
"Dev," ucap Ciara yang masih diantara percaya dan tak percaya.
Devano tampak tersenyum kearahnya dan perlahan ia merentangkan tangannya agar Ciara segera mendekati dirinya.
Ciara kini berlari dan saat sudah sampai, ia langsung memeluk tubuh Devano.
"Please jangan tinggalin aku sama Al lagi, Dev hiks," ucap Ciara.
Devano tampak perlahan mengelus rambut Ciara.
"Maaf tadi sempat buat kamu khawatir. Aku sudah kembali dan tak akan tinggalin kamu dan Al lagi," tutur Devano.
"Jangan hanya bicara saja tapi buktikan," ucap Ciara.
"Aku akan buktikan semua ucapanku tadi. Dan sekali lagi maaf sempat buat kamu khawatir tadi. Please jangan nangis lagi."
"Aku takut jika ini semua hanya mimpi Dev."
Devano tampak gemas dengan Ciara yang masih saja tak percaya akan dirinya kembali lagi. Dan dengan pelan ia mencubit pipi Ciara.
"Sakit Dev," ucap Ciara sembari menjauhkan wajahnya dari dada Devano.
"Kalau kamu ngerasain sakit berarti apa yang kamu alami hari ini itu semuanya kenyataan." Ciara berdecak tapi setelahnya ia memeluk kembali Devano. Rasanya hari ini ia tak akan melepaskan Devano dari pelukannya, biar laki-laki tersebut tak lagi berani berulah seperti tadi yang membuat semua orang panik.
"Papa," panggil Al yang sedari tadi melihat kedua orangtuanya.
Devano yang baru menyadari bahwa di sekelilingnya bukan hanya ada Ciara saja melainkan orangtuanya, Al, dan juga para sahabat Ciara ditambah dengan dokter dan para suster yang sekarang tengah melihat kearahnya.
"Al, sini peluk Papa," ucap Devano.
Mommy Nina menghampiri Devano dan meletakkan Al di sisi Devano yang lainnya. Sedangkan Ciara sudah melepaskan pelukannya kembali saat ia tadi mendengar suara Al.
"Al sayang Papa," ucap Al sembari memeluk tubuh Devano.
"Papa juga sayang Al. Makasih ya nak, Al sudah nuntun Papa kembali lagi," tutur Devano.
"Papa gak boleh ninggalin Al lagi hiks." Devano melepaskan pelukannya dan menatap wajah anaknya yang sudah memerah. Kemudian ia mengangguk sembari menghapus air mata Al.
"Papa gak akan ninggalin Al lagi. Maafin Papa udah bikin Al nangis." Al kembali memeluk tubuh Al.
"Papa gak salah jadi jangan minta maaf sama Al. Al nangis karena Al gak mau kehilangan Papa lagi."
"Maaf sayang," ucap Devano.
Untuk beberapa saat Al dan Devano terus lengket satu sama lain. Tak ada yang mau melepaskan pelukannya hingga Dokter menghampiri Devano.
"Maaf tuan kecil. Dokter boleh periksa Papanya sebentar?" Tanya Dokter tersebut. Al perlahan melepaskan pelukannya dan mengangguk kearah dokter tadi.
"Al sini sama Mama." Al merentangkan kedua tangannya agar segera di gendongan oleh Ciara.
Setelah Al berpindah tempat, dokter tersebut langsung meriksa kembali keadaan Devano yang sudah mulai membaik.
"Keadaan tuan Devano sudah mulai stabil kembali dan hari ini tuan juga sudah bisa di pindahkan di ruang inap," ucap dokter tersebut.
"Alhamdulillah," ucap syukur semua orang yang ada disana setelah melewati waktu yang begitu menegangkan dan mendebarkan tadi.
"Jadi untuk persiapan saya mohon semuanya untuk menunggu di luar ruangan ini," tutur dokter itu.
Semua orang pun kompak menggangguk dan segera keluar dari ruangan tersebut dengan senyum yang kembali merekah.
Setelah berada di luar ruangan, Ciara segera duduk di salah satu kursi disana dengan Al di pangkuannya. Mommy Nina yang melihat Ciara dan juga Al sudah kembali tersenyum pun kini menghampiri mereka berdua dan memeluk keduanya dari samping.
Ciara mengangguk dan tersenyum.
"Maafin orangtua Cia ya Mom. Yang udah keterlaluan dengan Devano," tutur Ciara yang terus saja tak enak dengan orangtua Devano. Pasalnya dia satu kali ke rumah Devano dan bertemu dengan mereka, Ciara di perlakukan dengan sangat baik bukan seperti orangtuanya yang langsung menghakimi Devano.
