
Kini Ciara dan Devano telah selesai melakukan ritual mandi bersama setelah menyelesaikan babak kesekian dalam perkembangan biakan mereka.
"Dev, kamu punya syal atau apa gitu buat nutupin merah-merah di leher aku ini?" tanya Ciara saat menatap dirinya dari pantulan kaca kamar tersebut.
"Emangnya kelihatan?" bukannya menjawab Devano malah bertanya balik sembari mendekati tubuh Ciara.
"Kamu lihat aja sendiri. Baju yang di berikan Mommy sama Mama modelnya bukan yang menutupi leher, malah model potongan kerah V," ucap Ciara dengan memanyunkan bibirnya kedepan.
"Mana aku juga gak bawa alat makeup lagi. Kalau bawa kan setidaknya bisa ditutupi dengan foundation," sambung Ciara.
Devano tersenyum saat melihat wajah Ciara yang begitu menggemaskan baginya. Kemudian ia memeluk istrinya itu dari belakang
"Gak usah khawatir, aku telepon anak buahku dulu biar dia cariin baju yang lebih menutupi leher kamu juga syal." Devano mencium sekilas pipi Ciara sebelum beranjak untuk menelepon salah satu anak buahnya itu.
Setalah melakukan panggilan tadi, Devano menghampiri Ciara yang sekarang sudah terduduk di sofa didalam kamar tersebut.
"Jangan cemberut gitu sayang," ucap Devano sembari mencolek dagu Ciara.
"Gak ada yang cemberut," tutur Ciara.
"Ah masak sih, terus kenapa bibir kamu maju gitu? mau aku kiss? ya udah sini mumumumu." Devano memanyunkan bibirnya dan mengarahkannya ke wajah Ciara.
"Ish apaan sih. Bibir aku udah kayak di sengat lebah gini masih aja mau cium," ucap Ciara.
"Tapi lebahnya juga gak menyakitkan kan sayang. Buktinya kamu juga menikmati sengatan itu," goda Devano yang membuat Ciara berdecak sebal.
Tak lama setelahnya terdengar ketukan pintu kamar hotel yang mereka berdua tempati saat ini.
Tok tok tok!!
Devano beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu yang ia yakini dibalik pintu tersebut adalah anak buahnya.
"Maaf menganggu waktu Tuan. Saya disini untuk memberikan apa yang tuan tadi perintahkan ke saya," ucap anak buah Devano tersebut sembari mengulurkan paper bag ke hadapan Devano. Devano mengangguk kemudian ia mengambil paper bag tadi dari tangan anak buahnya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu tuan."
"Baiklah, terimakasih," ucap Devano. Setelah itu ia menutup kembali pintu kamar tadi setelah melihat anak buahnya benar-benar pergi dari hadapannya.
"Nih ganti dulu bajunya, Mama Ciara," tutur Devano dengan suara yang dibuat-buat bahkan hampir menyerupai suara Al.
"Ck, jangan coba-coba meniru suara anak tampan saya ya, tuan Devano," tutur Ciara sembari merebut paper bag tadi. Lalu ia bergegas masuk kedalam kamar mandi.
"Heh, anak tampanmu itu juga anakku, nyonya Rodriguez," teriak Devano.
"Iya-iya saya juga tau, tuan Rodriguez yang terhormat." Devano tersenyum saat mendengar pengakuan dari Ciara.
Hanya butuh waktu 5 menit akhirnya Ciara keluar dari kamar mandi tersebut dengan baju yang lebih menutupi leher jenjangnya itu.
"Udah siap?" tanya Devano saat Ciara sudah berdiri didepannya. Ciara pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Devano tadi.
"Ya udah, kita langsung turun aja. Al sama keluarga kita udah nunggu dibawah dari tadi katanya," ucap Devano. Kemudian ia menggandeng tangan Ciara dan segera meninggalkan kamar hotel yang cukup bersejarah untuk mereka berdua.
"Aduh-aduh pengantin baru. Kemana-mana gandengan tangan terus dong. Takut diambil orang kayaknya," ucap Mommy Nina.
"Iya ya. Jadi pengen. Pa, bisa lah romantis kayak mereka," tutur Mama Mila dengan menatap Papa Julian.
"Aduh kita udah tua Ma. Malu dilihatin Al nanti," ucap Papa Julian yang mulai risih dengan godaan yang di berikan oleh istrinya itu.
