
Sesampainya Ciara dan Al di lantai bawah lebih tepatnya di meja makan, mereka berdua masih sempat melihat sepasang anak dan ayah itu saling berpelukan. Hingga hal tersebut membuat Ciara dan Al saling menatap satu sama lain. Namun sesaat setelahnya, mereka berdua menggedikkan bahunya.
"Ada apa tadi ribut-ribut?" tanya Ciara saat dirinya sudah duduk di kursi makannya yang tentunya dibantu oleh Al.
Devano juga Kiya kini melepaskan pelukannya.
"Biasa lah," ucap Devano sembari beranjak menuju kursinya karena kursi tadi adalah kursi yang selalu digunakan Al.
"Emang kenapa lagi?" tanya Ciara dengan kepo.
"Kasih garam di makanan," jawab Devano dengan berbisik takut Kiya nanti mendengarkan ucapan mereka dan berakhir anak itu akan berulah lagi.
"Kok bisa? Terus gimana makanannya?"
"Katanya dia, makanannya kurang asin sedikit dan alhasil rasa makanan itu ya asinnya kebangetan lah. Dan semoga aja masih bisa diselamatkan sama mbak," ucap Devano.
Ciara kini menghela nafas berat.
"Huh, aku rasa dia waktu di rumah sakit ketukar deh sama baby lain," celetuk Ciara yang membuat Devano kembali mengalihkan pandangannya kearah sang istri lalu setalahnya tatapan matanya berpindah kearah Kiya yang tengah sibuk bermain lego yang entah kapan ada di atas meja makan itu.
"Aku rasa juga begitu," ujar Devano mensetujui ucapan dari Ciara tersebut.
"Terbukti dari sifatnya yang super duper jahil ini bukan nurun dari kita berdua. Bahkan aku dulu waktu kecil kata Mama malah gak suka sama yang berbau-bau make up bahkan sampai dewasa sekalipun. Kamu juga tau kalau aku dulu waktu di kuliah bagaimana tampilanku kan?" ucap Ciara dan belum sempat ia menyelesaikan perkataannya tadi, Devano lebih dulu memutusnya.
"Ya pastinya tau lah. Kamu dulu tuh perempuan yang menurutku kalem, cantiknya natural, sopan, dan gak neko-neko. Bahkan aku lihat kamu pakai makeup yang benar-benar kelihatan tuh waktu malam itu, kamu tau lah malam yang mana yang aku maksud ini," ujar Devano.
Ciara memutar bola matanya. Ya siapa juga yang akan lupa jika malam itu adalah malam bersejarah sekaligus menjadi awal masa kelamnya.
"Iya-iya aku paham. Malam yang hmmm sudahlah," tutur Ciara.
Devano yang tau jika perkataannya tadi membuat Ciara kembali mengingat masa lalunya itu pun kini ia mendekatkan diri kepada Ciara lalu memeluk tubuh sang istri.
"Maaf udah bikin kamu ingat lagi masa-masa menyesakkan itu," ujar Devano.
"Udah, aku gak papa. Kamu gak perlu minta maaf. Sekarang kita fokus ke masa depan saja. Dan bukannya kita tadi bahas tentang Kiya, kenapa malah merembet kesini sih topiknya," tutur Ciara sembari melepaskan pelukan Devano.
"Iya juga ya. Ya udah fokus gibah Kiya sekarang. Gibahin anak sendiri gak dosa kan ya?" tanya Devano.
"Entahlah, seperti sih tetap dosa tapi udah terlanjur. Jadi, lanjutkan saja," jawab Ciara yang malah diangguki setuju oleh Devano.
"Nah karena aku gak suka makeup dan Kiya hobi banget makeup, aku rasa memang anak ini bukan anak kita," lanjut Ciara bercanda tentunya.
"Tapi wajah dia mirip sama kamu lho sayang," tutur Devano sembari memperhatikan wajah sang anak perempuannya.
"Iya juga sih. Tapi sifatnya itu nurun dari siapa coba? kadang tuh ya aku yang sebagai emaknya yang hampir 24 jam sama dia suka heran sendiri sama tingkah dan kelakuannya, yang terlalu membuat darah tinggi. Apalagi sama pikirannya yang selalu mengeluarkan ide-ide cemerlang yang buat otakku langsung mengebul," ucap Ciara dengan diakhiri ia menggembungkan pipinya.
