Young Mother

Young Mother
Rindu yang Terobati


"Kakak," panggil Kiara sembari mengelus punggung Ciara.


Ciara menegakkan kembali kepalanya dan menoleh kearah Kiara sembari tersenyum.


"Kita samperin Mama yuk," ajak Kiara.


Dengan perlahan mereka berdua mendekati Mama Mila yang masih berdiam diri di tempatnya. Saat mereka berdua sampai di belakang tubuh Mama Mila, gandengan tangan Kiara terlepas. Ia segera menuju kesamping Mama Mila dan berjongkok di samping Mama Mila. Sedangkan Ciara, ia memilih untuk tetap berada di belakang tubuh Mama Mila.


"Ma," panggil Kiara sembari mengelus punggung wanita paruh baya itu, namun sayangnya Mama Mila tak menjawab dan melirik Kiara sedikitpun.


"Mama, ada seseorang yang ingin bertemu sama Mama," tutur Kiara.


Mama Mila masih saja diam tak bergeming sedikitpun.


Kiara menghela nafas dan mengalihkan pandangan kearah Ciara yang masih tertegun di tempat.


"Kak," panggil Kiara.


Ciara pun kini menetap adiknya dan ia mendapat anggukan kepala oleh sang empu agar Ciara segera menghampiri Mama Mila. Ciara menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia berjalan ke samping Mama Mila.


Setelah sampai ia mendudukkan tubuhnya.


"Ma, Ciara pulang," ucap Ciara sembari menatap wajah pucat Mama Mila dari samping.


Mama Mila yang mendengar suara Ciara pun langsung menghentikan aktivitas tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk memainkan air di depannya dan tatapan kosong tadi, perlahan mengarah ke sumber suara yang tak asing baginya.


"Ci---Ciara," tutur Mama Mila sendu. Ia pun memutar tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Ciara dan tangannya kini terulur untuk menyentuh wajah Ciara, memastikan jika didepannya itu memang anaknya bukan sekedar halusinasinya saja.


"Ini benaran kamu, nak?" tanya Mama Mila masih tak percaya.


Ciara mengangguk sembari tersenyum.


"Anak Mama sudah pulang? Mama gak halusinasi kan? Ini benaran Ciara, anak Mama kan, Ki?" tanya Mama Mila kepada Kiara yang sudah berada di samping Ciara.


"Iya Mama. Ini Kak Ciara, anak Mama, Kakak aku. Dia udah pulang sekarang," jawab Kiara dengan senyum yang mengembang.


"Ciara, Mama kangen sama kamu hiks," ucap Mama Mila sembari meraih tubuh Ciara untuk ia peluk bahkan tangisnya kini pecah.


Ciara membalas pelukan sang Mama dengan derai air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga.


"Ma, maafin Ciara. Ciara mohon ampuni semua kesalahan Ciara, Ma," tutur Ciara penuh dengan rasa bersalahnya.


Mama Mila menggeleng dan dilepas pelukannya tadi.


"Ini bukan salah Ciara. Ini semua sudah takdir dari yang maha kuasa dan semuanya sudah menjadi masa lalu. Mama gak marah sama Ciara. Mama senang sekarang Ciara udah pulang. Jangan pergi tinggalin Mama, Papa sama Kiara lagi. Mama gak tau, mau jadi apa lagi kalau kamu kembali tinggalin keluarga ini. Mama mohon jangan pergi lagi ya, nak," tutur Mama Mila.


"Mama tenang ya, Ciara ada di sisi Mama sekarang," ucap Ciara menenangkan Mamanya sembari memeluk tubuh Mama Mila kembali.


Sesaat kemudian tampak Mama Mila sedikit tenang, Ciara pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mama Mila.


"Mama pasti belum makan kan?" tanya Ciara dan dijawab gelengan oleh Mama Mila layaknya anak kecil yang tengah bermanja-manja dengan sang ibu.


"Ya udah, sekarang kita masuk dulu yuk. Mama harus makan yang banyak sekarang," ajak Ciara sembari berdiri dari duduknya dan setelah itu ia membantu tubuh Mama Mila agar bisa berdiri.


Perlahan mereka bertiga memasuki rumah tersebut dan segera menuju ke ruang makan.


Setelah sampai di ruang makan, Ciara mendudukkan tubuh Mama Mila disalah satu kursi disana.


