
Devano kini menurunkan tubuh Ciara yang tadi berada digendongannya setalah mereka telah sampai di dalam rumah utama milik mereka berdua.
"Huft, capek juga. Butuh air," ucap Devano sembari mengibas-ibaskan tangannya ke wajahnya dengan berjalan menuju kearah dapur diikuti Ciara di belakangnya.
"Lagian kamu kenapa lari-lari pakai gendong aku segala sih," ujar Ciara saat mereka berdua telah sampai di dapur.
"Biar cepat sampai aja sayang. Lagian kamu juga udah ketakutan banget tadi. Jadi aku gak tega lihatnya," tutur Devano yang tentunya berbohong.
"Ya gak sampai gendong aku terus diajak lari juga kali sayang. Kamu jadi kecapekan gini kan, minum yang banyak gih terus kita bicara masalah ini mau kita apakan," ujar Ciara sembari menyodorkan satu gelas air putih kearah Devano yang langsung di terima oleh sang empu.
"Kamu cuma nawarin air putih doang?" tanya Devano setelah menegak air tadi.
Ciara kini menatap kearah sang suami dengan kerutan di keningnya.
"Memangnya kamu mau apa? biskuit, es krim, coklat atau makanan ringan. Kalau kamu mau aku ambilin bentar." Devano mendengus, ia tak menginginkan itu semua tapi ia menginginkan sesuatu di diri Ciara.
"Aku gak mau semua itu tapi aku maunya kamu," tutur Devano sembari tersenyum manis dengan tangan yang menaruh kembali gelas tadi diatas meja dapur.
Ciara yang melihat itu justru semakin mengerutkan keningnya.
"Jangan gombal sayang. Gombalanmu itu sudah tidak berlaku lagi," ujar Ciara.
"Ish siapa juga yang gombal. Aku beneran maunya kamu. Cium gih pumpung gak ada orang," tutur Devano sembari memajukan wajahnya mendekat kearah Ciara bahkan bibirnya kini sudah manyun beberapa senti kedepan.
"Gak mau. Apa kamu gak kasihan sama bibir aku ini sekarang, yang rasanya seperti menebal beberapa senti setelah semalaman kamu cium terus-menerus," tolak Ciara dan ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan dapur tersebut tapi sayangnya tangan Devano bergerak dengan cepat memeluk pinggang Ciara.
"Cuma kecupan saja sayang, gak lebih," tutur Devano.
"Gak sayang. Lepasin ih, malu kalau sampai dilihat orang nanti apalagi sampai di lihat Kiya," ucap Ciara sembari berusaha melepaskan pelukan Devano tadi. Tapi sayangnya tenaga Devano lebih besar darinya sehingga sekuat apapun ia berusaha melarikan diri dari sang suami tak akan pernah bisa kecuali kemauan Devano segera ia penuhi.
"Oke-oke aku bakal cium kamu tapi lepasin dulu pelukan kamu ini, pengap tau sayang," keluh Ciara tapi bukanya langsung dilepas seperti keinginannya tadi, Devano justru hanya membalikan tubuhnya hingga keduanya sekarang tengah berhadapan satu sama lain.
Ciara yang melihat senyum penuh kemenangan bagi wajah Devano itu pun hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu setelahnya ia menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan jika benar-benar tak ada orang disekitar mereka berdua. Dan setelah dipastikan aman, Ciara segera melakukan keinginan Devano tadi untuk mengecup bibir seksi sang suami. Tapi ternyata tidak semudah itu bagi Ciara untuk segera lepas dari Devano, karena sekarang suaminya itu justru menekan tengkuk lehernya dan memperdalam ciuman mereka bahkan tangan Devano sudah menjalar kemana-mana. Dan lama-kelamaan Ciara juga mengikuti permainan dari sang suami.
Saat keduanya tengah menikmati kegiatan tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang tepat di belakang Ciara.
"Mama sama Papa ngapain?" tanya orang itu yang pastinya adalah Kiya dengan nada suara polosnya. Dan hal itu membuat Ciara juga Devano langsung melepaskan tautan bibir mereka bahkan tanpa sengaja Ciara mendorong tubuh Devano sangat kencang hingga membuat pinggang Devano terpentok ujung meja.
"Aw," rintih Devano sembari memegangi pinggangnya.
"Astaga sayang. Maaf, maaf aku gak sengaja," ucap Ciara dengan khawatir sembari ia mendekati Devano yang masih meringis kesakitan.