Dan hal itu membuat Devano merasa gemas sendiri dan tangannya kini terulur untuk mencubit pelan pipi sang istri lalu tangannya kini beralih ke kepala Ciara.
"Yang sabar ya sayang. Anak kedua kita itu emang spesial buat ngelatih kesabaran kita berdua bahkan kita semua yang ada disini," ujar Devano sembari mengelus kepala Ciara.
Untuk beberapa saat setalahnya tampak hening tak ada percakapan lagi dari keluarga kecil itu karena Devano tengah sibuk dengan urusan kantornya yang masih harus ia pantau walaupun sedang libur, Al yang fokus dengan buku di depannya sedangkan Kiya masih terus fokus dengan lego-legonya. Hingga atensi mereka semua teralihkan saat sarapan mereka datang.
Dan dengan cekatan Ciara langsung mengambilkan sarapan itu untuk suaminya juga kedua anaknya.
Setelah beberapa menit ruangan itu tampak hening dan hanya terdengar suara dentingan alat makan kini keheningan itu terpecahkan dengan suara Al.
"Pa, Ma. Al udah selesai sarapannya, jadi Al berangkat dulu," ucap Al sembari memakai tasnya disalah satu pundaknya saja. Kemudian ia berjalan mendekati kedua orangtuanya lalu mencium tangan keduanya.
"Al berangkat. Assalamualaikum," pamit Al.
"Waalaikumsalam," balas mereka semua yang mendengar salam dari Al tadi.
Al kini mulai melangkahkan kakinya tapi baru beberapa langkah saja, suara Kiya nyaring terdengar ditelinganya.
"Abang belum kiss Kiya!" teriak Kiya yang belum mendapat morning kiss seperti biasanya dari Al sebelum Abangnya itu pergi kesekolah.
Al kini memutar tubuhnya kembali, lalu mendekati Kiya.
"Gak sekolah lagi?" tanya Al saat dirinya sudah berada di samping sang Adik.
Kiya yang ditanya seperti itu pun hanya membalasnya dengan cengiran kuda dan sepertinya anak itu sudah lupa akan melaporkan Devano kepada Ciara dan Al.
Sedangkan Al yang sudah hafal dengan sifat Kiya itu pun hanya memutar bola matanya malas. Kemudian ia langsung mencium kedua pipi Kiya.
"Abang berangkat. Jangan nakal sama Mama ataupun yang lainnya. Sedikit lah berpikir dewasa dan jangan terlalu manja. Satu lagi, jangan bikin masalah lagi," ucap Al yang diangguki oleh Kiya. Tapi ingat, Kiya hanya menganggukkan kepalanya saja yang bukan berarti ia mensetujui untuk tidak melakukan semua yang di ucapkan oleh Al tadi. Maklum saja, Kiya itu merupakan bahkan satu-satunya biang kerok dirumah tersebut.
Al kini tersenyum kemudian ia mengacak rambut Kiya sebelum dirinya kembali melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah tersebut.
Dan setelah Al hilang dari balik pintu, Kiya sudah memulai aksinya kembali dengan rengekan manjanya.
"Papa," panggil Kiya. Devano yang di panggil pun hanya memincingkan alisnya.
"Kenapa?" bukan Devano yang menjawab melainkan Ciara.
"Makeup sama boneka chucky Kiya mana? kok gak datang-datang?" tanya Kiya yang membuat kedua orangtuanya kini saling pandang.
"Gimana ini? kamu udah dapat kan?" tanya Ciara dengan berbisik-bisik.
"Kalau makeupnya sih udah. Nanti asistenku yang akan antar kesini tapi kalau boneka menyeramkan itu mending gak usah di beliin deh. Ngeri kalau kita sampai beli boneka seperti itu," balas Devano diakhiri dengan gidikan di tubuhnya.
"Iya juga sih. Ya udah kamu kasih alasan ke dia, kenapa kita gak mau beliin dia boneka itu," ujar Ciara.
"Lah kok aku?"
"Ya emang harus kamu lah. Kan yang di minatin buat beli kamu bukan aku," jawab Ciara dengan senyum kemenangannya.
Devano kini menghela nafas. Ia tak tau harus memberi alasan seperti apa ke Kiya nanti. Yang jelas ia tetap tak ingin jika rumah yang ia tinggali ini juga menjadi tempat tinggal boneka menakutkan itu.