Young Mother

Young Mother
Weekend


"Cukup," tegas Daddy Tian dan kini ia menghampiri Devano dan juga keluarga Tiara tadi diikuti dengan Mommy Nina di belakangnya.


Keempat orang tadi mengalihkan pandangannya ke arah Daddy Tian.


"Cukup sudah saya mendengar cemoohan dari mulut tuan Gunawan untuk putra saya. Dan perlu saya tegaskan, saya ataupun istri saya tak akan pernah mensetujui dan merestui hubungan Devano dan juga putri tuan Gunawan yang terhormat. Kalaupun Devano menginginkan hal itu kembali terjadi, saya tak akan segan untuk mengusirnya dan juga mencoret nama dia dari daftar kartu keluarga," tutur Daddy Tian tanpa ragu.


"Tenang Dad, Dev gak akan pernah jadi orang bodoh lagi seperti dulu. Toh Dev juga udah punya calon istri yang sudah kalian setujui dan tinggal melaksanakan acara pertunangan dan juga pernikahan saja," ucap Devano yang membuat Tiara mengangga lebar, ia tak percaya kalau Devano sudah punya calon pendamping karena menurut yang ia dengar, setelah perpisahannya dulu, Devano telah berubah jadi lebih dingin kepada perempuan dan hanya menganggap perempuan layaknya baju sekali pakai dan di buang. Dan menurut yang ia dengar pula kalau Devano belum bisa melupakannya dan selalu mengharapkan dirinya kembali.


"Aku gak percaya kalau kamu udah punya wanita lain yang merebut posisiku dulu. Kamu bohong kan Dev, kamu kan masih sayang sama aku mana mungkin ada wanita lain yang bisa menggantikan namaku di hatimu," tutur Tiara yang masih saja dengan percaya dirinya yang tinggi.


"Merebut posisi lo? Hey sadar, lo dulu yang buang gue dan memilih laki-laki kaya itu. Dan perlu gue tekankan lagi kalau rasa sayang gue untuk lo udah lama hilang dan tak akan pernah kembali lagi sampai kapanpun," ujar Devano.


"Aku dulu khilaf Dev dan aku ngelakuin hal itu juga terpaksa."


"Cih melindungi diri lo dengan kata-kata khilaf dan terpaksa malah terdengar menjijikkan di kuping gue."


Tiara menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosinya agar tak terpancing dengan ucapan Devano yang selalu merendahkannya.


"Dan untuk nyonya dan tuan Gunawan, kalau kalian butuh bantuan untuk menyelamatkan perusahaan anda bukan disini tempatnya. Jadi sebelum saya panggil security untuk menyeret kalian keluar dari sini, saya harap anda lebih dulu keluar. Disana pintu keluarnya, silahkan," ucap Devano sembari menunjuk pintu keluar rumah tersebut.


Mama Asti yang nampaknya masih bisa tenang pun akhirnya mendekati suami dan putrinya kemudian saat sudah berada di dekat mereka berdua, Mama Asti mengelus pundak Papa Gunawan untuk menyalurkan ketenangannya.


"Sudahlah, redam emosimu dan kita pulang sekarang," bisik Mama Asti.


Setelah berucap seperti itu Mama Asti menatap Devano.


"Dev, Tante, Om dan juga Tiara pulang dulu. Maaf untuk ucapan kita yang terlalu lancang tadi. Kita pamit dulu, selamat siang," pamit Mama Asti, kemudian ia mendorong tubuh Papa Gunawan dan Tiara keluar dari rumah tersebut secara paksa.


Setelah perginya keluarga itu, Devano mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mom dan Dad udah lihat kan kelakuan mereka tadi gimana? Dan udah tau kan alasan aku dulu mengakhiri hubunganku dengan Tiara. Jadi setelah kejadian ini jangan ada lagi pikiran untuk menyuruh Devano kembali dengan perempuan gila itu dan jangan sampai mereka kembali menginjakkan kaki dirumah ini lagi," tutur Devano.


"Mom juga gak sudi punya menantu dan juga besan seperti itu. Amit-amit deh," ucap Mommy Nina.


