
Pagi ini kedua belah pihak sudah siap di sebuah hotel ternama yang akan digunakan untuk acara pernikahan Devano dan Ciara. Seluruh tamu undangan yang ingin ikut menyaksikan acara Ijab Qobul telah datang semua. Begitu juga dengan penghulu yang sekarang sudah berada di depan Devano bersama Papa Julian disamping penghulu tersebut.
Devano sesekali mengatur nafasnya untuk sedikit menghilang kegugupan saat MC acara telah mulai menyebutkan serangkaian acara nanti. Hingga akhirnya MC tersebut mempersilahkan bapak penghulu untuk memulai acara ijab qobul tersebut.
"Nak Devano sudah siap?" tanya penghulu tersebut.
"Huh, insyaallah siap," jawab Devano.
"Tuan Julian siap?" tanyanya lagi.
"Insyaallah siap."
"Baik, kalau begitu mari kita mulai ijab qobul nya," tutur penghulu tersebut. Kini tangan Devano yang terasa dingin menyalami tangan Papa Julian yang langsung menggenggam tangan tersebut begitu erat guna menyalurkan ketenangan kepada Devano.
Setelah itu Papa Julian mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan Ijab.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Devano Belvix Rodriguez bin Tian Rodriguez dengan anak kandung saya Ciara Devania Eveline binti Julian Guswan dengan mas kawin uang sebesar 4 miliar rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ciara Devania Eveline binti Julian Guswan dengan mas kawin 4 Milyar rupiah dibayar tunai," ucap Devano dengan satu tarikan nafasnya.
"Gimana para saksi sah?" Ucap penghulu dan dijawab teriakan sah oleh semua orang yang berada di sana.
"Alhamdulillah," tutur Devano yang sekarang bisa bernafas lega. Akhirnya ia bisa melewati acara ijab qobul tanpa kendala sedikitpun dan tanpa ia sangka dengan satu tarikan nafas Ciara sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Tak berselang lama setelah acara ijab qobul tadi, kini Ciara di dampingi dengan sang Mama, Al dan juga dua sahabatnya perlahan menghampiri Devano yang sekarang sudah berdiri untuk menyambut Ciara.
"Astaga apakah ini beneran istriku, Ciara?" tanya Devano dalam hatinya. Pasalnya Ciara terlihat begitu mengagumkan dengan balutan gaun pengantin ditambah dengan hijab yang menutupi kepalanya.
"Papa," teriak Al heboh saat melihat Devano berdiri di depannya dengan pakaian yang sama dengan dirinya. Devano kini mengalihkan pandangannya menatap Al yang sekarang tengah berlari menghampirinya.
Devano tersenyum kearah Al yang baru hari ini ia melihatnya kembali setelah melakukan ritual pingit 1 minggu kemarin. Setelah itu ia memeluk tubuh Al sesaat sebelum Ciara sampai di hadapannya.
"Papa kangen Al," ucap Devano dalam pelukannya.
"Al juga kangen Papa," balas Al. Semua orang yang hadir disana tampak tersenyum penuh kebahagiaan saat melihat interaksi antara Devano juga Al.
"Oh iya Pa. Mama hari ini cantik sekali. Al suka lihatnya," ujar Al sembari melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya untuk melihat Ciara yang kini sudah berada di belakangnya.
"Papa tau sayang," bisik Devano. Kemudian ia berdiri dari jongkoknya dan langsung tersenyum kearah Ciara.
"Silahkan pengantin wanita untuk mencium telapak tangan suaminya," ucap penghulu memberi arahan.
Ciara kini tersenyum kemudian ia mencium tangan Devano sesuai arah penghulu tadi. Setelahnya Devano mendekatkan tubuhnya ke Ciara dan mencium kening Ciara cukup lama.
"Kamu sangat cantik hari ini," ucap Devano lirih setelah mencium Ciara.
Ciara yang di puji oleh Devano pun tampak malu-malu meong. Kemudian mereka duduk di kursi untuk menandatangani berkas tentang pernikahan mereka.
Baru setelahnya mereka berdua di tambah Al berjalan menuju singgasana pengantin untuk menyalami para tamu yang akan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
1 jam sudah mereka berdiri untuk menyambut ucapan para tamu tadi. Setelah dirasa seluruh tamu sudah memberikan ucapan selamat, akhirnya Devano dan Ciara kini di perbolehkan untuk istirahat sebentar di kamar pengantin sebelum melanjutkan acara resepsi pernikahan yang akan di laksanakan 1 jam kemudian.
Setelah sampai di kamar pengantin, tanpa menunggu lama, Devano langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size tersebut.
Tapi berbeda dengan Ciara, wanita itu malah duduk di sofa kamar tersebut.
Devano yang melihat hal itu pun kini bangkit dari tidurannya sembari melepaskan tuxedo dan menggulung lengan kemejanya hingga sampai batas siku. Kemudian ia menghampiri Ciara.
"Capek?" tanya Devano sembari duduk disebelah Ciara.
Ciara yang tadinya memejamkan matanya kini menoleh ke sumber suara dengan anggukan kecil untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Kaki kamu taruh sini," ucap Devano sembari menepuk pahanya.
"Buat apa?"
"Ck, taruh aja."
"Gak ah, gak mau," tolak Ciara.
"Ci, aku ini udah jadi suami kamu lho," ujar Devano.
"Iya aku juga tau. Terus apa hubungannya coba?"
