
Setelah drama menyayat hati itu akhirnya Al mengerti dan mau pergi kesekolah dengan diantara oleh Ciara. Sedangkan Olive yang tadinya berniat ikut mengantar ponakan tampannya tersebut harus mengurungkan niatnya karena ada hal penting yang harus ia persiapkan dikantornya.
"Udah sampai Al, turun yuk. Mama akan antar Al sampai di dalam," ucap Ciara. Al pun mengangguk dan mereka berdua turun dari taksi.
"Pak, tunggu sebentar gak papa kan? saya mau antar anak saya ke dalam dulu,", tutur Ciara pada sopir taksi.
"Tidak apa-apa neng," jawab sopir taksi tersebut. Ciara pun melemparkan senyumannya kearah sopir sebelum tangannya ia tautkan ketangan Al. Setalah itu mereka segera memasuki halaman Taman Kanak-kanak tersebut. Dan saat Al dan juga Ciara sampai di depan kelas Al, Ciara menjongkokan tubuhnya dihadapan sang anak.
"Al, jangan nakal ya sayang. Belajar yang pintar ya nak, supaya Al bisa---"
"Bikin Papa senang dan bangga dengan Al," potong Al. Ciara tersenyum miris setelah itu ia mengusap kepala anaknya.
"Ya udah Al masuk gih. Udah ditungguin Bu guru di depan tuh." ucap Ciara. Al pun dengan ragu mengangguk dan sebelum ia pergi dari hadapan sang Mama, ia menyempatkan untuk mencium telapak tangan Ciara. Setelah itu ia baru melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
Ciara melambaikan tangannya saat Al ingin masuk kedalam kelas.
"Lihatlah Dev, anakmu sudah besar sekarang, bahkan ia dua kali bertanya keberadaanmu. Andaikan dulu kamu mau bertanggungjawab dengan perbuatan yang kita lakukan dulu mungkin Al akan menjadi sosok anak kecil yang penuh kegembiraan di luar maupun di dalam rumah. Tapi, ah sudahlah kenapa aku malah memikirkan laki-laki brengsek itu. Mau sampai kapanpun aku akan tetap merahasiakan identitas Devano dari Al. Maaf Al, Mama akan selalu berbohong perihal Papa kamu. Dan semoga kamu mengerti nak dengan tujuan Mama merahasiakan Papamu, itu semua demi kebahagiaanmu," batin Ciara. Ia kini kembali menuju taksi yang masih setia menunggu dirinya.
"Jalan Pak," ucap Ciara setelah ia duduk di kursi belakang mobil taksi tersebut.
Hanya butuh waktu 10 menit Ciara kini telah sampai di kantor Olive. Ia segera melangkahkan kakinya menuju lantai atas tempatnya dan juga Olive bekerja.
Tok tok tok
Seperti biasa jika Olive telah dulu pergi kekantor ia akan mengetuk lebih dulu pintunya takut jika ada tamu penting yang sedang mengobrol dengan Olive diruangan tersebut.
"Masuk!" perintah Olive dari dalam.
Setelah mendapat perintah dari Olive, Ciara segera membuka pintu tersebut dan kembali menutupnya saat sudah masuk kedalam ruangan Olive.
"Gimana? Al suka gak Ci sama sekolahannya?" tanya Olive antusias.
Ciara mendudukkan tubuhnya sembari menghela nafas.
"Huh gak tau aku Liv. Anaknya susah bersosialisasi masalahnya dan semoga aja dia suka sama lingkungan sekolah itu," ujar Ciara.
Olive yang tadi menghampiri Ciara pun hanya bisa mengelus bahu sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai Adik sendiri.
"Yakin lah, Al pasti akan suka kok dan dia gak akan jadi anak yang tak suka bersosialisasi lagi dan pastinya dia juga akan banyak teman. Tunggu saja nanti saat dia pulang pasti akan bercerita pengalamannya disekolah," ucap Olive untuk menenangkan Ciara.
Ciara pun mengangguk.
Saat mereka terbengong dengan pikiran mereka masing-masing, suara dobrakan pintu berhasil mengembalikan kesadaran mereka.
Brak
Ciara maupun Olive kini memandangi orang yang tadi mendobrak pintu CEO tanpa sopan santun. Olive yang kenal dengan orang tersebut langsung mendekatinya dan dengan segera Olive memukul kepala orang tersebut cukup kuat.
Buk
"Sepupu kurang ajar, gak punya sopan santun. Masuk ruangan gak ketuk pintu dulu, main dobrak-dobrak aja. Untung pintunya kokoh dan gak mudah ambruk, coba kalau pintu itu udah rapuh, gue juga yang bakal ngeluarin uang buat ganti pintu baru," geram Olive yang terus saja memukuli tubuh pria itu.
