Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 3


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 2 dimana saat itu adalah waktu Al pulang dari sekolahnya. Dan kini anak laki-laki yang sudah terkenal sangat dingin itu baru saja keluar dari kelasnya dan dia merupakan anak paling terakhir yang meninggalkan kelas tersebut.


Dengan wajah datarnya Al mendekati mobil yang selalu mengantar dan menjemputnya. Setelah sampai disamping mobil itu Al hanya melemparkan senyum tipisnya kepada bodyguard yang selalu bersamanya itu lalu barulah dia masuk kedalam mobil tersebut.


Sedangkan kedua bodyguard yang sudah hapal betul sifat Al pun hanya bisa menghela nafas.


"Aura dinginnya tidak pernah hilang sama sekali," ujar Toni yang langsung diangguki setuju oleh Doni.


"Padahal anak seusia tuan muda biasanya sangat ceria dan banyak bersosialisasi tapi tuan muda memang berbeda, persisi sekali seperti tuan Devano. Tapi semoga saja kelakuan dia saat dewasa nanti tidak seperti tuan Devano yang dulu sering gonta-ganti pasangan sebelum bertemu dengan nyonya Ciara," timpal Doni.


"Semoga saja begitu. Sudah lah, kita pulang sekarang sebelum tuan muda jenuh didalam mobil," tutur Toni kemudian ia lebih dulu masuk ke kursi kemudi diikuti oleh Doni yang duduk disampainya. Sedangkan Al, anak laki-laki itu selalu duduk di kursi penumpang dengan alasan kursi penumpang itu lebih lebar dari pada kursi disamping kemudi. Dan hal itu hanya bisa dituruti oleh kedua bodyguardnya.


Saat mobil itu sudah mulai melaju, Al sedari tadi fokus kearah benda pipih yang sekarang berada di genggamannya hanya untuk sekedar bermain game atau membaca beberapa artikel yang sekiranya menarik untuk ia baca. Dan saat dirinya tengah asik memperhatikan susunan angka-angka di layar ponselnya, tiba-tiba saja terdapat sebuah pesan masuk yang buru-buru ia buka.


Saat melihat pesan tersebut, seketika senyuman lebar Al terlihat. Pesan yang dikirimkan Ciara benar-benar merubah ekspresi wajah Al yang tadinya datar kini berubah menjadi bahagia. Dan pesan itu berisi foto Kiya yang sama seperti yang dikirimkan Ciara kepada Devano.


📨 To : My Mom


Gemas sekali sih. Tunggu Abang sampai dirumah little princess.


Setelah mengirimkan balasan pesan tadi. Al kini mengalihkan pandangannya kearah dua bodyguardnya yang duduk di depan.


"Om, tambah kecepatannya dikit ya," ucap Al kepada Toni.


Toni kini melirik Al sekilas melalui spion di atasnya.


"Siap tuan muda," tuturnya kemudian sesuai keinginan dari bos kecilnya itu Toni langsung menambahkan kecepatan laju mobil tersebut.


Dan hanya butuh beberapa menit saja mobil yang ditumpangi Al juga dua bodyguardnya itu telah sampai di rumahnya. Saat dirinya keluar dari mobil tersebut banyak para bodyguard lainnya yang menjaga rumah tersebut juga beberapa maid telah berbaris rapi untuk menyambut kepulangannya. Dan saat melihat dirinya mulai melangkahkan kakinya, semua orang disana menunduk hormat yang hanya bisa dibalas dengan senyum tipis oleh Al.


"Abang!" teriak Kiya saat melihat Al baru masuk kedalam rumah tersebut. Al yang melihat Kiya berlari kearahnya pun, kini ia mulai menjongkokan tubuhnya dengan kedua tangan ia rentangkan untuk menyambut pelukan hangat dari sang Adik.


"Kiya rindu Abang," ucap Kiya saat tubuhnya sudah berada dipeluk Al. Al yang mendengar keluhan dari Kiya pun terkekeh lalu ia melepaskan pelukan tersebut kemudian ia mencium kedua pipi dan kening Kiya.


"Baru juga ditinggal beberapa jam aja udah kangen. Kalau Abang nanti udah lebih besar dari sekarang dan Abang sekolah keluar negeri, gimana tuh?" Kiya kini mengerucutkan bibirnya sembari melipat kedua tangannya kedepan dadanya setelah mendengar perkataan dari Al tadi.


