senyum begitu?"


"Emang gak boleh gitu? toh senyum itu juga bagian dari ibadah Ci. Dan kamu dari tadi Sensi banget, lagi PMS atau gimana sih?"


"Ck kepo. Jadi apa yang kamu dan Papa tadi bicarakan?" tanya Ciara.


"Kamu mau tau aja atau mau tau banget," goda Devano.


"Ck, buruan kasih tau!"


"Aku bakal kasih tau tapi nanti saat aku udah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini," tutur Devano.


"Kenapa gak sekarang aja sih?" geram Ciara yang tingkat penasarannya sampai ubun-ubun.


"Ya ampun gak sabaran banget sih. Tunggu nanti oke. Kalau sekarang orangtua kamu kan udah pulang dan orangtuaku juga gak disini dan gak sopan juga bicarain sesuatu yang penting di rumah sakit. Jadi harap bersabar untuk beberapa hari kedepan, oke sayang," tutur Devano.


"Ck, terserah lah. Dasar pelit," gerutu Ciara dan malah beranjak kembali keluar kamar tersebut.


"Mau kemana?" teriak Devano.


"Dilarang kepo!" jawab Ciara dengan teriakan pula setalah itu ia benar-benar meninggalkan kamar tadi. Sedangkan Devano, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum gemas dengan tingkah Ciara tadi.