Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 84


Ucapan dari Kiya tadi benar-benar membuat tubuh Al kini benar-benar lemas, matanya sudah mulai berkaca-kaca dengan perasaan yang campur aduk ia rasakan.


"Tidak. Apa yang Kiya katakan itu tidak benar kan? Yura baik-baik saja kan? Dia tidak meninggal, di masih hidup!" ucap Al dengan histeris. Dan hal tersebut langsung membuat Doni kini bergerak untuk memeluk tubuh Al sedangkan Toni berjalan menghampiri Kiya yang masih menangis dan akan mencoba menenangkan anak perempuan tersebut.


"Om, Yura baik-baik saja kan? Dia tidak mungkin meninggalkan Al sendiri disini kan? Om katakan!" teriak Al saat tubuhnya sudah berada di dekapan Doni.


"Tuan muda tenang dulu ya," ucap Doni.


"Tidak! Al ingin bertemu dengan Yura sekarang! Al mau bertemu dengan dia! Lepasin Al, Om!" ucap Al sembari memberontak didalam pelukan Doni.


Hingga Doni mulai kewalahan dan berakhir Al terlepas dari pelukan Doni. Dan tanpa hitungan detik Al kini berlari menelusup ke jejeran para bodyguard yang mengurungnya tadi.


"Abang!" teriak Kiya yang tak rela jika Al pergi dari rumah tersebut karena setelah Al meninju salah satu bodyguard yang menghalangi jalannya, Al berhasil keluar dari kungkungan bodyguard tadi. Dan kini ia berlari menuju pintu utama rumah tersebut.


"Tuan muda, berhenti!" teriak Doni dan Toni tapi sama sekali tak didengar oleh Al.


Hingga anak itu kini melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut. Dan bertepatan dengan itu pula, Ciara dan Devano baru saja tiba di rumah tersebut.


"Tuan besar, hentikan tuan muda sekarang. Dia akan kabur mencari keberadaan nona Yura!" teriak salah satu bodyguard yang melihat keberadaan Devano yang baru saja di lewati oleh Al.


Dan ucapan dari bodyguard tadi berhasil membuat Devano dan Ciara bergerak untuk mengikuti arah lari Al.


"Tutup pintu gerbang sekarang!" teriak Devano yang ia tujukan kepada satpam yang baru saja ingin membuka pintu gerbang tadi untuk Al.


Tapi setelah mendengar teriakan dari bos besar di rumah tersebut, niatnya tadi ia urungkan.


"Pak buka sekarang!" teriak Al.


"Maaf tuan muda, saya tidak berani melawan perintah dari tuan besar," ujar satpam tersebut.


Dan hal tersebut membuat Al mengerang sembari menjambak rambutnya frustasi.


Ciara yang kini sudah berada di samping Al, ia langsung memeluk tubuh anak laki-lakinya tersebut.


"Lepasin Al! Jangan peluk tubuh Al!" teriak Al sembari memukul-mukul tubuh Ciara. Tapi walaupun begitu Ciara sama sekali tak melepaskan pelukannya tersebut.


"Lepasin Al, Ma. Al mau pergi cari Yura. Al mau bertemu dengan dia, Ma. Al mau membuktikan jika ucapan dari Kiya tadi tidak benar sama sekali," ucap Al sembari menghentikan pukulannya tadi.


"Ma, Pa. Yura baik-baik saja kan? Dia tidak mungkin meninggal kan? Dia hanya pindah rumah saja kan? Dan cepat atau lambat kita pasti bertemu lagi kan. Iya kan Ma, Pa?" tanya Al yang membuat kedua orangtuanya membisu, tak ada yang mau menjawab ucapan dari Al tadi.


Devano yang sudah berjanji kepada dirinya sendiri, jika Al bertanya keadaan Yura, maka ia harus menjelaskan semuanya kepada Al walaupun hatinya menantang kertas hal tersebut ia lakukan. Tapi ia sudah benar-benar tak tega untuk membohongi Al terus-menerus. Dan kemungkinan di hari itu juga adalah hari yang paling tepat untuk ia memberitahu kondisi Yura yang sebenarnya.


