
Al pulang tanpa membawa apa yang ia inginkan tadi bahkan saat dirinya sudah berada di rumah, kedua orangtuanya tampak terheran-heran tapi setalah dijelaskan oleh kedua bodyguardnya, mereka berdua barulah paham dan berakhir mengasihani anak laki-lakinya itu.
"Biar Papa nanti bantu Al cari buku itu. Siapa tau pesan online masih ada," ucap Devano sembari menepuk pundak Al.
"Gak usah Pa," tolak Al.
"Tapi itukan buku incaran kamu," tutur Devano.
"Pa, mau Papa cari dimana pun buku itu tetap gak bisa Al miliki. Karena mau itu di toko buku ataupun di situs online pun semuanya sudah sold out," ucap Al.
"Udah ya Ma, Pa. Al mau ke kamar dulu. Selamat malam," sambung Al lalu setalahnya ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sedangkan kedua orangtuanya itu kini hanya bisa menghela nafas.
"Dia pasti sedih karena gak dapat apa yang dia inginkan," ujar Devano sembari duduk di sofa di ruang santai yang kini hanya ada dirinya dan juga Ciara. Pasalnya sahabat-sahabatnya itu beberapa menit yang lalu sudah pulang kerumah masing-masing. Sedangkan Kiya, anak itu sekarang tentunya sudah tidur setelah di Nina Bobo kan oleh Zidan tadi.
Ciara kini ikut duduk disebelah Devano.
"Ya mau gimana lagi kalau semuanya udah sold out. Ya kali kita request ke penulisnya langsung atau ke penerbitnya biar di buatkan khusus untuk Al," ujar Ciara yang membuat Devano kini membelalakkan matanya sembari menatap sang istri.
"Kenapa gak dari tadi sih kasih idenya," ucap Devano yang membuat Ciara bingung sendiri.
"Ide apaan? Perasaan dari tadi aku gak ngasih ide apa-apa sama kamu," tutur Ciara.
"Ck, pokoknya ucapan kamu sebelumnya itu adalah ide buat aku," ujar Devano yang kini sudah sibuk mengotak-atik ponselnya.
Tapi saat ditengah-tengah dirinya mengotak-atik ponselnya itu, tangannya terhenti lalu tatapannya kini beralih kembali kearah Ciara yang membuat sang empu mengangkat kedua alisnya.
"Nama penulisnya siapa?" tanya Devano yang membuat Ciara memutar bola matanya.
"Mana aku tau," jawab Ciara.
"Hmmm kalau judul bukunya?"
"Aku juga gak tau, sayang. Mau itu judul buku, penulisnya atau penerbitnya aku gak tau sama sekali. Al juga tadi gak bilang mau beli buku apa. Jadi lebih baik kamu tanya sama anaknya sendiri sana, yang sudah pasti lebih tau segalanya," ujar Ciara yang membuat Devano tampak berpikir sejenak.
"Aku takut sayang," ucap Devano.
"Takut? Takut apa? Hantu? kan kata Kiya tadi hantunya udah pergi," tutur Ciara.
"Ck, hantu mah gak ada apa-apanya sayang. Tapi aku takut sama Al," ujar Devano diakhiri dengan cengiran kudanya.
"Hah? Kamu takut sama Al? Yang benar saja sayang. Kamu itu Papanya lho. Masak iya Papanya takut sama anaknya sendiri. Kalau orang normal mah dimana-mana anaknya yang takut sama bapaknya bukan malah kebalikannya. Gimana sih kamu," ucap Ciara tak habis pikir dengan suaminya itu.
"Tapi kalau anak-anak lain kan gak kayak Kutub Utara." Ciara kini mengerutkan keningnya.
"Dingin sayang, dingin. Al tuh dingin banget tau. Bahkan dinginnya dia tuh beda banget sama aku dulu. Kalau aku dulu dingin di luar tapi hangat didalam. Kalau Al, mau itu di luar atau didalam dia tetap aja dingin. Jadi mending kamu aja deh yang tanya sama dia masalah buku itu karena aku gak suka lihat anak-anakku sedih karena hal sepele seperti itu," ujar Devano sembari menarik tangan Ciara agar sang empu berdiri dari duduknya dan segera menemui Al.