"Gak boleh. Kalau Abang jauh dari Kiya nanti yang jagain Kiya siapa? Pokoknya Abang gak boleh jauh-jauh dari Kiya. Kalau Abang nanti sekolah keluar negeri, pokoknya Kiya harus ikut!" tutur Kiya.


Lagi-lagi Al terkekeh kemudian ia berdiri dari posisinya tadi.


"Yang jagain Kiya kan banyak ada Mama, Papa juga Om bodyguard. Dan Abang ke luar negeri buat sekolah jadi Kiya gak boleh ikut dong. Kalau Kiya ikut gimana sama sekolah Kiya coba?" Kiya menambah kerucutan di bibirnya.


"Kiya juga akan sekolah disana. Pokoknya Abang gak boleh ninggalin Kiya sampai kapanpun, titik!" final Kiya sembari menghentakkan kakinya.


"Iya-iya Abang gak akan kemana-mana. Oh ya Mama mana?" tanya Al karena ia tak melihat Ciara saat baru masuk didalam rumah tersebut.


"Di dapur lagi buat kue kering kesukaan Kiya," jawab Kiya yang sudah merubah ekspresi wajahnya yang kembali tersenyum seperti semula.


Al kini mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo bang kita lihat Mama udah sampai mana proses buat kuenya," ajak Kiya sembari menarik tangan Al yang mau tak mau Al harus mengikuti langkah dari Kiya hingga sampai di dapur rumah tersebut.


"Eh anak tampan Mama sudah pulang," ucap Ciara saat melihat Al juga Kiya yang mendekatinya. Al tersenyum kemudian menyalami tangan Ciara.


"Kata Kiya, Mama lagi buat kue?" Ciara menganggukkan kepalanya.


"Iya. Sebenarnya Mama tuh lagi gak mood buat kue tapi gara-gara Kiya yang maksa ya sudahlah mau bagaimana lagi. Kalau Mama gak nurutin kemauan dia pasti nanti anak centil itu ngedumel gak berhenti sebelum keinginannya terpenuhi," ucap Ciara.


"Apa dia tadi membuat masalah sama Mama yang membuat mood Mama gak bagus hari ini?" Ciara menghela nafas, sangat peka sekali anak laki-lakinya itu.


"Biasalah, dia tadi bikin alat makeup Mama hancur semua," ucap Ciara sembari melirik kearah Kiya yang sudah duduk di kursi tak jauh darinya sembari memakan kue kering yang sudah jadi.


"Mama sudah kasih tau Papa kan masalah ini?" Ciara menganggukkan kepalanya.


"Terus apa kata Papa?" tanya Al kepo walaupun ia sebenarnya sudah tau jawabannya.


"Ya seperti biasa, Papa kamu mau ganti rugi atas kekacauan yang dilakukan anak centilnya itu," jawab Ciara.


"Syukurlah kalau begitu. Jangan lupa kuras habis uang Papa nanti. Al sekarang keatas dulu buat bersih-bersih. Bye Ma." Ciara mengacungkan jempol kearah Al yang perlahan menjauh darinya.


Sedangkan Kiya yang menyadari Al sudah pergi dari dapur kini ia turun dari kursi tadi dan mulai menghampiri Ciara.


"Abang mana, Ma?" tanyanya panik.


"Tenang aja Abang kamu gak bakal kemana-mana. Dia di kamarnya sekarang buat bersih-bersih badannya," ucap Ciara yang membuat Kiya kembali rileks.


"Kamu udah puas makan kuenya?" tanya Ciara sembari membersihkan sisa kue kering yang menempel di sekitar bibir Kiya.


"Belum," jawab Kiya.


"Kalau begitu lanjutkan makannya."


"Gimana Kiya mau lanjut makan kalau kuenya aja udah habis," ujar Kiya sembari menunjuk satu toples kaca yang tadi terisi penuh oleh kue kering kini tempat itu sudah tak tersisa satu kue pun didalamnya. Ciara yang melihat hal itu hanya bisa melongo tak percaya, selain centil dan suka membuat darahnya mendidih, Kiya juga jago kalau urusan makanan. Apalagi makanan itu termasuk makanan kesukaannya, jika belum sampai muntah mungkin dia belum puas dan hal itu membuat tenaga Ciara harus banyak terkuras habis. Untung saja ia ingat kalau Kiya merupakan anaknya jika tidak mungkin dia sudah menukar Kiya dengan sapi sekebon.