"Bagus, kalau Mom udah berpikir seperti itu jangan sampai berubah pikiran lagi. Dev ke kamar mau istirahat dulu," pamit Devano setelah itu ia beranjak dari ruang tamu kembali menuju kamarnya untuk beristirahat karena merasa lelah setelah menghabiskan tenaganya untuk marah-marah tadi.


...****************...


Hari weekend telah tiba dan sesuai dengan janji yang diucapkan Devano bahwa di hari itu, ia akan mengajak Al bermain dan jalan-jalan keluar rumah.


Devano dengan senyum senangnya ia berjalan menuruni anak tangga.


"Ih orang gila mau kemana?" tanya Mommy Nina dengan tatapan aneh kepada Devano.


"Ck, Mom, ganteng-ganteng begini dikatain orang gila," gerutu Devano.


"Kalau gak gila terus kenapa senyum-senyum sendiri kayak gitu?" tanya Mommy Nina.


"Ya gimana gak senyum kalau mau ketemu sama anak tampan Dev dan juga calon istri," jawab Devano.


"Jadi kamu mau ke rumah Ciara?" tanya Mommy Nina dengan antusias dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Devano.


"Mommy boleh ikut gak?" tanya Mommy Nina.


"Kalau Mom ikut, Dev gak jadi ngedate sama keluarga kecil Dev dong," tutur Devano yang langsung mendapat toyoran Mommy Nina.


"Berlagak ngomong keluarga kecil segala. Nikahin Ciara aja belum," cibir Mommy Nina.


"Tenang aja Mom, bentar lagi juga Ciara dan Al jadi milik Dev selamanya," ucap Devano penuh keyakinan.


"Bentar-bentar terus. Awas lho tar di balap sama orang lain baru menyesal kalau kamu gak gesit dan cepat lamar Ciara."


"Gak akan Mom. Udah dulu ya, Dev mau berangkat, assalamualaikum," pamit Devano.


"Waalaikumsalam," jawab Mommy Nina.


Devano kini dengan santai memasuki mobil miliknya dan segera menjalankan mobil tersebut menuju rumah Olive.


Hanya butuh waktu 30 menit Devano akhirnya sampai di rumah Olive, setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, Devano langsung keluar dan menuju pintu rumah tersebut.


Tok tok tok


"Ya, bentar!" teriak seseorang dari dalam. Tak berselang lama pintu rumah tersebut terbuka.


"Assalamualaikum, selamat pagi," sapa Devano dengan senyum saat tau jika orang yang membukakan pintu tersebut adalah Ciara, perempuan pujaannya.


"Waalaikumsalam. Masuk lah, Al masih bersiap di kamarnya biar nanti aku panggilkan dia untuk segera turun kebawah," ucap Ciara sembari menggeser tubuhnya. Kemudian Devano segera masuk kedalam rumah tersebut dan duduk di sofa ruang tamu.


Sedangkan Ciara setelah membukakan pintu tadi dan melihat Devano telah duduk manis di ruang tamu, Ciara bergegas menuju kamar Al.


"Al," panggil Ciara setelah masuk kedalam kamar Al.


"Apa Papa sudah sampai?" tanya Al yang sudah siap dengan pakaian rapinya.


Ciara tersenyum sembari mengangguk. Al yang melihat anggukan kepala oleh Ciara tadi, ia langsung berlari keluar kamar.


"Al jangan lari-lari nak, nanti jatuh!" teriak Ciara dengan menyusul Al.


"Papa!" teriak Al saat ia menuruni anak tangga rumah tersebut.


Devano yang mendengar suara Al pun langsung mengalihkan pandangannya menatap Al yang masih saja berlari tanpa henti.


"Al jangan lari-lari. Bahaya sayang!" teriak Devano khawatir jika terjadi sesuatu kepada Al nantinya.


Namun Al tak mendengar ucapan dan teriakan dari kedua orangtuanya hingga akhirnya ia tak sengaja tersandung kakinya sendiri.


"Al!!" teriak Devano dan juga Ciara saat mereka melihat Al terjatuh dari tangga rumah tersebut.