Tapi semakin Devano menarik tangan Ciara, Ciara justru semakin kuat berpegangan di ujung sofa tersebut agar ia tetap duduk di sofa itu.
"Kenapa pegangan sih? Buruan ke kamar Al sayang. Kasihan dia," ucap Devano yang masih berusaha membangkitkan tubuh Ciara.
"Bentar deh sayang. Stop dulu tarik-menariknya," ujar Ciara yang langsung membuat Devano menghentikan aktivitasnya tadi.
"Bentar apa lagi sih sayang? Keburu Al tidur lho." Ciara kini menatap wajah Devano penuh dengan tatapan permohonan.
"Dan ini kenapa malah natap aku begitu?" sambung Devano.
"Takut," celetuk Ciara.
"Takut?" Ciara menganggukkan kepalanya.
"Sama Al?" Lagi-lagi Ciara mengangguk yang membuat Devano kini menepuk keningnya.
"Tadi aja berlagak berani sama Al, mana pakai ngejek aku segala lagi. Tapi giliran di suruh buat maju dan tanya langsung sama Al, eh ternyata juga sama saja. Sama-sama takut sama anak sendiri. Orangtua macam apa kita ini?" tutur Devano sembari mendudukkan tubuhnya. Bahkan tubuhnya kini ia sandarkan disandaran sofa tersebut.
"Orangtua abal-abal sepertinya," jawab Ciara.
"Haish, semakin lama usia pernikahan bukan semakin matang buat jadi orangtua tapi justru semakin bobrok aja," gerutu Devano yang diangguki setuju oleh Ciara. Dan kini Ciara ikut menyenderkan tubuhnya disenderan sofa tadi dengan kepala yang ia rebahkan di dada sang suami.
"Sepertinya kita butuh training untuk jadi orangtua yang tidak takut sama anaknya sendiri," usul Ciara.
"Sepertinya begitu. Kita besok cari dimana tempat traning yang bagus buat pelatihan menjadi orangtua sesungguhnya," ujar Devano yang diangguki oleh Ciara.
Sebenarnya mereka berdua sudah menjadi orangtua yang sesungguhnya bahkan sangat baik dalam mendidik anak-anak mereka tapi yang menjadi kekurangan pasangan itu adalah ketakutannya ketika melihat Al yang semakin lama dan semakin usianya bertambah, anak itu semakin dingin dan tak tersentuh. Walaupun ia yakin anaknya itu masih punya sisi lembut untuk keluarganya tapi tetap saja jika mereka melihat mata anak laki-lakinya itu, seakan-akan tatapan mata itu sangat-sangat mematikan bagi lawan bicaranya. Dan bukan sekali atau dua kali mereka berdua di buat terdiam hanya karena tatapan Al melainkan berkali-kali. Aneh memang tapi itulah kenyataannya yang tak bisa mereka pungkiri lagi.
Dan saat kedua orang itu tengah berbincang-bincang mengenai Al. Disisi lain lebih tepatnya di dalam kamar, Al justru tengah bersin-bersin sedari tadi hingga membuat hidungnya memerah.
"Aduh kenapa bersin-bersin terus sih dari tadi," gerutu Al sembari mengusap hidungnya.
"Apa aku kena flu gara-gara tadi main hujan-hujanan?" pikir Al.
"Ah gak kok. Aku tadi kena air hujan gak sampai basah kuyup. Dan gak mungkin juga kan cuma kena air hujan dikit udah bikin flu. Kalau memang aku lagi flu gara-gara itu, lemah banget imun di dalam tubuhku. Ck," gumam Al diakhiri dengan decakan sebal.
"Haish, gak tau lah. Lihat besok pagi aja, kalau aku pusing berarti ini tanda-tanda kalau aku kena flu. Tapi kalau tidak, berarti aku gak kenapa-napa," ujar Al lalu setelahnya ia menarik selimutnya sampai dadanya dan barulah ia mulai menutup matanya untuk segera menyambut mimpi indahnya itu.