Kiya yang masih bingung dengan situasi yang ia lihat saat ini pun hanya bisa terbengong di tempatnya.
"Sakit sayang. Kamu kok tega gitu sih sama aku," tutur Devano dengan raut wajah yang ia buat sesedih mungkin.
"Maaf, aku tadi refleks. Coba buka dikit baju kamu biar aku lihat apa ada luka gak di pinggang kamu," ucap Ciara dan perlahan Devano pun menyingkap bajunya dan benar saja ada memar di pinggang laki-laki itu.
Devano yang melihat wajah murung dari sang istri pun langsung mengelus pipi Ciara dengan lembut.
"Udah gak papa. Nanti di kompres pakai es batu bakal sembuh kok," ujar Devano dengan senyum yang mengembang saat Ciara menatap dirinya.
"Ya udah kalau gitu kamu duduk dulu. Aku ambilin es batu buat ngobatin luka kamu itu." Ciara kini menarik salah satu kursi makan yang dekat dengannya lalu mendudukkan tubuh sang suami di kursi tadi dan barulah ia berlari menuju kulkas di dapur tersebut juga peralatan lainnya yang sekiranya ia butuhkan.
Sedangkan Kiya yang sedari tadi melihat kedua orangtuanya tanpa mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi kini mulai mendekati Devano. Dan setelah sampai disamping Devano, ia mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Papa kenapa?" tanya Kiya dengan menatap pinggang Devano yang bajunya masih terkesiap.
"Kepentok meja," jawab Devano.
Plakkk!!!
"Aw, sakit Kiya," ucap Devano pasalnya sang anak justru malah menepuk kencang lebam di pinggangnya itu.
"Lah sakit ya Papa? Kiya kira tadi gak sakit," ujar Kiya dengan wajah polosnya.
"Sakit lah Maimunah, udah tau memar begini masih aja di ketok," ucap Devano dengan sebisa mungkin ia menahan amarahnya.
"Maimunah siapa Pa?" tanya Kiya.
Astaga, Devano kini benar-benar frustasi menghadapi anak perempuannya itu.
"Penjual sayur keliling," jawab Devano dengan wajah yang sudah tak mengenakan jika di lihat. Tapi Kiya mah bodoamat dengan perubahan raut wajah Devano.
"Memangnya penjual sayur itu sekarang ada disini sampai Papa panggil dia? Tapi Kiya dari tadi gak lihat tuh," ucap Kiya sembari mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan tersebut.
Devano kini memejamkan matanya sesaat, ia benar-benar berharap Ciara cepat datang agar ia terbebas dari pertanyaan tidak penting dari Kiya itu.
"Gak ada. Dia gak kesini. Udah cukup Kiya jangan tanya-tanya lagi, Papa lagi sakit ini. Bukannya disayang-sayang atau kalau gak di elus-elus malah di bikin pusing sama kamu," ujar Devano yang sebentar lagi kesabarannya akan habis.
"Ow jadi Papa mau Kiya sayang-sayang sama elus-elus. Bilang dong dari tadi," ucap Kiya lalu setalahnya ia mendekati Devano dan hal itu justru membuat Devano waspada dengan apa yang akan anaknya itu lakukan kepadanya.
Dan setelah Kiya benar-benar berdekatan dengan sang Papa, Kiya berdiri dengan kursi tadi sebagai injakannya lalu setalahnya tangannya terulur kearah kepala Devano. Ia menyenderkan kepala sang Papa ke dada kecilnya itu dan dengan lembut Kiya mulai mengelus kepala Devano.
"Sayang-sayang. Sayangnya Kiya, sayangnya Mama, sayangnya Abang dan sayangnya semuanya," ucap Kiya terus menerus dengan tangan yang selalu mengelus Devano. Tanpa ia tau jika sang Papa kini tengah tertekan bahkan jika bisa ia menangis saat itu juga, saking sudah tak kuat menghadapi tingkah Kiya yang selalu di luar ekspektasinya.
...****************...
Hay semua setelah kemarin author tanya ke kalian semua, ternyata kaliana masih suka sama ceritanya. Dan setelah author pikir-pikir akhirnya author memutuskan untuk mengganti ekstra part ini menjadi Season 2 yang hanya menceritakan tentang Al dan Kiya semasa kecilnya tanpa ada konflik yang berat.
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah membaca cerita ini. Jangan lupa Like, Vote, komen, dan kasih hadiah.
Happy reading kesayangan 🤗 See you next eps bye 👋