"Haish, kamu ini cuma alasan saja. Emang dari jaman baheula sampai punya cucu juga gak ada romantis-romantisnya. Dah lah." Papa Julian kini meringis kaku saat melihat istrinya itu seperti tengah merajuk kepadanya.
"Bentar deh," sela Kiara yang sedari tadi hanya memperhatikan Ciara dari ujung atas sampai ujung bawah.
"Kayaknya ada yang aneh dari Kak Cia." Semua orang disana kini menatap kearah Ciara dan hal itu membuat sang empu jadi salah tingkah sendiri.
"Gak ada yang aneh dari diriku. Kiara saja yang mengada-ada," tutur Ciara.
"Ah aku tau sekarang. Baju Kakak beda sama yang aku belikan tadi pagi." Ciara kini menatap wajah Devano, agar suaminya itu yang memberikan alasan kepada Kiara. Kalau mereka berkata jujur kan akan semakin mendapat respon godaan yang bertambah besar lagi dari kedua keluarga mereka dan akan membuat Ciara maupun Devano mati kutu sendiri nantinya.
Devano yang seperti mengerti dengan kode Ciara pun kini mengangkat suaranya.
"Baju Ciara yang dibelikan kamu tadi jatuh di kamar mandi dan alhasil jadi basah. Ya kali Ciara keluar pakai baju basah yang ada nanti dia masuk angin," alasan Devano. Mereka semua pun mengangguk paham.
"Oh ya, Al dimana Ma, Mom?" tanya Ciara karena sedari tadi ia bergabung dengan mereka, dirinya tak mendapati Al yang bergabung disana bersama mereka.
"Al udah di mobil. Malah dia lagi tidur sekarang," ucap Mama Mila.
Ciara pun mengangguk.
"Kita pulang sekarang saja. Kasihan Al kalau harus tidur lama di dalam mobil," ucap Papa Julian.
"Kalian mau pulang ke rumah mana?" tanya Daddy Tian.
"Dev, Cia sama Al langsung ke rumah kita aja. Semua barang-barang kita juga udah di pindah kesana semua. Mobil Dev dibawa kesini kan?" Daddy Tian mengangguk untuk menjawab ucapan Devano tadi.
"Tapi apa kamu yakin mau langsung pindah ke rumah kalian pribadi?" tanya Mommy Nina yang sepertinya sangat berberat hati untuk melepaskan mereka bertiga.
"Kita ingin hidup mandiri. Dengan status kita yang baru Mom. Toh ini juga udah kesepakatan kita berdua," ucap Devano sembari menatap Ciara yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Ya sudah kalau itu sudah keputusan kalian berdua. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendoakan agar rumah tangga kalian selalu dilindungi dari berbagi macam godaan setan yang berusaha memisahkan dan meretakkan hubungan kalian berdua," tutur Mommy Nina akhirnya.
"Terimakasih Mom, Ma, Dad dan Papa atas doa kalian," ucap Ciara kemudian ia memeluk tubuh orangtuanya juga mertuanya satu persatu.
"Sama-sama sayang. Tapi kalian harus ingat. Kalau ada masalah yang sedang menguji kalian, kalian harus menyelesaikan masalah tersebut dengan kepala dingin." Ciara maupun Devano mengangguk.
"Dan kamu Devano. Jangan pernah main tangan atau apapun itu ke Ciara walaupun kamu sangat marah dan jengkel kepadanya, jangan lakukan itu. Kalau sampai itu terjadi, Mom gak akan segan-segan buat bunuh kamu," sambung Mommy Nina dengan kalimat akhirnya yang membuat Devano bergidik negeri.
"Tenanglah Mom. Dev gak akan berbuat seperti itu. Jika itu terjadi, Dev akan langsung menyerahkan nyawa Dev kehadapan Mommy," tutur Devano.
"Mom percaya sama kamu. Ya sudah kita langsung pergi ke rumah kalian. Mom juga mau lihat apakah rumah yang dibeli Devano nyaman buat Ciara dan cucu-cucuku kelak. Kalau sampai tidak nyaman. Mom akan robohkan rumah itu," ucap Mommy Nina bercanda.
Kini dua keluarga ditambah keluarga kecil Devano berjalan beriringan menuju parkiran mobil di hotel tersebut dan setelah sampai di mobil masing-masing, mereka langsung menjalankan mobil tersebut menuju ke lokasi rumah keluarga kecil Devano.