"Tak perlu minta maaf nak. Mom dan Dad juga paham bagaimana perasaan orangtua kamu yang anak gadisnya di rusak oleh laki-laki bahkan di usia kamu yang masih terbilang muda. Yang harusnya menatap masa depan yang cerah tapi gara-gara kejadian itu kamu harus melewati rintangan yang begitu sulit. Jika Mom dan Dad berada di posisi orangtua kamu pasti kita juga akan melakukan hal yang sama kepada laki-laki yang dulunya tak bertanggungjawab seperti Dev itu."
"Tapi Mom dan Dad pertama kali ketemu sama Cia, sangat baik sekali dengan Cia. Tapi orangtua Cia yang juga baru pertama kali bertemu dengan Dev malah seperti itu," sesal Ciara.
"Karena Cia tidak salah dalam masalah itu. Cia adalah korban atas perbuatan Dev. Ck, sudah-sudah jangan dibahas lagi yang terpenting sekarang Dev sudah melewati masa-masa dimana dia meninggalkan kita tadi." Ciara mengangguk.
"Terimakasih Mom."
"Terimakasih juga sayang karena berkat doa kamu dan Al , Dev bisa melewati semuanya," ucap Mommy Nina yang semakin mengeratkan pelukannya.
...****************...
Siang harinya Devano sudah dipindahkan di ruang inap biasa. Alat-alat yang ada ditubuhnya juga sudah di lepas semua kecuali infus dan selang oksigen karena dia masih sedikit kesusahan untuk bernafas.
Dan diruang itu sekarang hanya ada Devano, Ciara dan Al. Sedangkan kedua orangtua Devano dan juga kedua sahabat Ciara sudah pulang kerumah masing-masing. Awalnya orangtua Devano tak ingin pulang tapi karena Ciara yang memaksa mereka agar istirahat dirumah akhirnya mereka setuju.
"Waktunya makan siang," ucap Ciara yang baru masuk kedalam kamar inap tersebut setelah membelikan makan siang untuknya dan Al. Tak lupa dia juga sekarang tengah membawa makanan dari rumah sakit untuk Devano.
Sepasang anak dan ayah tersebut tampak melihat kearah Ciara yang sudah berada disisi mereka.
"Wahhh ayam kecap, hmmm pasti enak," ucap Al antusias saat lauk kesukaannya terlihat di depan mata.
Ciara menoleh kearah Al dan tersenyum kemudian ia mendudukkan tubuh Al di kasur Devano. Setelah itu ia membantu Devano untuk duduk dari rebahannya.
"Kenapa punyaku bubur sendiri?" Protes Devano. Ia paling benci dengan makanan yang menurutnya hanya dimakan untuk anak kecil atau orang yang sudah tak mempunyai gigi.
"Orang sakit harus makan bubur," ucap Ciara sembari menaruh piring rumah sakit yang berisi bubur tadi di pangkuan Devano. Setelah itu ia duduk dan mulai menyuapi Al dengan telaten dan sesekali ia juga menyuap makanan untuknya sendiri.
Sedangkan Devano, ia mengerucutkan bibirnya dan hanya menatap Ciara. Ciara yang merasa dirinya tengah di amati oleh Devano pun kini mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?" Tanya Ciara.
"Buburnya gak enak," jawab Devano padahal dia mencoba saja belum.
"Mau enak atau enggak harus kamu makan," tutur Ciara tanpa bantahan.
"Tapi Ci. Ini benar-benar gak enak," rengek Devano seperti anak kecil saja.
"Papa mau ayam kecap?" Tanya Al sembari mengunyah makanannya.
Devano mengangguk antusias, berharap sang anak membagi makan siangnya untuk dirinya.
"Nanti kalau Papa udah sembuh ya. Sekarang Papa harus makan bubur itu." Devano melongo, harapannya ternyata tak menjadi kenyataan.
Ciara yang melihat raut kekecewaan dari Devano pun terkekeh kemudian ia mengambil bubur tadi dari pangkuan Devano.
"Buka mulutnya," perintah Ciara sembari mengulurkan satu sendok bubur ke mulut Devano.
"Ci." Ia baru mau protes lagi, sendok yang berada di depannya tadi tanpa permisi masuk kedalam mulutnya.
"Sudah jangan protes mulu. Makan seadanya dulu selagi kamu masih sakit." Devano mendengus tapi akhirnya ia memakan bubur tadi.
Ciara menggelengkan kepalanya. Dia sekarang seperti mempunyai dua bayi yang harus mendapat perhatian lebih darinya. Bahkan ia tak sempat memakan makan siangnya karena sibuk menyuapi kedua jagoannya itu. Mungkin setelah selesai menyuapi mereka, ia akan meneruskan makan siangnya nanti.