Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 22


Ciara yang baru selesai menyiapkan peralatan untuk mengompres lebam Devano pun, mengerutkan keningnya saat melihat sepasang ayah dan anak itu tengah berpelukan.


Dan saat tatapan mata Ciara bertemu dengan tatapan mata Devano, ia mengkode Devano layaknya ia tengah bertanya, "Apa yang telah terjadi?" sembari tangannya menaruh baskom berisi air es ke atas meja.


Devano yang mengerti kode itu pun langsung mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan dan hal itu membuat Ciara semakin bingung saja.


Ciara kini menarik salah satu kursi disana dan duduk tepat disamping kanan Devano.


"Ehemmm," dehem Ciara agar bisa mengalihkan perhatian Kiya. Dan benar saja anaknya itu kini menatap dirinya tapi hanya beberapa detik saja lalu setelahnya ia kembali mengelus kepala Devano dengan gumamnya yang sama seperti sebelumnya.


"Kiya," panggil Ciara karena ia sudah tak tega melihat wajah tertekannya Devano saat ini.


"Iya Mama," jawab Kiya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Hemmmm boleh Mama pinjam Papanya sebentar. Mama mau ngobatin lukanya Papa, boleh kan sayang?" ucap Ciara dengan lembut.


Kiya tampak berpikir sejenak tapi tangannya masih saja bergerak mengelus kepala Devano. Lalu beberapa saat setelahnya ia mendudukkan kepalanya agar bisa melihat wajah sang Papa.


"Papa, sayang-sayangannya udah dulu ya. Nanti kita lanjut lagi setelah luka Papa di obatin sama Mama. Kalau Papa gak mau Mama yang ngobatin biar Kiya aja," ujar Kiya yang langsung membuat Devano melebarkan matanya. Kalau sampai Kiya yang mengobatinya sama saja ia cari mati. Bukannya sembuh eh malah di tambah luka lainnya nanti kan bisa panjang urusannya.


"Ah, gak usah sayang. Biar Mama aja ya yang ngobatin Papa. Kiya juga capek kan dari tadi sayang-sayang Papa terus dan lebih baik Kiya istirahat aja ya. Oh ya sebentar lagi makeup Kiya juga akan datang. Dan lebih baik Kiya tunggu Uncle Rafa karena Uncel yang akan bawain makeup Kiya kesini," ujar Devano.


Kiya kini berbinar saat mendengar bahwa barang yang telah ia inginkan sejak lama akhirnya akan datang juga.


"Benarkah?" tanya Kiya memastikan sembari melepaskan kedua tangannya dari kepala Devano.


Devano menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Ahhhhh akhirnya makeup Kiya mau datang juga," teriak Kiya sembari turun dari kursinya dan tanpa permisi ia langsung berlari menuju ruang tamu dengan teriakan hebohnya.


Ciara yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Devano, ia sekarang bisa bernafas lega.


"Huwaaaaa akhirnya lepas juga," ucap Devano yang mampu mengalihkan perhatian Ciara.


"Kalian tadi ngapain sih. Gak biasanya romantis-romantisan berdua kayak gitu?" tanya Ciara sembari tangannya yang mulai mengobati lebam Devano.


"Kok bisa?" ujar Ciara.


"Ya bisa lah. Masak dia tadi habis lihat pinggangku ada lebamnya malah di tabok, terus pakai tanya sakit gak lagi? Padahal udah tau Papanya sampai meringis kesakitan tadi setelah dia tabok. Dan yang lebih menyebalkan lagi, saat aku bilang bukannya disayang-sayang dan di elus-elus sama dia saat Papanya sakit. Eh habis bilang begitu, dia ngelakuin seperti yang kamu lihat tadi. Dan itu benar-benar menyebalkan," tutur Devano yang malah membuat Ciara terkekeh kecil.


"Ck, kenapa malah ketawa sih? Gak ada yang lucu lho sayang," sebal Devano.


Ciara kini menghentikan tawanya kemudian ia menatap wajah Devano lekat-lekat. Lalu tangannya kini terulur untuk menangkup kedua pipi Devano.