"Oke, Papa akan jawab semua pertanyaan Al tadi. Tapi kita ke dalam dulu. Dan jika Al menolak, maka Papa dan Mama tidak akan pernah memberitahu kondisi Yura yang sebenarnya," tutur Devano.


Dan setelah ia mengucapkan hal tersebut ia kini melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama rumah tersebut.


"Ayo sayang. Kita kedalam dulu ya," ucap Ciara dengan lembut. Dan setelahnya mereka berdua bergegas mengikuti langkah Devano yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah mewah tersebut.


Dan kini ketiga orang tadi ditambah Kiya dan dua bodyguard pribadi Al kini sudah duduk di ruang keluarga.


"Katakan apa yang ingin Al ketahui. Papa akan jawab semua pertanyaan dari Al dengan jujur," ucap Devano.


Al yang duduk disamping Ciara, ia kini menatap serius kearah Devano yang duduk didepannya itu tanpa mengucapkan sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Karena ia yakin kedua orangtuanya itu tau apa yang ingin dia tanyakan.


Dan hal tersebut membuat Devano kini menghela nafas berat, sebelum ia mulai angkat suara.


"Baiklah, tanpa bertanya Papa sudah tau apa yang ingin kamu tanyakan. Dan Papa akan menjawabnya," ucap Devano.


"Sebelumnya Papa sama Mama ingin minta maaf ke kamu karena kita sempat menyembunyikannya dari kamu tentang kondisi Yura yang sebenarnya karena kita takut saat kondisi kamu belum setabil dan mengetahui hal ini, kondisi kamu akan drop kembali. Tapi setelah apa yang Papa lihat saat ini, mungkin hari ini adalah hari yang tepat untuk kamu mengetahui semuanya," ujar Devano dengan helaan nafas.


"Entah siapa yang memberitahu ke kamu sebelumnya tentang kondisi Yura, tapi perlu kamu tahu jika apa yang dikatakan oleh orang itu benar adanya. Yura sudah tidak bersama kita lagi di dunia ini. Dia sudah meninggalkan kita semua termasuk kedua orangtuanya. Dia sudah tenang bersama Allah. Dan dia sudah menjadi peri cantik di surganya Allah," ucap Devano yang langsung membuat tatapan tegas dari Al tadi berubah menjadi tatapan kosong.


Ciara yang berada di dekat Al pun kini ia bergerak untuk memeluk tubuh anaknya dari samping dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Al, maafin Mama, nak. Mama tidak bermaksud untuk membohongi Al. Dan Mama harap Al bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada," ucap Ciara dengan membelai rambut Al.


Dan ucapan dari Ciara tadi mampu membuat air mata Al yang sedari tadi tertahan akhirnya keluar juga.


Tapi dengan cepat Al menghapus air mata tersebut dengan kasar.


"Ma, lepasin Al. Al capek mau istirahat di kamar Al," ucap Al dengan suara yang lirih.


Dan hal tersebut membuat Ciara perlahan melepaskan pelukannya tadi dari tubuh anak laki-lakinya tersebut. Dan setelah Al tidak merasakan pelukan hangat dari sang Mama, kini ia berdiri dari duduknya, tapi sebelum dia mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut ia menatap satu persatu wajah orang-orang disana.


"Terimakasih karena sudah mau jujur dan mau memberitahu kondisi Yura yang sebenarnya ke Al. Terutama kamu, Kiya. Karena jika kamu tadi tidak keceplosan, sampai kapanpun Abang tidak akan pernah tau kebenaran yang selama ini mereka tutupi. Dan Al mohon jangan ganggu Al dulu, Al mau istirahat," ucap Al dan setelah mengucapkan hal tersebut ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Meninggalkan semua orang yang tengah menatap kepergian dirinya.