"Mama mau makan apa?" tanya Ciara yang bersiap untuk mengambilkan makanan untuk Mamanya.


"Mama mau makan masakan kamu," jawab Mama Mila dengan mata berbinar.


"Katakan, Mama mau makan apa biar Ciara langsung bisa buatin sekarang," tutur Ciara.


"Apa saja asalkan kamu yang masak, Mama akan makan."


Ciara mengangguk setelah itu ia bergegas masuk ke dapur untuk melihat bahan masakan apa yang bisa ia masak nanti.


"Ma," panggil Kiara yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi kedua orang tadi.


"Mama disini sebentar ya, Kiara mau telepon Papa dulu," pamit Kiara.


Mama Mila pun mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari sang Mama, Kiara pun langsung beranjak dari kursinya dan segera menelepon sang Papa.


Sedangkan Mama Mila, ia sekarang menghampiri Ciara yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Ada yang bisa Mama bantu?" tanya Mama Mila.


"Gak usah Ma. Biar Ciara aja. Mama duduk aja ya," perintah Ciara.


"Mama jenuh duduk terus Ci," keluhnya.


Ciara tampak terdiam dan beberapa saat kemudian, ia kembali bersuara.


"Hmmm gimana kalau Mama sekarang ke kamar dan dandan secantik mungkin. Mama tau gak kalau Mama sekarang bau acem," ucap Ciara bercanda.


"Benarkah?" tanya Mama Mila sembari mengendus tubuhnya sendiri.


"Ish benar apa katamu. Ya udah Mama mandi dulu ya. Kamu jangan kemana-mana."


Ciara mengangguk setuju dan kini Mama Mila bergegas menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


...****************...


Setelah membersihkan diri dan berdandan seperti keinginan Ciara tadi, Mama Mila kini segera turun lagi ke lantai bawah dengan langkah tergesa. Ia takut jika Ciara kembali menjauh dari jangkauannya.


"Cia!" panggil Mama Mila.


"Ciara sayang!" panggilnya lagi saat tak ada sahutan dari sang empu.


"Ci, kamu dimana nak?" kini panggilan itu terdengar begitu cemas dan khawatir.


"Ciara ada disini Ma," ucap Ciara yang baru saja kembali masuk kedalam rumah tersebut setelah ia mengambil barang yang tertinggal di mobil yang tadi digunakan untuk menjemput dirinya dan juga Kiara dirumah sakit.


Mama Mila nampak menghela nafas lega, setelah itu ia menghampiri Ciara.


"Kamu dari mana aja? Mama kira kamu tadi tinggalin Mama lagi," tuturnya.


"Ciara habis dari luar Ma, ambil ponsel Ciara yang ketinggalan di mobil. Mama jangan khawatir, Ciara akan selalu disisi Mama. Ciara gak akan ninggalin Mama lagi," jawabnya.


Ditengah percakapan antara ibu dan akan tadi, terdengar suara bariton yang sebenarnya sudah sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


"Assalamualaikum," ucap seseorang tadi tepat di belakang Ciara.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya. Tubuh Ciara kini berputar untuk menghadap orang tersebut.


Saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan orang tadi, tiba-tiba tubuhnya terasa membeku ditambah mata cantiknya itu saling adu pandang dengan mata teduh orang tadi. Ia tampak tak berkedip kala menatap wajah yang masih sangat tampan walaupun sudah termakan usia. Sosok laki-laki yang selalu membuat dirinya aman dan terlindungi, yang selalu ada saat dirinya butuh sandaran.


Namun itu dulu, saat kejadian itu belum terjadi. Kejadian yang membuat masa depan dan kebahagiaannya hancur seketika.


Ciara kini menundukkan kepalanya, ia tak sanggup menatap wajah tampan yang selalu ia rindukan.


"Ci---Ciara," panggilnya tercekat dengan pelupuk matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Pa, maafin Ciara," tutur Ciara yang masih menunduk takut.


Yap, laki-laki yang dilihat dan sangat dirindukan oleh Ciara adalah Papa Julian.


Papa Julian kini nampak berjalan mendekati Ciara yang sudah di peluk dari samping oleh Mama Mila.


...****************...


Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚 Kalau bisa 500 Like ya 🤭


Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗


Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