"Sebenarnya Kiya gak salah sih sayang. Kamu pengen disayang-sayang dan di elus-elus sama dia, ya dianya akan melakukan apa yang kamu inginkan dan ucapankan tadi. Dan mungkin dia tanggapnya disayang-sayang dan di elus-elus tuh ya seperti yang dia lakukan tadi," ucap Ciara.


"Ck, kenapa kamu malah bela dia sih?" tutur Devano.


"Aku gak bela siapa-siapa sayang. Karena kalian berdua gak ada yang salah. Mungkin hanya salah pengertian saja satu sama lain. Dan sebenarnya masalah ini gak perlu di perpanjang lagi. Toh dia juga anak kamu, ingat itu," ujar Ciara yang semakin membuat Devano mengerucutkan bibirnya.


Ciara yang gemas dengan Devano pun tangannya kini mencubit bibir Devano.


"Bibirnya gak usah gitu ih," tutur Ciara.


"Kiss dulu." Ciara memutar bola matanya malas.


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan," batin Ciara. Tapi setelahnya ia juga melakukan apa yang diinginkan oleh sang suami daripada nanti sang empu merengek seperti anak kecil. Namun kali ini hanya sekedar kecupan singkat saja karena keduanya juga perlu waspada karena disekitar mereka masih ada Kiya yang sewaktu-waktu akan menciduk mereka berdua kembali.


Dan saat kedua orangtua itu tengah sibuk dengan tingkah laku Kiya ditambah masalah tentang setan belum tertuntaskan, berbeda dengan Al yang kini tengah berada di sekolahnya. Dan saat ini jam istirahat beberapa menit yang lalu telah berbunyi dan hal itu membuat semua orang yang ada di kelas Al berhamburan keluar tak terkecuali dengan Al.


Dan kini ia tengah berada di kantin sekolah untuk mengantri makan siangnya. Tenang, makanan di kantin sekolah Al tak perlu membayar karena itu salah satu fasilitas yang didapatkan oleh semua murid yang bersekolah disana. Jadi para orangtua tak perlu khawatir jika anak-anak mereka akan makan sembarangan karena makanan yang disediakan sudah dipastikan higienis dan sehat tentunya.


Dan saat Al tengah mengantri, tiba-tiba saja di barisan depan terdengar kegaduhan yang membuat Al penasaran dan alhasil ia mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang tengah terjadi di depan sana. Dan ternyata didepan sana seperti biasa ada segerombolan anak laki-laki yang tak mau mengantri seperti yang lainnya dan dengan semena-mena ia akan menerobos antrian paling depan dengan alasan dia Kakak kelas mereka juga anak dari kepala sekolah tersebut. Bahkan anak kepala sekolah itu juga tak akan segan-segan mendorong orang yang tempatnya ia terobosan itu dan alhasil membuat beberapa anak jatuh karena dorongan anak kepala sekolah and teh gang tadi.


Al yang sudah sering melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafas. Bahkan ia juga sempat berpikir, bisa-bisanya anak yang tak memiliki sopan santun seperti itu masih di pertahankan di sekolah elit seperti ini. Walaupun dia anak kepala sekolah setidaknya juga menaati peraturan yang ada bukan semena-mena. Dan jika sudah keterlaluan seperti ini, pihak sekolah harusnya mengeluarkan dia dari sekolah ini bukan? tapi sayangnya mereka tak melakukan hal tersebut. Entah mereka tau atau tidak tentang sikap anak kepala sekolah itu yang sangat bermasalah, entahlah Al juga tak tau dan tak habis pikir dengan itu semua. Selagi dirinya belum diganggu sama mereka, ia tak akan ikut campur masalah tersebut.


Tapi saat Al ingin kembali fokus ke antriannya, matanya tak sengaja menatap salah satu anak yang masih terduduk dilantai kantin tersebut dengan seragam yang basah.


"Sepertinya aku pernah lihat dia," gumam Al sembari mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu dengan orang yang ia lihat sekarang atau hanya mirip saja. Tapi setelah ia pastikan jika orang itu benar-benar pernah bertemu dengannya pun membuat Al berdecak. Lalu tanpa pikir panjang, Al melangkahkan kakinya menuju anak tadi yang berusaha berdiri dari duduknya.