"AW, sakit bang---sat," ucap pria tersebut namun sempat terputus saat netra matanya menatap Ciara yang tengah menatap kerusuhan mereka berdua.
Kini tangan Olive yang tadi ia gunakan untuk memukul pria di depannya itu sudah berada digenggaman pria tersebut. Namun mata pria itu masih saja terfokus kearah Ciara.
"Wih ternyata ada bidadari di kantor lo. Kenapa gue baru tau sekarang ya? Aduh, sayang nih kalau dilewatkan. Btw kenalin dong sama gue," tutur pria itu.
Olive menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan pria tadi.
"Giliran ada cewek cantik aja tuh mata berubah jadi kuning. Dasar Playboy cap kumbang ya gini nih contohnya," kesal Olive.
"Dia tuh Adik angkat gue, yang dulu pernah gue ceritain ke lo kalau lo gak pikun," sambung Olive.
"Gue belum pikun ya enak aja. Kenapa lo gak bilang sih kalau Adik angkat Lo tuh cantik kayak bidadari gini. Kan gue bisa jadiin dia pacar. Lumayan memperbaiki keturunan," ucap pria tersebut yang masih saja mengagumi kecantikan Ciara.
"Awas aja kalau lo macam-macam sama dia. Gue gak akan segan bunuh lo," ancam Olive.
Ciara yang sedari tadi mendengar percekcokan antar saudara tersebut terkekeh kecil.
Sedangkan pria tersebut kini tengah bergidik ngeri mendengar ucapan bar-bar dari sepupunya itu. Karena ia tau saat Olive tengah marah, Olive akan berubah menjadi singa betina yang ganas.
Namun setelah itu ia masa bodoh dengan ancaman Olive. Dan kini pria tadi menghampiri Ciara.
"Hay, kenalin nama gue Rafanio Fernandez, panggil aja Rafa," ucap Rafa sembari mengulurkan tangannya kearah Ciara.
Ciara mendongakkan kepalanya menatap mata coklat milik Rafa dan ia segera membalas uluran tangan pria tersebut.
"Ciara, Ciara Devania," balas Ciara sembari tersenyum kearah Rafa.
Seketika Rafa terpanah dengan senyum manis Ciara, ia seperti pernah melihat wajah Ciara tapi kapan dan dimananya ia tak ingat. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya, tak mungkin dirinya bisa bertemu dengan Ciara sebelum saat ini di kantor Olive. Kemudian ia kembali menatap pemandangan yang sangat memanjakan matanya.
"Ya Tuhan, cantik sekali ciptaanmu. Sampai aku bingung yang ada dihadapku saat ini manusia atau bidadari," batinnya memuja.
"Woy, lepasin tangan lo dari tangan Adik gue. Gue juga tau dia cantik tapi gue pastiin dia gak mau sama modelan kayak lo gini," tutur Olive yang membuat suasana rusak.
Rafa seketika melepaskan tangannya dari Ciara.
"Ck, ganggu aja lo," geram Rafa kesal.
Sedangkan Ciara kembali terkekeh melihat perdebatan mereka berdua yang tak pernah ada kata habis.
"Udah sana hus-hus balik ke habitat lo, gue lagi banyak kerjaan," usir Olive.
"Dasar sepupu laknat."
"Gue masih betah disini, toh dikantor gak ada kerjaan juga," sambung Rafa.
"Heleh ngomong aja kalau lo masih mau curi-curi pandang sama Adik gue kan," selidik Olive.
Rafa pun tersenyum.
"Pintar," ucap Rafa sembari menepuk kepala Olive.
"Gue tambah pendek kalau lo giniin mulu," geram Olive.
Rafa tak menimpali ucapan dari Olive, ia memilih untuk menuju kamar yang berada di dalam ruangan tersebut.
Olive yang melihat itu pun mendengus kesal.
"Dasar kurang ajar, pemalas pula," ucapnya.
"Gue masih bisa dengar woy!" teriak Rafa dari dalam kamar.
Saat Olive ingin membalas teriakan dari sepupunya itu, Ciara lebih dulu memotongnya.
"Sebentar lagi meeting akan segera dimulai, Bu," ucap Ciara yang kembali formal.
Olive menghela nafas. Sudah berulang kali Olive menyuruh Ciara untuk tak memanggilnya dengan formal walaupun di saat jam kantor tapi memang Ciara yang keras kepala dan kekeuh untuk memanggil dirinya dengan formal dan mau tak mau Olive pun menerimanya dengan berat hati.
"Meetingnya dimana?" tanya Olive.
"Dikantor ini Bu dengan perusahaan Velery grup," jawab Ciara.
"Baik kalau gitu tolong siapkan berkas-berkas yang akan di presentasikan nanti," ucap Olive.
Ciara mengangguk dan ia segera menyiapkan berkas-berkas yang kebetulan berada di meja kerjanya dengan teliti dan cepat.