"Ya kamu harus turutin apa yang aku perintahkan dong. Dan kalau kamu gak nurutin berarti kamu dosa sama suami sendiri." Ciara berdecak tapi kini ia memiringkan tubuhnya dan menaruh kedua kakinya di pangkuan Devano.
"Enak kan?" Ciara tersenyum.
"Terimakasih," ucap Ciara. Devano menganggukkan kepalanya.
Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara keduanya, hingga suara pintu di kamar tersebut berbunyi.
"Aku bukain dulu pintunya." Ciara mengangguk kemudian ia menurunkan kakinya dari pangkuan Devano sebelum suaminya itu beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu kamar tersebut.
"Maaf Tuan. Saya disini akan menata ulang nyonya Ciara karena beberapa menit lagi, acara resepsi akan segera dimulai," ucap wanita yang ternyata adalah MUA yang menangani Ciara di hari spesial ini.
"Silahkan masuk." Devano kini mempersilahkan MUA tersebut untuk masuk kedalam kamar pengantin.
"Eh Mbak Yuni, udah mau mulai lagi ya?" tanya Ciara saat melihat MUA-nya menghampiri dirinya dengan membawa satu gaun di tangannya.
"Iya nyonya karena beberapa menit lagi acara resepsi dimulai." Ciara menganggukkan kepalanya kemudian ia beranjak dari duduknya menuju depan meja rias disusul Mbak Yuni untuk membantu melepaskan atribut yang dipakai Ciara.
Sedangkan Devano, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur sembari memainkan ponselnya dan sesekali matanya menatap Ciara didepannya. Hingga Ciara telah selesai dengan riasanya dan MUA tadi sudah keluar dari kamar tersebut, barulah Devano mendekati Ciara dan memeluk tubuh Ciara dari belakang.
"Bidadariku hari ini sangat cantik sekali," puji Devano sembari melihat wajah Ciara dari pantulan cermin.
"Terimakasih atas pujiannya tuan Devano," tutur Ciara.
"Ck, jangan panggil aku tuan wahai istriku, kamu bukan anak buahku atau bawahanku. Panggil aku sayang kek sekali-kali," pinta Devano.
"Baiklah sayang. Ya sudah kamu bersiap dulu sana, 15 menit lagi kita udah harus turun lho." Devano berdecak. Ia sangat enggan untuk melepaskan pelukannya sekarang.
"Ck, kenapa harus ada resepsi segala sih?"
"Ck, jangan ngeluh dulu. Ini juga keputusan kedua belah pihak. Jadi buruan sana ganti baju kamu."
Devano kini dengan terpaksa melepas pelukannya.
"Aku lagi malas ganti baju. Gantiin dong sayang," goda Devano sembari menaik-turunkan alisnya.
"Bukan waktunya untuk bercanda Devano. Buruan ganti atau aku turun kebawah sendiri."
"Ck, iya-iya. Galak sekali sih istriku ini," tutur Devano sembari mencolek dagu Ciara yang memuat sang empu memutar bola matanya malas.
Ditengah Devano bersiap, tiba-tiba terdengar gedoran pintu di iringi suara cempreng Al.
"Mama, Papa, bukain pintunya!" teriak Al. Ciara kini membukakan pintu tersebut dan tampaklah Al di balik pintu itu dengan memakai tuxedo yang sama persis dengan tuxedo yang akan dipakai Devano.
"Wah tampan sekali anak Mama," ucap Ciara setelah Al masuk kedalam kamar tersebut.
"Iya dong. Kan Mama Al cantik jadi Al harus tampan," tutur Al. Ciara tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Oh ya Papa kemana Ma?"
"Papa lagi ganti baju di kamar mandi. Al, kita duduk dulu yuk di sofa itu." Al mengangguk kemudian mereka berdua beranjak dan duduk di sofa tadi.
Tak berselang lama, Devano keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang begitu rapi.
"Lho ada anak Papa ternyata. Tampan sekali sih," puji Devano sembari menghampiri Al yang tengah menatapnya.
"Iya dong Pa. Bahkan Al mirip Papa. Iya kan Ma?"
"Iya sayang. Sejak kecil Al memang mirip sama Papa." Al tersenyum senang saat sang Mama mengakui kemiripan dirinya dengan Devano.
"Udah siap semua kan?" tanya Ciara yang diangguki oleh Al dan Devano.
"Kita turun kebawah sekarang aja. Mama juga udah WA dan kasih tau kalau udah banyak tamu yang nunggu kita," tutur Ciara sembari berdiri dari duduknya diikuti dua jagoannya.
Kini ketiga orang tersebut mulai menuruni anak tangga dengan posisi Al di tengah-tengah kedua orangtuanya dan menggandeng tangan Mama, Papanya. Terlihat senyum bahagia yang terpancar dari sepasang suami-istri itu. Perjuangan yang selama ini mereka tempuh untuk berdamai dengan masa lalu yang begitu kelam akhirnya terbalas dengan sebuah pernikahan. Mereka berdua berharap agar rumah tangga yang baru mereka mulai ini selalu di ridhoi dan selalu diberkahi oleh Allah SWT tak lupa dengan hidup penuh kebahagiaan tanpa adanya permasalahan besar yang akan membuat hubungan mereka renggang nantinya.
...****************...
Yesss akhirnya sah juga🤠Jangan lupa kasih hadiah ke pasangan baru ini dengan cara Like, Vote, kasih hadiah, Tips dan juga jangan lupa untuk komen ya🤗
Dan author ucapkan terimakasih kepada seluruh readerku yang cantik dan juga tampan yang sudah setia baca cerita ini dan selalu kasih dukungan ke author 😘
See you next eps bye 👋